Hate A Boy But He Love Me

Hate A Boy But He Love Me
Prolog


__ADS_3

Hate A Boy, But He Love Me


Apa dirimu pernah membenci seseorang hingga belasan tahun, kemudian bercampur dengan rasa suka, hingga setiap kali bertemu kau harus menoleh dan menghindari tatapannya serta memilih pergi dari pada menghadapinya karena kebosanan. Tetapi ketika jauh kau tidak pernah mengalihkan pandanganmu untuk melihat senyumnya, dan jika benci dan cinta itu beda tipis apa kau suka mendengar gurauannya yang menyakitimu, tidakkah kau pikir ini seperti lelucon tuhan untuk membuatmu hanya terpaku pada seseorang. Kapan hari dimana itu usai, lalu dirimu diberi kesempatan oleh Tuhan untuk berada disisinya, sanggupkah kau meninggalkan orang yang datang kesisimu. Ini adalah sepenggal kisah tentang seorang gadis yang menyukai pemuda, cinta itu tidak sepenuhnya namun diisi dengan kebencian yang diramu oleh fikiran dan ketikan naskah....


\°v°/


Jika ditanya tentang pemuda itu seberapapun aku akan ingat, herannya entah karena diriku yang begitu menyukai nya sehingga ingin berada di sisinya atau perasaan benciku mengingat perbuatannya belasan tahun yang lalu.


     Kami bertemu ketika les dan aku merupakan orang baru disana, karena ayah merasa desa disana cocok untuk meningkatkan taraf hidup usaha ekonominya, jadi keluargaku pindah ke sana. Awalnya ku kira akan biasa saja sama seperti di tempat tinggal ku sebelumnya, atau karena jiwaku yang menyendiri ini sehingga aku sulit bersosialisasi ditempat baru, anak-anak sebayaku seperti memandang rendah ke arahku walaupun begitu aku selalu berusaha diterima di sisi mereka dan tak membuat ulah, karena aku tahu keadaan ekonomi keluarga ku rendah kala itu, jadi wajar saja anak-anak itu melihatku dengan sebelah mata, dengan kearifan dan keramahan ayah dan ibuku lah mungkin kiranya kami dapat diterima disini. Pada saat itu aku benar-benar merasakan bagaimana rasanya tidak disukai oleh anak-anak sebayaku walau mereka menyuguhkan senyum palsunya, karena teman-teman lamaku begitu baik, yang kurasakan saat itu adalah bagaimana mereka membuat kubunya sendiri yang tidak ada aku didalamnya.


     Menjelang beberapa hari di tempat les, kiranya aku sudah menjadi sasaran empuk untuk dijahili bukan hanya Untuk perempuan saja, terlebih menyakitkannya satu geng anak laki-laki yang terkenal dengan kebandelannya yang biasa disebut bad boy dalam bahasa modern setiap les selalu membully ku, diantara mereka semua yang terparah bernama Ilyasa Azura. Tepat ketika usiaku 9 tahun itu menjadi pukulan terberat bagi jiwaku.


Pertama kali jumpa dengannya ketika sedang bermain di teras rumah, ada anak laki-laki kecil umurnya sedikit tua dariku mengendarai sepeda melewati rumahku. Ivas yang pertama kali bertemu denganku waktu baru pertama pindah menduduki tempat istimewa di hatiku, aku cukup menyukainya hari itu ia juga kebetulan lewat dari kebun di belakang rumahku dan menyapa anak laki-laki kecil yang juga sepertinya seumuran dengannya. Mereka saling menyapa dan berbicara sebentar layaknya sahabat dan aku tahu ivas sedikit melirik kepadaku dengan senyum manisnya kemudian beranjak pergi, pada saat bersamaan anak laki-laki itu juga beranjak pergi ketika ia juga menoleh ke arahku yang kuingat pertama kali ialah pandangan matanya yang cukup tajam, dengan senyum tipis dibibirnya, seraya menandakan ada maksud tertentu dari pandangan dan senyum itu, tapi pikiranku yang polos kala itu hanya mengatakan "apakah anak laki-laki itu, anak desa ini dan teman Ivas ya...? Jika ia semoga jika kami bertemu ada hal baik yang akan terjadi" batinku.


     Pada kenyataannya tuhan mempertemukan kami lagi di les, kulihat wajahnya ketika ia berjalan didepan jendela di'ikuti beberapa anak laki-laki yang berjalan di belakangnya, aku cuma tau kalau ia yang kuingat hari itu ketika menatapku sesaat. "Anak laki-laki itu yang waktu itu kan..?" Ucapku dalam hati. Ketika ia masuk kedalam kelas, suara lantangnya hari itu, terdengar jelas di telingaku yang duduk di pojok belakang ruang kelas.

__ADS_1


"Apa anak Celepot (nama akrab ayah) ada disini, les bersama kita..!!!" Waktu itu aku sangat terkejut bagaimana tidak sopannya anak laki-laki itu mengucapkan nama ayahku dengan begitu lantang dan cemo'ohan mengikuti perkataannya, karena tak ingin ribut di minggu pertamaku lebih memilih diam, namun seorang teman yang berada di kelas memberi tahukan keberadaanku.


"Tuh..., Anak yg kau cari ada di sana noh Zura..." Ucap dia yang membelakangiku dengan jari jempol menunjuk ke arahku.


"Ada masalah apa anak laki-laki ini kenapa melantangkan nama Ayan tidak sopannya?" Ucapku dalam hati sambil khawatir.


Ia lalu berjalan ke arahku dengan senyum yang kurasa cukup mengerikan kearahku dan membengkok dirinya dengan mata tajam melihatku dengan sangar lalu berkata


"jadi kau ya anak pak Celepot warung nasi sebrang jalan itu, wah ternyata mukamu sama dekilnya ya dengan nama ayahmu ya, apa lantaran kau bermain dengan alat masak yang biasa digunakan orang tuamu karena tak ada mainan sehingga wajahmu seperti itu warnanya!!!" Ucapnya dengan nada tinggi lalu tertawa dan meninggalkanku.


" Hei..., Apa aku punya Masalah dengan mu, sehingga kau begitu leluasa menghinaku dengan tidak ada tata krama... Apa itu menyenangkan menghina orang yang baru pertama kali kau temui...?!" Ucapku tegas.


Dia menoleh ke arahku sambil memukul meja "ho~ ternyata kau pandai bicara juga ya Cepot, kau bilang masalahnya ada dimana ? Sejak kau berkata itulah awal masalahnya... " Ucapnya dengan lirih dan mencolok kepalaku. Aku menepis tangannya.


" Bagaimana bisa kamu tidak memiliki tata Krama seperti ini... Apa orangtuamu bahkan tak mengajarimu...?!" Timpalku

__ADS_1


" Wah... Tenyata mulutmu cukup pemberani menantangku Cepot, lihat bagaimana nanti aku akan mengerjaimu" katanya sangar.


Tiba-tiba guru datang seseorang anak yang mengikutinya memberitahukan hal itu kepadanya. " Jika kau memberitahukan hal ini pada guru aku tidak menjamin kau akan lebih lama disini, karena tempat ini wilayahku dan orang-orang ku..." ucapnya beranjak pergi dengan teman-teman yang mengikutinya mencari tempat duduk masing-masing.


     Kedepannya baru aku tau bahwa bagaimanapun aku berusaha membela diri... Aku bagai lalat kecil dimatanya juga teman-teman nya, meskipun aku tidak suka aku harus berusaha agar keluargaku tidak dapat masalah, bertahan dengan pembullyan yang mereka lakukan terhadapku terutama pada sekelompok anak nakal itu, seseorang yang memberiku peringatan tak lain adalah Ilyasa Azura bos mereka bahkan semua, dan keluarga nya mempunyai kekayaan yang cukup terkemuka di desa itu serta bersih dari kabar buruk.


     Hari-hari berikutnya kejahilan itu makin menjadi-jadi, aku mendapati diriku setiap hari kepala ditokoh oleh tangan jahilnya, bagaimana kakinya menghambat pintu disaat aku berjalan di pintu masuk, bagaimana sepatuku disembunyikan ketika aku pulang, bagaimana saat dia melempari kerikil ketika aku didalam WC, hari-hari seperti itulah yang ku lewati dan kau dapat membayangkan bagaimana gadis kecil sepertiku mendapatkan Pembullyan seperti itu yang merusak ke sistem syaraf otak pemikiran ku, yang kuandalkan waktu itu hanyalah aku punya sedikit otak yang cerdas dan beberapa teman-teman yang baik padaku yang membuatku bertahan.


.


.


.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2