HASRAT DUDA IMPOTEN

HASRAT DUDA IMPOTEN
buku nikah


__ADS_3

Bruggkk..


Aku ambruk di atas ranjang. Dan Mawar dengan senyum menyeringai nya mendekatiku. Ku berusaha menjauh, tapi gerakannya sangat cepat, Ia pun berhasil menimpa tubuhku, yang sedari tadi menegang. Muka nakalnya terlihat menggelikan. Seumpama ia adalah istriku, sudah habis ku genjot dia malam ini, sampai gak bisa jalan.


Nyuss..


Batanganku yang masih tegak lurus, bak rudal siap terbang itu, rasanya mau patah. Karena ia timpa dengan tak sengaja


Aaauuuwww.... Aaahhkk..


Tanpa sadar, Aku berteriak sekuat kuatnya. Mawar yang ada di atas tubuhku,berusaha menggapai bibirku. Sungguh Mawar sangat mengerikan saat ini. Bagian bawahnya ia gesek gesek ke milikku yang masih tegang itu. Bisa mati aku, jika mur dan baut tidak masuk. Bisa patah ini baut.


"Mawar hentikan..... Hentikan dulu, kita ulangi dulu dari awal." Aku sedang mengecohnya, agar ia turun dari atas tubuhku. Tapi, ucapanku tak berpengarih. Ia masih menelpel kuat di atas tubuhku.


Aku tak mau tinggal diam, ku berontak agar lepas dari rengkuhannya. Belitan tangannya sangat kuat mencengkram tubuhku. Pemberontakanku, tak membuahkan hasil. Kami malah berguling-guling di atas ranjang. Bibir monyong nya berusaha menggapai bibirku yang se xy ini. Ya, kata orang orang bibirku sangat menggoda.


Aku terua berusaha melepaskan tubuhku dari pekukannya yang erat. Sedangkan ia berusaha keras memeluk tubuhku semakin erat. Aku merasa seperti dibelit anaconda saja, saking geramnya mawar padaku saat ini.


"Mawar... Mawar.... please..... Hentikan mawar...!" dari aku kencang kembali berusaha menjauhkan tubuhnya dari atas tubuhku tapi mawar tetap tak mengindahkannya.


Dan


Bruujkkkk...


Aku sangat terkejut melihat pintu kamarku di dobrak tetanggaku. Saking kuatnya dobrakan itu. Pintu itu sampai mental ke dinding.

__ADS_1


Kedua bola mataku rasanya sudah keluar dari tempatnya seperti bola pingpong yang pakai per. Di ambang pintu telah berdiri warga yang terkejut melihat kami yang seperti kuda-kudaan. Aku tetap berusaha menjauhkan Mawar dari atas tubuhku. Kali ini, ku lakukan dengan tenaga extra. Belitan tangannya lepas. Saat itu juga, ku gulung tuduh moleknya Mawar dengan seprei. Aku tak mau para pria yang masih bengong di depan pintu, kesempatan menikmati indahnya tubuh Mawar, yang kini hanya bagian bawahnya yang tertutup celana jenas. Sedangkan bagian atasnya hampir polos, hanya ada tempurung Bra, yang menutupi gunung lembarnya yang montok.


Aaahhhkk... Aawww...


Mawar mengeluarkan suara tak jelas di dalam balutan seprei. Saking geramnya. Dari kepala hingga ujung kaki, aku balut tubuhnya.


"Akram.... Apa yang kamu lakukan... Kamu telah mencoreng nama baik kompleks ini." Ujar kepala lingkungan geram menatapku.


Dengan cepat ku bangkit dan membenarkan resleting celanaku. Kemudian, aku menghampiri bapak bapak yang memergoki kami.


Ku rengkuh lengan Pak kepala lingkungan dengan muka tak merasa bersalah. Ku usir bapak bapak itu dari ambang pintu. Dan ku kunci pintu kamar. Ku giring bapak bapak itu ke ruang tamu.


"Maaf pak.. Aku gak salah. Bapak - bapak, jangan salah paha.. Eehh... salah paham... maksudku!" Ujarku dengan cengengesan. Menampilkan ekspresi wajah tenang seolah tak ada kejadian yang memalukan terjadi di rumah ini, seolah tak ada tindakan asusila yang terjadi di rumah ini.


kutatap satu persatu bapak-bapak yang menggerebek kami. Mulutku komat kamit, membacakan doa ayat ayat suci penenang hati, dan peredam emosi, mencoba mengendalikan keadaan dan mensugesti orang-orang di hadapanku agar Percaya Padaku.


Dan dalam satu kedipan mata mereka nampak menurut padaku. Wajah sangar bringas penuh emosi tersulut bak macam tutul, kini berubah jadi kucing anggora kesayangan.


"Eemmm Pak, Jangan salah paham." ujarku lembut sambil merogoh dompet dari saku celanaku. Menyodorkan kartu identitas kepada bapak kepala lingkungan.


"Kami suami istri, ini coba bapak lihat KtP ku, sudah menikah kan?"


Dalam hati aku bersyukur sekali, belum mengganti kartun identitasku. Tetap aja statusnya masih menikah. Dulu saat mengontrak rumah ini, enam bulan yang lalu, aku katakan pada pak kepala lingkungan kalau aku duda.


"Ooiuuww... Nak Akram, pulang kampung karena mau menikah?" tanya Pak Kepala lingkungan dengan ramahnya.

__ADS_1


" Iya Pak dan selama 3 bulan di kampung, aku habiskam juga bulan madu ke luar negeri. Setelah kami pulang bulan madu dari negara Turki, Jerman, Korea Selatan, Korea Utara. Eeehh.. Ke korea utara gak jadi. Kan di situ Tempat tidak asik, tak ada tanda tanda kehidupan. "


Ujarku dengan menahan tawa dalam hati. Kulihat para bapak-bapak ini percaya dengan omonganku. Mana mungkin orang yang tinggal di kontrakan, sampai bulan madu ke luar negeri bahkan melewati 4 negara.


Sepertinya bapak bapak ini sudah tunduk kepadaku. Mempan juha jampi-jampiku, mereka bener bener terhipnotis ku buat. Apa yang aku katakan, mereka percaya I.


"Eemmm.. Coba lihat buku nikah nya, kalau bener kalian adalah pasangan suami istri." Pak Kepala lingkungan menengadahkan tangannya di hadapanku, terlihat ia sangat serius meminta buku nikah. Aku terbingung sesaat, ku garuk kepalaku yang gatal. Aku Sedang berpikir bagaimana caranya mendapatkan alasan agar mereka tidak menuntut aku menunjukkan buku nikah.


uku nikah ku kan belum ada, aku saja belum menikah lagi. Aku terjebak dengan permainanku sendiri, aku harus jawab apa? ya kembali ku garuk kepalaku yang memang saat ini terasa gatal sekali.


Tak hanya kepala atas saja yang gatal, kepala bawah juga sudah gatal, minta di garuk dan diem ut..


"Aduhh.. tas kami ada di rumah ibu mertua pak." Ujarku dengan senyum mengembang. Aku harus bisa meyakinkan orang orang ini.


"Kami gak percaya, kalau kamu gak ada buku nikah, berarti kamu bohong, bilang sudah menikah. Asal kamu tahu Akram, temanmu yang tinggal di sini kemarin, sudah kedapatan kumpul kebo. Makanya kami usir dia dari kontrakan mu ini." ujar kepala lingkungan geram.


Oohh.. Si Jefry kedapatan kumpul kebo. Aduuuhh.. Anak itu merusak nama baikku saja.


"Jangan gitulah pak. Buku nikah kami belum ada. Nanti, aku tunjukkin." Jawabku ramah. Kembali kubacakan ayat penenang hati. Kali ini aku baca lima ayat, dan saat itu juga ku hembuskan ke arah wajah para bapak bapak itu.


"Oouuhhm. Gitu. Baiklah.. selamat lembur. Ayo kita pulang, aku percaya koq sama Akram" Ujar kepala lingkungan tegas, mengajak teman teman rondanya meninggalkan rumah.


Hihihi...


Ku menahan diri, agar tak tertawa. Aku merasa lucu dengan kelima bapak bapak hebat ini. Kenapa mereka jadi nampak bodoh bodoh. Aahhkk... Sudahlah, yang penting, aku bebas dari interogasi.

__ADS_1


Setelah ke lima pria paruh baya itu keluar dari rumah. Dengan Cepat ku berlari ke kamar. Si Mawar harus direndam satu malam ini di bak mandi.


__ADS_2