
"Mawar sudah hangover, lihatlah ia sudah tak berdaya, matanya sudah merah." Ujar wanita berambut pirang.
Kulihat pria itu tersenyum puas, aku yakin mereka sedang merencanakan sesuatu yang buruk pada Mawar. Aku tak boleh tinggal diam. Tapi, aku tak boleh gegabah, di sini lagi ramai.
"Haus.. Haus... Aku mau minum...!" Mawar yang setengah sadar, dan tak bisa kendalikan dirinya sendiri, terlihat ia merasa kehausan yang berlebihan. "Sakit kepala, sakit sekali.... Kepalaku sakit sekali.. Badanku juga pegal-pegal " Keluhnya dengan mata tertutup. Memegangi kepalanya dan memukul mukulnya pelan.
"Serius, rencana akan kita lanjutkan?" tanya wanita berambut pirang ke tiga teman lainnya.
"Ya serius lah, sesuai rencana kita. Mawar harus hancur, aku gak mau dia sukses." Ujar wanita yang berambut pirang kepada temannya.
Aku gak ngerti apa maksud ucapan mereka mengatakan Mawar wanita sukses. Setahuku Mawar bukanlah orang sukses. Ia bahkan tidak kuliah, ia saja kerja bareng Alda dan jadi pelayan. Di Tok tok sih dia jualan dan terima endors. Apa itu yang mereka katakan kesuksesan Alda?
"Iiihh.. Berat banget sih, makan apa ini anak. Koq berat ya?" keluh wanita yang berusaha membantu Mawar bangkit.
"Berat an dosa mungkin." Sahut temannya lagi.
Saat ini aku masih memperhatikan mereka, sambil berusaha menegakkan tubuh Mawar yang sudah kehilangan keseimbangan itu.
"Aku saja yang angkat..!" kini pria itu mengambil alih Mawar ke dalam rengkuhannya. Ini sudah tidak bener lagi, Sepertinya mereka mau menjebak Alda.
Ku rogoh ponsel, dari saku celanaku, sambil mengikuti langkah mereka. Aku akan meminta bantuan pada Dimas. Dimas yang hapal tempat ini.
"Sial... Kenapa gak diangkat sih..!" umpat ku dalam hati, sudah dua kali ku lakukan panggilan, tapi telepon ku gak diangkat Dimas juga. Mungkin ia tak dengar, karena bisingnya suara musik.
Kulihat ke empat gadis beserta satu cowok yang menggendong Mawar, masuk ke sebuah ruangan. Sepertinya itu ruangan VIP. Ini tak bisa dibiarkan, aku harus mencegahnya. Ku percepat langkahku menghampiri mereka.
"Hai.. Mau kalian bawa ke mana si Mawar?" Ujar dengan suara lantang. Aku sengaja menyebutkan nama Mawar dengan jelas. Agar mereka yakin, kalau aku kenal dengan Mawar.
Seketika semuanya menoleh ke arahku dengan bingungnya. Mereka saling pandang satu sama lain dan kemudian pria yang membopong mawar bergerak cepat Melarikan mawar. Aku tak mau tinggal diam. Ku Kejar pria itu tapi langkahku dihadang ke-4 gadis, yang katanya teman Mawar.
"Minggir, minggir kalian..!" ucapku keras kepada keempat gadis yang menghadangku saat ini. Tak mau kehilangan jejak, pria yang membawa Mawar, aku langsung menunjukkan otot lenganku bak binaragawan, dengan sorot mata siap menerkam.
Kalau keempat manusia di hadapanku, bukanlah wanita. Sudah habis ku babat mereka jadi adonan pergedel. Tapi, ini yang mengajak ku ribut manusia jenis kelamin wanita.
Minggir... Ku terobos pertahanan mereka dengan kuat. Dan akibatnya dua wanita ambruk di lantai. Kesempatan itu ku manfaatkan untuk melarikan diri, mengejar pria yang melarikan Mawar. Aku masih melihat jejaknya. Dan saat itu juga keempat pria itu ikut mengejar ku.
Ku lihat pria itu kesusahan membuka pintu. Karena Mawar yang ia bopong tak mau diam. Sepertinya Mawar, sudah tahu kalau dirinya sudah terancam. Tapi, karena ia sedang mabuk berat. Ia tak bisa mengendalikan dirinya.
Sesekali pria itu menoleh ke arahku, yang sudah dekat kepadanya. Ia semakin terlihat gugup, dan tergopo gopo saat membuka pintu itu. Mawar yang ia gendong, akhirnya melorot di lantai. Tepat di ambang pintu. Saat itu juga, Ku tarik kerah baju pria itu dari belakang dengan kuat. Menghadiahi wajahnya tinju panas. Kemudian ku hempaskan badannya ke dinding.
Pria itu terlihat ketakutan padaku, ia berusaha bangkit dengan kewaspadaan kembali ku serang.
Ku hampiri Mawar yang sudah setengah sadar itu. Ku rengkuh ia. Ia terlihat ingin bicara, tapi tak jadi. Karena ingin muntah juga.
__ADS_1
Saat itu juga pria itu lari terbirit -birit. Kemudian disusul keempat wanita tadi.
Huuffftt..
Ku tarik napas panjang dan menghembuskan nya pelan. Sudah lama aku gak berkelahi, jadi rasanya sangat tegang sekali.
"Mawar.... Mawar..." Ke tepuk pipinya pelan guna menyadarkannya. Tapi, ia tetap saja seperti orang mabuk pada umumnya, tak bisa kendalikan dirinya.
"Eemmm.. Abang... Ka, kamu.. A, abang Aku.." Eeehhhkk... Ia kembali sendawa. Ia sudah ingin muntah. Sepertinya ia kenal denganku.
"Iya, ini aku Akram." Jawabku malas, mulai memapahnya agar keluar dari tempat itu. Tapi, sialnya kakinya sama sekali tak bisa digerakkannya, ia tak bisa jalan bahkan kini Ini sudah memeluk tubuhku dan kepalanya bersandar di dadaku.
Huueeekkk..
Sesekali ia ingin muntah.
"Kamu Jangan muntah dulu kalau nggak kuat minum ngapain Minum. lagian ngapain kamu datang ke tempat ini?" aku masih sempat sempatnya merepet, dan berusaha menegakkan tubuhnya agar berdiri dengan tegak.
"Iihh... Cerewet...!" ujarnya dengan kepala yang bergoyang goyang, matanya sebelah kanan memicing, matanya sayu dan terkesan menggoda.
"Aku tu, gak percaya, kalau Abang itu im... por.. Impoten..!" ujarnya cengengesan, matanya bergerak ke bagian bawahku. Gerak tubuhnya, masih tidak terkendali dia masih sempoyongan dan pergerakannya aneh.
Aku diam saja tak menanggapi ucapannya kurengkuh tubuhnya lagi dengan erat. Aku akan membawanya pergi dari tempat ini. Sepertinya dia masih bisa jalan, tapi dia malas menggerakkan kakinya. Aku akan memaksanya berjalan.
"Ayo..! gerakkan kakimu!"
Hahahaha..
Mawar benar benar sudah mabuk. Ia bahkan menertawakan diriku.
"Kenapa abang gak suka samaku?" ia menunjuk wajahku. Jarak wajah kami berdua sangat dekat. Bahkan napasnya yang sedikit bau alkohol bisa tercium.
"Aku ini montok, lihat dadaku.. Besar dan padat..!" Tangannya terlihat ingin membuka kancing kemejanya. Ku tahan tangan itu. Aku tahu, ada yang tak beres dengan Mawar. Sepertinya minumannya dicampur obat perang sang.
"Iya, iya.. Aku tahu." Ku tuntun ia kembali, agar berjalan. Tapi, ia berontak.
"Pernah lihat ya? kamu ngintip...?" tanyanya dengan gaya mabuknya.
Hadeuhh..
Dia jadi terlihat lucu, kalau mabuk begini. Dan wajahnya yang memerah itu terlihat semakin cantik. Jujur, milikku dibawah sana sudah hidup. Karena otakku langsung traveling. Disaat ia ingin membuka dadanya.
"Ngintip. ?" tanyaku dengan bingungnya.
__ADS_1
"I, iya.. Hehehehe... Gak apa apa diintip. Aku suka Koq, ini. Abang mau liat. Lihat saja, untuk abang gratis... Tis.....!" kepalanya tak mau diam, begitu juga dengan kakinya yang tak sanggup menahan bobot tubuhnya lagi.
"Mawar....!" Ujar ku tegas, aku harus menghentikan aksi gilanya. Aku akan gendong dia. Biar cepat pergi dari tempat ini.
"Apa... Apa...?" teriaknya, menjauhkan tanganku dari bahunya yang ku rengkuh. Ia menatapku dengan sedih, tubuhnya masih oleng ke kanan dan ke kiri. Ingin ku raih ia lagi dalam rengkuhanku., tapi ia menepis tanganku.
"Bohong... Abang bohong... Mana mungkin abang impoten." Ujarnya masih dalam keadaan tubuh tak bisa seimbang. Kedua matanya kini terlihat bergerak ke bagian bawahku. "Akan ingin lihat." Ia mencengkram sabukku. Dan mencoba membukanya.
"Mawar. .!" ku tahan tangannya. Ia berontak, masih berusaha membuka sabukku. Kelakuan Mawar sungguh membuatku semakin gila. Milikku juga jadi hidup sempurna, karena sesekali tangannya menyentuh bagian itu.
"Pingin lihat, Abang bohong...!" paksanya berusaha melepaskan tanganku yang mengunci pergerakan tangannya.
"Mawar....!"
Grap..
Dalam satu gerakan, ia sudah berada dalam gendonganku. Anehnya ia tak berontak. Malah aku yang dibuat menggila, tangannya heboh mengusap usap bibirku.
Rasanya ia semakin berat saja. Tenagaku rasanya habis menguap karena ulahnya memainkan bibirku.
"Mawar... Hentikan..!" ku goyangkan kepalaku, agar jemarinya berhenti memainkan tanganku.
"Ciuman enak ya bang?" tanyanya dengan tatapan syahdunya. Aku jadi pingin digerayangin jadinya.
"Iya." Sahutku cepat. Kini kami sudah di depan club. Ku turunkan tubuhnya dan bersandar di dadaku. Tanganku sibuk menelpon Dimas. Tapi, gak diangkat juga. Aku pun menelpon grab car.
"Aku sudah tepis rasa ini bang. Tapi, gak bisa juga. Walau Abang impoten, aku mau Koq nikah sama abang " celotehnya manja, kepalanya masih bersandar di dadaku. Ia sesekali menciumi dadaku yang ditutupi kemeja itu. Aku dibuat semakin gila. Bisa khilaf aku kalau seperti ini. Mana tubuhnya Mawar sangat wangi. Hanya napasnya yang sedikit bau alkohol.
Itulah bedanya laki laki dengan perempuan. Laki laki tanya ada rasa cinta, bisa bercinta. Beda dengan wanita, ia tak akan bergairah jika tidak dengan pria yang ia cintai
"Stop Mawar...!" Ku jauhkan wajahnya. Saat itu juga ia hendak jatuh. Akupun dengan cepat kembali menangkap tubuhnya yang wangi itu. Sungguh ini saat saat yang sulit buatku.
"Ini keras, kan... Kan .. Abang... Bohong...!"
Nyut.
Ia mer emas milikku yang on, aku dibuat semakin menggila. Ingin rasa nya aku loncat loncat, untuk menghilangkan hasrat menggila ini.
"Mawar...!" Ku jauhkan tangannya cepat dari pisangku yang sudah panas itu.
"Bohong... Kenapa bohong... Kenapa harus diumpamakan terong letoi...!" ujarnya keras dengan penuh kekecewaan.
Bulshiitt..
__ADS_1
Saat itu juga mobil yang ku pesan datang. Ku masukkan Mawar dengan cepat ke dalam mobil.
TBC.