
Sungguh kehadiran Sisil di warung, membuat ku tak nyaman saat bekerja. Sudah diusir, tetap saja gak mau pergi. Entah apa maunya dasar Sisil muka, tembok nggak tahu malu. Sudah dicuekin tetap aja menyusorkan dirinya. Syukur Alda gak di sini. Jadi, aku gak terlalu dibuat setres dengan keberadaan Sisil di warung ini. Aku tak mau dengan kehadiran Sisil. Alda jadi semakin menjaga jarak denganku.
Saat sedang sibuk melayani pembeli. Aku dikejutkan dengan kedatangan Alda. ternyata setelah selesai sidang perceraiannya Alda langsung datang ke warung. Kupikir dia nggak datang lagi ke sini. Kedatangan Alda membuatku cukup cemas aku takut Sisil banyak bicara dan mempengaruhi Alda.
Kulihat Alda memperhatikan lekat Sisil yang duduk di pojokan warung. Dari caranya menatap Sisil, jelas ia sangat penasaran pada wanita itu. Ternyata dia nggak kenal Sisil. Berarti selama 2 hari di kampung, saat Ayah meninggal dia nggak tahu kalau Sisil adalah mantan istriku dan malahan mawar yang mengetahuinya, Itu pun karena Sisil mengajak mawar bicara. Ternyata mawar tipe wanita yang bisa menyimpan rahasia, saat Sisil mengajaknya bicara. Dia tidak menceritakannya kepada Alda.
Eh... kenapa si Sisil hanya mempengaruhi mawar? apa dia pikir aku dan Mawar ada hubungan yang spesial? gak tahu dia, aku tu sukanya sama Alda. Bukan Mawar, si bocah heboh tak jelas itu. Sisil mungkin tak menyangka, kalau aku suka Alda. Karena ia tahu Alda punya anak.
Aku yang sedang mawas diri. Hanya bisa pasrah. Disaat Alda menghampiri Sisil. Ku lihat interaksi keduanya dari jarak jauh. Dari pengamatanku, Sisil bersikap ramah dan sopan pada Alda. Sangat beda dengan sikap nya pada Mawar. Yang terlihat seperti sedang bersaing.
Setelah beramah tamah dengan Sisil. Alda disibukkan melayani teman teman kerjanya, yang datang makan siang ke warung.
Aku yang begitu penasaran pada Alda, saat ia bekerja jadi guru. Memfokuskan kuping ini, untuk mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.
Ternyata mereka baru pulang dari rumah sakit, menjenguk istri kepala sekolah mereka. Pembicaraan wanita wanita berpendidikan itu, sedikit ngaco menurutku. Masak mereka seperti mendoakan istri kepalanya meninggal dan mengatakan Alda yang akan jadi istri kedua kepala sekolah mereka yang bernama Armand.
Ya, aku juga tahu. Kalau pria matang yang bernama Armand itu suka pada Alda. Dari caranya bicara dan memperlakukan Alda saat di rumah sakit, sangat beda dan bisa terbaca, kalau ia suka Alda.
Hadeuhh...
Sainganku ada dua. Hakim Rayhan dan kepala sekolah pak Armand. Jelas aku kalah, aku ini belum punya pekerjaan yang bagus. Walau aku punya tabungan yang lumayan banyak menurutku. Tapi, mana sebanding dengan kekayaan dua pria itu. Tabungan itu, rencananya akan saya buatkan untuk buka usaha dalam bidang kontraktor.
Satu jam warung itu dibisingkan oleh suara dan cekikan ketawa para emak emak yang berprofesi sebagai guru itu. Mungkin karena pemilik warung itu adalah teman mereka. Jadi mereka menganggap warung ini, seperti milik mereka sendiri. Dan Alda juga terlihat bahagia nimbrung dengan teman teman kerjanya itu.
Setelah dagangan habis, warung pun sepi. Ku ajak Sisil pergi dari tempat itu. Bisa ku lihat, Alda memperhatikanku dan Sisil yang kini sudah naik di atas motor dari spion. Aku yang sedang tegang, karena kedatangan Sisil, akhirnya gak tahu harus bersikap seperti apa pada Alda. Sejak kedatanganya ke warung tadi siang, aku gak bicara sepatah katapun dengannya.
***
Aku yang buntu ini, melajukan motor ke arah kampung. Sisil menepuk kuat bahuku. Aku yang terkejut, menepikan motor dengan kesalnya. Wanita ini, benar benar buat susah.
"Turu..!" titahku dengan muka berlipat. Rahang mengeras sudah menatapnya dari spion. Buang waktu saja, aku meladeni Sisil ini.
"Turunn....!" tegas ku lagi, menoleh ke belakang dengan mata tajam, seperti elang yang siap menerkam mangsa.
Sisil turun dari motor dengan muka sedihnya. Isak tangis sudah mulai terdengar, membuat kupingku panas mendengarnya. Entah kenapa aku merasa kepanasan dan naik pitam berhadapan dengan Sisil.
__ADS_1
"Aku,.."
"Jangan katakan apapun, aku tak ingin mendengar penjelasan apapun darimu." Ujarku tegas turun dari motor, berdiri di sebelahnya dan tak mau menatapnya.
Huhuhu..
Ia dudukkan bokongnya di trotoar. Hatiku tak terenyuh mendengar isak tangisnya itu. Aku malah muak dan mau muntah mendengarnya. Sisil pandai sekali beracting. Aku sudah hapal karakternya. Saat jadi istriku, ku sabarkan sikap dan tingkah lakunya. Tapi, sekarang aku tak sabar lagi. Aku tak ada kewajiban untuk menjaga perasaannya.
Aku yang muak, merogoh ponsel dari saku celanaku. Ku scrol kontak. Aku akan menelpon pamannya Sisil. Memberi kabar, kalau Sisil ada bersamaku, dan aku akan mengantarkannya ke panti sosial. Aku tak mau repot, berurusan dengan wanita psikopat ini.
Saat menghubungi pamannya Sisil. Isak tangisnya semakin kencang saja terdengar. Membuat telinga pekak dibuatnya. Dan syukur sekali dalam satu kali panggilan, telepon pun tersambung.
"Assalamualaikum... Paman, ini Sisil ada bersamaku. Aku ingin membawanya pulang. Tapi, ia tak mau." Ujarku tegas, dan tak memberi kesempatan pada Pamannya sisil bicara.
" Walaikum salam.. Loh, koq bersamamu?" katanya ia mau menyusul suaminya." Jawab paman dengan tak tenangnya di ujung sana.
Ku lirik, Sisil yang menangis dengan sedihnya di sebelahku. Kasihan juga aku melihatnya seperti itu. Bagaimanapun dulu ia pernah ku cintai. Pernah mengisi hari hariku. Walau aku sering ia maki.
"Oouu... Begitu ya paman. Baiklah, aku tutup dulu. Assalamualaikum...!'
Setelah ponsel ku simpan disaku celanaku. Ku dudukkan bokongku di sebelahnya.
Huufftt...
Ku tarik napas kasar dan mengembuskan nya kasar. Aku perlu stok oksigen yang banyak di paru paruku, agar bisa tenang menghadapi Sisil yang sedang labil ini. Jangan sempat emosiku terpancing dibuatnya.
" Kamu kan sudah di talaknya. Kenapa pula kamu mau cari dia lagi?" tanyaku lembut, seolah mengerti dan hanyut dalam masalahnya yang dihadapi Sisil.
"Aku baru ditalak satu olehnya. Dan aku baru tahu, kalau aku sedang hamil." Ujarnya dengan berlinang air mata. Dadanya terlihat naik turun, karena menahan isak tangis yang hebat itu.
Aku jadi sedih melihatnya. Ia akhirnya hamil juga. Empat tahun menikah dengannya, aku tak bisa membuatnya bahagia. Pantas ia sering menghinaku, karena aku tak bisa memberikan nya anak. Jangan memberikan nya anak, memuaskannya saja aku tak bisa.
"Terus, kenapa kamu malah jumpai aku?" tanyaku dengan bingungnya.
"Aku, aku..." Ia kembali menangis histeris. "Aku hamil, a.. Aku gak mau me, melahirkan tanpa suami." Uajrnya dengan terbata bata.
__ADS_1
Hufftt...
"Aku tak bisa jadi ayah dari anakmu. Please... Sisil, berhenti menggangguku." Ujarku tegas, aku gak mau ribet dibuat wanita ini.
Huhuhu..
Ia semakin menangis histeris. Aduhh... bisa gila aku dibuat wanita ini.
"Iya, aku juga tahu, kamu gak akan mau kembali padaku. Tapi, apa salahnya ku coba terlebih dahulu."
Hadeuh...
Ada -Ada saja si sisil, mau ketawa aku dibuatnya.
"Aku tak punya waktu banyak. Ku harap, ini terakhir kali kita komunikasi. Kalau kamu tetap ganggu aku soal asmara. Jangan salahkan aku, jika sikapku kasar padamu." Jelasku menatapnya tajam.
Huhuhu..
Ia menunduk dan terisak isak. "I, iya...!" Sahutnya dengan suara bergetar.
Huufftt..
Akun kembali menarik napas panjang. Kemudian bangkit dari dudukku.
"Aku akan antar kamu ke suamimu. Aku akan damaikan kalian." Ujarku dengan serius menatapnya, yang kini mendongak melihatku. Karena Sisil masih dalam keadaan duduk.
"Ia gak tau aku hamil." Jawabnya sedih.
"Nanti, ku bantu kamu selesaikan masalahmu. Sekarang kita ke rumah keluarga suamimu dulu." Ujarku
Sisil mengangguk, ia pun bangkit dari duduknya. Mengekoriku, dan naik di atas boncengan.
Keluarga suaminya Sisil, ada di kota ini. Jadi, tak masalah buatku mengantarnya ke sana. Aku akan membantunya kembali pada suaminya. Karena ia tak mau punya anak tanpa ayah. Mungkin Sisil, sudah siap di poligami Karena kata dia, suaminya itu punya selingkuhan.
TBC
__ADS_1