HASRAT DUDA IMPOTEN

HASRAT DUDA IMPOTEN
Ingin tahu


__ADS_3

Pov Mawar


Malam ini juga Ibu memaksa Abang Akram untuk menikahiku. Tentu saja hal itu membuatku panik dan bingung. Mana mungkin aku menikah dengan Abang Akram. Aku memang menyukainya. Tapi mengetahui fakta ia mengidap penyakit lemah syahwat, membuatku ragu untuk menjadi istrinya. Aku takut nantinya tidak bisa menerima kekurangannya itu.


" Ma menikahnya jangan malam ini, itu terlalu cepat. Kita tidak boleh bertindak terburu-buru ma. Semuanya harus dibicarakan lebih detail, direncanakan dengan matang mama." Ujarku dengan murungnya pada ibu.


"Harus cepat, mama gak mau nanti, perutmu buncit dan si Akram malah lari." Jawab ibu tegas, menatapku tajam. "Makanya, jadi anak perempuan jangan gatal. Ngapain kamu pergi ke club tanpa seizin mama." jelas Mama dengan muka masam


penuh kekecewaan.


"Hamil.?" tanyaku dengan mata tak berkedip pada mama.Mana mungkin aku bisa hamil, burungnya Abang Akram saja gak hidup.


"Iya, hamil."


"Gak akan mungkin hamil Ma, orang kami gak lakuin apa apa." Ujarnya dengan menekuk bibit. Gak ada yang percaya dengan omongan kami berdua.


"Jangan banyak ngeles, siapkan dirimu. Jangan pernah kamu coba untuk melarikan diri." Ancam Mama dengan mengacungkan telunjuk nya kepadaku.


"Ma, kita jangan seperti pepatah itu, Membeli kucing dalam karung." Ujarku menatap lekat ibu. Membeli sesuatu tidak dengan melihat barangnya. Itu sama dengan kita bodoh ma."


"Barang? Kamu ingn lihat barangnya Akram?" Tanya mengulum senyum.


Hadeuhh..


Ibu kenapa terlihat seperti wanita yang lagi Puber keempat. Apa dia sedang membayangkan miliknya Abang Akram. Astaga apa ibu kangen bapak yang sudah lama meninggal.


"Ya harus diperiksa dulu Ma, barangnya hidup atau enggak? Kalau nggak hidup, ngapain Aku mau nikah dengannya."


Nyuuss..


kepalaku kena toyor dengan kuat oleh ibu.


"Ya pastilah barang nya itu hidup. Kamu nggak lihat itu badannya kekar gitu." Jelas ibu menggeleng heran .melihat ku.

__ADS_1


"Ibu nggak tahu sih kalau barangnya Abang itu Letoy. Dia pernah cerita padaku, kalau dia itu punya penyakit." jelasku dengan serius Ibu dibuat terperanjat dengan ucapanku


"Penyakit apa?" tanya ibu dengan penasarannya.


Ku acungkan jari telunjuk ku, dan kemudian ke turunkan dengan pergerakan slow motion.


"Jangan ngacok kamu!" ujar ibu, Kemudian bangkit dari duduk nya. "Aku akan suruh Paman mu memeriksanya. Bahaya juga itu, kalau benar punya dia gak hidup." Jelas ibu.


"Iya bu." Jawabku malam.


Ibu bergegas ke luar dari kamarku. Aku pun akhirnya membaringkan tubuhku yang masih terasa sakit, remuk rendam. Aku mencoba mengingat apa saja yang terjadi saat di club dan yang terjadi di rumah abang Akram tadi malam.


Kepingan-kepingan puzzle mulai terkumpulkan di otak ku dan membuat aku malu sendiri dengan kelakuanku.


Astaga... Ya Allah. .terima kasih telah melindungiku dari manusia manusia jahat. Aku sangat bersyukur sekali, di club malah bertemu dengan abang Akram. Seandainya Abang Akram tidak ada di club, mungkin hidupku telah hancur di tangan orang yang tak bertanggung jawab. Aku tak menyangka teman-temanku itu berusaha untuk menghancurkanku.


Liihat saja aku akan balas perbuatan kalian padaku.Ternyata kalian bukanlah teman yang baik, kalian mau menghancurkan, nggak tahu saja kalian kalau aku ini punya hati yang baik. Siapapun yang akan berniat jahat padaku maka Allah akan melindungiku.


Saat sedang meratapi nasibku, aku dikagetkan dengan suara getaran ponsel yang ada di atas nakas, dengan cepat tangan ini menjulur meraih ponselku yang bergetar kuat di atas nakas tersebut. Aku sangat penasaran dengan siapa yang meneleponku tangan ini menjulur cepat meraih ponsel tu ternyata ada satu nama yang meneleponku yaitu Kak Alda. Aku sedang butuh teman cerita dan akupun mengangkat telepon itu dengan perasaan yang tak karuan. Ingin rasanya ke rumah kak Alda dan menceritakannya semua.


" Iya dek, kakak juga sudah tahu itu " Sahut kak Alda dengan pada bicara tak tenang.


Sesaat aku berpikir, dari mana kak Alda tahu. Ya jelas dari ibulah. Aduhhh... Dasar aku oon.


" Kak datang kesini dong, temani aku, malam ini aku akan menikah dengan Abang akram." Ujarku dengan meweknya. Wajahku nampak menyedihkan di layar hape. Ya, kami sedang video call.


"Eemmm.. Besok kak ke sana ya? kalau malam ini, gak bisa."


"Memang nya kak di mana sekarang? koq gak bisa kak?" tanyaku heran dan bingungnya. Apalagi saat ini, ku lihat tempat kak Alda menelpon, bukanlah di rumahnya. Tapi di sebuah rumah mewah.


"Kak sedang di rumahnya Pak Arman, Bu Suci sudah meninggal dunia Dek..!"


"Astaghfirullahaladzim.... inna ilaihi wa inna ilah rojiun." ujarku dengan terkejutnya, memotong cepat ucapan Kak Alda. Sungguh aku sangat terkejut mendengar Bu Suci meninggal dunia. Baru juga dua hari yang lalu aku menjenguknya ke rumah beserta kak Alda. Kata orang sih, orang baik cepat meninggal dunia.

__ADS_1


"Iya makanya Kakak nggak bisa datang ke acara pernikahanmu malam ini, ya karena malam ini juga ada aja acara takziah di rumah Pak Arman. Eeh jangan bilang kakak sudah menikah dengan Pak Armand." Ujarku dengan penuh selidik, terlihat Kab Alda salah tingkah


"Iya Dek, kak dan pak Armand menikah secara sederhana saja di rumah sakit. Tak ada musik hiruk pikuk mewarnai, dan memesan makanan." ujar Alda sedih dari ujung sana.


"Whaatt.... ? kakak menikah di rumah sakit,? kapan kejadian nya?" tanyaku dengan heran nya. Dan aku sedikit merasa lucu dengan ucapan kak Alda yang ingin adanya makanan banyak dan lantunan lagu dan musik.


"Kemarin sore." Sahut Kak Alda,.masih dengan ekspresi malasnya. Apa ia tak senang nikah dengan Pak Armand ganteng. Kan istrinya dari koit.


"Oouuww.. Berarti Pak Reyhan yang datang ke warung sore -sore itu, mau jemput kak untuk nikah? tapi, koq bisa. Kan abang Reyhan suka juha dengan kak." Tanyaku secara beruntun.


'Aahhkk... gak tahu lah Mawar. Kita gak usah bahas tentang kak lagi. Yang buat aku penasaran sekarang, koq bisa kamu dan Akram kedapatan tidur bareng?" saat menanyakan itu, terlihat ekspresi wajah kak Alda sedih sekali, sepertinya ia baru menyadari, kalau ia telah kehilangan Akram.


"Eemmm... Kakak cemburu ya?" aku menggodanya, mau lihat reaksinya seperti apa di kamera. Asyik juha godain kak Alda.


"Iihh.. Mawar... Siapa yang cemburu, aku ingin tahu saja, koq bisa kamu dan Si Akram kedapatan sepanjang, mana kata ibu kamu tidak mengenakan baju." kak Alda terlihat semakin panik ditelepon.


"Eemmm.... Biasa lah, duda. Mana tahan kesepian, ya cari kehangatanlah. Apalagi semalam itu kan Kak cuacanya sangat dingin, pokoknya sangat mendukung lah untuk melakukan reproduksi. Hahahah... hahaha ...Hahhaha...!"


"Mawar.... Kakak serius ini, jangan bercanda gitu. Kakak penasaran gimana ceritanya kamu dan Akram kedapatan satu ranjang di kontrakan Akram.." Kini kak Alda menampilkan ekspresi masamnya. Ia terlihat kesal padaku karena tak mendapatkan informasi yang ia mau.


"Kalau mau tahu ceritanya ke sini dong kak?" aku masih terus saja menggoda Kak Alda "Aku memang gak tahu kronologi kejadian nya secara pasti, yang aku ingat, Aku dan


dan kawan-kawanku setelah habis selesai salat magrib pergi ke club, sesampainya di club. kami minum, aku nggak tahu entah minum apa. Pokoknya enak aja gitu. Dan setelah itu aku nggak tahu apa-apa lagi, tiba-tiba paginya Ibu teriak karena melihat aku dan abang Akram tidur seranjang dalam keadaan berpelukan seperti Teletubbies." Jelasku pada Kak Alda.


"Oouww.. Gitu." kak Alda masih tak percaya dengan penuturanku.


"Iya kak."Jawabku datar.


" Baik lah kak matiin dulu ya? bagus bagus kamu ya Dek." Ia menasehatiku.


"Iya kak, Kakak bagus bagus juga di sana. Banyak berdoa, agar tak diganggu roh yang gentanyan." Ujarku cekikan.


"Mawar....!" teriak Kak Alda dengan matanya yang melotot. Aku pun dengan cepat mematikan sambungan telepon itu. Puas sudah karena mengerjai Kak Alda.

__ADS_1


TBc


__ADS_2