
Pov Akram
" Tiidak.. Ya Allah itu, apa itu beneran Anaconda. Tidak... takut....!" ujar Mawar dengan hebohnya. Mulutnya komat-kamit karena sibuk merepet, sedangkan matanya setia melihat milik ku yang mengacung sempurna di hadapan nya.
Sebenarnya sejak kejadian semalam hingga saat ini milikku ini hidup terus makanya aku pusing dan stress karena itu. Bagaimana untuk menidurkannya? tak mungkin kan aku memaksa mawar untuk melakukan itu malam ini. dia pasti tidak akan mau, karena dia belum nyaman denganku. walau kami sudah saling kenal.Tapi kan selama ini aku hanya menganggapnya sebagai adik, sangat tidak etis rasanya jika untuk memuaskan hasratku, aku memaksanya untuk melakukan itu, walaupun ia sebenarnya adalah istriku. Tapi untuk melakukan itu, Aku tidak akan tega saat ini.
Aku ingin ia merasa nyaman dulu denganku, sebab selama ini aku kan selalu menolak pernyataan cintanya. Jika aku memaksanya melakukan itu tentu ia merasa dirinya itu hanya kubuat sebagai alat peraga untuk menuntaskan hasratku yang terpendam selama ini, dan aku tidak mau itu terjadi. Aku sudah menikahinya dan aku akan menyayanginya dengan sungguh-sungguh sebagai istriku. Aku akan belajar mencintai mawar, mendidiknya membimbingnya menjadi istri yang sholehah
Wajah panik dan memerahnya Mawar, mendongak tepat dihadapan ku, kini yang berdiri menjulang tinggi di hadapannya. Aku mau tertawa Melihat tingkahnya yang melorotkan celanaku sehingga terpampanglah milikku yang tegak dan hidup ini di hadapannya.
Tadi siang Paman Danu menanyakan perihal kejantananku Ini, paman Danu menanyakan. Benarkah aku ini pria sehat atau tidak?
Ku tanya pada Paman Danu, Kenapa Paman Danu menanyakan hal seperti itu. Paman Danu jawab, iya disuruh mawar untuk menanyakan hal itu. Tentu saja hal itu membuatku tersenyum lucu sampai ke situ mawar menyelidikiku.
Sangat wajar sih dia meragukan kejantananku. Karena dulu pernah aku memperagakan padanya terong yang dibakar dan akhirnya terong itu Letoy. saat itu aku mengatakan bahwa milikku seperti itu, letoy, padahal waktu itu aku hanya bercanda. tak mungkin kan aku membahas keperkasaanku padanya, Padahal dia bukanlah siapa-siapa aku saat itu, dia kuanggap hanyalah adikku dan sekarang dia sudah jadi istriku.
Mana mungkin aku menyembunyikan semuanya lagi. Semua yang ada dalam tubuhku ini adalah miliknya sekarang dia boleh menjamah, menikmati setiap inchi yang ada pada tubuhku ini. Apapun yang ada dalam diriku, adalah miliknya.
"Mantap... !" ujarnya dengan muka pengen nya.
Ia pun ambruk, pingsan di lantai dalam keadaan telungkup di lantai kamar. Kedua tangan masih memegang kolor dan CD ku yang melorot karena ia tarik dengan sangat kuat, hingga ke lantai.
Aku tahu ibu mertuaku dan Paman- Paman lainnya sedang menguping apa yang terjadi di dalam kamar ini, karena aku dengar juga suara bisik-bisik mereka di saat Mawar tadi teriak dan mengucapkan kata mantap. Sungguh aku merasa kejadian malam ini sangat lucu, berkenalan dengan keluarga Mawar dan Alda membuat hidupku semakin berwarna, ada suka duka dan humor di dalam keluarga ini, sungguh keluarga yang penuh kasih sayang.
Aku tahu mawar ini sedang berpura-pura. Mungkin ia malu dengan tingkahnya, makanya ia berakting pingsan. Tak apa-apa, aku akan ikuti alur dari ceritanya, akan kubuat dia terpana padaku, akan ku buat ia merasa nyaman terlebih dahulu.
Mungkin aku akan menahan hasrat ini sampai ia sendiri yang minta untuk dijeblos, dipompa dan di gonjot olehku, lihat saja akan ku tebarkan pesona - pesonaku yang akan membuat mawar tak tahan karenanya. Karena Ku Tahu dia itu sangat mencintaiku, wanita biasanya tak akan tahan diabaikan oleh pria yang ia sukai kita lihat saja sampai di mana kamu berpura-pura istriku.
Aku Tersenyum puas malam ini ternyata menikah dengan mawar begitu membahagiakan tak perlu lagi ku sesali Alda yang meninggalkanku.
Toh Allah memberikan Gantinya hari itu juga, wanita polos dan lucu seperti mawar, kenapa aku baru menyadari sekarang. Harusnya sejak dulu aku mendekati mawar saja, tak perlu kupupuk rasa sukaku pada Alda, karena Alda itu dulu belum resmi cerai dengan Evan. Lagi pula ada sangkut pautku dengan perpisahan Alda dan Evan, harusnya aku sadar akan hal itu, kenapa nggak dari dulu aku dekati Mawar saja.
__ADS_1
"Sayang, Dek....istriku....sayang... cintaku Bungaku..!" ujarku dengan mengulum senyum. Aku ingin mengerjai Istriku yang pura-pura pingsan ini, akan kubuat dia tertawa terbahak- bahak dan menyesal atas tingkah konyolnya dan anehnya malam ini yang pura-pura pingsan.
" Sayang.. Istriku ...kamu kenapa? jangan pingsan dulu dong karena melihat milik Abang, kamu malah pura-pura pingsan. Jangan akting sayang... " ujarku mengusap lembut pipinya yang memerah.
kulihat bola matanya bergerak-gerak padahal matanya sedang tertutup, tingkahnya membuat perutku geli mual, tak kusangka mawar selucu ini.
" Sayang jangan pingsan dulu kita belum malam pertama." kujarku kembali menahan senyum, baju merasa lucu dengan ucapan ku sendiri.
"Sayang, bangun....mawar cintaku...istriku ." tak henti-hentinya aku goda dia. Aku ingin dia bangun dari pura-pura pingsannya, masa ada orang pingsan tapi bola matanya bergerak ke sana dan
kemari. Lagi pula, kakinya juga tadi nampak bergerak. Pandai sekali Dia akting, entah apa yang ada di otaknya sekarang ini.
Mawar tak kunjung sadar. Ku lepas tangannya yang masih memegangi CD dan kolor ku. Ku naikkan me atas, kembali memakainya dengan benar.
Aku raih tubuhnya yang masih dibalut kebaya itu. Dan ku angkat ke atas ranjang, dan membaringkannya dengan lembut di atas ranjang.
"Mawar.... Kamu Kenapa? jangan buat panik dong?" tanya ku, memastikan diriku kalau Mawar hanya akting. Tapi tetap ia tak mau bangun.
"Eemmm... Gimana caranya agar kamu bangun ya? baiklah, aku akan ke belakang ke kandang ayam. Kata nenekku dulu, kalau ada orang pingsan, tinggal oleskan taik ayam di hidung nya, pasti ia akan sadar. Baiklah... Abang ke keluar dulu ya..?" ujarku dengan suara sedikit keras, aku sengaja bicara sendiri. Agar dia dengar, dan mengakhiri sandiwara nya yang pingsan itu.
Ku tunggu lima menit, tapi ia tak bangun juga. Padahal sudah ku uyel uyel pipi mulusnya.
Akhirnya aku bangkit dari ranjang. Bersikap siap untuk keluar kamar menuju ke belakang tepat nya ke kandang ayam. Tapi, saat tangan ini menekan handle pintu. Ku putar cepat kepalaku ke arahnya. Dan ternyata saat itu, ia sudah membuka mata. Tapi, dengan cepat ia tutup lagi matanya, saat aku menoleh ke arah nya.
Eemmm..
Ia benar benar pura pura pingsan. Aku tahu, ia pasti sengaja tak mau bangun. Karena jikalau aku ke kandang ayam, mengambil taik ayam, tentu aku juga akan kena bauk taik ayam.
Licik sekali istriku ini. Ku putuskan lagi naik ke atas ranjang.
"Oouuww.... Kalau pakai taik ayam, bauk. Aku baru ingat, kata guru penjaskes ku saat SMP, orang pingsan busana disadarkan dengan memberikan napas buatan." Ujarku sendiri, berharap ia bangun. Pasti ia takut, jika ku cium.
__ADS_1
Huffftt....
Ku tarik napas panjang, dan menghembuskannya pelan. Ku bulat kan tekad, untuk memberikan napas buatan pada Mawar.
Huufftt..
Kembali ku tarik napas, koq aku jadi gugup untuk memberikan napas buatan padanya. Ini bukan pertama kali buatku untuk berciuman. Saat menjadi suami Sisil, setiap saat kami melakukan itu, disaat tidak kerja.
Ku usap usap dadaku yang bergemuruh. Dan aku masih menatap lekat wajahnya yang pura pura pingsan itu. Wajahku berangsur mendekati bibirnya yang berwarna chery mereka dan sangat menggoda itu.
Tangan ini dengan lembut memegang pipinya, ku tekan pelan, agar mulutnya membuka. Tapi, ia menahan rahangnya, sehingga mulutnya tak mau terbuka.
Aku mulai bosan mengikuti apa mau nya Mawar. Ku perhatikan kembali ia dari ujung kepala hingga kaki. Timbullah niat untuk mengklitikinnya. Tangan ini pun mulai menjulur ke pinggangnya. Dan aku pun mulai mengklitikinnya.
Hahahhhhaa...
Hahhahaha...
"Jangan... Stop... Abang... Hentikan... Geli.. Aahhkk..!"
Akhirnya ia gak tahan juga dengan klitikanku. Ia pun tertawa sambil berusaha menjauhkan tanganku yang terus mengklitikinnya yang kini sudah heboh di atas ranjang.
"Bang.. Aku mau mati.. aku gak bisa napas lagi. Jangan..... Hentikan...!" teriak nya.
Sadar akan suaranya yang kuat dan pasti akan terdengar ke tetangga. Aku pun berhenti mengklitikinnya.
Hua... Haa...
Ia menarik napas panjang. Dadanya yang montok naik turun, karena lelah yang tertawa. Saat menatap ia yang mencoba menenangkan diri, mata ini tak sengaja melihat belahan dadanya yang menggoda. Ternyata pengait kebaya nya sudah lepas, saat ia heboh berontak dari klitikannku.
Glug
__ADS_1
Glug..
Aku merasa kesusahan menelan ludah sendiri, melihat belahan yang menggoda i