
Pov Alda
Rumah mewah bergaya eropa ini berselimut duka. Isak tangis terdengar di sela lantunan Surah Yasin. Banyak sekali pelayat berdatangan. Sebagai istri pengusaha terkenal dan kepala sekolah, Bu Suci mempunyai banyak teman dan juga relasi bisnis dari Pak Armand. Aku baru tahu pagi ini, kalau ternyata Pak Armand punya perusahaan property.
Rasa kehilangan menembus relung hati. Pandanganku jatuh pada jenazah Bu Suci. Hatiku masih berdenyut sakit. Mendapati kenyataan, jikalau Bu Suci secepat ini pergi. Di dekatku, Pak Armand terlihat terisak. Ia sangat mencintai istrinya itu, jadi sangat wajar, jika ia merasakan kehilangan yang sangat mendalam.
Sudah saatnya Jenazah dimandikan. Ada kerabat dari keluarga Bu Suci yang memandikan, dan Pak Armand juga ikut ambil di dalamnya. Saat menunggu jenazah di mandikan dan dikafani. Aku menghampiri ibu. Karena aku merasa asing dan tak nyaman dengan tatapan keluarga besarnya Bu Suci. Mungkin Pak Armand sudah menceritakan semua yang terjadi pada kami.
"Ibu baru dapat telepon dari Bibimu imah. Katanya Akram dan Mawar melakukan hal buruk." Bisik ibu padaku.
Ucapan Ibu membuatku terkejut dan bingung. Akram dan Mawar melakukan hal buruk?
"Hal buruk apa maksud ibu?" ujarku pelan menatap lekat ibu dengan penasarannya. Semalam ekspresi wajah Akram, sangatlah menyedihkan di rumah sakit. Apa ia bunuh diri?
"Mereka ketahuan kumpul kebo di kontrakannya Akram."
"Apa.." Tanpa sadar suaraku terdengar keras saking terkejutnya aku, akan informasi yang ku dengar dari ibu, sehingga orang sekitar menatap kami dengan herannya, aku dengan canggung tersenyum tipis pada pelayat yang sedang memperhatikan kami.
Untuk bisa bicara dengan bebas. Ku ajak ibu masuk ke kamarku. Sungguh, aku sangat penasaran dengan informasi yang dikatakan ibu.
Sesampainya di kamar kucecar ibu dengan banyaknya pertanyaan. Ibu jadi pusing dengan pertanyaan beruntunku. Aku sungguh penasaran dengan kabarnya Akram dan Mawar.
"Ibu gak tahu cerita pastinya. Ya sudah kamu telepon aja si mawar." Ujar ibu.
Aku yang penasaran akan berita yang ku dapat dari ibu, akhirnya ku putuskan menghubungi Mawar dengan cepat. Tapi, panggilan telepon dariku tidak diangkatnya sudah 4 kali ku telepon tapi tetap juga tidak diangkat.
" Nggak diangkatnya Bu." ujarku pada ibu dengan lemas, sungguh aku sangat penasaran cerita tentang Akram dan Mawar.
"Coba telepon Bibimu." Saran ibu, menatapku lekat.
__ADS_1
Aku pun menghubungi Bi Imah, tapi gak diangkat juga setelah dua kali panggilan. "Kabar tentang Akram dan Mawar dapat Ibu dari Siapa?" tanya aku pada ibu.
"Dari bibimu Minah, binimu Mina juga kan semalam cariin Mawar, karena nggak pulang-pulang. Makanya Bibi Imah mu, semalam pergi cepat dari rumah ini, setelah dapat kabar Mawar gak pulang pulang sudah pukul 11 malam. Diselidiki lah ke teman dekatnya Mawar, ke mana ia pergi. Ketahuan lah kalau mawar pergi ke club bersama kawannya. Paman dan bibimu bergerak cepat ke club yang di datangi Mawar." Jelas ibu.
"Oouuww...." Sahutku dengan penasarannya. Rasanya aku ingin pulang ke rumah, untuk mengetahui keadaan Mawar dan Akram. Mawar dan Akram sangat baik padaku. Aku tak mau ada hal buruk menimpa mereka.
"Ya Allah semoga Mawar dan Akram baik-baik saja Ya Allah. Ya Allah lindungilah mereka. Akram pria yang baik ya Allah. Ia pantas bahagia ya Allah ." Ujarku dengan menengadahkan kedua tangan.
"Siapa yang kamu doakan, Akram..? Akram pelayanmu itu?" suara tegas itu mengagetkanku. kami tak menyadari ternyata pak Arman sudah ada dalam kamar ini. Aku dan ibu sama-sama terkejut melihat ke arahnya yang kini berjalan menghampiri kami.
"Oouuuww.. Nak Armand di sini ternyata " Ujar ibu tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana yang tegang.
Ekspresi wajahnya Pak Arman sangat tegang, terlihat seperti menahan marah ditambah ia lagi, ia memang lagi bersedih. Jadi benar-benar terlihat tak bersahabat dan menakutkan.
"Bu, kita keluar saja." Bisikku pada ibu, sesekali ku tatap Pak Armand yang masih menatap kami lekat.
"Kamu di sini, ibu yang keluar."
Keningku mengkerut mendengar ucapan ibu. Ibu langsung bangkit dan menyeret kakinya keluar dari kamar. Ku pandangi ibu hingga ibu kembali menutup pintu itu. Aku jadi merasa ketakutan dan gugup. Ingin rasanya aku menyusul ibu saja. Tapi, jika itu ku lakukan, pasti ibu marah padaku. Dari dulu ibu selalu mengajarkan padaku, seorang istri harus meladeni suaminya, serta patuh dan taat. Bahkan Mas Evan yang bersikap jahat padaku, kata ibu harus di hormati.
"Alda, bisa aku minta tolong." Ujarnya lembut dengan tatapan syahdu.
"A, Apa itu pak?" tanyaku dengan menahan rasa gugup. Dadaku sudah bergemuruh hebat. Debarannya sangat kencang, yang membuat tubuhku ikut bergetar.
"Kepalaku sakit sekali. Bisa kamu pijat kepalaku dengan minyak ini? ssbentar saja, sebelum aku berganti pakaian." Pintanya masih dengan suara lembutnya.
Sangat wajar Pak Arman merasakan sakit kepala. Karena semalaman ini dia itu tidak tidur, Dia menemani jasad sang istri di ruang tamu, dan ia masuk ke kamar ini di saat subuh datang dan membangunkanku, jadi semalaman aku tidur sendirian di kamar ini.
"Oouuww...I, iya pak." Jawabku dengan gugup.
Hufffftt...
__ADS_1
Kutarik nafas panjang dan membuangnya pelan sembari tangan ini menjulur meraih botol minyak yang ia pegang.
Iya tersenyum manis padaku. "Terima kasih ya." Sahutnya, mulai duduk di tepi ranjang. Ia pun memejamkan mata, bersiap menerima pijatan dariku.
Aku sangat bersyukur sekali, dia memejamkan mata saat ini. Sempat ia menatapku lekat dan Syahdu seperti tadi bisa-bisa aku gemetaran saat memijat kepalanya. Pijatan jemariku di kepalanya ku gerakkan lembut tapi penuh tekanan.
Kepalanya sangat bersih, tak ada ketombe. Bahkan rambutnya sangat wangi. Aku yakin sampo serta minyak rambut yang Pak Armand pakai pasti mahal sekali. Gak seperti aku, pakai sampo harga 500 rupiah per bungkusnya. Itupun beli rentengan, bukan beli shampo di dalam botol kemasan. Maklumlah, aku ini orang gak punya. Dapat makan saja, sudah sangat bersyukur sekali.
"Pijatanmu sangat enak, sakit di kepalaku langsung hilang. Kamu cocok jadi tukang pijat." ujarnya lembut intonasi suaranya terdengar menahan tawa.
Aku hanya senyum-senyum mendengar ucapannya rasanya sangat malu sekali dipuji seperti.
"Kok diam saja kamu nggak takut kan sama aku?" tanyanya kini ia menoleh ke samping, guna melihat wajahku dengan jelas.
"Takut, kenapa aku harus takut?" ujarku cepat.
"Bukannya kamu dan teman-teman lainnya takut padaku?"
"Maksud Bapak apa?"
"Mulai sekarang jangan panggil Bapak." Ia masih menatap ke arahku. "Kamu kan dan guru-guru yang lainnya takut padaku."
"Itukan di sekolah." Jawabku cepat.
" kalau di rumah nggak takut?" tanyanya tersenyum tipis.
Aku merasa semakin deg deg an digoda in olehnya seperti ini. aku yang kehabisan Kamu akhirnya memilih diam dan tetap melanjutkan kegiatan memijat kepalanya dengan lembut.
"Sdah cukup terima kasih ya istriku.." Ia tersenyum padaku.
Deg
__ADS_1
Rasanya jantung ku mau copot saat mendengar ia mengatakan kata istri.
TBC