HASRAT DUDA IMPOTEN

HASRAT DUDA IMPOTEN
Pasrah


__ADS_3

Pov Mawar...


"Aaaaahhhkkkk... Mawar...... Putriku... Bangun... Mawar.....!" suara itu ku dengar sangat kuat. Tapi, rasanya mata ini sangat susah untuk di buka. Rasanya berat sekali, seperti ditimpah batu besar.


tak hanya mataku yang terasa berat untuk dibuka seluruh tubuhku juga terasa sangat sakit, pegal-pegal, mulai dari ujung kaki hingga ke kepala.


Rasanya tulang-tulang mau copot dari persendian. Otot-otot ku juga terasa mengelupas dari tulangnya, ini sakitnya sangat luar biasa. Kenapa seperti ini pikirku. Aku belum menyadari aku di mana saat ini. Yang aku tahu, aku sedang di atas sebuah ranjang empuk sedang memeluk guling yang tak biasa dari guling yang kumiliki di rumah. Guling ku saat ini lebih keras. Setahu aku guling ku itu sangat lembut dan empuk.


"Mawar.... Akram.... Bangun kalian... Bangun.....!"


kenapa mama sehisteris itu membangunkan ku. Ini kan hari minggu. Aku sudah biasa bangun sedikit telat di hari minggu. Semalam, aku dan kawan kawanku ke club. Mereka memaksaku ikut, katanya aku dikenalkan sama cowok kren, mirip oppa korea.


Ya gak dapat cintanya Abang Akram. Minimal mirip Abang Akram lah. Kan abang Akram ganteng, mirip artis korea. Ya seperti lah kalau abang Akram habis cukuran jamblangnya



Iiihhh... Aku koq jadi bayangin seperti itu sih. Aku masih menutup mata, dengan pikiran melanglang buana.


"Mawar.....!"


Teriakan ibu ketiga kalinya itupun terdengar kuat. Kini sudah terdengar jelas dan nyata. Ku mencoba membuka sebelah mataku. Karena silau cahaya dari jendela sedikit menyilaukan. Itu artinya ini sudah pagi, pantes Mama marah marah bangunin aku.


Dan


Aaaahhkkkkk....


Ku berteriak histeris, disaat mendapati tangan ini memeluk erat, tubuhnya Abang Akram. Dan saat itu juga, abang Akram juga terbangun dan terkejut. Kami sama-sama terperangah.


Aahhkkkk...


Kini ia yang berteriak histeris. Menatap secara bergantian aku dan orang orang yang ada di kamar saat ini.

__ADS_1


Di kamar ini ada ibu serta Paman pamanku. Aku sangat malu sekali, kenapa aku bisa satu ranjang dengan pria yang bukan suamiku. Mana aku tidak pakai baju dan tubuhku hanya ditutup selimut. Karena merasakan malu yang amat, kembali kembali ku menyembunyikan diri di balik selimut.


Sedangkan abang kulihat bangkit dari ranjang ,dia memang berpakaian dalam keadaan lengkap, beda dengan diriku yang polos seperti saat ini. Ya Tuhan.... Apa yang terjadi pada kami semalam? kenapa aku bisa satu ranjang dengan Abang Akram seingatku tadi malam aku pergi ke klub.


Temanku Gladys sedang ulang tahun, dia mengatakan merayakan ulang tahunnya di klub, mereka membujukku serta memanas-manasi aku, kalau aku ini adalah gadis kampung yang tidak tahu perkembangan zaman dan kehidupan anak muda sekarang. Mereka enak saja bilang aku nggak tahu perkembangan zaman aku saja menggunakan sosial media yang lagi viral untuk mencari uang dan ketenaran.


Tapi, karena mereka pandai sekali menghasutku. Akupun tertarik untuk ikut ke sana. Sekalian mereka mengatakan akan mengenalkanku pada cowok-cowok keren. Karena saat ini aku sedang patah hati, karena cintaku ditolak Abang Akram. Aku iyakan ajakan mereka, kali aja benar ada cowok keren, mau denganku. Dan aku bisa deh lupain Abang Akram.


"Akram Apa yang kamu lakukan pada Putri Ibu Akram...?" itulah kalimat yang kudengar dari mulut Ibu.


Suara Ibu terdengar sangat frustasi. Aku yang sembunyi dibalik selimut, akhirnya membuka sedikit celah untuk melihat apa yang terjadi.


"Ini tidak seperti yang ibu bayangkan. Aku bisa jelaskan, semuanya pada ibu. Aku tidak ngapa-ngapain dengan mawar." Ujar Abang Akram dengan nada sedikit ketakutan.


"Apa... nggak ngapa-ngapain kamu bilang. Mawar saja sekarang dalam keadaan polos dan kalian berada dalam satu ranjang." Tanya ibu dengan kesalnya.


"Iya Bu, Kami memang tidur seranjang, tapi aku tidak ngapa-ngapain, aku tidak melakukan apapun pada Mawar, kalau Ibu tak percaya, ibu boleh melakukan pisum." Ujar Abang Akram tegas.


"Tidak... tidak, tidak... Harga diri keluarga kami telah rusak kamu buat. Lihatlah perbuatan kalian telah disaksikan oleh saudara-saudaraku. kamu harus bertanggung jawab Akram. Kamu harus menikahi putriku, Aku tak mau nanti diluar sana banyak gunjingan banyak omongan yang mengatakan hal buruk tentang mawar, hanya mawar harta yang kumiliki. kalau kamu tidak mau menikahinya mana ada lagi pria yang mau menikahinya nanti, karena ia sudah ketahuan seranjang dengan pria yang bukan suaminya."


Ibu menangis dengan sedihnya. Aku jadi ikutan nangis dibalik selimut. Harusnya aku tak ikut ke klub tadi malam, agar kejadian ini tak terjadi.


"I, iya.. A, aku akan menikah dengan Mawar."


Duar..


Rasanya jantungku mau copot dari tempatnya. Apa? Abang Akram akan menikahi ku? ini kabar baik atau buruk?/dia kan impoten. Mana bisa aku digenjotnya nanti.


Hadeuhh..


Sejak aku dengar cerita temanku yang sudah pernah mantap mantap, aku pun jadi kepengen. Kalau nikah dengan pria impoten, apa bisa kuda kudaan.

__ADS_1


Iihh.. Aku apaan sih? koq mikirnya kesitu?/aku kan suka abang Akram.


"Bang, ajak dia bicara di luar. Aku akan periksa Mawar dulu." ujar Ibu pada paman.


Kulihat Abang Akram dan kedua pamanku serta bibi bibiku keluar dari kamar. Dan ibu menghampiriku yang masih sembunyi dibalik selimut. Ku tutup celah yang ku sibak saat mengintip. Dan


Pouukkk... Pakkkk... Pukk... Pakkk


Aku sudah diserang ibu dengan sapu lidi dengan membabi buta. Sasaran utamanya adalah pantatku.


"Ma, Ampun Ma..." Ku berguling guling di atas ranjang, yang masih dibalut selimut, guna menghindari serangan beruntun dari pukulan lidi neraka Ibu. Rasanya pantatku sangat panas karena dipukul dengan sapu itu, kenapa pula ada di kamar Abang Akram ini sapu lidi.


"Ma, sakit ma...!" aduhan kesakitanku tak diindahkan Mama. Sepertinya Mama sangat kecewa padaku, makanya ia semarah ini.


"Ma, sakit Ma....! Huhuhu..


Aku pun menangis histeris dibalik selimut. Ibu menghentikan aksi memukul mukulnya. Mama begitu kalau marah, walau aku sudah besar, tetap diberi hukuman. Lihatlah aku dipukuli dengan sapu lidi, emang aku ini kasur yang sedang dijemur.


Huufftt...


Ibu mendudukkan bokongnya di kasur. Tarikan nafasnya terdengar berat dan cepat. Ibu ngos ngosan, kecapean karena memukulku.


"kenapa kamu lakukan ini Mawar... Kamu buat malu Ibu? kenapa ibu harus melihatmu seranjang dengan pria yang bukan suamimu mawar...? apa yang akan dikatakan tetangga nanti jika kabar Ini terdengar ke kampung kita?" ujar ibu dengan mata berkaca-kaca, aku jadi sangat merasa bersalah atas semua yang terjadi, tapi mau bagaimana lagi, semuanya telah terjadi.


ku belitkan selimut dengan mengikat kencang di dadaku, ku dekati ibu dan memeluknya dari belakang dengan lembut


"Apa yang ibu lihat, tak seperti yang Ibu bayangkan, aku dan abang Akram tidak melakukan apa-apa."


adengan cepat ibu membalik badan, mengangkat tangan, agar aku diam "Tapi yang akan dikatakan orang, adalah apa yang mereka liihat. Paman dan Bibimu sudah melihat kamu memeluk si Akram dalam keadaan polos seperti ini." Ujar ibu tegas dengan penuh amarah.


Aku pun akhirnya terdiam dan menundukkan kepala. Bagaimanapun aku menjelaskannya, ibu dan Paman tidak akan percaya karena mereka memang melihatku seperti sedang bermain dengan Abang Akram.

__ADS_1


" Ya sudah terserah ibu mau lakukan apa padaku." jawabku sendu.


TBC


__ADS_2