HASRAT DUDA IMPOTEN

HASRAT DUDA IMPOTEN
Tak boleh pergi


__ADS_3

Pov Alda


"Gak sayang, ibu tegar koq. Ibu itu malah khawatir denganmu. Ku lihat kamu gak siap dengan pernikahan ini. Kalau kamu gak siap, ibu gak akan maksakan hubungan ini, sebelum berlarut. Biar ibu bilang sama Armand, agar ia menceraikanmu."


"Tak akan pernah itu terjadi..! Tak akan ada perceraian...!" Suara barithon itu terdengar menyeramkan. Aku kenal suara dingin itu.


Aku dan ibu yang masih berpegangan, sama sama men oleh ke asal suara yang berasal dari belakang kami.


"Nak Armand..!" Ujar ibu dengan datar, Sedang kan aku diam saja, memperhatikan Pak Armand menghampiri Kami, yang kini ekspresi wajahnya mendadak berubah dengan cepat. Dari tegang dan ketat, jadi sumringah. Heran aku, koq tiba tiba berubah gitu.


"Jangan dengar kan apa kata orang." Ujar nya menatapku dan ibu secara bergantian. "Yang terjadi tak perlu disesali. Ini yang terjadi, berarti ini yang terbaik untuk hidup kita. Aku tak akan pernah menceraikan Alda, apapun yang terjadi." tatapannya kepadaku serta Ibu semakin serius.


" Aku juga dengar, semua ocehan orang tentang kita. Tapi, Aku tak mau ambil pusing itu semua. Biarkan mereka berkoar-koar, yang jelas kita tidak melakukan seperti yang mereka katakan, tak perlu kita pusing, takut dan panik memikirkan apa kata manusia kita hanya perlu takut pada Allah."


Terlihat sekali Pak Arman begitu takut kehilanganku. Apa benar kata Bu suci bahwa Pak Arman dari dulu mencintaiku? karena saat di rumah sakti, Bu Suci pernah mengatakan itu. Tapi dari mana ceritanya, Pak Arman mencintaiku?


"Alda sudah sangat menderita dengan pernikahannya yang pertama. Dari dulu pun kan, Ibu sudah menolak lamaranmu. Saat Alda menelepon semalam, mengatakan Kamu telah menikah dengannya, asal kamu tahu, ibu sangat terkejut mendengarnya. Ibu juga stress akan hal itu. Ibu tak mau Putri Ibu ini menderita lagi, asal kamu tahu ya Armand, baru satu hari Alda di sini, sudah beribu komentar orang yang negatif padanya. Jadi, menurutku mental anakku akan rusak kalau seperti ini caranya, makanya aku ingin membawanya pulang. Selama masih ada acara di sini, Keberadaan Alda tidak baik di rumah ini." Ujar ibu tegas dan lantang pada Armand.

__ADS_1


Mendadak air muka Pak Arman cemas dan gelisah. "Bu Jangan bawa Alda pergi dari sini, tidak baik itu Bu. Aku dan Alda baru menikah, kalau dia pergi dari sini tetap orang orang akan membicarakannya." Ujar Pak Armand dengan memelas. Ia terlihat ketakutan kehilanganku.


Pak Armand kini menoleh ke arahku, meraih tanganku dari genggaman ibu. Sempat menolak, saat ia ingin menarik tanganku dari genggaman ibu. Tapi, akhirnya aku nurut juga. Rasanya tubuhku menegang, saat ia menggenggam tanganku. Mendadak tanganku jadi dingin.


"Kalau kamu nggak tahan, gak sanggup dengar apa kata orang orang. Mulai besok, di malam kedua takjiah. Kamu dan ibu di kamar saja." Ujar nya penuh kelembutan. Aku dibuat terperangah dengan sikap nya Pak Armand. Tak kusangka ia jasa bersikap manis seperti saat ini. Secara ia terkenal ke jam dan tegas di tempat kerja.


Ku lepaskan genggaman tangannya, dengan canggungnya. Ia yang sadar akan diriku yang tak nyaman saat ia menggenggam tanganku. Pak Arman pun dengan lembut melepas tanganku


Seketika suasana jadi canggung. Aku yang kikuk, saling pandang dengan ibu. Dan saat itu aku menanyakan pada ibu dengan kode mata, apa keputusan yang akan kami ambil, jujur saat ini aku sedang kalut dan bingung. Aku tak tahu harus melakukan apa? kalau ditanya hati yang paling dalam, Aku ingin pulang ke rumah, ingin hidup sendiri dulu. Belum siap untuk memiliki pasangan.


"Baik lah, Kami akan tetap di sini. Setelah acara malam takjiah ketiga selesai. Masalah- masalah ini akan kita bicarakan lagi, Ibu sangat terkejut mengetahui kenyataan. Kenapa tiba-tiba Alda, menikah di rumah sakit dengamu Nal Arman."


Haahh..


Gak salah bicara itu Pak Arman, benar dia Mau tinggal di rumah kecil kami, rumah KPR tipe 36


Yang kamarnya sangat kecil, jika dibandingkan dengan kamar pembantunya saja, kamar pembantunya pak Armand lebih luas dari kamar ku.

__ADS_1


"Ibu pegang ucapanmu Nak Arman. Semoga apa yang kamu katakan benar seperti itu. Ibu tak mau melihat Alda menderita. kalau Alda Ibu lihat menderita kamu buat. Ibu tak akan segan-segan memisahkan kamu darinya, terserah orang mau mengatakan apa, mau bilang Alda kerjanya Kawin, Cerai,Kawin, cerai ibu tak peduli, yang penting adalah kebahagiaan putriku ini." Ibu merangkum wajahku yang sembab, menatapku penuh dengan cinta.


" Iya Bu mana mungkin Alda ku buat menderita." Ujarnya dengan tertawa kecil. Pak Arman pun langsung memisahkan aku dan ibu, dan kini ia berada di tengah kami, tangannya dengan cepat merangkulku dan ibu. Dengan senyum mengembang nya. Pak Armand menatapku dan ibu secara bergantian. Ia terus saja tersenyum lebar. "Ayo kita makan..! Aku sudah lapar sekali."


Pak Armand mengajak kami meninggalkan tempat itu, masih merangkulku dengan ibu, kami pun menuju sebuah gazebo di taman samping rumah. Ternyata di sana sudah banyak keluarga inti yang menunggu, yaitu orang tuanya Pak Armand. Ayah dan ibu mertuaku, dan tak hanya mereka, Raisya dan Reza.


"Maama.... mama.."


Raisya yang melihat kedatanganku bersama ibu serta Pak Arman, langsung berlari menghampiri kami dengan merentangkan kedua tangannya. Terlihat anakku itu sangat merindukan, matanya yang indah berkaca-kaca saat berlari cepat ke arahku. Jujur aku juga sangat merindukannya. di saat Raisa sudah dekat dengan kami. Pak Arman melepas rangkulannya dari Bahuku dan saat itu, Raisya langsung meloncat dalam pelukanku.


"Raisa kangen ma, sangat kangen ma." Ia menciumi pipi kiri dan kananku dan memelukku erat, memang putriku ini tak bisa berpisah dariku. Satu hari satu malam kami tak bertemu, wajar ia sangat merasa kehilangan akan diriku.


" Iya sayang, Mama juga kangen ...!" ku balas menciumi gemes pipi gembul nya. Puas melepas kangen dengan Raisya. Ku menghampiri semuanya, yang sudah menungguku di Gazebo. kedatangan Raisa jadi mood booster buatku, rasa sedih dan bingung hilang sudah. Akupun Jadi semangat.


Seketika aku merasa lapar dan sangat berselerah untuk makan, apalagi di depanku sudah banyak terhidang makanan kesukaanku. Ada ayam seumur dan tauco kikil. Kami pun akhirnya makan bersama di Gazebo itu, dan saat makan, Pak Arman terlihat sangat menyayangi Raisa. Dia beberapa kali menyuapi Raisa makan. Dan bergantian menyuapi anaknya Reza. Saat ini Reza masih terlihat sangat sedih. Mungkin ia sudah mengerti arti kehilangan.


menyadari hal itu timbul semangat di diriku untuk jadi ibu pengganti yang baik kepada Reza.

__ADS_1


TBC


__ADS_2