
Hari ini aku benar benar merawat dan menjaga ayah dengan baik. Ku fokuskan berbakti pada ayah, karena hanya beliaulah yang kumiliki di dunia ini. Ponsel dari semalam ku non aktifkan sepanjang perjalanan ke kampung. Dan disaat ponsel itu ku nyalakan. Banyaknya notif panggilan dari nomornya Alda.
Mengetahui hal itu, hatiku senang sekali. Ternyata ia kepikiran juga padaku. Setelah ayah sehat, aku akan ke kota. Menceritakannya semua, dan semoga ia mengerti dan mau menerima cintaku.
Huufftt...
Ku pandangi layar ponselku dengan pikiran yang tak tenang. Aku sedang memimbang nimbang, apakah Alda ku telpon balik atau tidak? aku ingin mengetes nya, ia beneran kangen dan minta dihubungi atau tidak. Kalau ia menelpon aku lagi hari ini. Fix.....Ia semalaman pasti memikirkanku.
Hufftt..
Kembali ku hela napas panjang, aku jadi grogi mau menelpon dia. Antara mau di telpon atau tidak? aku jadi merasa seperti ABG saja. Padahal masa masa seperti ini sudah ku lalui, saat berpacaran dengan Sisil.
Ngung...
Saat Memikirkan itu semua, ponsel yang ada di genggamanku bergetar. Aku yang sedang banyak pikiran dibuat terkejut akan hal itu. Dan aku semakin terkejut melihat nama Alda memanggil di layar ponsel itu. Saking terkejutnya, kedua bola mataku membola dengan mulut menganga. Tapi, hati berseri seri karenanya.
Hufftt..
Aku perlu cadangan oksigen yang banyak, agar tidak grogi disaat berbicara dengan Alda.
Dan..
Nyloss..
Aku langsung lemas, panggilan itupun mati. Iihhh... Aku mengutuk diri sendiri, karena terlalu lama menimbang nimbang untuk mengangkat telepon dari Alda, dan akhirnya panggilan itu terputus. Aku yang kangen padanya, akhirnya memutuskan menelpon balik. Dan saat panggilan pertama Alda mengangkat teleponnya. Dadaku rasanya mau pecah, akan hal itu. Banyak getaran di dalamnya. Dasar aku aneh.
"Assalamualaikum... !" ujarku lembut dan terdengar penuh kerinduan yang membuncah. Ya, aku memang merindukannya. Merindukan istri orang, yang seperti lagi jadi janda. Hehehehe...
"Walaikum salam..." suaranya yang lembut dan sopan, membuatku merinding. Kupingku terasa ditiup tiup syahdu. Hadeuhhh.... Inikah rasanya cinta itu? Semua jadi terasa indah. Dengar suaranya saja, sudah seperti dengar lagu kesukaan yang buat senang.
"Ada apa menelpon Dek Alda?" kini ku bicara dengan nada biasa, tapi masih terkesan lembut. Aku tak boleh menunjukkan rasa kangenku. Aku tahu, ia akan marah Karena ku panggil Adek. Secara aku memang lebih muda darinya. Habisnya, aku gak tahu mau nanya apa, aku nervouse saat ini.
__ADS_1
"Gak ada sih, ada yang mau ku tanyakan. Kenapa kamu pulang tanpa kasih kabar?"
Whatt..... Bener ia kecarian akan diriku. Senyum mengembang tak bisa ku sembunyikan dari wajahku saat ini.
"Aku sudah izin pada ibu koq." Jawabku cepat. Masih dengan sikap sok dingin.
"Iya sih, kenapa gak pamit samaku.?" kini nada bicaranya mulai terdengar kesal.
"Napa emang? apa harus aku pamit sama mu?" ku goda ia dengan suara sexyku. Habislah kau Alda, akan ku buat kau penasaran padaku.
"Iya." Jawabnya cepat, dengan nada kesal.
"Kamu kangen aku kan? dari semalam sudah ratusan kali kamu telponin aku!" ujarku menggodanya dengan mengatakan hal yang membuatnya mati kutu.
"Enak saja, siapa juga yang kangen. Aku heran saja, kamu tiba tiba pulang." Jawabnya cepat.
"Kangen bilang saja. Kalau kamu ngaku kangen. Besok aku pulang." Ujarku dengan menahan tawa.
Tuutt
Hahahaha..
Tertawa senang, akan sikap Alda. Apa aku ke baper an ya? ya jelaslah aku baper, kenapa pula juga ia menelpon ku dari semalam dan hari ini. Kalau hanya menanyakan kenapa aku gak pamit sama dia. Aku kan sudah pamit sama ibu. Kalau ia mau tahu aku, ia bisa tanya ibu. Ngapain juga sibuk sibuk menelpon aku, seoalah ia kecarian.
Aku senyam senyum sendiri memikirkan hal itu.
"Akram.... Kamu kenapa?" aku yang baru masuk ke ruangan ayah dengan wajah berbinar binar, membuat ayah penasaran. Koq aku terlihat seneng sekali, padahal ayah sedang berbaring sakit di hadapanku.
Ku hampiri ayah dengan langkah seribu. Aku jadi sangat bersemangat setelah bicara dengan Alda. Ku pijat lembut kaki ayah, menatap ayah dengan senangnya.
"Kata dokter, keadaan ayah sangat cepat membaik." Jawabku lembut. Ya, tadi dokter bicara seperti itu, Setelah visit
__ADS_1
"Iya nak, sore ini kita harus pulang. Ayah mau dirawat di rumah saja." Jawab ayah lemah. Aku kurang setuju akan hal itu. Aku ingin ayah sembuh total, setidaknya dirawat tiga hari di rumah sakit.
"Ya gak bisalah ayah, pulang hari ini. Tunggu dua hari lagi ya?" pintaku dengan memelas.
Ayah menggeleng. "Kita harus pulang, nanti malam akan ada orang datang ke rumah." Ucap ayah serius.
"Siapa ayah?" tanyaku dengan penasarannya.
"Dukun, yang akan obati penyakitmu. Tadi pagi aku sudah bicara dengan pamanmu."
Haaahh...
Tanganku auto berhenti saat memijat kaki ayah. Aku terkejut dengan ucapan ayah. Apa ayah drop, karena tahu fakta tentang diriku yang sempat alami penyakit impoten selama empat tahun?
"Ayah, aku sudah sembuh. Dan itu juga sudah ku ceritakan pada paman semalam." Jawabku lemas, jujur kalau penyakit itu dibahas, aku lemas.
"Iya, pamanmu memang sudah katakan itu. Tapi, ayah ingin kamu sembuh total." Ujar ayah dengan Mata berkaca Kaca. "Kenapa masalah besar ini kamu sembunyikan dari ayah nak?" ujar ayah sedih, kedua mata cekungnya berair sudah. "Kalau cepat kamu katakan, bisa cepat kita obati. Ini, kamu pendam sendiri. Hingga kamu bercerai."
Ku usap lembut air mata yang membasahi pipi keriput ayah. Bercak bercak hitam seperti tahi lalat, menghiasi wajah pucat ya ayah.
"Yang berlalu Biar lah berlalu ayah. Mungkin beginilah takdirku. Tak perlu kita sekali ya ayah." Jawabku dengan semangat. "Aku sudah sembuh loh ayah. Hasil pemeriksaan juga ada." Tegas ku lagi.
"Ayah gak yakin, Kalau kamu belum diperiksa teman ayah. Teman ayah itu, bisa obati penyakit memalukan itu." Ujar ayah tegas.
"Iya, ya sudah. Nanti malam, ayah lihat sendiri dech." Ujarku mengulum senyum.
"Iya, ayah akan kecewa sekali jika milik mu itu gak berfungsi. Untuk apa ia besar, kalau letoi. Dari dulu, ayah sudah ajari kamu trik memperbesarnya. Dan sekarang, malah gak ke pakai."
Ya Allah.... Ayah koq bicara seperti itu sih. Aku sendiri malu dengarnya. Ayah memang selalu tekankan aku sejak remaja, agar menjaga kesehatan otong otong ku itu. Mengajari trik, agar Batang tak bertulang itu bisa besar dan keras tanpa di operasi. Mungkin ayah kecewa, sehingga drop setelah tahu, aku mengalami penyakit memalukan itu. Ayah selalu beri wejangan, agar bisa membuat pasangan ku puas.
Karena semua laki - laki bisa buat anak. Tapi, tak semua laki laki bisa buat enak. Itu kata ayah padaku.
__ADS_1
Ya ampunn... Aku jadi gel sendiri dibuat pertanyaan pertanyaan ayah ini. Masak ia gak merasa enggan membahas itu bersama anaknya sih?
TBC