Hate A Boy But He Love Me

Hate A Boy But He Love Me
chapter 18


__ADS_3

Aku memang bukan orang yang layak


untuk mendapatkan seseorang sepertimu


Tapi semua orang selalu menginginkan yang terbaik untuk dirinya


Apakah aku boleh sedikit saja bermimpi


menggapai dirimu yang siang bagai mentari


Malam bagai bulan purnama


.


.


.


.


Zura terbangun, ia langsung dipeluk oleh ibunya yang terisak. Vioana langsung melangkah ke arahnya . Ruangan itu hanya ada mereka bertiga saat ini. Mata Zura menerawang.


"Dimana kucing kecilku...!?". Batinnya.


"Zura... Maafkan aku..." . Isak Viona yang langsung ingin menyambarnya.


" Berhenti disana... jangan mendekat...". Jawab Zura lemah. ucapan itu membuat pukulan berat bagi Viona . ibu Zura langsung kaget melihat anaknya berubah drastis, dulu saat Viona ingin menempel padanya, Zura dengan senang hati menerimanya, Viona berhenti seketika .


" Zura jangan seperti itu... Viona sudah memberikan darahnya untuk mengobatimu waktu pingsan, dia juga sudah menjelaskan semuanya, ibu harap kamu bersikap dewasa dan membuat keputusan yang matang...". Jelas ibu Zura yang membelai pipi puteranya dengan lembut. Zura langsung melepas selang impus ditangannya, dan dengan cepat mengambil kunci motornya, yang kebetulan ada di atas meja , dekat tempat tidur pasien itu.


" Zura... aku akan menjelaskan semuanya padamu Zura...!.". Jelas Viona sambil terisak.


" Zura dengar dulu penjelasan nak Vio .... jangan terlalu keras padanya... kamu mau kemana nak! kamu masih sakit... istirahat lah dulu nak!!!". Pinta Bu Sena dengan khawatir.


" Jelasin apa lagi sih Bu.... jelasin kalau dia udah melakukan hubungan intim dengan pacar lamanya...., (kecewa) kalau memang ia mau menjelaskan padaku, sekalian suruh dia bawa Andre yang udah buat kepalaku jadi Heng gini...dan mengapa mereka lebih memilih pergi bukannya menolongku...". Jawab Zura dengan tawa yang nanar, kehilangan kepercayaan pada Viona. Viona tak menyangka, kalau Zura yang penyayang dan juga penuh perhatian itu dapat berkata kejam.


"Apa... Apa... maksudmu nak...? ".Tanya ibu lalu menoleh ke arah Viona. "Apa maksudnya ini nak Vio , ibu masih mempercayaimu kalau kamu tunangannya dengan penjelasan mu... tapi kamu... tidak mungkin melakukan itu kan ...?!". Ucap ibu Zura seraya tak percaya. Viona langsung menunduk tangannya mengepal , menahan tangisnya yang perlahan jatuh. Ia tak menyangka kalau Zura akan seditail itu mengingat kejadian yang menimpa waktu itu.


Viona hanya menjelaskan garis besar waktu ditanyai oleh keluarga Zura, namun keluarga Zura tak tahu kalau Viona sudah melewati batasnya. Ibu Zura tak bisa mengatakan apapun, melihat Viona.


"Haha... aku udah ingat semuanya kok... ini mungkin berkat Tuhan yang tidak mengizinkanku mati cepat... bukankah begitu Viona ... " Tegas Zura. kata-kata itu seketika membuat Vio membatu . Zura langsung beranjak dari tidurnya.


"Mau kemana nak... kamu belum pulih betul..."


. Ibu Sena langsung memegang tangan Zura seraya khawatir.


" Aku ingin melihat kucing kecilku Bu... aku kangen dia.. ".Jawab Zura dengan senyum sedih, ibu Sena tak dapat berkata apapun ketika anaknya berkata begitu. Ia melihat tampaknya Zura sudah menetapkan pilihannya pada gadis lain , dan seseorang itu ibunya rasa juga layak / lebih dari layak untuk Zura.


" Maksudmu ke tempat nak Achi ...? jangan dulu nak ... kemarin Adi bilang wajahnya cukup tertekan... beri dia waktu untuk menenangkan diri.... ". Ujar ibu Sena, Zura hanya tersenyum lagi sambil melepas tangan ibunya. Melihat hal itu Viona merasa diasingkan. Ia langsung memeluk Zura dari belakang.


"Tidak Zura... kumohon jangan pergi...! aku tahu semua salahku Zura.... jika kamu suruh aku memperbaikinya, aku akan lakukan... ku mohon Zura... tubuhmu sedang sakit sekarang ...!!!". Jawab Viona. Melihat kelakuan Viona, Zura bukannya senang tapi merasa jijik.


" Lepaskan aku...". Jawab Zura dingin, Bu Sena tidak tahu lagi harus berbuat apa, dalam hatinya ia juga merasa bersalah sudah memasukkan nak Achi yang tak tahu apa-apa dan terjebak dalam hubungan anaknya itu, hanya demi kesembuhan Zura. Tapi dia juga kecewa, calon menantu yang sudah yakin ia pilih, tak seperti yang ia harapkan.


" Tidak akan ....!!! aku ngga mau kamu sakit lagi..!!!". Teriak Vio. Ia mengeratkan pelukannya, karna Zura tak tahan dengan sikap Viona , ia langsung melepaskan diri nya dengan kasar hingga membuat Vio terjatuh. Ibu Sena langsung kaget dengan sikap Zura, ia memang jarang melihat anak bungsunya marah, tapi sekali ia marah juga bahaya dan ibu Sena tidak bisa melihat kalau ada wanita yang disakiti.


" Zura ibu tau nak Vio salah, tapi jangan kasar seperti ini... bicara baik-baik. ". Jawab Bu Sena sambil nemapahkan Vio yang terisak. Zura hanya menghiraukannya dan pergi.


Moran yang membesuk sambil membawa makanan melihat adik bungsunya itu sedang bergegas pergi, keluar dari rumah sakit meskipun baju pasiennya belum diganti.


" Zura ... mau kemana kamu...!". Teriaknya , Zura tidak menghiraukannya. Ia melihat motornya ada di parkiran depan gerbang dan langsung mengendarainya pergi. Moran ingin mengejarnya, tapi ia memilih untuk melihat ibunya.


" Ibu ... maafkan aku... kumohon maafkan aku.. ini hanya kesalahan... aku dan Andre tidak sengaja melakukannya. Aku mabuk dan tak sadarkan diri...!". Vio menangis tak henti-hentinya.

__ADS_1


" Ibu tak bisa melakukan apapun nak... kesalahanmu sudah sangat fatal. Kamu bahkan udah berhubungan intim dengan Andre , Andre adalah sahabat Zura . zura sudah menganggap Andre saudara sendiri, ibu tahu itu. Dan kamu... kamu sudah meretakkan hubungan mereka . Ibu tahu Andre juga anak yang baik... ibu tidak tau yang kamu harapkan dari Zura sebenarnya!". Tegas ibu Sena. Tepat di saat ibu Sena mengucapkan hal itu Moran ikut mendengarnya dari luar. Ia sangat kaget dengan kabar itu.


" Jadi kamu ngga perawan lagi Vio...? terlebih kamu melakukannya sama Andre, wah... pantas saja adik kecilku pergi meninggalkanmu.". Ucap Moran spontan mengatakannya saat ia masuk.


Vio menjadi malu dan sedih.


" Aku mohon maafkan aku ... apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan ini... aku...". jawab Vio langsung terduduk ke lantai dengan tangisnya. Ibu Sena merasa iba, walau Moran juga merasa kesal ia juga tidak mau melihat perempuan menangis. Pepatah bilang tangis wanita bisa membuat dunia seakan runtuh, sebaliknya... jika pria yang menangis dunia akan tertawa.


" Viona aku tidak tahu kamu berkata sebenarnya atau hanya trik, tapi kenapa kamu tidak ada disampingnya disaat adik bungsuku terluka , kenapa harus sekarang kamu muncul. Mengapa tidak dari dulu... aku harap kamu bisa menjawab ini lain waktu, dan menjelaskannya pada Zura. Sekarang ia pasti juga sedang kecewa dengan perbuatan kamu... ia juga butuh waktu untuk berfikir ulang, kamu pulanglah ... tak usah bersikap menyedihkan seperti ini... aku ngga mau ini menimbulkan gosip miring tentang kalian...". Tegas Moran. Vio tidak bisa membantah, ia menenangkan dirinya lalu berpamitan dengan Moran dan ibu Sena.


Moran mengajak ibunya pulang sambil mengurus biaya perawatan Zura, dan melihat sifat Zura ia yakin adiknya itu ngga akan berlama-lama di rumah sakit.


Sementara itu Achi baru ingat, kalau kemarin adalah hari buruh nasional. Sehingga kegiatan belajar di sekolah sehari ini ditiadakan dan diganti dengan pengabdian siswa pada masyarakat, khususnya pada petani/ pekebun. Dari masuk Achi sudah urang-uringan memikirkan bagaimana kondisi Zura , ia bahkan tidak menghiraukan ucapan Ami yang kepo maupun Fariz yang tak henti mengkhawatirkan nya. Setelahan itu Achi kembali ke sekolah untuk mengambil tasnya lalu pulang. Ia tak sengaja mendengar ucapan siswanya.


" Hei tadi aku lihat ada kakak ganteng, duduk di parkiran dengan baju pasien rumah sakit. Ia terus memandang ke sekolah kita...aneh kan...". jelas seorang siswi itu.


"Nunggu seseorang kali tuh...". jawab siswi satunya.


" Siapa orang bodoh yang menunggu seseorang itu sampai ngga menghiraukan pakaiannya ... ckckck... tu... tunggu...(Achi terdiam sesaat) Mungkinkah dia.... ". Achi langsung bergegas berlari.


" Chi mau kuantar pulang...!". ucap Fariz.


" Maaf Riz , aku ada keperluan...". Jawab Achi langsung bergegas berlari ke arah parkiran depan, Fariz samar-samar melihat wajah Zura. Ia langsung kecewa dan pergi lewat jalan belakang , ia tidak mau melihat perilaku sepasang burung merpati yang akan membuatnya sedih itu.


Achi bergegas dan melihat Zura yang sedang menghisap sebatang rokok yang hampir habis itu di parkiran .


" Zura....! kamu baru saja ambruk satu hari , bisa-bisa nya kamu merokok waktu badan kamu lagi ga sehat." Teriak Achi dengan terengah-engah dan menghentikan langkahnya karena kecapekan an . Zura langsung membuang batang rokok itu lalu menoleh ke arah kucing kecilnya sambil tersenyum. Ia tak mengatakan apapun, namun ia membentangkan sedikit tangannya ke arah Achi.


" *Kenapa kamu malah membentangkan tanganmu bodoh..., jangan begitu... jangan memaksakan diri ketika kamu sedang sakit... tapi kenapa aku malah *..." Achi langsung berlari ke arah Zura , meskipun ia menahan rasanya karena Vio sudah datang. Raganya bekata lain. Zura sudah bersiap memeluk Achi yang berlari ke arahnya. Namun Achi datang sambil memukul Zura dengan keras.


" Apa kamu bodoh...!!! kenapa kamu malah datang kemari waktu badanmu lagi sakit... bahkan ngga mengganti bajumu dulu... " Achi memukul mukul dada bidang Zura .


" Hei ... itu sakit kucing kecil...". Jawab Zura santai sambil tertawa.


" Iya-iya aku bodoh~ udah membuat kucing kecilku khawatir... ayo pulang... aku udah menunggumu dari tadi di sini...". Jawab Zura sambil menghapus air mata Achi. Achi hanya menurutinya. Dalam perjalanan Zura hanya diam tidak seperti biasa.


" Zura... kamu bilang sudah menungguku dari tadi... kenapa ngga ke tempatku aja... kamu kan tahu sekolah kami ngadain hari buruh...". Tanya Achi.


"Ah... itu... aku ngga mau mengganggumu waktu sedang bertugas sebagai pengajar...". Jawab Zura santai.


" Oh begitu..., lalu kenapa kamu tidak menungguku saja di rumah... aku kan memang akan pulang ke rumah nanti... ". Achi.


" Entahlah... waktu sadar aku ingin sekali menemuimu, mangkanya aku kemari...".


Ucapan itu membuat Achi terdiam.


Achi ingin menyampaikan beberapa pertanyaan tentang Zura selama di rumah sakit, tentang bagaimana kondisi tubuhnya, dan bagaimana reaksi zura waktu tunangan aslinya, Viona datang . Tapi semua itu tertahan di ujung lidahnya entah karena apa. Ia ingin menunggu Zura yang memberitahukannya dahulu.


Sesampainya di rumah Zura hanya diam saja sambil mengeluarkan kunci membuka pintu rumah.


" Kenapa dia diam saja dari tadi ia tak banyak bicara, mungkinkah syaraf otaknya masih sakit...., atau ia sudah bicara dengan Viona, dan ingin bicara denganku baik-baik untuk menyelesaikan semuanya... jika iya aku harus bersiap... tapi kenapa hatiku jadi sesakit ini..." batin Achi. Achi berjalan sambil tertunduk, ia tenggelam dalam pemikirannya hingga menabrak Zura yang sedang membuka pintu rumah.


" Ouch... maaf Zura... aku ngga melihat kedepan....". rintih Achi menabrak tubuh pemuda yang bertubuh kekar itu.


" Oh... Ok...". Jawab Zura singkat. Pintu rumah itu sudah terbuka. Achi melihat gelagat Zura yang aneh dan merasa Zura sedang tak baik-baik saja. Achi menarik tangan kiri Zura seketika.


" Zura... sepertinya kamu masih sakit... aku akan mengganti bajuku sebentar.... lalu ayo kita pergi kerumah sakit...!". Pinta Achi dengan wajah khawatirnya, dengan cepat Zura langsung berbalik mendorong Achi ke pintu . " Hei.. apa yang kamu lakukan kenapa kamu mendorongku ke pintu...!". Heran Achi, Zura dengan cepat menutup pintu.


" IYA! AKU MEMANG SEDANG SAKIT....!!!" teriak Zura.


" Lalu kenapa kamu harus diam! ayo kita ke rumah sakit..!". Jawab Achi sambil mencoba membuka pintu tapi Zura menututup pintu itu dengan kuat dan mendepak Achi serta menghadang Achi dengan dua tangannya.


TRAPP... pintu itu tertutup lagi. Hingga membuat Achi terkejut.

__ADS_1


" Aku sakit karena merindukanmu... mengapa kamu bodoh sekali...!!!". Tegas Zura. Achi langsung menoleh kearahnya.


"Eh... kamu bilang ap...". Belum sampai Achi bicara , Zura langsung menciumnya.


" Dengar hatiku...dia sedang sakit... ( Zura meletakkan tangan Achi ke dadanya, samar-samar ia dapat mendengar detak jantung Zura yang begitu cepat) ia sakit karena terlalu merindukanmu bodoh...". ucap Zura dengan lembut, mata Zura yang tajam terasa sendu. Muka Achi langsung memerah ia seketika terduduk, dengan satu tangan yang masih dipegang oleh Zura dengan lembut. Achi tertegun jantungnya ikut bergemuruh. ia hanya menoleh ke samping , tidak ingin perasaannya diketahui.


Zura juga ikut duduk di depan Achi . " Hei... kenapa diam saja... kamu harus bertanggung jawab...". ucap Zura dengan membelai pipi Achi secara lembut dengan tangannya. Achi langsung melihat kearah Zura sambil mengedipkan matanya, mata tajam Zura terlihat sayu. Achi langsung menunduk mukanya makin merona tidak menyangka kalau Zura akan melakukan hal yang manis seperti ini.


" Achi cium aku.. , Aku selalu melakukannya duluan... apa kamu ngga tau ini membuatku sakit sebagai tunanganmu...". Timpal Zura.. dengan nada sedih, ia tahu Achi pasti mustahil melakukannya apa yang dia mau, apa lagi Zura tidak tahu pasti Achi menyukainya atau tidak , terlebih mereka sudah musuhan sejak lama.


Melihat raut wajah Zura yang sedih , Achi tidak sanggup menolak Zura yang ingin pergi itu. Achi menarik baju Zura, Zura langsung menoleh tidak menyangka. Ia menyentuh pipi Zura dengan lembut dan langsung menciumnya, meskipun ia tidak pandai.


" Sial..., kenapa kamu manis sekali sih...". Zura mengumpat dalam hati.


Zura masih menikmati ciuman itu , namun Achi langsung menyudahinya.


"Udah... sekarang aku boleh pergi kan


..". Jawab Achi menelan dahaganya karena malu sambil menutupi mulutnya. ia mencoba berdiri walau raga nya masih mati karena malu. Zura langsung menarik tangan kananya , hal itu membuat Achi jatuh di pelukan Zura.


" ouchh... dadanya keras sekali, sampai membuat kepalaku sakit terantuk". Batin Achi. Zura langsung memeluk pinggang kucing kecilnya dengan dua tangannya.


" Apa aku udah bilang jantungku udah sembuh, ia makin bergemuruh. Kamu harus menciumku lebih lama supaya dia tenang , ya kan Achi...?!." tanya Zura mesra sambil menempelkan jidatnya, ia melihat wajah gadisnya yang mulai mengendu tatapannya. Zura langsung menempelkan bibirnya ke bibir Achi yang tak dapat menolak itu.


Ciuman Zura kali ini lebih lembut dari yang pernah ia lakukan sebelumnya, meskipun berbau rokok. Sebaliknya Zura merasa bibir Achi terasa lebih manis, karena Achi ketika di sekolah tidak sengaja banyak memakan cokelat untuk menenangkan perasaannya. Hingga itu membuat gairah Zura meningkat dan memasukkan lidahnya ke dalam mulut Achi yang sedikit terbuka , Zura juga berulang kali bertukar nafasnya dengan Achi . Achi sedikit berdesah karena kehabisan nafas. ia memukul mukul dada Zura dengan lembut karena kehabisan tenaga.


Zura lalu melepaskannya, namun ketika melihat wajah Achi yang semakin sendu, membuatnya semakin moody ingin mencoba yang lainnya. Ia langsung berpindah ke kulit leher Achi yang mulus, Achi langsung terkejut melihat tingkah laku Zura. Zura memasukkan tangannya perlahan ke dalam baju Achi dan tangan satunya membuka dua kancing baju atas.


" Agh... uh.... Zura... hentikan... jangan seperti ini...". Bisik Achi dengan lembut sambil mendesah. Ia menari baju punggung Zura dengan lembut. langsung menjilat kuping gadis itu dengan lidahnya yang lembut. Hal itu juga membuat Achi ikut bergairah karenanya.


" Zura... ah... sudah hentikan... jangan menyentuh bagian itu...". Jawab Achi yang merasa bagian itu terlalu sensitif jika disentuh, terlebih dia adalah gadis yang penggeli. Zura melihat perilaku Achi yang tak benar-benar menolaknya.


" Bagaimana aku bisa berhenti, kalau tubuhmu juga menginginkannya...". jawab Zura lembut. Dan meneruskan aksinya.


" eh... ah... nggak... aku ngga seperti itu... ngga...". Ucap Achi yang semakin malu.


" Jangan bohong..., akui saja kamu udah menyukaiku... dari dulu kamu hanya punya ku... dan harus terus jadi punya ku...". Ucap Zura sambil mengecup-ngecupkan bibirnya dan sesekali menghisap area di leher dada Achi hingga berbekas merah. Zura melihat buah dada Achi yang sedikit terbuka karena bajunya yang melorot sedikit ke bawah dan langsung menyerang area itu.


" Ah nggak jangan disana...!". teriak Achi , dua tangannya langsung memeluk leher Zura dengan erat.


Zura langsung terkejut, ia mengehentikankannya dan melihat wajah Achi dengan tatapan sendu.Bulu mata Zura yang hitam dan panjang menambah karisma dirinya.


" Ah... maaf...". Jawab Achi ia tertunduk tapi melihat Zura masih menatapnya seperti itu dia jadi tidak tahu harus melakukan apa. " Zura... kumohon jangan menatapku..., jangan menatapku seperti itu...". Pinta Achi dengan terisak malu. Zura langsung membelai rambut belakang Achi dengan lembut.


" Ini karena kamu enak... dan manis sekali buat menyembuhkan ku...". jawab Zura sambil mencium bibir kecil Achi itu lagi. Achi sudah pasrah ia tak bisa melakukan sesuatu meskipun sudah berusaha, tubuhnya tidak menolak, dan makin tenggelam dalam pelukan pemuda yang berbadan kekar dan bidang itu.


"Ngga ... !!! tubuhku bahkan ngga menolaknya... aku ngga bisa melakukan apapun, ini kesalahan bagaimana nasibnya Vio. Siapapun tolong aku!!! aku akan ditelan oleh iblis ini!!!". Teriaknya dalam hati.


seketika ketukan pintu mengagetkan mereka.


" Zura... kamu ada di rumah... aku tadi ada keperluan dengan tetangga sebelahnya... dan kebetulan melihat motor kamu, sekaalian aku mampir membawa obat dari rumah sakit... Zura kamu ada...?". Tanya Moran dari depan pintu. Zura dan Achi tergagap malu, Zura melihat leher dan dada Achi yang penuh dengan kecupannya.


" Sial ..., tanpa sadar aku udah kebablasan melakukannya lagi... sepertinya terhadap kucing kecil aku dapat kehilangan diriku ku... ". Batinnya, Moran asik mengetuk pintu.


"Zura kau ada kan... aku melihat motormu diluar... kamu dimana... kenapa pintunya dikunci...!?". Moran jadi kesal, Zura langsung melepas bajunya .


" Hei apa yang kamu lakukan...!". Bisik Achi yang merasa kaget. Zura langsung menyelimuti Achi dengan baju panjang pasien itu. Achi terkejut malu , Zura langsung menaruh telunjuknya ke bibir, mengisyaratkan Achi untuk tidak bicara.


To be continued.


bagaimana kisah mereka selanjutnya...😓 jangan lupa ikuti terus kisah Hate A Boy, But He Love Me. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca...🐼 jangan lupa like komen dan support nya ya...


Sampai jumpa di episode selanjutnya🐼👋

__ADS_1


__ADS_2