HASRAT DUDA IMPOTEN

HASRAT DUDA IMPOTEN
Nasehati panjang


__ADS_3

Rasanya suara ku habis, karena banyaknya khutbah yang kubacakan. Aku merasa di prank oleh Pak Penghulu, sebenarnya sih, membaca khutbah nikah bukan keharusan. Itu sifatnya mubah, atau boleh saja. Tanpa membaca itu, proses pernikahan bisa tetap berlangsung.


Prok


prok


prok


Kali ini, para bapak bapak yang ada di ruangan ini memberikan A plus padaku. Tepukan tangan mereka terdengar penuh kekaguman. Seketika aku merasa derajatku diangkat di tempat ini. Semangat ku bertambah berkali lipat, untuk menikah ini. Ilmu agama yang ku pelajar selama ini, sekolah diuji ke validannya sekarang.


Huufftt...


"Bersyukur sekali kamu bu Imah, punya mantu Nanti nya seperti ini. Sepertinya calon menantumu ini, tahu betul tentang agama." Ujar Pak Penghulu pada Bi Imah, yang sebentar lagi akan jadi ibu mertuaku. Akhirnya aku punya orang tua juga.


Ku lirik Bi Imah yang duduk di sebelah kiri Mawar. Beliau tersenyum bahagia dengan kedua matanya yang berkaca kaca. Sepertinya ia sedang tangis bahagia.


"Semoga pak, memang seperti itu lah yang kita harapan semua." Sahutku bu Imah dengan terisak. Menatapku dengan sendu.


"Iya bu, baiklah kita mulai saja ijab kabulnya ya!" Ujar Pak Penghulu jelas dan padat. Pak Penghulu memperhatikan semua orang di tempat itu.


Paman Danu bersiap siap duduk di hadapanku. Ia terlihat menarik napas sebelum menjulurkan tangannya padaku.


Dari tadi Mawar mematung, seperti insecure melihat ku dengan segala kelebihanku. Dia harus yakin, bahwa aku bisa membahagia kan nya. Asal ia patuh patuh pada suaminya ini.


Bismillahirrohmanirrohim


“Anakku Akram Wicaksana bin Musthofa, Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan Mawar Qudsiyah binti Ramli yang walinya telah mewakilkan kepada saya untuk menikahkannya dengan Anda  dengan mas kawin uang 30 juta rupiah dibayar tunai.”


“Saya terima nikah dan kawinnya Mawar Qudsiyah binti Ramli dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Ujar ku tegas dan lantang.


"SAAHHH....!"


Sekali ucapan langsung sukses.


Huufftt..


Walau begitu, jangan tanya gimana berdebarnya jantungku saat ini. Momen ijab kabul adalah moment yang paling menakutkan untuk para Calon mempelai pria. Walau ini bukan yang pertama buat ku. Tapi, kejadian ini sangat menegangkan, benar benar buat panas tengkuk dan mules perut.

__ADS_1


Seusai ijab kabul aju diminta mendoakan mendoakan istri. Ya Tuhan, aku punya istri yang sangat muda. Umurnya baru akan genap 19 tahun minggu depan. Usia kami terpaut jauh, 9 tahun.


Ibu mertuaku., ci elleh.. PD sekali aku mengatakan itu. Ya memang Bi Imah yang kini jadi ibu mertuaku, meminta Mawar dan aku berharap hadapan. Mawar menunduk, tanganku dengan sedikit gemetar memegang ubun-ubunnya yang ditutupi hijab sambil membaca doa.


“Allahumma baarikli fi ahli wa baarik li-ahli fiyya warzuqhum minni warzuqniy minhum.”


Yang artinya: “Ya Allah ya Tuhan, berkahilah aku dalam permasalahan keluargaku.


Prok


prok


prok


.Yeee...


Kali ini, Paman Raja yang membuat lelucon dengan bertepuk tangan, ia nampak bahagia melihat keponakannya menikah, Seketika suasana tegang yang ku rasa, saat mencium kening ya Mawar menguap sudah.


Mawar tersenyum manis padaku, saat ia meraih tanganku untuk ia salim dan cium. Entah kenapa hatiku menghangat karena nya. Sakti hati dan rasa kecewa karena di tinggal Alda, menguap sudah. Kini ada wanita polos di hadapanku Yang akan ku bimbing jadi istri soleha dan ibu yang baik untuk anak anak ku kelak. Aku harus cepat punya anak, usiaku sudah 28 tahun.


Setelah itu lanjut ke acara serah terima mahar, ada uang senilai 30 juta yang jadi Maharnya Mawar. Dan lanjut tukar cincin. Cincin nya sebenarnya hanya satu, tepatnya bukan tukar cincin sih. Karena mepet tak sempat beli cincin dua. Jadilah aku sematkan cincin di jari manisnya Mawar yang lentik dengan cincin emas pemberian ibu, yang ku simpan sudah lama di dompet.


Kini kami sudah disandingkan. Saat nya mendengar Nasihat pernikahan, dari pak penghulu, semoga nasehatnya tak panjang. Karena aku sudah telah dan kantuk sekali. Tadi malam, aku hanya tidur 4 jam.


"Pernikahan itu akan menggenapkan separuh dien antum (agama kalian). Sehebat apapun sebelum menikah, masih belum komplit keber-Islaman kita. Nikah itu sunatullah. Mumpung antum belum ketemu calon istri, perbanyak ibadah, qiyamul lail, antum akan dipertemukan oleh Allah Subhanahu Wata’ala pasangan yang sekufu dengan antum.”


Hadeuhh.....


Ceramah nya Sepertinya tak terkhusus pada kami padahal, tadi nya aku ingin pak penghulu memberi ceramah pada Mawar yang kekanak kanakan ini.


Pak penghulu memandangi satu per satu orang yang ada di tempat ini. Ku lihat mereka, nampak serius memperhatikan pak penghulu ceramah. Apalagi Paman Raja, yang sampai berumur 5 tahun belum menikah.


“Namun bisa jadi pasangan yang antum dapatkan, tidak sesuai dengan yang antum bayangkan. Tidak sama dengan kriteria yang antum idam-idamkan, sebagaimana di buku-buku yang pernah antum baca, atau ceramah-ceramah yang pernah antum dengar. Sikapilah itu sebagai pemberian terbaik dari Allah untuk antum. Tidak usah protes, jangan mengeluh.” Kali ini, pak penghulu fokus bicara pada Mawar.


Yes


Semoga Mawar bisa dewasa dalam mengarungi biduk rumah tangga Nanti nya. Karena masalah dalam rumah tangga akan selalu ada.

__ADS_1


Tak hanya Mawar yang serius mendengarkan nasehat pernikahan. Para tamu juga semakin memperhatikan.


Pak penghulu menoleh ke arah Paman Raja,


“SUDAH nadhor dan taaruf dengan calon istri?” tanyaku pak penghulu pada Paman Raja. Ya, Paman Raja, adalah abangnya Bi Imah, sudah berumur 45 tahun belum menikah juga.


“Beluuuuum!!” jawab Paman Raja dengan muka sedihnya.


"Oohh.. Semoga secepatnya datang jodoh nya." Ujar pak penghulu tersenyum ramah pada Paman Raja.


“Pernikahan itu menyatukan dua makhluk Allah yang berbeda. Laki-laki sangat didominasi oleh logika. Sementara wanita, lebih mengemuka perasaannya. Belum lagi latar belakang keluarga, pendidikan, lingkungan, dan lain sebagainya. Jadi jarang atau mustahil, dalam pernikahan itu langsung cocok, persis. Selalu saja ada kurangnya.”


Mawar terlihat semakin menyimak.


“Tugas suami itu mengayomi istri. Buat istri nyaman dengan kehadiran antum. Suami itu imam di rumah. Makanya dia yang paling tahu kemana arah rumah tangganya dibawa. Suami bersama istri harus bisa merumuskan visi keluarganya dibawa kemana. Tentu, semua merujuk kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Ada aturan main yang rigid di sana. Antum harus belajar dari situ.”


Kali ini aku mengernyitkan dahi.


“Suami itu juga mempunyai kewajiban memberi nafkah lahir batin terhadap keluarga. Sehingga suami, sebagai tulang punggung keluarga, harus mencari rejeki yang halal buat keluarga. Istri, sebagai manajer yang mengelola keuangan keluarga. Bukan soal banyak atau sedikit, namun yang lebih utama adalah berkahnya. Sebab dengan keberkahan, kebutuhan keluarga akan tercukupi.


"Secara batin, suami harus menciptakan rasa aman dan nyaman di keluarga, sekaligus menjadikan keluarga Qur’ani. Di sisi lain, suami juga wajib memberikan nafkah biologis kepada istrinya. Semuanya harus imbang, dan saling pengertian serta memahami.”


“Olehnya,” lanjut pak penghulu lagi. “jadikanlah istrimu laksana bidadari surga, Insya Allah antum akan diperlakukan sebagai raja. Jangan hardik dan kasari istrimu. Baik secara fisik maupun kata-kata. Sebab istri itu selalu ingat, apa yang dilakukan suaminya terhadap dirinya. Ingat, mereka lebih mengedepankan perasaan dibanding logika. Mungkin bagi lelaki itu hal sepele, namun bagi wanita tidak.”


“Panggillah istrimu dengan nama kesayangan, yang hanya kalian berdua yang paham. Misalnya ‘cinta’, ‘cantik’, ‘mawar’, ‘melati’, dan lain sebagainya.”


 Orang orang di ruangan ini ku lihat mulai tersenyum, salah satu dari mereka nyeletuk, yaitu Paman Raja “Bunga Bangkai.”


Semua orang tertawa lebar. Ini acara akad nikah macam stand up comedy saja jadinya.


“Dalam membangun rumah tangga, tidak selalu berjalan mulus. Selalu ada saja masalah. Kadang itu hanya sepele. Tetapi jangan digampangkan. Sekecil apapun masalah, harus diselesaikan dengan baik, jika tidak, bisa jadi akan membesar. Karena setan, akan ikut bermain di situ. Dan senantiasa mengembus-embuskan fitnah, untuk membuat kacau. Bicarakan berdua, dengan tenang. Cari waktu dan tempat, yang membuat nyaman. Jangan sampai masalahmu, orang lain yang lebih tahu duluan. Apalagi ngumbar curhat di medsos.


Sehingga sebagai imam, antum harus berusaha menyelesaikan semua masalah itu dengan adil dan penuh kasih sayang. Jika ternyata belum bisa selesai juga, mintalah nasihat kepada murrabi, atau ustadz yang paham tentang syariah. Selain itu, bekalilah dirimu dengan membaca Fiqh Munakahat, biar faham tentang pernikahan itu.”


“Insya Allah, sebentar lagi antum memasuki pintu gerbang pernikahan. (Jika nanti) antum telah menggenapkan separoh dien. Jadilah suami sekaligus imam. Yang akan membawa keluarga tidak hanya bahagia di dunia. Namun yang akan terus berkumpul di janah-Nya kelak.”


TBC

__ADS_1


__ADS_2