HASRAT DUDA IMPOTEN

HASRAT DUDA IMPOTEN
Pov Alda (Sedih)


__ADS_3

Aku tahu Kak, aku tahu di mana alamatnya Bang Akram. Tadi dia cerita saat kakak pergi ke rumahnya Pak Armand, dia ceritakan semuanya mengenai kisahnya. kisah dia dengan mantan istrinya. Bibi juga ikut mendengarkan kisahnya."


Jelas mawar dengan dengan suara yang yang terdengar sedih. Mungkin ia ikut prihatin dengan kabar yang kuberikan. Di mana orang tuanya Akram meninggal.


Setelah selesai bertelepon dengan mawar. Kubuka chat yang kukirim kepada Akram dan ternyata dia belum membacanya. Aku yang masih ada rasa gengsi kepadanya akhirnya kuputuskan untuk menghapus chat itu sebelum ia baca. Esok siang aku dan Mawar rencananya akan pergi ke kampung nya Akram. Kami pergi setelah dagangan habis


Karena dagangan kami lama habisnya hari ini, akhirnya sore hari, Kami baru bisa pergi ke kampungnya Akram. Yang jaraknya sekitar tiga jam dari kota Medan. Kami tidak memberitahu Akram, kalau kami akan datang. Kata Mawar, biarlah jadi surprise.


Sepanjang perjalanan, Mawar sibuk buat konten, sedangkan aku sedang .memikirkan Mas Evan. Juga memikirkan ucapan Bu Suci tadi malam. Serta memikirkan sikap Akram akhir akhir ini padaku. Ia yang menunjukkan ketertarikannya padaku. Aku belum mau menikah sebenarnya. Tapi, kalau benar, gara gara Akram usaha warung makan ku laris manis. Aku jadi kepikiran untuk menerima cintanya.


Hadeeuuh...


"Hidup kenapa rumit sih...?!?" teriakku tanpa sadar di dalam bus travel yang kami carter.


"Alda,, kamu kenapa?" tanya ibu heran menatapku.


"Enggak papa Bu." jawabku tersenyum tipis.


"Paling juga kak Alda,, mikirin abang Evan." Ujar Mawar, dari depan. Ia duduk di sebelah supir. Kami merental mobil kijang innova. Yang ikut ke

__ADS_1


kampungnya Akram adalah aku, Ibu, bi romlah, mawar dan Raisa.


Aku diam tak mau menanggapi ucapan mawar Emang sih benar yang dikatakan mawar Aku sedang memikirkan mas Evan.


"Bener ya mawar si Evan ditangkap polisi sama istri mudanya itu?" tanya Bi romla penuh dengan rasa penasarannya.


" Katanya sih gitu Bi, beritanya aku lihat tadi sama mawar di TV , serta pembeli yang membahas mas Evan di warung." jawab ku datar Tak semangat.


"kasihan Evan ya, hidupnya jadi hancur sejak dia menghianatimu Alda." ujar Bi Romlah sedih.


Ya mas Evan sebenarnya pria yang baik sebelum Juli merusak rumah tangga kami


Tidak, tidak.... Kalau benar mas Evan baik dan masih mau bersamaku dia tidak akan terpengaruh dengan Juli. Sempat tergoda dan menyadari kesalahannya dia pasti memilih aku bukannya memilih Juli. Akram memang salah. Tapi, mas Evan juga salah.


Entah kenapa mengetahui begitu baiknya hati Akram. kesalahan yang ia buat atas hancurnya hidupku, seolah bisa ku maafkan karena aku merasa lebih tenang jika memaafkannya.


Kini tibalah kami di tempat tujuan. Akses jalan ke rumahnya Akram,, ternyata sudah sangat bagus. Saat kami sampai di sana, ayahnya Akram, sudah di makamkan. Karena kami sampai fi sana sudah pukul enam sore.


"Alda...!" Akram dengan penampilan islaminya, terlihat, sangat terkejut melihat kedatangan kami. Ia saat ini memakai baju koko dengan bagian bawahnya warung. Serta kepala ditutupi lobe hitam, senada dengan baju kokonya, sepertinya Akram mau pergi sholat ke Mesjid.

__ADS_1


"Ibu, Bi Romlah, Mawar. Heii.. Raisya... Kamu ikut juga kesini!" kedatangan kami seperti mood boster aja buat Akram. Wajah murungnya Seketika cerah berbinar, setelah kedatangan kami.


"Ayo masuk." Ia kini menggendong Raisya, yang memasrahkan dirinya di dada bidangnya Akram.


Ternyata, hanya ayah nyalah keluarga satu satunya yang ia miliki. Dan Akram ternyata anak satu satunya. Dan kini ayahnya juga telah berulang ke rahmatullah. Cerita Akram, yang tidak bisa menemani ayahnya saat sakratul maut, membuatku menitikkan air mata. Aku juga baru saja kehilangan Ayah. Aku bisa merasakan kesedihan yang dialami oleh Akram. Seandainya ia tak kembali ke kota kemarin. Mungkin, ia masih bisa menemani ayahnya, hingga ajal menjemput.


"Aku gak menyangka kalian akan datang ke sini." Ujar Akram lirih, mencoba tersenyum tipis menutupi rasa sedih nya. Aku bisa rasa kan sakit nya kehilangan orang tua.


"Ya, mana mungkin kami gak datang nak. Harus nya tadi malam kami berangkat. Saat kamu kasih kabar pada Alda. Tapi, karena kita sudah terlanjur memasak tuk dagangan besok. Ya, terpaksa harus dijual kan terlebih dahulu." Jelas Bi Romlah penuh rasa bersalah.


Begitu juga dengan aku, aku sangat merasa bersalah pada Akram. Ia sudah baik pada keluargaku. Kami malah datang melayat, setelah jenazah di kuburkan.


"Ya, gak apa apa bi. Aku mengerti koq." Jawabnya pelan, melirikku yang sedari tadi hanya menundukkan kepala.


"Iya nak. Terima kasih pengertiannya. Kamu harus sabar ya..?" ujar Bi Romlah, memberikan penguatan dan motivasi pada Akram


"Iya Bi, pasti." Sahutnya ramah. "Ayo, kita makan dulu, habis itu istirahat. Kalian pasti lelah." Ujarnya dengan lembut. Beranjak dari duduk nya, menuntun kami ke dapur.


Merasa tak enak hati menolak ajakannya. Kami pun makan bersama. Setelah makan, dapat waktu isya. Dan setelah itu, acara malam takjiah pun di mulai.

__ADS_1


TBC


__ADS_2