HASRAT DUDA IMPOTEN

HASRAT DUDA IMPOTEN
Sawan


__ADS_3

Dimas menghentikan mobilnya di depan sebuah club malam. Dia memaksaku turun dari mobil, dengan berat hati, aku pun ikut masuk ke dalam club itu.


Suara dentuman musik terdengar keras memekakkan telinga. Dengan banyaknya pria dan wanita yang melenggak-lenggok di atas lantai dansa seperti cacing kepanasan. Masih terbilang sore, karena baru pukul delapan malam, tapi di tempat ini sudah sangat ramai. Kerlap-kerlip lampu spot light menyempurnakan semarak suasana. Walau begitu, aku merasa tak nyaman di tempat ini.


"Hei Bis, ayolah kita nikmati malam ini.." Dimas menarik tanganku menuju sebuah bar.


Ku hempaskan tangan nya itu. "Kamu saja." Jawabku tegas, ia nampak sedikit kecewa. Bibirnya ditekuk dengan alis saling tertaut. "Kamu tahu aku gak mau minum minuman keras."


"Baiklah bos." Ia pun mengangkat kedua tangannya, menyerah mengajakku happy happy. Aku mulai nggak biasa berada di bawah kerlap-kerlip lampu disco dan suara speaker yang keras . Di sini nggak ada cerita duduk manis dan melotot.


Aku merasa semakin pusing di tempat ini. Akhirnya ku putuskan untuk pergi. Baru juga kaki ini melangkah semeter menuju pintu keluar. Aku dikejutkan dengan penampakan manusia yang tak asing melintas di hadapanku. Sekelompok anak ABG itu, terlihat berjalan menuju lantai dua. Ya tempat ini ada tiga lantai.


Aku yang penasaran, membuntuti sekelompok wanita itu, mereka ada lima orang. Dari kelima orang itu, hanya empat orang yang terlihat santai dan menikmati suasana, sedangkan satu orang lagi, nampak kikuk dan canggung gitu.


Dengan mengendap endap ku ikuti mereka. Setelah sampai di lantai dua. Dengan cepat ku mengambil tempat duduk di pojokan, sedikit jauh dari tempat mereka duduk sekarang. Tapi, segala aktivitas mereka tetap bisa ku amati. Hanya saja apa yang mereka bicarakan, aku tak bisa dengarkan.


Gadis -gadis yang lagi mekar mekarnya itu, terlihat sedang memesan minuman. Aku dibuat tak tenang akan hal itu. Karena salah satu dari kelompok gadis itu aku kenal. Dan aku tak percaya gadis itu, mau datang ke tempat seperti ini. Padahal ia dididik dalam keluarga yang agamis.


Pergaulan anak muda memang nggak terlepas dari pengaruh negara barat, salah satunya clubbing. Hiburan satu ini seringkali dianggap negatif karena identik dengan mabuk-mabukan, **** bebas, dan narkotika. Kita tanpa disadari setuju dengan stereotip buruk tentang clubbing. Setiap ada yang mengajak, pasti kita menolaknya karena tak ingin bersentuhan dengan kehidupan malam. Nggak salah juga sih, tapi sebenarnya ada banyak manfaat yang bisa diambil kalau mau mencoba karena ini tentang bagaimana kita memahami dunia secara lebih baik.


Lingkungan di klub mungkin memang mengarahkan ke aktivitas-aktivitas negatif. Tapi kita punya pilihan untuk memilih 'iya' atau 'nggak'. Seperti aku yang tak terpengaruh dengan segala yang disuguhkan di club ini.

__ADS_1


Orang-orang yang clubbing biasanya nggak pernah mengurusi kehidupan sekitarnya. Mau kita lagi galau, berprestasi, orang nggak mampu, atau kaya raya sekalipun, mereka nggak memedulikannya. Oleh karena itu, kita yang lagi suntuk butuh teman mengobrol bisa bercerita ke orang-orang di klub.


Kita nggak perlu malu-malu menceritakan berbagai hal yang selama ini dipendam dari orang lain karena khawatir sama komentarnya. Dengan cerita ke orang-orang di klub, kita bisa bebas bilang dari A-Z tanpa takut di-judge macam-macam. Karena mereka hanya akan mendengarkan ceritamu saja. Lagipula cuma sekali itu juga kita bertemu mereka.


Aku yang sudah dewasa pasti bisa jaga diri. Jikalaupun aku datang ke club ini. Tentu saja hanya ingin mencari hiburan. Bukan mau melakukan hal negatif.


Dari kejauhan kulihat gadis gadis itu audah mulai berjoget joget di tempat sambil minum minuman beralkohol itu. Aku dibuat jadi sangat khawatir akan keselamatan gadis yang ku kenal itu. Aku tak boleh diam di tempat. Aku harus membawanya pulang.


Ku seret langkahku cepat menuju meja mereka. Penerangan di club itu tidak lah terang. Hanya diterangi kerlap kerlip lampu disco


"Loe memang bodoh Mawar. Masak loe suka sama pria impoten. Kwkwkwkwkwk..!" Suara lantang seorang gadis terdengar jelas di kebisingan suara musik. Ia menertawakan Mawar, yang sudah terlihat mabuk. Kalimat yang keluar dari mulutnya membuatku terperanjat.


Impoten...?


Astaga... Aku paling kesal, jika masa lalu ku dibahas-bahas. Mawar ternyata tak bisa menyimpan rahasia.


"Iya,"


Huueeekk..


Ia terlihat ingin muntah. Penampilan Mawar juga sudah acak acakan. Rambut panjang hitam legamnya, sudah menutupi sebagain wajahnya. Mukanya juga sudah mengeluarkan bintik bintik air, terutama di bagian kening. Saat ini, aku duduk di bangku tepat di belakangnya saat ini.

__ADS_1


"Eemmmm... kamu tenang saja, malam ini akan ku tunjukkan padamu singkong batangan yang keras dan besar. Loe harus coba. Nanti Loe juga jadi ketagihan. Genjo- tannya mantap seperti goyang B2... Hahhahhaha..."


Wanita berambut pirang bertato di lengan kanan itu bicara dengan muka me sum nya. Aku sudah tahu maksud dari pembicaraan wanita itu.


"Singkong? ya memang singkong bisa untuk makanan B2." Sahut Mawar dengan gaya mabuk sunggokong. Ia benar benar sudah mabuk, sedangkan lawan biaranya belum mabuk sama sekali.


"Aaahhkk... Parah Loe. Dasar cewek polos. Masak begituan Loe gak ngerti sih? kamu bilang mau kawin muda, masak bahas begituan kita gak nyambung." Ujar wanita berambut pirang itu sembari meneguk minuman beralkohol nya.


"Aku suka pria berjambang." Ujar Mawar dengan muka anehnya, karena mabuk. Ia pun bangkit dari duduknya dan membalik badan. Dan saat itu juga kedua mata kami bertemu, Karena memang saat ini, aku ada dibelakangnya. "Ini, ini dia pria idamanku. Lihatlah jambangnya." ujarnya dengan menyipitkan kedua matanya. Seoalah ingin melihat lebih jelas diriku.


"Gak, gak mungkin....!" ujarnya dengan mengibaskan tangannya sendiri. Menepik apa yang ia lihat. Ia membalik badan. Sepertinya ia tak yakin, karena melihatku di tempat ini juga.


"Aku bisa sawan, jika melihat pria berjambang."


Mawar benar benar seperti orang yang sedang sawan an saat ini. Aku yang Masih terkejut dengan tingkahnya hanya bisa terpelongok saat ini, melihat Mawar sudah ambruk di lantai. Saat itu juga tiga temannya yang sedang berjoget bergegas menghampiri Mawar, yang tergeletak di lantai itu. Dan seorang pria macho mengekori ketiga gadis tadi.


"Mawar sudah hangover, lihatlah ia sudah tak berdaya, matanya sudah merah." Ujar wanita berambut pirang.


Kulihat pria itu tersenyum puas, aku yakin mereka sedang merencanakan sesuatu yang buruk pada Mawar. Aku tak boleh tinggal diam. Tapi, aku tak boleh gegabah, di sini lagi ramai.


"Haus.. Haus... Aku mau minum...!" Mawar yang setengah sadar, dan tak bisa kendalikan dirinya sendiri, terlihat ia merasa kehausan yang berlebihan. "Sakit kepala, sakit sekali.... Kepalaku sakit sekali.. Badanku juga pegal-pegal " Keluhnya dengan mata tertutup. Memegangi kepalanya dan memukul mukulnya pelan.

__ADS_1


TBc


__ADS_2