
"I.. Iya Bu Suci. Aku mau mewujudkan keinginanmu..!"
Gubrak..
Tubuhku yang sejak tadi gemetar, karena geram dan kesal melihat Alda yang dipaksa menjadi istri kedua untuk Armand, akhirnya ambruk ke pintu ruang rawat ini. Suara benturannya tubuhku ke pintu terdengar jelas, Karena pintu mental ke dinding.
Jiwaku sejak dari tadi tidak tenang dengan kedatangan Pak Hakim Raihan ke warung. Kudengarkan dengan cermat apa yang dikatakan Pak Hakim Rehan kepada Alda yang meminta Alda ikut dengannya ke rumah sakit. Perasaanku semakin gila, gundah gulana.
Aku tak boleh diam, tanpa diajak, kakiku mengekori langkah Alda menuju mobil Pak Hakim Raihan. Aku harus tahu apa yang terjadi. Kenapa Alda diminta datang ke rumah sakit? dan ternyata Alda nggak keberatan aku ikut ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan aku dibuat semakin was-was, ingin bertanya apa yang terjadi tapi itu bukanlah wewenangku.
"Akram...!" suara Alda terdengar lirih, auto semua mata tertuju padaku saat ini. Aku dibuat malu akan hal itu. Sebelum mereka menyimpulkan tentang sikapku, dengan cepat aku bangkit, dengan memegangi daun pintu. Aku pun berlari dari ruangan itu secepat kilat.
Aku tak menyangka Alda akan menerima permintaan wanita yang bernama Suci itu. Apa Alda sangat menyukai Armand, sehingga ia menerimanya?
Memikirkan itu semua membuatku semakin setres. Sepanjang lorong ku lalui dengan otak yang berfikir keras dan hati yang terluka, seperti disayat sembilu, saat mengingat kejadian di ruang rawat itu. Aku yang sangat berharap pada Alda, harus kecewa, disaat ia lebih menerima tawaran jadi istri kedua.
Aarrgghh...
Ku luapkan emosi yang bercokol di dada. Tak ku pedulikan tatapan orang orang yang melihatku dari kejauhan. Ya, saat ini aku sedang berada di sebuah taman rumah sakit. Walau posisuku berada di pojokan. Tetap saja saat ini, ada mata yang menatapku. Ya karena tingkahku yang aneh menurut mereka.
Tidak, tidak.. Alda tak boleh menikah dengan pria itu. Aku yang masih panik, kembali menyeret kakiku cepat ke ruang rawat Bu Suci. Aku tak akan membiarkan Alda menikah dengan Armand. Aku harus menggagalkannya. Aku akan katakan, Kalau aku ini adalah tunangannya.
Pukk
__ADS_1
Ku pukul jidatku sendiri, menyadari kebodohan ku. Kenapa tadi aku pergi begitu saja dari ruangan itu. Kenapa aku gak cegah. Ya Allah... Semoga Alda belum menikah dengan Armand. Karena tadi, ada tokoh agama di ruangan itu. Aku yakin itu penghulu, karena bisa dilihat dari pakaiannya.
Karena terburu buru, aku malah menabrak seorang ibu ibu bertubuh gemuk. Sehingga plastik yang ia tenteng berserakan.
"Ya ampun... Di mana matamu kamu buat..?" umpat ibu itu kesal padaku. Ia hanya menghentak-hentakkan kakinya kuat, tanpa mau membantuku memungut barang barangnya yang berserak di lantai lorong rumah sakit.
"Maaf bu, maaf..!" sahutku tak kalah kesal. Coba ibu ini langsing. Tubuhnya itu tak akan memenuhi lorong rumah sakit ini. "Ini bu." Ku letakkan saja barang barangnya di lantai. Kulihat ia semakin kesal padaku. Aku tak peduli lagi, aku harus cepat sampai ke ruang rawatnya Bu Suci. Aku harus membawa Alda pergi dari tempat itu.
"Hei... Anak muda sialan...!" teriak si ibu
"Persetan....!" Aku yang panik tanpa sadar mengeluarkan kata itu.
"Apa... Apa kamu bilang? setan....!" ibu itu malah mengejarku.
"Dasar gila....!" Umpatku lagi tanpa sadar. Aku kesal sekali dengan hari ini, koq aku bisa bertemu dengan manusia kingkong itu.
Ku menoleh kebelakang, merasa ketakutan karena dikejar Kingkong. Kalau ibu ini tadi seorang pria, aku tak akan takut. Ini seorang wanita, tak mungkin kan aku berkelahi dengannya.
"Ya Allah... Tolong aku dari kejaran kingkong itu, keadaan sedang genting ya Allah...!" teriakku sambil berlari terbirit-birit. Si manusia kingkong nampak semakin kesal, saat mengejarku.
Dan
Bruugkkk
Ia pun terpleset dan terjatuh. Kebetulan sekali, saat ini di lorong itu sedang dibersihkan cleaning service.
__ADS_1
"Mampus... Eehh ..Maaf..!" ujarku dengan menoleh ke belakang "Da... Da, da....!" Aku merasa lucu dengan manusia kingkong itu. Padahal aku sedang tegang saat ini. Impianku sedang diambang kehancuran. Wanita yang ku idam idamkan akan menikah. Semoga gak menikah di rumah sakit ini Ya Allah..
Dan
Huufftt
Has...
Hu has.
Aku ngos-ngosan, kini aku sudah sampai di ambang pintu. Aku perlu udara, rasanya dadaku sesak dan sempit. Kepala ku sakit dan panas.
Huufftt..
Seketika aku heran, sesaat terdengar hening dari dalam ruangan itu. Padahal pintu tak tertutup rapat, itu artinya. Jika ada Pembicaraan di dalam, maka terdengar sampai keluar.
Dan
"SAAAHHH....!"
Bruggkkk..
Untuk kedua kalinya, aku ambruk. Dan kali ini aku ambruk di ambang pintu.
"Barakallahu laka wa baraka alaika wa jama’a bainakuma fi khoiir." Ucap orang-orang di ruangan itu secara bersamaan. Aku masih bisa mendengar nya dengan jelas, walau aku sedang dalam keadaan terpuruk.
__ADS_1
TBC