
Ayah akhirnya diperbolehkan dokter pulang. Itu semua terjadi karena Ayah memaksa untuk pulang. Ayah mengatakan pada dokter kalau ia sudah sembuh, dokter tidak percaya sehingga dokter melakukan pemeriksaan lagi dan ternyata memang keadaan Ayah sudah kembali normal tekanan darah norma,l asam urat normal gula darah juga normal serta jantung juga bagus.
Sesampainya di rumah waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 sore aku bantu Ayah membersihkan tubuhnya. Dan tak berapa lama orang pintar yang akan memeriksa bagian vitalku itu pun datang, dengan enggan dan merasa malu bagian sensitifku itu diperiksa di hadapan ayah.
Aaahkk.. gak tahu lagi Mau ke mana aku taruh wajahku in,i aku jadi seperti anak kecil yang minta pipis dan minta dicebokin orang tuanya saja. Setelah melihat tongkat saktiku itu benar-benar sembuh Ayah terlihat senang sekali wajah tuanya berbinar-binar penuh semangat dan rasa kepercayaan diri.
Setelah salat magrib Aku memberi makan ayah dan memberikan Ayah obat. Setelah itu kami berbincang-bincang sejenak di ruang tamu. Aku mengatakan bahwa aku punya kenalan seorang wanita di kota dan dengan pertemuanku dengan wanita itulah penyakitku bisa sembuh yaitu aku menceritakan semua tentang Alda pada Ayah.
Dan aku juga mengatakan tadi siang saat aku senyum-senyum didapati Ayah di rumah sakti. Itu karena aku sedang bertelepon dengan wanita itu, yang tak lain adalah Alda. Ayah sungguh sangat senang mendengar ceritaku. Ia sangat semangat Ia pun memaksaku untuk pulang cepat ke kota, menjelaskan kepada wanita itu, kesalahan yang telah kubuat kepadanya.
Karena aku juga memang menceritakan semua yang ku alami mulai dari kecelakaan sebelum menikah, rumitnya pernikahanku dengan Sisil, perpisahanku dengan Sisil. Pindahnya aku ke kota, banyaknya orang yang mengetahui penyakitku dan membullyku. Dan aku yang semangat dan konsentrasi bekerja sehingga dalam waktu singkat, aku sudah jadi direktur. Semua itu aku ceritakan pada ayah rasanya plong seperti punya sahabat tempat berbagi.
" Ya nggak papa kamu boleh pulang malam ini. kamu jelaskan semua kepada calon menantu Ayah itu. Nah, disaat hatimu sudah tenang. Semua sudah jelas, kamu datang lagi ke sini kalau kamu mau merawat ayah " ujar ayah lembut.
Ayah sangat senang karena membayangkan akan punya menantu. Dan malam ini ayah memaksaku pulang ke kota, akhirnya aku berangkat dari kampung pukul 11.00 malam dan pukul 1 dini hari, aku sudah sampai di rukonya Alda. Aku punya kunci ruko itu, jadi tak ada kendala buatku untuk masuk ke dalam.
Sesampainya di ruko, ku masukkan motorku ke dalam. Dan aku pun bersiap siap untuk istirahat. Karena besok perjuangan akan dimulai.
***
Pagi yang indah. Langit yang cerah. Orang-orang menatap hari dengan penuh gairah. Begitu juga denganku. Saat ini ada harapan besar yang ku nanti dan ku akan ku capai. Yaitu mendapatkan cinta nya Alda.
Setelah selesai sholat shubuh. Ku bersih kan seluruh ruangan warung. Dan juga halaman nya. Aku akan buat kejutan pada Alda. Moga dia senang, dengan kedatangan ku yang tak terduga ini. Aku saja gak menyangka, ayah meminta cepat balik ke kota. Pada hal ayah sebenarnya belum sembuh total.
Ku dengar suara motornya Alda. Dengan perasaan membuncah, aku lari terbirit birit menuju halaman warung, karena tadi aku sedang di dapur, masih beres beres warung.
Saat sampai di teras warung. Ku lihat Alda dan Mawar, menatapku dengan tatapan bengis. Hal itu membuat ku jadi tak tenang. Apa, Alda sudah tahu tentang aku?
Ya Tuhan, semoga Alda belum tahu tentang aku. Ku perhatikan mereka lekat. Karena tingkah mereka aneh gitu. Bisik bisik tak jelas. Ku hampiri mereka, dengan senyum tipis, berusaha menutupi rasa gugup.
"Aku baru sampai, ini rencananya mau ke rumah jemput barang barang." Ujar ku masih dengan senyum menyungging sempurna. Tanganku bergerak cepat, meraih keranjang yang ada di tengah motor.
Alda tak manyahuti ucapanku. Bahkan ia tak menatapku saat bicara. Ia menampilkan ekspresi permusuhan. Apa ia sudah tahu semuanya? apa ia membenciku? koq sikapnya dingin.
"Kalian kenapa? dari tadi diam terus?" tanyaku dengan wajah cerianya, menatap Alda dan Mawar secara bergantian. Seolah tak tahu apa apa.
Lagi - Lagi Alda tak menggubris ucapanku. Sedangkan Mawar terlihat Ingin bicara. Tapi, Alda mencegah Mawar saat ingin bicara. Mereka seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Eemmm.... Kalian marah ya? atau kangen ya..?" gak henti hentinya ku menggoda mereka agar mau buka suara. Harus digituin biasanya, agar mau ngerocos.
"Penasaran ya bang? tunggu saja nanti, ada waktu yang tepat, kami jawab pertanyaan abang. Sekarang kita kerja, kerja..!" ujar Mawar kesal menataplu. Mana tatapan nya yang penuh ketakjuban saat melihatku dulu.
__ADS_1
Fix... Aku yakin, Alda sudah tahu semuanya.
"Oouuww... Gitu, baik lah!" ku sampirkan serbet ke bahuku. Aku masuk ke dapur, bergabung dengan bibi Romlah memasak. Ya, Bi Romlah juga sudah datang. Aku gak boleh terlalu ngotot mendesak mereka untuk mau bicara denganku. Tunggu waktu yang tempat, aku yang akan mengajak Alda bicara.
Di dapur Aku dan Bi Romlah, mulai memasak dan bicara santai.
"Akram, sudah bagaimana keadaan orang tuamu?" tanya Bi Romlah. Saat ini jugaa Alda ke dapur, mau ambil gula. Ia terlihat berhenti sejenak. Seperti sedang menguping pembicaraan kami.
"Masih sakit Bi. Tapi, sudah mau makan." Sahutku ramah, me lirik Alda. Kemudian saat ku lirik, ia pergi ke bagian depan warung. Aku tahu, dia itu mau nguping pembicaraan ku dengan Bi Romlah. Alda sebenarnya suka aku atau nggak sih? orang nya gak bisa ditebak.
Setelah selesai membantu Bi Romlah memasak. Ku tata lauk pauk di etalase. Pukul 10 pagi, pembeli sudah mulai berdatangan. Akupun mulai sibuk melayani pembeli. Langganan banyak yang menanyakan kenapa Aku gak kerja semalam. Dengan ramahnya ku menjawab semua pertanyaan pelanggan.
Eemmm...
Bahagia rasanya dirindukan banyak orang. Dan Pukul dua siang, dagangan ludes semua. Aku pun kembali menggoda Alda. Sebagai jalan bicara dengannya.
"Huuuuuuuhhh... Aakkhhhh... Aaiiisshh...!" Kali ini aku goda mereka dengan tingkah konyolku. Aku main tok tok, guna menarik perhatian Alda. Sound tok tok itu, ternyata menyita perhatiannya. .
"Haaahh... Abang ada Tok tok juga?" Mawar yang kecanduan main Tok tok, langsung heboh mendekatiku, padahal tadi ia menunjukkan muka masamnya. Ia lupa sudah, kalau semalam hingga pagi tadi ia sempat benci Aku.
"Ya adalah." Sahutku santai dan tersenyum puas, sambil melirikku Alda yang sok cuek.
"Loh, loh.... Ini vote abang di mana? kek kenal ini tempat?" tanya Mawar kepo, ia melirikku Alda sekejap. Terlihat Alda tak mau tahu, apa yang ku lakukan dengan Alda.
"Ini tempat Abang dulu kerja. Sebelum abang putuskan berhenti." Ujarku keras. Suaraku yang keras ternyata menyita perhatian Alda. Kami saling tatap sepersekian detik, dan ia dengan cepat memalingkan muka.
"Abang berhenti kerja kenapa? tanya mawar serius kepadaku. Mawar tak berkedip menatap wajah tampanku. Ya sudah, aku pura pura saja respect pada Mawar. Siapa tahu Alda cemburu.
"Enggak apa-apa bosan saja aku mau buka usaha sendiri, mau Mandiri." Ujar ku tegas kembali melirik Alda. "Seandainya Sikap Alda seperti sikapnya Mawar ini. Hadeuhh...... Senang sekali hatiku.
" Oh itu, itu semalam di sini datang loh cewek yang namanya kak Yuli. Si Pelakor, Katanya dia kenal sama Abang."
Ku sangat terkejut dengan ucapan Mawar. Tu kan Juli sudah menceritakan semuanya. Ku tatap sedih Alda. Memelas, agar jangan menghakimiku. Dan sialnya, ia malah menatapku tajam. End sudah hidupku. Harapanku sirnah juga. Alda membenciku.
Wajahnya tegang sudah saat ini. Tatapannya yang tadi ringan, kini terlihat berat dan berkabut. Kalau ia nampak sedih melihatku. Akunya malah menantang tatapannya itu.
Tak tahan ditatap sinis, ku putus kontak mata dengannya "Sebentar ya mawar Abang keluar dulu mau beli rokok." Ujarku gugup, bangkit cepat dari dudukku.
"Di sini kan ada rokok Bang." Sahut Mawar, menahan kepergian ku.
Aku yang sudah melangkah, berbalik badan. "Ia maksudnya aduh itu, mau beli pulsa." Jawabku dengan ekspresi wajah tegang. Sebelum Mawar banyak bicara, dengan cepat Aku pun pergi meninggalkan alda dan Mawar.
__ADS_1
10 menit kemudian Aku pun datang seperti biasa. Dengan selalu tersenyum jika melihat wanitabitu. Alda yang masih kesal menampilkan ekspresi masam. Sedangkan aku malah tersenyum terus.
"Pasti ada yang perlu dibicarakan denganku?!" ujarku to the point. Tak hanya dia, aku juga ingin bicara serius dengannya.
"Perasaanku mengatakan ada hal yang tidak beres, makanya aku pulang ke sini, padahal keadaan orang tuaku masih sakit, penjagaan masih perlu." ujarku dengan wajah sendu. Ku lihat Alda tidak tega melihat, wajah sedih ku.
"Seandainya Ayah tidak sakit aku tidak akan pulang semalam. Karena aku ingin menjelaskan sesuatu hal penting padamu. ku bela-belain bergerak tengah malam tadi, agar aku sempat menjelaskan sesuatu yang penting itu padamu, Sebelum informasi itu kau dapat dari orang lain."
Ada menatapku lekat. Ia seperti memberikan aku waktu untuk menjelaskan semuanya.
"sikapmu hari ini membuatku sangat yakin akan hal itu. Apakah Juli menemuimu?" tanyaku dengan begitu penasarannya.
"Iya." jawab Alda cepat.
Aku yang merasa bersalah, menunduk takut menatap matanya yang penuh amarah padaku.
" Kamu sebenarnya siapa sih? Kenapa kamu bilang aku yang menabrak kamu saat kecelakaan itu. kenapa kamu mau menghabiskan uang untuk aku berobat? kenapa kamu tetap bertahan di sini? Kenapa kau mau tinggal di sini?" cecar Alda dengan begitu banyaknya pertanyaan beruntun, menunjuk-nunjuk ku yang masih menunduk.
"Aku sudah tahu kamu siapa. Juli sudah menceritakan semuanya. Apa sih maumu?"
Deg
Habislah aku, pupuslah harapan untuk punya istri.
Aku masih menunduk, terlihat murung penuh penyesalan besar di wajahku.
"Kenapa diam? kamu sebenarnya siapa? Kenapa kau mau mengeluarkan uang untuk pengobatanku? Kalau benar aku yang menabrak kamu."
aku tetap terdiam dan masih menunduk.
"Jahat kamu, Kamu jahat, aku tak menyangka kau tega melakukan ini padaku? apa salahku? Kenapa kau minta Si Juli merayu suamiku? gara-gara ucapanmu itu, gara-gara pertarunganmu itu, gara-gara permainan itu, aku harus menderita seperti ini. Kamu sebenarnya siapa?" tanyanya dengan berderai air mata, sungguh hatiku bergetar hebat, ketakutan dan kasihan melihatnya. Saat mengatakan semua hal yang bercokol di hatinya, tentang Akram yang tidak jelas identitasnya. Tentang Akram yang misterius
ku mengangkat wajahku, menatapnya
sendu penuh penyesalan. "Maaf kalau menurutmu aku lah penyebab hancurnya rumah tanggamu. Kalau aku menceritakan semuanya, aku yakin kamu tak akan percaya karena memang aku salah. Tak seharusnya aku melakukan itu." Ujarku dengan penuh penyesalan.
"Jadi benar kamu membuat taruhan itu? kenapa?" tanyanya histeris.
karena aku benci pada suamimu. aku dendam padanya. Ia menyakiti perasaanku. dia merendahkanku. Siapa yang mau dikatakan impoten. Dia harus merasakan sakit, dia harus merasakan kehancuran seperti hancurnya hidupku. kamu tahu? ia menghinaku." Wajah putih itu memerah sudah karena emosi, mendengar penjelasan Akram
TBc
__ADS_1