HASRAT DUDA IMPOTEN

HASRAT DUDA IMPOTEN
Pov akram (Datang)


__ADS_3

Waktu terasa cepat bergulir. Sikap Alda masih seperti biasanya. Ia tak pernah menerima pernyataan cintaku. Walau begitu, komunikasi kami tetaplah baik baik saja. Mawar sering kata kan, kemungkinan Alda menolakku, karena aku yang mengalami penyakit impoten. Aku diam saja menanggapi celotehan Mawar. Karena aku tak terlalu mau membuang waktu membahas penyakit itu dengannya. Dan sampai saat ini, Mawar tak tahu, kalau aku sudah sembuh. Beda dengan Alda. Aku sudah memberi tahu Alda, kalau aku sudah sembuh.


Saat aku mengatakan kenyataan itu, ia hanya menangapinya dengan tersenyum tipis. Mungkin ia merasa lucu dengan tingkahku yang memalukan, saat menceritakan penyakit itu. Aku yang malu akan hal itu, mengultimatum Mawar dan Alda. Agar penyakit memalukan yang pernah ku derita itu, tak mereka cerita kan pada orang lain. Bagaimana pun penyakit itu sangat memalukan buat pria.


Dan Alhamdulillah, rahasia itu masih rapat tersimpan. Padahal biasanya wanita, hanya tahan menyimpan rahasia selama 4 jam.


Hari ini satu personil berkurang. Karena Alda sedang menjalani sidang terakhir perceraiannya. Kalau Alda sudah mendapatkan akte cerai, gerbang untuk mendapatkannya sudah semakin dekat. Tinggal nunggu masa iddahnya habis, dan aku akan kembali melamarnya. Kali ini, aku akan minta bantuan Raisya dan ibu. Aku tak mau minta bantuan pada Mawar lagi. Karena jikalau berurusan dengan Mawar, ujung ujungnya duit, atau ada saja permintaan aneh nya.


Seperti minggu lalu, ia merengek dibeliin dress di Tok tok shop nya. Pakai akun ku. Maksa banget dia, katanya akan membantuku dekat dengan Alda. Eehh... Sudah datang baju nya. Ia malah bilang, Alda tak akan mau padaku. Karena aku Impoten.


Mawar sekarang sudah jualan di tok tok. Tapi, ia hanya Affiliate. Artinya, T ikTok Affiliate sendiri merupakan layanan dari T ikTok yang memungkinkan pengguna untuk mempromosikan atau endorse sebuah produk. Saat pengguna lain membeli produk yang dipromosikan melalui tautan yang dibagikan. Maka ia pun akan mendapatkan komisi atau bagian dari produk yang telah terjual tersebut.


"Mawar, abang ke belakang dulu ya?" aku merasa perut ku sedikit begah. Rasanya mau muntah dan mau pup. Aku minta Mawar yang ladeni pembeli. Saat ini lag waktu nya makan siang. Pembeli lagi ramai dan kenapa ini perut gak bisa di ajak kompromi. "Aku masuk ini. Mau keluarkan angin dulu!" jelas ku lagi pada Mawar.


"Iya bang." Sahutnya lembut dan tersenyum tipis. Akhir akhir ini, Mawar sudah banyak perubahan, sikapnya lebih dewasa. Tahu apa yang mau dikerjakan, tanpa disuruh suruh. Ia memang rajin, sama dengan kakak sepupunya Alda.


Entah apa maunya ini perut. Sudah hampir setengah jam aku jongkok di closed ini. Tapi, gak tuntas tuntas juga. Aku gak mencret, hanya saja pup ku keluar sedikit sedikit dan lebih lunak dari biasanya. Disaat mules, yang keluar adalah angin dengan suara letupan-letupannya.


Hhuufftt...

__ADS_1


Sedikit legah, setelah aku oleskan minyak kayu putih di perut. Aku minta minyak kayu putih nya Bi Romlah. Ku dudukkan bokongku d kursi, sambil membaluri perut kotak kotakku dengan minyak kayu putih. Saat merasakan anaknya perut yang ku pijat sendiri. Aku pun di panggil Mawar.


Dengan malasnya aku menyeret kakiku ke depan.


"Sakit perut ku Mawar." Ujarku malas, apa gak bisa aku istirahat sebentar.


Diliriknya aku dengan muka masamnya. "Itu, ada yang nyariin." Ujarnya menunjukkan ke arah pojokan. Ku ikuti arah gerakan tangannya. Aku sungguh sangat terkejut, melihat sosok wanita yang duduk di kursi pojok warung itu.


Sisil... Ujarku yang hanya bisa ku dengar sendiri. Dan terlihat Sisil berjalan ke arahku dengan wajah riangnya. Mau apa ini orang? ngapain kesini? ini tak boleh dibiarkan, aku gak mau ada keributan di sini.


"Bang... Apa kabar?" tanya nya dengan senyum merekah. Bibirnya yang berwarna menyala itu, jadi terlihat lebih tebal, karena lipstiknya yang mencolok.


"Baik." Jawab ku datar. Aku tak mungkij juga menunjukkan sikap tak menghargai. Nanti tersinggung pula si Sisil, dan marah marah di sini, bisa bahaya itu.


" Aku sedang kerja Sisil. Aku tak punya waktu untuk bicara denganmu, sebaiknya kamu pulang saja. lagi pula tak ada lagi yang perlu kita bicarakan." Bicaraku tegas dan langsung membalik badan.


"Ada hal penting yang ingin kau bicarakan. Aku tak mau pulang sebelum bicara dengan Abang." Ujarnya dengan muka memelas. Ingin muntah aku melihat mukanya itu. apa maksud wanita ini? dia yang selalu menghina-hina aku dengan penyakit yang kualami dan sekarang dia memohon untuk kembali padaku, kan gila. Dmana harga dirinya.


"Aku tak ada waktu Sisil, ku Jelaskan sekali lagi. kita tak ada hubungan lagi, tak ada yang perlu kita bicarakan." Aku sampai menggigit gigiku sendiri, saking geramnya pada Sisil.

__ADS_1


"Aku nggak mau pergi sebelum bicara dengan Abang."


"Ya sudah kalau kamu gak mau pergi. Suka-sukamu lah." kali ini emosiku terpancing atas sikap Sisil yang tak bisa dibilangin. syukur kami sudah berada di lorong arah ke dapur.


Sisil cukup terkejut melihat kemarahanku ya selama ini aku selalu menurut dan baik padanya, mungkin inilah ucapanku yang keras kedua kalinya. Di mana pertama kalinya saat aku mengucapkan cerai padanya.


"Aku tunggu abang selesai bekerja, kita perlu bicara." ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca. Wajahnya tertuutp kabut tebal sudah.


"Terserah, kalau kamu mau nunggu, silahkan! Jangan ganggu aku dulu. Aku mau kerja." ujarku dengan malasnya. Aku tak mau terpengaruh dengan sikap sok polosnya itu, yang sangat pantai bersandiwara Lihatlah betapa liciknya dia mempengaruhi Mawar, dengan mengatakan Aku masih mengalami penyakit impoten.


Dengan ekspresi muka kasihanya Sisil mencari tempat duduk di pojokan. Sedang kan aku kembali bekerja,menganggap wanita tak tahu malu itu tak ada di tempat ini, walau suasana hatiku sedang buruk karena kehadirannya. Aku tetap ramah dan semangat melayani pelanggan.


" Ya sudah Bang rujuk aja. Mantan istrinya abang kan mau menerima kekurangan abang. Lagi- lagi Mawar ikut-ikutan dengan masalah pribadiku. kesal dengan hal itu ku tatap mawar tajam. Ia pun dengan cepat menjepit mulutnya dengan jemarinya. Tingkah konyolnya sangat lucu. Aku akhirnya bisa tertawa juga.


Sudah lama, aku tak bisa tertawa selepas ini. Tawaku kali ini, memang sangat sangat riang. Seperti baru dapat lotre, satu milyar saja


"Anak kecil, jangan ikut urusan orang dewasa." Ujarku tegas, menoyor kepalanya lembut.


Iihh..

__ADS_1


"Ini Kepala di fitrai tahu." Ada saja jawaban yang keluar dari mulutnya Mawar


TBC


__ADS_2