HASRAT DUDA IMPOTEN

HASRAT DUDA IMPOTEN
Aku mencintaimu


__ADS_3

Pov Mawar


"Bang.. Aku mau mati.. Aku gak bisa napas lagi. Jangan..... Hentikan...!" teriakku.


Sadar akan suaraku yang kuat dan pasti akan terdengar ke tetangga. Abang Akram pun berhenti mengklitikinku.


Hua... Haa...


Kutarik napas panjang. Dada ini berdebar sangat kuat, karena lelah yang yang tertawa itu. Sungguh aku tak menyangka Abang Akram akan mengklitikiku seperti ini. Aku juga sebenarnya merasa lucu dengan akting ku yang pura-pura pingsan karena terkejut melihat miliknya yang sangat besar dan tegak itu, berarti selama ini dia membohongiku. Dia mengatakan dia impoten Nyatanya dia pria normal.


Aku pun semakin dibuat dag dig dug. Disaat Kedua matanya Abang Akram menatap ku syhadu dan dalam. Saat ini, aku masih tertawa. Dan tawaku itu pun terhenti, disaat arah tatapan matanya itu kini turun ke dadaku.


Aku pun mengikuti arah gerakan matanya itu. Sontak aku dibuat terkejut mendapati kancing kebaya ku bagian atas lepas dua. Hal itu membuat belahan dadaku terlihat jelas.


Aku jelas saja malu. Ku tutup cepat dengan kedua tanganku dengan menarik kebaya ku kembali untuk menutupi dadaku.


Kulirik Abang Akram, Ia masih setia menatapku dengan tatapan mata yang mendamba dan sangat dalam itu, memperhatikan dekat wajahnya yang kini memerah hingga ke lehernya. Kerongkongannya terlihat naik turun seperti kesusahan enelan ludah dengan berat hingga jakunnya naik dan turun begitu kentara.


Glug


Glug


Kenapa Abang Akram menatapku seperti itu tatapannya sangat dalam dan tak berkedip. Apa ia terpana melihatku


Tidak..


Tidak...


Dia tidak suka denganku,mana mungkin dia terpana melihatku. Tapi, tatapan syahdu nya itu sudah menelusuri sudut-sudut wajahku yang terkena bola lemparannya. Aku tak sanggup lagi beradu pandang dengannya. Ku putuskan kontak mataku dengan Abang Akram, fokus kembali mengatakan kancing kebaya ku.


Tapi,


Dooorr...


Dadaku porak porandakan saat ini.


Aku sungguh sangat terkejut di saat tangannya menjulur menahan tanganku, yang sedari tadi aku berusaha untuk mengaitkan kancing kebaya ku lagi. Kini tanganku malah dijauhaknnya dari kebaya yang mau ku kancing. Aku semakin dibuat tak tenang. Bahkan aku merasa kesusahan bernafas sekarang. Karena Abang Akram, malah membuka kancing yang tersisa.


Kletek..

__ADS_1


Kancing ke tiga lepas.


Nyess...


Aku semakin dibuat Jantungan. Akan kah kami akan melakukannya malam ini? Kalau Abang Akram meminta hak nya malam ini, aku tak akan menolak. Karena jujur, aku juga pengen. Entah kenapa sejak ketahuan satu ranjang dengan abang Akram kemarin. Otakku ini traveling terus. Apa karena semalam, aku minum obat perang -sang? Aaahhhkkk.. sepertinya karena itu.


"Kamu takut?" tanya nya lembut, setelah sukses membuka semua kancing kebaya ku. Tatapan nya masih syahdu dan mendalam seperti tadi.


Aku terdiam, gak tahu harus jawab apa. Seandainya kami pasangan kekasih. Tentu malam pertama adalah malam yang akan di tunggu tunggu. Tapi kan, kami bukan pasangan kekasih. Abang Akram saja gak mencintaiku.


"Baiklah,, kalau kamu takut? kita gak usah lakuinnya malam ini. Tapi, kita belajar dulu." Ujarnya lembut dan mengulum senyum.


Belajar? apa melakukan itu harus belajar. Orang idiot aja tahu kali yang begituan.


"Memangnya mau ujian, belajar dulu." Ucapku dengan gugup. Kedua mata ini menyipit, karena takut salah bicara. Aku koq seprti berharap di sentuh Abang Akram.


Jelas aku berharap, aku dadi dulu suka dengannya. Pertemuan pertama kami, di rumah nya Kak Alda. Saat itu, aku tak tahu kalau ada abang Akram di mobilnya. Eehh.. Aku dengan percaya dirinya, membenarkan BRa ku yang kendor.


"Eemmm.... Baiklah, kita akan coba malam ini." Ujarnya dengan lembut. Tangannya meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Aku dibuat nervouse, rasanya aku sudah mati menegang saat ini.


Aku belum pernah pacaran, dirangkul cowok juga belum pernah. Karena aku memang tak terlalu suka dekat dekat dengan pria yang arahnya ke pacaran. Aku sangat menjaga harga diriku. Dan aku belum pernah di cium pria.


Aku yang sedari tadi menunduk karena tak sanggup menatap netra coklat itu, mencoba melirik nya. Ternyata Abang Akram masih menatap ku, tepatnya bibirku. Apa ini awalnya, harus cium bibir dulu kah?


Aduuhh...


Aku bisa mati di tempat ini, koq rasanya setegang ini. Dada ini berdebar tak berirama, aliran darah ku rasanya terhenti mengalir karena Abang Akram yang menatap dalam dan syahdu bibirku. Mana kini wajahnya di dekat kan ke wajahku seperti mau mencari cari bibirku.


Ku angkat wajahku, dengan menutup kedua mata. Bibir ini telah ku monyongkan. Kata teman teman ku kalau ciuman itu tutup matanya.


1


2


3


Bibir basah nya Abang Akram tak kunjung ku rasakan di bibirku. Dengan memicingman mata, ku lihat dia. Ternyata Abang Akram, hanya lihatin aku saja.


"Tanganmu dingin dek. Aku tahu, kamu sedang tidak baik baik saja." Ujarnya lembut, membelai pipiku yang ku yakin sudah memerah bak kepiting rebus, karena malu. Ku pikir kami akan ciuman, aku sudah pasrah tadi. Eehh... aku hanya diplototin olehnya.

__ADS_1


"Iihh... Iya." Ku jauhkan cepat tangan kekarnya. Dan aku membaringkan badan, membelakangi Abang Akram. Aku malu sekali, pasti ia beranggapan aku pengen sekali.


Ku rasa kan per gerakan tubuhnya. Yang ikut berbaring. Sedangkan aku mulai mengancing kembali kebaya ku yang tadi ia lepas satu persatu.


Dan


graapp..


Saat itu juga, ku rasa kan tangan kekar membelit di pinggang ku, dengan kepalanya ia pasrahkan di perpotongan leherku.


Huufftt


Tarikan nafasnya terdengar geli di telinga ku. Keadaan yang seperti ini membuatku semakin dibuat jantungan.


"Walau kita menikah dada kan seperti ini. Aku anggap pernikahan ini serius. Aku pernah gagal dalam membina biduk rumah tangga. Dan aku tak mau itu terjadi dengan pernikahan kita."


Bola mataku bergerak gerak, guna memikirkan maksud ucapan abang Akram itu. Sepertinya ia berharap banyak padaku.


Saat ia menghentikan ucapannya. Ia menahan tanganku yang berusaha mengancing kebaya ku. Dan kemudian ia menuntun tubuhku agar berbalik dan akhirnya kami pun berhadap hadapan. Aku masih malu, tapi ku berani kan diri, untuk menatap nya saat ini. Aku ingin lihat lebih jelas kedua netranya. Apa ia bicara serius dan tulus atau tidak.


"Saat didesak untuk menikah. Jujur, aku belum merasakan cinta padamu. Tapi, setelah ijab Kabul terlaksana. Seketika, aku merasa jatuh cinta padamu. Ada keinginan besar untuk membahagiakan mu lahir dan batin.


Kini tangan kekar nya yang wangi, membeli pipiku. Lembut dan membuatku terhanyut. Bahkan aku sampai menggerakkan bahu guna, karena meresapi sentuhannya.


" Aku tahu adek, takut ku sentuh, karena adek mengira, Abang ini tak serius kan?" ujarnya dengan tatapan penuh cinta, yang menghanyutkan. Aduuhh.. Aku koq jadi pengen, di cium cepat olehnya


"I, iya." Sahutku malu.


Abang Akram tersenyum manis.


Cup


Satu kecupan mendarat juga di keningku, dengan durasi yang lama.


Aduuhh..


Aku dibuat jantungan karenanya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2