
Alda meninggalkan warung. Ia pergi ke rumah. Tinggal lah aku dan Mawar di warung itu. Karena dagangan sudah habis. Bi Romlah dan Paida juga sudah balik.
"Eemmm... Bang, menurut ku. Abang gak usah ngejar- ngejar kak Alda lagi. Lagian mana mau dia sama Abang." Ucapan Mawar membuatku terhenyak. Apa maksud ucapan nya itu?
Ku tatap ia lekat, yang bicara sambil bermain hape. Sadar ku perhatikan, ia pun beralih Menatapku serius.
Saat di kampung, aku di datangi seorang wanita. Namanya Sisil, katanya ia mantan istrinya Abang." Ujar Mawar dengan serius. Begitu juga dengan diriku yang serius mendengar ucapan nya. Ternyata Sisil, sudah ikuti campur dengan urusan pribadi ku.
"Bicara apa dia?" tanya ku dengan muka ketat. Aku sudah yakin, Sisil pasti menjelek- jelekkanku.
Huufftt..
Mawar mengehela napas dalam. Dan menghembuskannya pelan,. Tangannya terjulur meraih gelas di hadapan nya. Ia menuangkan air minum dari teko ke gelas kaca warna putih itu. Meneguk air minum itu dalam sekali teguk. Ia terlihat sangat kehausan. Seperti sedang tersesat di gurun pasir saja, yang hampir mati kehausan.
__ADS_1
"Kak Sisil, cerita semuanya bang. Tentang masalah rumah tangga kalian.Dan termasuk penyakit abang." Ujar Mawar dengan penuh ke hati hatian. Ia terlihat menjaga perasaan ku saat ini. Tapi, kalau memang menjaga perasaan ku, Ngapain bahas penyakit yang memalukan itu?
"Ooww... Sejauh mana ia cerita?" tanya ku dengan penasarannya, menatap Mawar lekat.
"Ia yang bertahan jadi istri abang selama 4 tahun, dan akhirnya cerai."
"Oiuuww.... " Sahutku, malas sudah aku melanjutkan cerita itu. Tapi, Mawar terlihat masih penasaran.
"Aku baru ngerti sekarang, saat kemarin abang yang bakar terong ungu, waktu itu. Jadi bener seperti itu ya bang?' tanya Mawar masih dengan ekspresi wajah sungkan nya. " Aku ada tahu pengobatan tradisional loh bang. Kalau abang mau, aku bisa temani abang ke sana."
Apa maksud ucapan Mawar ini? apa ia gak tahu, kalau aku sudah sembuh? apa Sisil tak menceritakan nya? Sepertinya Sisil tak menceritakan kesembuhanku pada Mawar. Mungkin ia takut, Mawar akan dekati aku, karena aku sudah sembuh. Dasar Sisil, otaknya masih saja licik.
"Jangan marah ya bang? maaf, aku sudah bahasa hal yang sensitif dengan abang." Ujar Mawar, masih dengan ekspresi wajah bersalah nya. Mungkin Mawar penasaran dengan apa yang dikatakan Sisil. Makanya, ia menanyakan masalah ini langsung padaku. Mungkin ia Ingin mendengar kebenarannya.
__ADS_1
"Ya gak marah lah abang dek.. Memang itu nyatanya." Jawabku santai, yang membuat Mawar terkejut mendemgarnya. Saking terkejutnya, kedua bola matanya membeliak hendak keluar dari tempatnya.
"Oooohh iya bang." Jawabnya gugup, mungkin Mawar syok mendengar pemjelasanku.
"Masih suka samaku, setelah kamu tahu kekuranganku?" menatap Mawar dengan rileks nya. Seolah yang kami bahas ini adalah hal yang biasa.
"Eeemmm... Aku sih tetap suka samamu bang. Tapi, untuk di jadikan suami, ya mikir 1000 kali dulu." Sahutnya tersenyum kecut. Mencoba bersikap ramah. Padahal aku tahu, hatinya Mawar saat ini sedang gundah gulana. Aku tahu ia suka denganku, tapi dengan penyakit impoten yang pernah ku alami, membuat nya tak yakin lagi.
"Eemmem.... Susah ya, cari istri yang bisa menerima kita apa adanya. Bukan ada Apa nya.
" Bukan gitu bang. Tapi memang begitu lah kebanyakan."
"Termasuk kamu kan?"
__ADS_1
TBC