
Pov Alda
Pukul 10.00 malam jenazah Bu Suci akhirnya sampai di rumah. di sana kedatangan jenazah Bu Suci sudah disambut oleh keluarga besar Pak Arman, eehh.. suamiku Arman, beserta keluarga besar Bu Suci juga. Di rumah itu juga terlihat ibu serta Bibiku dan saudara-saudaraku lainnya tapi aku tak melihat keberadaan mawar di tempat itu begitu juga dengan Akram.
Saat proses penyelesaian administrasi dan proses pengurasan jenazah dari rumah sakit akan dibawa ke rumah Pak Arman, terlebih dahulu aku menghubungi Ibu mengabari pada ibu bahwa, aku telah menikah dengan Pak Arman di rumah sakit. Hal itu tentu saja membuat Ibu sangat terkejut mendapat kabar dariku. Tapi, ibu terlihat dengan cepat mengendalikan diri dari keterkejutannya. Karena memang sebelumnya pun, Pak Armand Sudah pernah melamarku pada ibu.
Rencananya jenazah Bu Suci akan dikebumikan sekitar pukul 10 pagi besoknya itu yang kudengar saat keluarga besar Abang Arman dan Bu Suci berdiskusi, aku yang orang baru hanya bisa diam dan mendengarkan apa yang mereka rencanakan.
ku bacakan ayat suci Alquran di hadapan jenazah Bu suci. Air mata terus saja mengalir deras menganak sungai. Aku tak bisa menahan diri lagi, atas takdir yang ku terima. Sungguh aku tak menyangka, Takdirku akan seperti ini, aku terpaksa menikah dengan pria yang sebelumnya adalah atasanku, dan aku tak menyangka akan menikah di rumah sakit di hadapan istri pertama dari pria yang menikahiku.
Dalam relung hatiku terdalam, sempat bingung. kenapa Bu Suci memintaku menikah dengan Pak Arman? dan aku juga bingung dengan ucapan Bu suci yang mengatakan Pak Arman sudah lama mencintaiku. Dari mana ceritanya Pak Arman mencintaiku? kami saja baru kenal saat ia pindah tugas dan jadi kepala sekolah di tempatku mengajar.
Sebelumnya aku nggak kenal dia, walau Ayah pernah cerita bahwa ayah pernah menolong keluarga Pak Arman saat di tengah hutan, itu pun aku tahu ceritanya saat Arman membantu pengobatan ayah saat dirawat rumah sakit.
Aku merasa tak nyaman dengan tatapan keluarga besar pak Arman dan Bu Suci yang menatapku penuh selidik. Mungkin mereka baru tahu kabarnya saat ini, kalau aku dan pak Armand baru saja nikah di rumah sakit. Tentu kabar itu sangat mengejutkan. Dan akan menimbulkan banyak argument dan penilaian dari kedua belah pihak keluarga besar Pak Armand dan Bu Suci, prihal pernikahan mendadak itu.
Huuaaa......
Huaaa....
Seorang wanita paruh baya, dengan gamis jetblack bertabur swarovski, berjalan dengan sedihnya ke arah jenazah bu Suci. Wanita itu terlihat sangat kehilangan sekali.
Saat ia menundukkan tubuhnya. Jenazah Bu Suci, sudah dikerumuni para keluarga dekat pihak Bu Suci, dari kaki hingga kepala, dan saat ini, aku berada di bagian lurusan dada bu Suci dan di sebelahku duduk Pak Armand membacakan suroh yasin yang menatap sedih wajah pucat istrinya itu.
"Awas Minggir.. Minggir kamu dulu..!" Ibu itu menolak pahaku yang bersila di hadapan jasad Bu Suci.
Pak Armand melirik ibu ibu yang tak ku kenal itu sekilas dan kemudian kembali melanjutkannya acara mengajinya.
"Oohhh.. Iya bu, maaf...!" Ku mundurkan tubuhku dengan menahan rasa malu. Karena kini aku jadi sorotan orang orang di tempat itu.
"Iya, antri. Ngapain kamu duduk lama di sini. Siapa kamu?" ujar wanita itu dengan sesenggukan. Ibu itu memang terlihat sangat sedih sekali.
Aku tak menggubris ucapan ibu itu lagi. Ku seret kakiku ke arah kumpulan ibu, bibi dan keluarga besar ku yang datang ke rumah ini.
"Sabar...!" Ujar Ibu, meraih tubuhku dalam dekapannya.
Entah kenapa sikap wanita paruh baya itu, membuatku merasakan sakit yang amat, sangat sedih dan malu sekali. Ingin rasanya aku menangis histeris di tempat ini. Atau pergi saja dari tempat ini. Toh, aku tak siap dengan pernikahan ini. Entah Kenapa aku merasa tak siap.
"Bu....!" Ujar ku dengan suara sedikit keras dalam tangisku.
"Iya, jangan menangis..!" bisik ibu lembut padaku.
"Bu, bu aku, aku gak sanggup." Ujar ku masih terisak dalam dekapan ibu.
Sikap wanita paruh baya tadi membuatku takut. Takut membina biduk rumah tangga dengan Mas Armand. Aku tak mau merasakan sakit hati dan penderitaan lagi. Jujur, aku memang belum siap untuk menikah, apalagi menikah mendadak seperti ini.
__ADS_1
Jika semua orang tadi welcome akan kehadiran diriku di rumah ini. Itu sebuah semangat besar buatku. Tapi, kalau aku dikucilkan, aku tak sanggup.
"Jangan menangis, lihatlah kamu jadi dilihatin orang -orang."
Ucapan ibu semakin membuatku bingung dan kalut. Praduga negatif bermunculan di kepalaku. Aku memikirkan kehidupan ku setelah jadi istri pak Armand. Tentu tak mudah. Aku belum siap dengan semua tantangan itu. Pak Armand dari keluarga kaya, sedangakan aku orang miskin. Lagi pula Aku masih mau sendiri. Aku belum siap menghadapi masalah yang akan timbul dengan pernikahan ini.
Ku urai pelukan ibu. Ku lap air mata dengan jemariku. Aku bangkit dengan cepat. aku tak sanggup berada di rumah ini.
"Alda... Kamu mau ke mana?"
Ujar ibu sedikit keras memanggilku. Aku yang panik, tak mengindahkan panggilan ibu ku bergegas keluar dari rumah itu
"Alda..." dan kali ini Ibunya Pak Arman yang manggil namaku .Aku tak mau di rumah itu lagi. Ku percepat langkahku hingga kini aku berada di halaman rumah. Mencari tempat sedikit sepi,aku sedang berfikir. Langkah apa yang akan aku ambil. Aku sudah kepalang malu di rumah itu. Keberadaan ku di tempat itu, akan jadi perbincangan.
Tanpa kusadari kini aku sudah berada di taman samping rumah. Saat ini, di tempat ini sepi.
Huuffftt...
kutarik nafas panjang dan ku hembuskan pelan, Itu kulakukan berulang kali, aku perlu menangkan dadaku yang berdebar kuat saat ini. Aku masih syok aku masih takut, sangat takut untuk menghadapi ini semua. Sikap tak bersahabat Ibu paruh baya tadi sungguh membuatku Down. Aku, aku tak mau dimusuhi lagi, aku tak mau ada pertengkaran lagi. Makanya aku tak ingin menikah lagi, karena aku tak ingin berselisih, aku tak sanggup menghadapi masalah yang akan ku alami nanti dalam pernikahanku dengan Pak Armand.
Kejadian-kejadian yang ku alami, saat jadi istri mas Evan masih sangat Membekas di Hatiku. Aku belum mau merasakan namanya patah hati, sakit hati, dimusuhin ibu mertua, dimusuhi saudara-saudara. Kaarena sikap jahat ibu mertuaku dulu, ibunya mas Evan masih tersimpan di hati ini, sakitnya belum bisa ku lupakan.
Hhufftt
kembali ku menghela nafas dalam dan hembuskan nya pelan tangan ini terus saja mengelus-ngelus dada yang berdebar yang maaih bergemuruh hebat, dengan pikiran yang terus kacau. Setelah sedikit tenang, mataku ini tertarik ke sebuah Gazebo di hadapanku. Kakiku pun bergegas ingin ke sana. Aku ingin duduk di situ. menenangkan diri sambil berpikir apa yang harus kulakukan Malam ini. Aku tak mau di rumah ini, aku tak sanggup. Mentalku belum kuat menghadapi orang-orang di dalam sana, pasti saat ini sangat banyak pertanyaan-pertanyaan di pikiran mereka dengan kehadiranku di rumah itu. Karena hanya keluarga besar dari Pak Arman yang mengetahui pernikahan ini sedangkan keluarganya Bu Suci, tak tahu.
Aaauuuwwww...
Aku sangat terkejut saat merasakan tanganku disergap, dan tubuhku di tarik kuat. Hingga tubuh ini berbalik dan menabrak tubuh keras. Dari wangi yang ku endus, aku tahu pemilik tubuh yang ku tabrak.
Ku angkat kepalaku, guna mengetahui lebih jelas. Apakah orang yang menangkap ku ini benar suamiku atau bukan. Kan bisa saja parfumnya sama. Dan tenyata benar.
"Kamu Kenapa kabur. Ibu sudah heboh cariin kamu?" ujarnya lembut, ku buang cepat pandanganku. Aku tak sanggup menatap matanya yang memerah, karena sedang sedih.
"Aku, aku gak mau di sini. Aku mau pulang " Jawabku cepat, aku berontangan ku hempaskan tangannya yang membelit pergelangan tanganku. Dan menjauh darinya sekitar dua langkah.
Pak Armand mendahuluiku. Berdiri di hadapanku dengan tatapan bingungnya. Ia kembali mencengkram kedua bahuku. "Bicara apa kamu?" ujarnya dengan panik.
"Pak aku mau pulang. Aku gak siap jadi istri bapak." Jawabku menggerakkan kedua bahuku. Memang aku tak siap. "Sebelum keluarga besar tahu, sebaiknya Bapak ceraikan aku. Aku akan pulang sekarang "
Aku gak tahu lagi apa yang ku ucapkan. Saat ini, itulah yang ku inginkan. Rasanya Mentalku belum siap mengahadapi masalah yang akan timbul saat jadi istri pak Arman.
Mana Pak Hakim Rayhan juga pernah ungkapkan cintanya padaku. Menurutku tempat ini, tak aman untuk keberlanjutan hidupku. Dari pada nikah dengan Pak Armand, mending nikah dengan Akram. Tak akan ada gangguan yang ku dapatkan dari keluarga besar.
"Jangan ngacok kamu Alda.. " ujar Pak Arman tegas dan dengan paniknya.
__ADS_1
"Aku nggak ngacok Pak. Aku memang belum siap untuk menikah, aku belum mau menikah lagi pula istri Bapak baru meninggal, dan Bapak sudah nikah lagi. Apa kata orang-orang tentang kita nanti. Aku nggak mau Pak, aku nggak mau mendengar ocehan ocehan orang. Aku belum sanggup, hatiku belum sembuh dari rasa sakit, yang ku alami atas pernikahanku sebelumnya. Aku perlu istirahat Pak. Mentalku belum sembuh, aku perlu menjaga kewarasan dulu."
Ujar ku dengan berurui air mata.Tubuhku juga bergetar hebat, karena takut akan tatapan tajam pak Armand padaku. Aku tahu ia kesal padaku.
" Aku mau pulang, pernikahan kita dibatalkan saja.." ujarku dengan mengibaskan tangan dan berbalik badan. Ku gerakkan kakiku cepat untuk berlari. Tapi anehnya aku merasa kakiku melayang di udara. Ternyata pak Arman menhan tubuhku dengan mengangkat tubuhku dari belakang.
"Pak lepas...!" ku berontak, menggoyangkan tubuhku kuat agar lepas dari rengkuhan pak Armand.
"Alda.... " Ujarnya lembut di telinga ku. "Alda..." Ulangnya lagi, suara lembutnya membuat bulu romaku meremang. "Aku ngerti, sangat ngerti akan posisimu. Baiklah, jika Itu maumu. Setelah istriku dimakamkan, kita bahas ini lagi ya?" ujarnya masih dengan suara penuh kelembutan, baru kali ini ku lihat ada pria emosi, tapi bisa bicara lembut.
"Lepas....!" aku masih berusaha berontak. Pak Armand pun menurunkanku. Tapi, dengan cepat ia balik tubuhku, sehingga kini kami berhadap hadapan.
"Jangan ambil hati ucapan ibu Ibu tadi. Memang tante Itu, orangnya seperti itu." Aku tak sanggup menatap pak Armand. Ku paling kan wajahku cepat. "Ayo, Kamu istirahat dulu." Ia pun menarik tanganku, guna mengikuti langkahnya.
"Lepas .. Aku bisa jalan sendiri." Ku goyangkan tanganku, mencoba berontak dari genggamannya yang erat dan kuat itu.
"Gak, nanti kamu kabur. Please.... Jangan bertingkah dulu. Saat ini kita sedang berkabung." Ujarnya lembut menatapku syahdu.
Itu mata, syahdu karena sedih dan takut aku pergi, atau karena Bu Suci meninggal?
Sempat sempatnya aku memikirkan hal itu. Hingga aku tak sadar, kini kami sudah berada di dalam lift. Aku baru tahu, kalau rumah pak Armand ada lift nya.
Ku tak menampilkan muka bengongku. Malu juga sih, kalau dibilang norak.
Saat keluar dari lift. Tiga meter melangkah, di hadapan kami ada sebuah kamar. Pak Armand masih menggandeng tangan ku. Ia pun membuka pintu kamar.
"Kamu istirahat, gak usah turun ke bawah lagi." Ujarnya dengan muka datar, Setelah aku berada di dalam kamar. Sedangkan Pak Arman masih di ambang pintu.
"A, aku..!"
Plakk..
Pintu ditutup dengan cepat, padahal aku masih mau bicara.
Sialan, main tutup saja. Ku raih handle pintu berusaha membukanya, ternyata pintunya ditutup dari luar.
Ya ampun... aku dikurung di kamar ini. Aku merasa seperti di penjara. Aaaaahhh... Teriakku kencang, sambil memukul-mukul pintu kamar itu dengan kuat. AKu tahu tak ada gunanya aku teriak-teriak sekencang-kencangnya karena pasti kamar ini sudah kedap suara. Aku yang sedih dan merasa putus asa, akhirnya ambruk di lantai. Tubuh lemahku bersandar di daun pintu, kutarik kedua kakiku. Ku peluk lututku dengan erat, membenamkan wajah di lututku.
Air mata langsung mengucur deras. Hati ini masih merasakan sakit dan tak terima dengan apa yang terjadi.
Puas meratapi nasib sambil menangis sekencang-kencangnya di kamar kedap suara ini. Aku bangkit dari dudukku, kedua mata sembabku tertarik untuk menyoroti setiap sudut kamar ini. kamarnya sangat luas lebih luas dari rumah kpr-ku yang ku kredit selama 5 tahun ini. Ku seka air mataku dengan jemariku sambil berpikir dari mana kekayaan Pak Arman ? dia kan hanya kepala sekolah. kenapa punya rumah sebagus ini.
Di kamar mewah ini masih banyak dipajang foto-foto keluarga Pak Arman. Foto mesra Pak Arman dan Bu Suci masih bertengger di dinding kamar ini tepat dihadapan ranjang yang ada di hadapanku saat ini. Beberapa foto itu juga ada di atas nakas dan meja sudut.
Aku merasa seperti dihantui ibu Suci dalam ruangan ini, apalagi saat ia sakratul maut. Membayangkannya membuat bulu romaku meremang. Mendadak aku Jadi parno. Aku merasa seperti diawasi arwahnya yang gentayangan.
__ADS_1
Ya Tuhanku... Lindungi aku. Aku Sungguh ketakutan di dalam kamar ini. Mana aku dikunci lagi. Guna menghilangkan rasa takutku. Ku putuskan untuk sholat isya dan mengaji saja. Aku pun masuk ke kamar mandi, aku akan berwudhu.
TBC