
"SAAAHHH....!"
Bruggkkk..
Untuk kedua kalinya, aku ambruk. Dan kali ini aku ambruk di ambang pintu.
"Barakallahu laka wa baraka alaika wa jama’a bainakuma fi khoiir." Ucap orang-orang di ruangan itu secara bersamaan. Aku masih bisa mendengar nya dengan jelas, walau aku sedang dalam keadaan terpuruk.
Dada ini berdenyut nyeri dan perih, saat kedua mataku yang berkabut melihat tangannya Alda menjulur ke arah si Armand genit itu. Jelas aku katakan genit, istrinya sedang sakit, ia dengan mudahnya menikahi Alda.
Nyesss..
Akhirnya cincin emas putih bermata itu lolos masuk di jari manisnya Alda.
"Ayo cium tangan suamimu dek Alda." ujar Bu Suci lemah. Suara wanita yang terbaring lemah itu terdengar parau. Dan terlihat kesusahan menarik napas. Sepertinya ia kan meninggal. Jelas ia cepat koid, suaminya kawin di depan matanya. Dasar... Keluarga aneh.
"Bu Suci....!" Saat Alda ingin mencium tangan Pak Armand. Terlihat Bu Suci, hendak sakratul Maut. Refleks Alda bangkit, bergegas ke arah Bu Suci. Yang kini menatap lemah ke arah Pak Armand, suaminya.
Pak Armand, mendekat kan wajahnya. Membisikkan sesuatu di telinga sang istri.
"La ilaha illallah.."
Bu suci pun menghadap sang Khalik.
Aku pun memilih pergi dari tempat itu. Membawa luka mendalam yang teramat perih. Harapan sirnah, impian untuk mempunyai istri seperti Alda pupus sudah.
Ku seret kakiku lemah, keluar dari gedung itu. Dada masih terasa sakit dan berdenyut nyeri. Perasaan marah dan kecewa berkecamuk di dalam diriku. Impian dan keinginan tak terwujud. Harapan sudah sirnah, kehilangan Alda sama saja dengan kehilangan cahaya hidupku.
Kapan kebahagiaan itu akan ku rasakan? Ya Allah... Aku tak mau kufur. Maafkan hambamu ini ya Allah, hambamu tak bersyukur. Kalaulah memang Alda tak bisa ku miliki, kenapa kamu izinkan hati ini memujanya Ya Allah.
Sesaat aku pun tersadar, kalau yang ku lakukan ini adalah salah. Tak seharusnya aku meratapi nasib di pelataran rumah sakit ini. Kenapa aku jadi seperti anak baru gede yang baru saja merasakan jatuh cinta. Padahal aku sudah punya pengalaman membina biduk rumah tangga dengan Sisil.
Ku usap kedua mataku yang sembab dengan jemariku. Aku tak boleh secengeng ini. Bukan ini pertama kalinya aku patah hati, saat bercerai dengan Sisil, aku juga merasa sedih. Harus nya kekecewaan ku kali ini, bisa ku atasi. Mencoba berdamai dengan diri sendiri. Kalau yang kita inginkan tak selalu terwujud. Karena langit tak selalu cerah. Ada kalanya suatu hari warna langit mendung dan masa depan tampak suram.
Huffttt...
__ADS_1
Ku tarik napas panjang dan menghembuskan nya berat, setelah tubuh ini ku dudukkan di bangku beton taman. Ku soroti sekitar yang sudah mulai sepi. Ya Karena sekarang sudah mau magrib. Aku harus pergi dari tempat ini. Tak perlu ku sesali, terlalu lama dan dalam kekecewaan ini. Disesali juga, Alda tak akan kembali padaku. Mungkin kebahagiaanku bukan bersama Alda.
Besok semua rencana ku dari awal, akan ku kerjakan lagi. Aku akan merantau, membuka usaha kontraktor di perantauan. Karena setelah resign dari tempat ku bekerja, itulah impianku.
Huufftt..
Kembali ku menghela napas panjang, stok oksigen diparu paru, rasanya tak cukup. Ku hela napas berulang kali, hingga aku merasa tenang. Setelah sedikit tenang, ku rogoh ponselku dari saku celanaku. Aku akan pesan grab mobil.
lima menit mobil pesanan datang. Masih dengan perasaan kecewa, ku masuk ke dalam mobil itu. Ekspresi sedih dan putus asa masih tercetak jelas. Dan suasana hatiku mendadak buruk. Karena mobil yang ku pesan tak kunjung bergerak.
"Ayo pak jalan!" Ujarku ketus, maklumlah suasana hati masih buruk. Ngomong pun bawaannya nge gas.
Su supir tak ada respon. Aku yang mulai kesal, akhirnya menyambar tangannya, guna melihat apa yang dilakukan pak supit di kursinya.
Dan
Dooorr..
"Sialan.... Kampret..... Kau...!" ujarku dengan keras dan memegangi dadaku yang berdebar-debar, karena terkejut dengan ulah si supir gila.
Hahahaha...
"Dimas.... Kamu....?" ternyata yang bawa mobil ini teman kerjaku dulu.
Aku sungguh terkejut melihatnya. Dia yang merasa puas Karena menertawakan ku, terus saja tertawa.
"Apa kabar bos?" ujarnya menoleh ke belakang dan me julurkan tangannya.
Ku sambut tangan Itu dengan riang. Dimas memang anaknya ramah ceriah. Kami bersalaman dengan erat. Sesaat aku lupa dengan masalahku.
"Ayo bos pindah." Ujarnya dengan menggertak kan kepalanya ke jok sebelah supir.
"Pasti.." Ujarku turun dari mobil dan kembali masuk ke mobil dan duduk di jok sebelah supir. Dimas terus saja memperhatikanku, mungkin ia heran dengan diriku, yang nampak acak acakan saat ini. Jelas acak acakan, aku saja dua kali ambruk di lantai. Sudah seperti orang kekurangan darah saja aku saat ini. Pucat, kumal dan terlihat lemah.
"Tancap gas kita..?" ujarnya dengan senyum mengembang.
__ADS_1
"Lets go..!" Sahut ku dengan semangat menatapnya.
Ia pun melajukan mobilnya dengan kencang. Dimas memang pria yang energik. Suka balap balapan, suka hiburan malam seperti ke club dan ia juga suka dengan minuman beralkohol, beda dengan diriku yang tak tahan dengan minuman itu. Apalagi di agama yang ku anut, minum minuman beralkohol tidaklah diperbolehkan.
Aku pernah sekali kena kerjai Si Dimas, saat itu. Aku sedang putus asa. Karena penyakit ku yang impoten, di hina hina terus oleh Evan. Dimas mengajak ke club beserta Juli. Eehh.. Gak tahunya Aku minum minuman keras. Padahal aku sudah wanti wanti agar tak kena kerjai.
"Kenapa kamu jadi kerja seperti ini?" tanya ku sambil meliriknya yang menyetir membalap itu. Jalanan sedikit sepi, karena pas waktu magrib.
"Bos barunya gak asyik. Sebulan setelah bos resign. Aku pun resign. Aku milih jadi supit saja. Enak, gak ada yang atur. Gak ada target khusus. Pokoknya happy lah." Jawabnya enteng dan sesekali melirikku.
"Ya, kamu gak takut kerja beginian? kamu harusnya jadi pembalap." Ujarku dengan berpegangan, laju mobil semakin cepat.
"Takut, koq takut sih bos?" Dimas masih saja memanggilku bos.
"Ya, kamu gak hati hati. Kalau kecelakaan Bagaimana?" tanyaku meliriknya masam. Ia menambah kecepatan mobilnya. "Dimas.... Aku belum mau mati, aku masih mau kawin." Ujarku keras, sambil berpegangan.
Haahaha...
Ia malah menertawakan ku. Ekspresi wajahnya nampak bahagia sekali.
"Kawin... Emang burungnya si bos, sudah hidup...?" tanyanya tertawa menyepelekan ku.
Hahahaha
Kwkwjwjwjw
Kwjwjjwkk
Tak henti hentinya ia mengejekku. Kalau aku gak tahu sifat dan karakter si Dimas ini, Sudah ku patahkan lehernya.
"Ya sudahlah, Kalau gak sembuh. Mana ku katakan seperti itu." Jawabku malas, aku tersinggung dengan ucapannya.
"Oouuww... Maaf bos. Kabar baik itu harus kita rayakan. Kita akan senang senang." Ujarnya dengan mengedipkan mata padaku. Aku tahu maksud dia itu. Dia ingin mengajakku mencoba dengan kupu kupu malam.
"Gak, aku gak mau." Jawabku cepat.
__ADS_1
"Tenang bos, aku punya pemain hebat. Dijamin bersih buat nagih." Jelasnya dengan wajahnya yang terlihat sangat semangat. Ya, Dimas Suka melakukan maksiat. Itulah yang tak ku suka darinya.
Tbc