Hate A Boy But He Love Me

Hate A Boy But He Love Me
chapter 31


__ADS_3

 


Setelah kemarahan ayah Achi dua Minggu lalu, membuat Achi dan Zura hanya bisa bicara lewat telepon. Ayah Achi mengatakan mereka terlalu intens takutnya itu akan menimbulkan gosip yang tidak-tidak di masyarakat walaupun mereka tidak melakukan apa-apa.


 


Hingga akhirnya mereka benar-benar menikah, Achi benar-benar terlihat berbeda hari itu, karena mukanya yang selalu polos dan tak pernah merias wajahnya saat di make up, semua nya terpana melihat Achi bagai Peri hutan yang cantik memakai gaun putih dengan rambut panjangnya yang terjuntai hingga ke bawah panggulnya. wajahnya yang Sao matang ternyata menambahkan keeksotisan tersendiri ras lokal hingga semua memotretnya.


Beda halnya dengan Zura yang mengenakan jas hitam dan bunga yang ada di saku kantong bajunya, membuatnya layaknya seperti ksatria hitam karena matanya yang tajam, rambutnya yang lurus dan naik ke atas berwarna kecoklatan serta badannya yang tegap itu membawa kesan dia adalah pria yang keren dan juga gagah.


itu membuktikan salahnya ekspektasi orang-orang yang menganggap pasangan itu akan jadi si cantik dan si buruk rupa. Achi datang ke luar acara resepsi pernikahan dengan di gandeng ayahnya, sementara Zura terlihat masih bicara dengan Adi kakaknya.


" Mau sampe kapan istriku di kamar rias itu kak... aku udah nunggu dari dua Minggu... apa perlu aku jemp...". ucap nya tak sampai lalu Adi menepuk pundaknya , menunjuk Achi telah datang ke luar bersama ayahnya lewat isyarat muka.


" Mas....". Ucap Achi lirih dengan wajah malu-malu nya. Zura hanya ternganga tanpa sepatah katapun.


Zura melihat wajah ayah Achi dan teringat terakhir kali ayah Achi marah padanya. " Pak... aku... maaf kemarin...". Katanya tak enak.


" Haha kamu memang pemuda yang bandel, dan nakal ya... tidak apa... bapak ngga pernah marah sama kamu... satu pesan bapak... jaga anak bapak... jangan buat dia sedih... bapak titip dia sama kamu nak..." ucap ayah Achi dengan senyum. Zura melihat dua orang tuanya yang hadir ikut mengangguk dan tersenyum pula dengan maa Achi yang tersenyum cerah.


" Iya pak... saya akan berusaha... ". Jawab Zura tegas. Ayah Achi menyerahkan Achi pada Zura untuk di bawa ke penghulu di depan tak jauh hanya beberapa langkah dari mereka saat ini.


" Mas... kenapa kamu ngga berkata apa-apa saat melihatku keluar, apa aku ngga menarik ya mas ..". Ucap Achi lirih.


" Ngomong apa sih kamu kucing kecil, wajah mu itu terlalu imut, cantik, manis... akh... pokoknya semuanya... aku hampir gila melihatmu seperti ini sampe aku mau bawa kamu peegi... aku ngga suka kalau semua mata melihatmu seperti ini... aku benci...". Ucap Zura sambil kecewa, namun mukanya yang memerah tak bisa membohongi dirinya yang sedang malu melihat istri kecilnya yang cantik.


" Aku....". Ucapnya perlahan


" Iya mas...?". jawab Achi penasaran.


" Aku rindu sama kamu dek... bolehkan aku melakukan itu sekarang....". Ucap Zura terbawa suasana.


" Eh apa mas...!". Jawab Achi sambil mengedipkan mata dua kali. Achi tau betul Zura akan menciumnya. Tapi suara Moran menghentikan mereka.


" Kalau mau melakukan itu ntar malam aja dong Ra... di kasur berjam-jam juga ngga apa... tu penghulu udah nungguin dari tadi..." Ujar Moran dengan lantang.


" Anj****r sialan Lo kak... ngerusak suasana gua aja...". Jawab Zura kesal. Semua orang tertawa melihat tingkah pasangan itu.


meski pun begitu di hadapan penghulu pada saat serah terima mereka, kegugupan itu menyelimuti Zura yang selama ini di kenal dengan lantang dan preman besar itu. Hingga ia harus mengulangi kata " saya terima nikahnya......" sampai 3x ulang. Achi melihat Zura menggertakkan giginya dengan mengepalkan tangannya... keringat Zura yang mulai bercucur di dahi dekat telinganya , membuktikan ini sulit bagi Zura. Penghulu pun sampai berkata " nak Zura tenang.. jangan gugup... kamu bisa melakukannya kamu sudah meemantapkan hati kan dari kemarin...." ujarnya. Sama seperti ayah Achi " Hei bocah nakal... kamu pasti bisa... jangan gugup... aku tidak mau putri ku bersama seorang yang penakut... " ucap ayah Achi lirih.


Hal itu tentu saja mendepak kepala Zura , ia merasa bertambah gugup. Namun tangan Achi yang terbalut sarung tangan putih itu menggenggam tangan Zura yang sedang mengepal itu dengan lembut.


" Mas... aku menyayangimu mas... aku percaya sama mas...". ucapnya lirih dengan senyum di wajahnya. Ketika melihat wjajah Achi seketika kegugupan Zura langsung sirna, ia mencoba mengulangi kalimatnya hingga benar sampai selesai. Akhirnya semua orang bersamaan bersakata " Sah !!!" setelah penghulu menghimbau mereka untuk menjawab.


" Huh... huah... akhirnya selesai juga... ". Ucap Zura sambil memegang adanya, Achi menepuk-nepuk pundak Zura dengan lembut sambil tertawa kecil.


Hingga di singgasana pernikahan pun Achi masih tertawa, ia ngga pernah menyangka suaminya akan segugup itu pada hari pernikahannya. Berbeda dengan bagaimana buas dan bringasnya Zura saat dulu hingga orang lain takut mengajak perkara dengannya.


" Jangan ketawa dong dek... kamu ngga tau apa itu sulit untukku , walaupun begini aku juga punya titik lemah...". Ucap Zura cemberutan sambil sesekali menyalami tamu yang datang di hari pernikahan mereka.


" Iya mas iya... tapi tetap aja lucu... hahahah". Jawab Achi tertawa.


" Ku bilang jangan ketawa kan.... kalau ngga aku gelitikin nih..." kata Zura sambil menggelitik pinggang Achi. Achi makin tak bisa menghentikan tawanya.

__ADS_1


Lean yang saat itu menjadi fotografer pernikahan mereka berkata " Oi-oi sampe kapan mau begurau... waktunya foto nih... ayo serius " Ucap Lean agak kesal namun meski begitu Lean bisa menangkap momen bahagia mereka, walau tanpa persipan dengan alami dan natural dipotret potret itu.


" Ah maaf mas... kami akan serius... gayanya harus seperti apa ya...." Ucap Achi kikuk. Lean mengarahkan gaya gerak duduk mereka.


Tamu mereka sangat banyak berdatangan karena dua keluarga dari Achi maupun Zura adalah keluarga yang suka menolong di desa itu. Tak heran kalau banyak tamu dari berbagai kalangan datang ke pernikahan mereka. Namun dari sekian banyak orang Achi dan Zura tak menyangka Viona akan datang sambil meminta maaf bersama Andre sahabat Zura itu. Mereka datang sambil meminta maaf dengan iklas. Tentu saja Zura dan Achi memaafkan mereka, lalu Amindan Fariz juga ikut datang memberikan ucapan selamat pada mereka. Hanya saja pandangan Zura langsung menyipit ketika Fariz hendak memeluk Achi sebagai adik sebenarnya, tak ada maksud apapun. Tangan Zura langsung menghalau Faris dan bilang....


" Jangan menyentuhnya... dia istriku sekarang..." Ucap Zura menantang membuat Aji yang malam ini melihat ikut tertawa.


" Apa an sih mas... masa cemburuan gitu... aku aja bisa lihat kalau mas Fariz memberika pelukan itu layaknya memeluk adik....". Ucap Adi.


" Beda lah... buktinya dia hampir pernah membawa istri kecilku pergi... sapa yang ngga marah ... ". Jawab Zura. Mereka pun tertawa melihat tingkah Zura yang sedari siang tadi bagai anjing penjaga untuk istri kecilnya itu, bahkan Zura ketika siang tadi tak segan-segan memelototi setiap mata pria yang menyalami istrinya.


" Kak... ayo Poto bersama, aku Kaka dan mas Fariz juga ... tadi aku sibuk bantu-bantu sekarang baru bisa kedapatan foto tapi mas Zura ngga usah ikutan ya..." Ucap Aji mengejek, tentu saja hal itu makin membuat Zura marah , meskipun ia tak bisa berbuat apapun karena istrinya juga mau diajak berfoto. Ami makin tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Zura bagai kepiting rebus dengan mata menyipit dan alisnya yang berkerut. Hingga itu usah dan mereka pun pamit pulang sedang aji bermain dengan teman-teman nongkrongnya.


Hingga akhirnya tidak bebapa yang datang karena hampir larut malam dan kini waktunya muda-mudi itu untuk bersenang-senang menikmati acara di pernikahan mereka yang menyediakan kuda kepang sebagai hiburan.


" Hari ini banyak kali yang datang ya mas...". Ucap Achi, memecah suasana melihat Zura yang kini jadi suaminya itu masih menyisakan kemarannya karena hal tadi.


" Oh... yang penting kamu senang kan...." Jawab Zura ketus dan menolehkan mukanya.


" Iya... tentu aja aku senang sekali... aku bisa melihat bagaimana raut wajah tamu kita yang gembira setiap menyalami kita, dan kebahagiaan keluarga kita waktu kita menikah... aku senang tidak ada pertentangan... tapi aku paling bahagia. waktu mas bisa jadi suamiku... imamku... sampai rasanya seperti mimpi..." Jawab Achi sambil memegang lembut tangan Zura yang ada di sofa singgasana itu.


" Kamu emang ahli mencairkan suasana, kucing kecil.... Ahk... aku ngga keren sekali sih... kenapa aku bisa bad mood karena sialan itu di hari pernikahanku... padahal istriku sangat menyayangiku..." batin Zura.


" Ah ... seperti mas marah ya... aku minta maaf ya mas... ukh... aku mau ke meja itu dulu ..." Ucap Achi. Namun tangan Zura langsung menghentikannya .


" Mau kemana..." Tanya Zura.


" Ambil semangka.... tenggorokan ku sesak mas.. mas juga gitu kan... dari tadi kita bahkan sampe ngga bisa minum karena banyaknya tamu yang datang ...". Ujar Achi.


" Wah... makasih mas..." Jawab Achi , Zura hanya tersenyum sedikit dan duduk kembali, ia melihat bagaimana istrinya itu makan dengan lahap.


" Kamu lapar dan haus sekali ya pastinya... sampai seperti itu...". Ucapnya sambil tersenyum kecil sembari mengejek.


" Ah iya... soalnya aku haus sekali... aku juga bisasa makan semangka waktu pikiranku sedang sedih..." Jawab Achi spontan membuat Zura terkejut mendengarnya, ternyata ia belum sepenuhnya mengetahui sifat istri kecilnya. Achi tersadar dengan apa yang ia katakan, mata mereka saling bertemu dan memandang.


" Ah... itu bukan maksudku mas... ". Ucap Achi gugup dan terbata-bata. Zura langsung sedih dengan kelakuannya yang seperti anak-anak itu, ia banyak berfikir pasti waktu dulu banyak membuat istri kecilnya menderita, karena istrinya adalah tipe yang menahan emosinya saat ia marah atau sedih beda dengannya.


" Maaf... tadi aku keterlaluan... aku minta maaf...padahal ini adalah hari pernikahan kita... tapi aku udah....". Entah kenapa Zura merasa sangat sedih dan hampir menangis ia langsung menoleh ke arah lain tanpa melihat Achi, dan menutup mulutnya. Achi adalah anak yang kikuk ia juga tak tau harus berbuat apa.


" Sudahlah mas... aku juga salah tadi... ngga usgag di ungkit... bagaimana kalau makan semangka ... semangka ini manis Lo... lihat dari warna nya yang merah..... " jawab Achi sambil menyodorkan semangka itu ke arah mulut Zura, seperti membujuk anak kecil untuk makan ke arah Zura. Walau caranya agak kaku , itu berhasil membuat Zura tertawa kecil. Zura memakannya seikit , sambil menangkap tangan Achi dengan lembut.


" Aku tau kalau semangka ini manis dan lembut ... tapi darinpada semangka akunlebih tertarik makan kamu saat seperti ini....". Jawab Zura dengan lembut dan pandangan mata tajamnya yang sayu serasa menangkap seluruh tubuh Achi menjadi mati rasa karena malu. Achi hanya mampu mengedipkan matanya sembari Zura mulai mendekatkan wajahnya ke wajah istri kecilnya itu.


Achi hanya menunduk waktu Zura menempelkan bibirnya ke bibir Achi, seketika ia langsung blank dan tak tahu ia sedang berada di mana sekarang. Zura langsung menciumnya dengan lembut, bibirnya terasa manis karena baru saja memakan semangka, dan lidah nya mencoba masuk ke mulut Achi yang sedikit terbuka dan memberikan air sari yang baru saja ia makan ke mulut achi. sampai Achi dapat menelan air sari itu.


" Glek... Ukh... hah...." Achi memukul-mukul dada Zura karena ia kehabisan nafas, Zura langsung menghentikan cuiumannya. Tapi Zura yang jahil masih saja menggoda istri kecilnya itu.


" Apa rasanya enak...?!". Goda Zura dengan lembut menatap mata Achi.


" Ah ... apa maksudnya mas... " jawab Achi dengan muka memerah dan ada air liur itu tumpah di sudut kanan bibir nya.


"Ukh... sial wajah nya semakin buat aku jadi makin terangs*Ng kan.... kucing kecilku benar-benar tau mencari titik lemahku..." Batin Zura.

__ADS_1


" Hei... jangan nunjukin wajah begitu dong... kalau kamu nunjukin wajah seperti itu aku jadi semakin ingin memakanmu sekarang kan..." ucap Zura lembut. Namun Achi kehabisan kata dan iabtak mampu menolak apalagi itu adalah suami tercintanya. Zura perlahan menjilati sedikit demi sedikit air liur yang mengalir jatuh di sudut kanan bibir Achi dengan lembut, ia juga mendengar suara kecil Achi yang menggelitik telinganya membuat ia semakin moody, dan hal itu berlanjut ke leher panjang Achi.


" M... mas... kita lagi di tempat... umum mas... " ucap Achi lirih sambil menahan jilatan bibir Zura yang memberikan rasa geli pada kulit lehernya, jantungnya tak berhenti bergemuruh... Namun Zura tak menghiraukannya. Hingga salah satu saudara jauh mereka ibu-ibu tua paruh baya itu mengambilkan anaknya roti di dekat pelaminan, tak ada yang fokus kepada mempelai karena mereka semua asyik menonton pertunjukan kuda kepang, awalnya ibu-ibu itu tak tau peduli hingga anak kecilnya itu menegurnya...


" Ma.... paman dan bibi itu sedang apa...." ucap anak kebil berusia 4 tahun itu bertanya.


" Ya Tuhan kalian melakukan apa di depan anakku!!!". ucapnya membentak menghentikan aksi Zura saat itu. Sontak Achi langsung kaget begitu pula Zura , Achi langsung menyembunyikan wajahnya karena malu.


" Eh... maaf bi... maaf..." Jawab Zura langsung memeluk istrinya, ia juga malu dengan perbuatannya yang di lihat anak-anak.


" Halah Lah... pengantin baru lihat tempat dong kalau mau melakukannya ..." Jawab bibi itu sambil tertawa mengejek dan membawa anaknya pergi.


" Hehehe... maaf bi.... maaf...". Jawab Zura lagi.


Achi tak berani mengangkat kepalanya sampai bibi dan anaknya itu pergi.


" Akh... akhirnya pergi juga...." Ucap Zura.


" Benarkah...?!" Achi.


" Iya... Masa mas bohong sama kamu..." Jawab Zura tertawa kecil.


" Kan mas... selalu berbuat seperti itu tanpa tahu tempat....". Jawab Achi sambil memukul-mukul dada Zura.


"Auh.... sakit dek... sakit... maaf deh maaf... mas kebawa suasana... hahhaha..." Jawabnya sambil mengejek lalu menangkap kedua tangan Achi, ia seketika juga terkejut dengan bekas ****** Achi di mana-mana. Membekas merah di lehernya bagai disengat nyamuk, namun nyamuk yang menyengat itu nyamuk besar. Zura sangat malu melihatnya, ia langsung membuka jasnya dan membalurkan ya di badan Achi meskipun Achi sudah bilang ia tak kepanasan.


" Apa yang mas lakukan... aku ngga kepanasan kok..." ucap Achi.


" Ngga... kamu harus pakai... mas ngga mau kamu masuk angin ..." jawbnya " Mas malu dek...." Timpalnya.


" Malu kenapa mas... ?".


" Pokoknya mas malu.. habis mau gimana ... mas kan sayang banget sama kamu..." Jawab Zura lembut sambil menempelkan muka nya ke dada Achi.


" Iya mas.... iya aku tau kok...." Jawab achi sambil memeluk Zura. Zura tak mau bilang ke Achi bekas ****** nya itu takut kalau nanti istrinya akan marah. Zura membalas pelukan itu dengan pelukan hangat dan mencium kening Achi berulang kali. Ia bisa melihat dua mata yang melihat kemesraan mereka yaitu sahabat Zura Tyo dan Lean . Mata Zura kembali menyipit dan menunjukkan tangannya isyarat F*CK. Merasa suaminya gagak keterlaluan Achi langsung memarahainya.


" Lihatlah gimana pasangan bodoh itu saling menunjukkan kasih sayangnya...." ucap Tyo kesal.


" Kenapa cemburu... emang mereka mesra kok... aku udah melihat bagaimana interaksi mereka sedari kecil udah dekat.... hanya saja baru sekarang bisa seperti ini... wajar kan.... apa aku perlu memberimu foto bagaimana kemesraan mereka tadi... bisa jadi referensi lo buat foto kamu nanti..." Jawab Lean dengan ejekan tawanya.


" Akh... diam... jangan bicara lagi... semakin kamu bicara rasanya aku ingin menikah sekarang dengan pacarku....!!!" Jawab Tyo sambil mengeremas kepalanya karena marah dengan candaan Lean tadi.


Akhirnya hari ini Achi dan Zura berhasil melewati hari pernikahan mereka walau ada sedikit kesalah pahaman.


to be continued


.


.


.


.

__ADS_1


eits.... malam pertamanya gimana ya...?🤔 nantikan Kisah selanjutnya ya....


__ADS_2