HASRAT DUDA IMPOTEN

HASRAT DUDA IMPOTEN
Berhasrat


__ADS_3

Pov Akram


Aku akan membawa Mawar kekontrakan ku saja. Kebetulan Jefry yang numpang tinggal di kontrakanku, sedang pergi keluar kota kemarin. Mobilku yang dipakai si Ridwan juga tak bisa ku mintai untuk ku pakai mengangkut si Mawar yang lagi hangover ini. Karena Ridwan sedang mengantar sewa ke PKU.


Sepanjang perjalanan menuju kontrakan, mulutnya Mawar tak bisa diam. Entah sudah berapa kali ia berusaha mendapatkan bibirku untuk ia sedot. Tangannya juga tak henti bergerak, menggerayangiku. Tentu saja aku tepis kan tangan mulusnya itu. Dan saat itu, dia akan meraba tubuhnya sendiri. Aku pun dibuat kesusahan menelan ludah, saat melihat aksi gilanya.


"Cepat sedikit Bang..! Ini istriku sudah nggak tahan lagi." Ujarku dengan tersenyum kecut aku jadi merasa lucu dengan kelakuan Si mawar ini. Gini rupanya kelakuan wanita, kalau lagi terang sang. Ngeri juga ya? pantes gak ada obat kuat untuk wanita. Karena memang wanita itu kuat kuat.


Wanita itu kuat ngomel, kuat makan, kuat merajuk, kuat belanja, kuat habisin uang. Semuanya lah untuk wanita. Aku sudah punya pengalaman pahit, saat membina rumah tangga dengan Sisil. Ia yang selalu kepanasan, karena minta ku puaskan. Selalu marah marah, disaat aku tak bisa penetrasi.


Hasratnya memang tak pernah bisa ku penuhi, sangat wajar memang jika ia minta cerai dariku. Dan sekarang, gara gara tingkah Mawar yang merang sang. Aku yang jadinya berhasrat. Kalau aku tak ingat diriku ini pria berharga, sudah ku terkam Mawar di club tadi.


Aku sangat menghormati wanita. Apalagi Mawar, wanita yang sudah ku kenal. Tak mungkin juga ku salurkan hasrat gila ini padanya, walau kelakuannyalah yang membuat bira hi ku tersulut seperti sekarang ini.


Aku tahu agama, aku tak mau melakukan maksiat. Aku takut masuk api neraka. Jadi, aku tak akan memanfaatkan kesempatan ini. Nanti, kalau sudah sampai di kontrakan, akan ku benamkan si Mawar ke dalam bak dan pintu akan ku kunci rapat rapat, biarin dia berendam di kamar mandi


"Aaaahhkkk... "


Hadeuh..


Mawar malah mende sah, dengan kelakuannya sendiri. Ku jauhkan tangannya dari selang kangannya.


"Iihh.. Aahhkk...!" ia protes, dan langsung menerkamku.


Ku toyor kepalanya yang berusaha mendapatkan bibirku. "Cepat sedikit pak, ngebut...!" teriakku pada pak supir. Tangan berusaha menjauhkan tubuh Mawar yang ingin memakanku.


"Lakukan saja pak, aku izinkan koq. Aku gak akan ngintip." Ujar si supir gila dengan santainya. Ia terlihat sesekali menoleh kebelakang.


"Diamm... Cepat..!" teriakku.


"Ini sudah cepat." Jawabnya ikut kesal, karena ku bentak.


"Lebih cepat...." titahku lagi.

__ADS_1


Nyus....


Si supir pun menambah kelajuan mobil yang dikendarainya, memang jarak untuk sampai ke kontrakanku tidaklah jauh lagi, tinggal 5 menit lagi pasti sampai. Mawar masih terus berusaha mendapatkan tubuhku. Aku nggak tahu segini gilanya orang yang kena obat perang sang. Saat tangannya berusaha merengkuhku, maka dia akan ku tolak dan kadang tubuhnya terhempas ke badan mobil.


"Stopp....!" teriakku keras kepada Pak sopir. Ia mungkin lupa dengan alamatku. Mobil pun berhenti dengan mendadak. sang sopir yang merem mendadak membuat tubuh kami terhuyung ke depan dan terhempas dengan cepat ke badan kursi.


Ooihhh rasanya lumayan sakit. Dan saat itu juga ku lihat Mawar sudah ambruk di lantai mobil. Kasihan juga dia, mungkin badannya sudah lecet-lecet, akibat ku tolak dan akibat mobil me rem mendadak.


Aku bayar tagihan dan dengan cepat ku bopong mawar menuju kontrakan ku. Se sampai nya didepan pintu, aku harus merogoh kunci lagi dari dompetku. Mawar ku baringkan di lantai teras rumah. Ia sudah tak berdaya, duduk saja sudah tak bisa. Anehnya ia malah berguling-guling seperti cacing kepanasan. Sangat memalukan sebenarnya tingkah Mawar malam ini. Tapi, koq terlihat lucu.


Ku abadikan momen langkah ini. Aku pun merekam apa yang ia lakukan. Ia sedang berguling-guling di lantai teras rumah. Ia bahkan membuat tari ular. Dan menggesek bagian bawahnya ke lantai. Kasihan juga aku padanya, tapi kelakuannya sangat menghibur.


Benar kata si Alda, Si Mawar ini anaknya asyik, lucu, ramah dan gak bosenin. Berteman dengannya membuat suasana jadi hidup. Lihatlah tingkahnya saat ini, dia sangat lucu.


Setelah rumah terbuka kuraih tubuh mawar yang tak berdaya itu. kubopong dia Ala bridal style, saat itu ia tak berontak lagi. Ia hanya menatap sendu wajahku.


"kamu Abang Akram kan?" Ujarnya dengan matanya yang merah dan sayu itu. Diperhatikan dengan jarak dekat seperti saat ini, Mawar ternyata sangat cantik. Ia ada kemiripan dengan Alda.


Halloo..


Prookk..


"Huaaa.... Sakit...!"


teriaknya sambil memegangi kepalanya yang terbentur ke kusen pintu. Saking terpananya aku melihat wajahnya Mawar, sehingga aku tak lihat jalan lagi. Ku pikir yang ku lalui plong begitu saja. Gak tahunya ada kusen pintu yang menghadang.


"Oouuuww.. Maaf...!" Ujarku, dengan menahan tawa. Koq aku merasa lucu dengan kejadian hari ini.


"Turun... Aku mau turun....!" teriaknya berontak dari rengkuhanku. Akhirnya ku lepas dia. Dan kembali ia ambruk di lantai. Lagi lagi ia mengaduh kesakitan, karena pantatnya mendarat sempurna di lantai.


"Iihhh.. Geram aku...!" ia berusaha bangkit dan aku membantunya. Saat aku lengah, ia malah merangkum wajahku dengan kuat. "Dari tadi, aku itu gak dapat dapatkan ini bibir.." Ia dekatkan bibirnya yang berwarna merah chery itu.


Tentu saja aku menjauhkan wajahku dari cengkeraman bibirnya.

__ADS_1


"Iihh...Kesal....!" Ia dorong kuat tubuhku, hingga aku ambruk di lantai. Kulihat gelagatnya aneh. Ia lepas dengan kasar kemeja flanel yang ia kenakan. Sehingga nampaklah tubuh mulusnya yang masih ditutupi tanktop.


Aku mulai gugup, ku lihat pintu masih terbuka. Aku pun bergegas menutupnya.


"Jangan tutup...! panas... Panas...!" keluhnya dengan frustasinya, menjambak rambutnya sendiri. Ya Mawar tidak memakai hijab, seperti kakak sepupunya Alda.


Tak ku hiraukan ocehannya. Ku tutup pintu segera, tapi gak sempat ku kunci. Ku amankan dulu anak ini, baru ku kunci nanti. Setelah itu ku bergegas mendorongnya ke kamar. Akan ku cemplungin dia ke bak mandi.


"Iihh.. apaan sih?" ia berusaha menghalau tanganku yang mendorongnya. "Jangan kasar... Dasar pria impoten.. Benar benar impoten..!" ujarnya kesal.


Ucapannya kali ini membuat emosiku terpancing. Lagi lagi dia merendahkan ku. Enak saja bilang aku impoten. Gak tahu dia dari tadi otong otong ku sudah meronta meronta ingin dibebaskan.


"Impoten kamu bilang?"


"Iya...!" ujarnya dengan frustasinya.


"Ooouuuww... Lihat, akan ku tunjukkan padamu. Tunggu sebentar....! kalau kali ini, kamu akan kejang kejang." Ujarku dengan percaya dirinya. Mulai membuka sabuk yang melingkar di pinggang


Terlihat wajahnya Mawar berbinar-binar, menatap ke arah selang kanganku. Lidahnya terus saja menjulur membasahi bibirnya yang merah. Ekspresi wajahnya yang mu peng itu, membuat otakku traveling ke mana mana. Aku jadi membayangkan ia berkaraoke dengan milikku. Membayangkan itu, membuat otong otongku semakin menggila. Aku yang berhasrat, akhirnya mengeluarkan anakondaku itu tanpa sadar.


Tidak...


Ku berlari menghindari Mawar, yang berusaha menggapai kejantanan ku. Ia terus saja mengejarku. Kami kejar kejaran di dalam kamar itu dengan hebohnya. Ia dengan ekspresi brigasnya berusaha menarik celanaku yang hampir melorot, yang tadi ku buka, saat ingin memamerkan keperkasaanku kepadanya. Aku belum sempat membernarkan celanaku. Sialnya disaat ada kesempatan mengancing celanaku itu. kakiku malah saling sandung.


Bruggkk..


Aku ambruk di atas ranjang. Dan Mawar dengan senyum menyeringainya mendekatiku. Ia pun menimpa tubuhku, yang sedari tadi menegang.


Nyuss..


Batangan ku yang masih tegak, rasanya mau patah. Karena ia timpa dengan tak sengaja


Aaauuuwww.... Aaahhkk..

__ADS_1


Tanpa sadar, Aku berteriak sekuat kuatnya.


TBC


__ADS_2