
Huufftt..
Ku putuskan mengantar Sisil ke rumah keluarga suaminya. Tadinya ia menolak, karena ia tak mau lagi kembali pada suaminya itu. Dia berharap, aku kembali padanya. Mana mungkin itu bisa terjadi. Iya sedang hamil anak dari suaminya. Setahuku wanita yang sedang hamil tidak boleh dicerai dan bodoh sekali aku, mau menikah lagi dengannya, setelah 4 tahun aku membina rumah tangga dengannya. Aku sabar atas sikapnya yang selalu merendah kan ku. Selalu dihina-hinanya atas penyakit yang ku alami dulu.
Dia mengatakan sangat menyesal meminta cerai dariku. karena ia baru merasakan kebaikan diriku. Katanya dia tak menemukan pria sebaik diriku, sesabar diriku. Sepertinya ia baru menyadari telah salah ambil keputusan dengan meminta cerai dariku.
Ia yang tak sabar, akhirnya merasakan penderitaan yang lebih parah setelah bercerai dariku. Suaminya yang sekarang kasar dan tukang selingkuh.
Aahhkk...
Sudahlah, untuk apa mengingat masa lalu, yang jelas sejak bercerai dengan Sisil kehidupanku lebih baik, penyakit ku sembuh dan aku bertemu dengan wanita baik, sabar, pekerja keras mandiri dan cantik lagi. Dia adalah Alda. Aku akan berjuang mendapatkannya, sainganku hanya dua orang yaitu pak Hakim Raihan dan pak kepala sekolah Armand.
Sesampainya di rumah mertuanya Sisil. Ku kenalkan diriku, saat itu ada suaminya bernama Jamal dan kedua orang tuanya. Ternyata orang tuanya Jamal tak setuju Jamal menikah dengan Sisil. Aku baru tahu, kalau Sisil sebenarnya yang jadi istri kedua.
__ADS_1
Hadeuhh...
Pusing aku dibuat masalahnya Sisil. Ia ngakunya di kampung. Suaminya masih lajang, eehh... gak tahunya suami orang.
"Oohh... Begitu ya pak. Tapi pak, anak bapak tak boleh lepas tanggung jawab begitu saja. Ini wanita sudah hamil. Ia tak boleh dicerai pak." Ujarku tegas kepada mertuanya Sisil. Juga bicara kepada Jamal.
"Apa..... Hamil...?" tanya Jamal dengan terkejutnya.
Jamal yang tadinya duduk di sofa panjang dengan kedua orang tuanya. Kini menghampiri Sisil yang duduk di kursi di hadapannya.
"Maaf ya Dek. Abang gak tahu kamu hamil. Kalau kamu masih mau dengan abang. Kita perbaiki lagi hubungan kita." Ujarnya menggenggam tangan Sisil yang ada di atas paha wanita itu dengan penuh penyesalan. Aku semakin dibuat bingung dengan suami sisil ini. Kata dia suaminya itu jahat. Tapi, ini kulihat suaminya baik.
Apa Sisil nya yang bermasalah, sikapnya yang kekanakan kanakan, membuat Jamal jadi tak peduli dan bosan padanya?
__ADS_1
Aahhkk... Aku tak mau dibuat repot mengurus Sisil lagi. Ini pertama dan terakhir kali aku mau berurusan dengan masalahnya.
"Lah, emang aku bawa dia kesini itu mau kembali padamu. Tanggung jawab hasil dari perbuatan lembur kalian." Ujarku dengan menahan senyum. Aku jadi merasa lucu dengan keluarga ini.
"Iya bang. makasih, sudah mau bawa dia kesini. Aku sih sebenernya pergi dari rumah, karena di usirnya."
What.... Sudahlah, ini masalah makin gila. Aku gak mau ikut campur lagi. Urusan asmaraku lebih penting. Jangan sempat, aku didahului kedua pria mapan itu. Yaitu Raihan dan Armand.
"Baiklah, aku pamit." Dengan cepat ku bangkit dari dudukku. Bergegas keluar dari rumah lumayan mewah itu. Tak perlu lagi aku diantar mereka ke beranda rumah. Hatiku sudah kepanasan di dalam rumah itu, tak nyaman dan buat bingung.
Dengan perasaan berkecamuk. Ku pacu motorku menuju rumah Alda. Malam ini, aku akan utarakan lagi niatku untuk menjadikannya istri.
TBC
__ADS_1