HASRAT DUDA IMPOTEN

HASRAT DUDA IMPOTEN
Nasehati kami


__ADS_3

Pov Akram


Benar saja, orang orang sudah ramai di ruang tamu, tempat akan diadakannya acara ijab kabul. Kehadiran ku jadi sorotan mata orang orang yang ada di tempat itu. Aku jadi benar benar seperti pengantin wanita yang kehadiran nya paling di nanti. Aduhh... Itu sangat memalukan sekali.


Ku berjalan sambil menunduk, malu menyergap hati ini. Apalagi mereka mengiranya aku dan Mawar kena grebek, sehingga terpaksa menikah mendadak seperti malam ini. Selain memikirkan hal itu, aku juga malu, karena jadi pusat perhatian. Walau memang yang memperhatikan ku hanya keluarga besarnya Mawar, serta tokoh adat, tokoh agama saja serta penghulu.


"Eemmm... Dunia sudah terbaik, koq pengantin pria yang ditunggu tungguin." Ujar Pak Ramlan, yang akan jadi penghulu.


"Emmmm... Maaf ya pak..!" ujarku sopan dan tersenyum tipis, masih membungkukkan sedikit badan, sebagai satu tanda hormatku pada orang orang yang ada di tempat itu, saat melewati mereka.


Ku di tuntun untuk duduk di sebelah Mawar. Aku belum memperhatikan dirinya dengan jelas. Saat kepala ini menoleh ke samping, saat itu juga Mawar menoleh ke arahku dan terjadilah tsunami di hatiku, porak poranda karena tatapannya yang mematikan. Mawar sangat cantik malam ini. Make up yang menempel di wajahnya itu minimalis, tapi karena ia saat ini memakai hijab, wajahnya terlihat bersinar- sinar di mataku. Aku terpesona, kalau Mawar pakai hijab, kecantikan nya bertambah 100 kali lipat.


Aku sadar, saat ini hatiku dan pikiranku sedang diselimuti hawa nafsu sehingga mawar selalu ku nilai dari fisik. Ini mungkin efek dari dirinya yang menggodaku sejak kemarin, saat dia dipengaruhi oleh obat perangsang itu.

__ADS_1


Kenapa...Kenapa mawar memakai kebaya Yang ngepas seperti ini. Apa Dia tidak punya kebaya? Aku kurang suka dengan kebaya yang ia pakai, karena menurutku sangat membentuk tubuhnya. Ia memang sangat cantik mengrnakan kebaya itu. Tapi, kebaya yang ngepas di badannya itu, membuat konsentrasi buyar saat ini. Semoga saja aku tidak gugup, sehingga lupa dengan kalimat Ijab Kabul.


"Sudah, sudah pandang pandangannya. Nanti malam saja di lanjut di kamar."


Nyes..


Ucapan pak penghulu yang frontal membuat ku jadi malu. Aku juga kenapa sih, jadi malu maluin seperti ini. Apa karena hasrat ku sedang berkecamuk. Dasar Hasrat Duda Impoten.


Hahhaha..


"Iya pak." Sahutku ramah. Mencoba tersenyum kepada orang orang di hadapanku, termasuk pak penghulu dan para saksi.


"Baiklah kita mulai saja, tapi sebelumnya perlu aku pasti kan. Apa berkas berkas untuk di daftar kan ke Kantor Urusan Agama, akan di siapkan oleh kamu nak besok?"

__ADS_1


Ujar Pak penghulu. Ia bertanya serius kepadaku. dari pertanyaan yang ia lontarkan bisa ku simpulkan Kalau, ia ragu akan keseriusanku. Mungkin laporan dari Paman serta ibunya mawar kepadanya, saat mereka menggerebek kami membuatnya takut aku akan melarikan diri.


"Iya Pak semuanya telah kusiapkan. Aku serius dengan pernikahan ini." Jawabku tegas kali ini aku tidak tersenyum lagi kepada pak penghulu, tapi kutunjukkan Wibawaku. Aku di kantor adalah seorang direktur.


"Syukur lah, baiklah kita mulai saja acara ijab kabulnya. Mengingat ini acara mendadak dan kurang persiapan, ya kita lakukan alam kadarnya. Yang penting, syarat rukun nikah sudah lengkap." Jelas Pak penghulu.


Semua orang du ruangan itu mendengarkan dengan serius ucapan pak penghulu.


"Kita mulai saja ya nak"


Kembali pak Penghulu menatap ku lekat. Karena Mawar tak punya ayah lagi, jadi pamannya, yaitu adik dari ayahnya yang akan menikahkannya.


"Bismillahirrohmanirrohim...!'

__ADS_1


"Pak, walau pernikahan ini mendadak dan terkesan terpaksa. Tapi, aku sangat berharap pak penghulu menasehati kami sebelum nikah." Pintaku dengan sopan. Aku ingin, pak penghulu menasehati ku dan Mawar.


TBC


__ADS_2