
Sebenarnya hatiku masih mencoba
Menggapai bintang di tempat yang jauh
Kujulurkan tangan hanya ada terpaan angin...
Bahkan jika kututup mata dengan kedua tangan
Aku sadar tak dapat menghapus bayangmu
Kau tetap hidup disisiku seperti nafas....
Namun hingga putus asa diriku tak dapat menyentuhmu
Tepat dimana hujan berhenti dan Nafasmu bisa kusentuh
Mengisi kembali titik kosong di relung hati
Matahari bersinar memancarkan kehangatan
Menerangi hati yang hitam bersembunyi dalam gelap
Beri aku romansa bahagia dengan cahaya purnama mu
Maka pikullah hatiku yang bersembunyi
Keluarkan ia untuk melihat terangnya cahaya
Di Balik senyuman mu
.
.
.
" Kamu sudah datang...?! " Zura .
" Iya aku datang... " Achi.
Zura melihat Achi hanya membawa satu koper yang hanya memuat beberapa helai baju saja. Ia melirik Achi dan koper itu bergantian dengan tanda tanya.
" Ada apa...? " Achi.
" Ga ada..., Aneh saja..." Ucap Zura tersenyum sinis.
" Maksudnya...?! " Achi balik tanya.
" Yah... Kamu tau... Biasanya orang yang sudah bertunangan itu kan kemistriannya nambah... Contoh saja di sinetron... " Tutur Zura.
" Maksud kamu apa Zura, nak Achi kan baru datang kok bertanya aneh-aneh sih... !" Pintas ibu Zura.
" Wajar dong bu..., Coba ibu lihat siapapun pasangan yang akan tinggal serumah, pasti bawa banyak barang bawaan, karena ia akan tinggal lama, dan ia cuma bawa satu koper tanpa pelengkap apapun..." Jelas Zura.
Mendengar hal itu Achi dan ibu Zura jadi saling memandang. Achi cukup panik saat ini.
" O.. oh jadi itu ya masalahnya... Nak Achi kan ga mungkin bawa sekaligus barang-barang nya, mungkin saja ia akan membawanya berangsur, kamu tahu kan fisik perempuan ga sekuat anak laki-laki... Ya kan nak Achi." Jelas ibu Zura.
" Ah iya Bu benar, lagi aku tidak punya barang yang terlalu berharga untuk dibawa, haha..." Ucap Achi bohong.
" Oh... Jadi begitu ya... " Zura.
Melihat Zura yang terlihat bosan itu, membuat Achi mengerutkan kening. " Apa-apaan ekspresi itu, kalau bukan karena kamu amnesia. Aku juga ga' butuh ngelakuin ini...!" Batin Achi cemberut. Ibu Sena yang melihat hal itu jadi sedikit tersenyum kecil. Ia biasa melihat dulu menantunya kalau tiba dirumah seperti mencari perhatian keluarga mereka. Tapi Achi malah sebaliknya, ia menampakkan sifat yang sebenarnya tanpa ditutupi.
" Nah karena nak Achi sudah datang, sini ibu tunjukan kamar tidurnya. " Ucap ibu Sena. Achi lalu mengikuti ibu Zura itu. " Bagaimana, apa kamar ini sudah baik untukmu...? Kalau belum ibu dan Zura akan mengaturnya ulang..." Lanjut ibu Sena.
Achi melihat kamar tidur yang rapi dilengkapi dengan lemari dan meja kerja untuknya bersantai membuat tugas. Ia sedikit terkejut dan senang melihatnya.
" Tidak Bu... Ini lebih dari cukup untuk saya, saya senang sekali... " Achi tersenyum. Matanya terlihat akan menangis karena haru.
" Begitukah... Syukurlah..." Kata ibu Sena.
" Baru gitu aja udah senang... Ibu... Bukanya ibu akan pergi ke pesta pernikahan Cici jam 4. Ini sudah jam 3 Bu..., Kalau tidak cepat bukankah ayah akan marah, mungkin saja dia sudah bersiap menunggu ibu untuk pergi kan...?! " Jelas Zura.
" Ah iya sampai lupa, kalian ibu tinggal ya... Nak Achi santai saja, Zura jangan membuat sesuatu yang bisa membuat nak Achi marah ya... " Ucap ibu Zura. Ia pun meninggalkan mereka berdua.
" Cih..., Ia bahkan lebih perhatian pada anak orang, dari pada anaknya sendiri..." Ucap Zura. Mendengar kata itu Achi hanya tersenyum kecil, Zura melihatnya. " Kamu... Tersenyum, mengejekku ya..." Ucap Zura sinis mukanya memerah. Ucapan itu dan ekspresi yang Zura tunjukkan membuat Achi ingat. Itu adalah hal biasa yang Zura lakukan saat bertemu dengannya. Entah kenapa Achi merasa Zura kembali seperti dulu.
" Aku bukan anak orang Lo..." Ucap Achi membantah.
" Kalau bukan anak orang, lalu apa kamu mau aku menyebutmu anak kirek (anjing)." Ucap Zura. Achi mengerutkan keningnya.
" Mulutmu memang ngga pernah ditata, kenapa harus menyebutku anak orang. Aku kan sekarang berstatus sebagai tunanganmu..." Ucap Achi kecewa.
" Eh... Apa .. apa katakan lagi, aku ingin dengar..." Ucap Zura. Wajahnya sedikit senang mendengar kata-kata itu dari Achi. Achi seketika sadar dengan ucapannya.
" Lupakan... Jangan menggodaku... Pergi aku akan beres-beres." Achi malu.
" Lalu kenapa, apa aku ga boleh bantu, tadi kamu bilang kamu tunanganmu kan...? " Ucap Zura kembali menggoda. Achi jadi kesal.
" Apa kau juga ingin melihatku membereskan pakaian dalam ku hah...!!!" Achi. Muka Zura kembali memerah.
" Cih... Bilang dong dari tadi... Ga perlu marah kan... Siapa juga yang mau membantumu... Lagian aku udah capek bersih-bersih, lebih baik aku tidur...!!!" Ucap Zura. Ia pergi dan pura-pura tidur di sofa ruang tamu. Namun tak lama ia akhirnya tertidur juga.
Mendengar percakapan Zura dan Achi yang sengaja didengar oleh ibu Sena secara sembunyi-sembunyi, membuatnya tersenyum kecil. Lalu ia pergi. Benar saja, ayah Zura pak Seno sudah menunggu ibunya dari tadi.
" Lama banget Buk... Bapak udah siap-siap. Takut nanti kita pulang kemalaman, kan jauh buk tempatnya..." Ucap bapak Seno.
" Maafkan ibuk pak, ibuk akan siap-siap sekarang..." Kata ibu Sena senyum.
" Kenapa Bu..., Ada hal baik yang terjadi pada anak bungsu kita?, Apa mereka baik-baik saja buk? " Ucap bapak Seto.
__ADS_1
" Ah... Itu tidak perlu khawatir pak, mereka baik-baik saja. Memilih nak Achi adalah pilihan yang tepat untuk kesembuhan Zura." Ibu Sena.
" Syukurlah... Jika begitu buk..." Ucap pak Seto. Tak lama Bu Sena sudah bersiap. Mereka pun pergi ke pesta pernikahan Cici.
Setelah Achi selesai bersih-bersih. Ia melihat Zura tertidur. Ada nyamuk yang menghinggapi tangannya. Namun Zura tetap tertidur pulas.
" Sepertinya dia sudah kerja keras hari ini, ada jarik tidak ya.... Dimana ya letaknya punya dia, ga mungkin kan aku menggeledah kamarnya..." Batin Achi. Ia ingat ia juga membawa jarik, lalu segera mengambilnya. Ia menyelimuti Zura. Achi melihat hanya ada nasi di dapur. Ia segera memasak dengan bahan yang ada, alasan utamanya bukan karena Zura. Melainkan perutnya juga lapar. Wkwk
* Jarik/jarek ( kain panjang yang sering dipakai untuk selimut ketika tidur, motifnya bermacam-macam. Salah satunya ada yang seperti batik )
Zura terbangun dari tidur, karena mencium Bu masakan. Ia melihat Achi yang kesusahan membersihkan peralatan setelah ia memasak.
" Ah~ ini sulit sekali..." Ucap Achi mengeluh. Perkataan itu membuat Zura yang mendengar tertawa. Ia berpura-pura tidur kembali ketika Achi melihatnya.
" Dia masih tertidur kah..." Kata Achi yang menghampiri Zura di sofa. " Sudah hampir sore lo...." Ucapnya pelan. " Mungkin aku juga rehat sebentar di kamar.. " ucap Achi. Ia pergi ke kamarnya.
Tak berapa lama Zura beranjak dari sofa melihat Achi. " Cepat banget dia tertidur... Ah iya...!!" Ucapnya pelan. Ia melihat jarik yang menyelimutinya tadi. " Siapa sangka, kamu yang begitu benci padaku dan keras kepala ini juga masih punya sisi lembut." Batin Zura. Ia menyelimuti Achi yang tertidur.
Zura pergi ke dapur dan melihat masakan yang Achi masak. " Ya ampun... Apa ini, padahal orang tuanya, keduanya pandai memasak bahkan adiknya juga..." Ucap Zura melihat masakan yang hancur bentuknya itu. Ia memang sering datang ke kedai orang tua Achi, meskipun ketika itu ia sudah hilang ingatan.
Azan magrib berkumandang. Membuat Achi yang tidur pulas tersentak.
" Azan...!!! Kata mamak ( mama ) kalau sedang dirumah orang, jangan lupa solat. " Ucapnya pelan. Ia segera mengambil handuk dan mengambil pakaian yang akan dia kenakan, lalu keluar. Ia melihat Zura sedang mengutak-atik Hp nya.
" Oh... Kamu udah bangun... Pulas banget tidurnya..." Ucap Zura. " Memangnya kamu ngga gitu ya...?!" Batin Achi kesal.
" Maaf... Apa aku boleh numpang mandi..? " Ucap Achi. Zura terkejut dengan kata-kata itu.
" Memangnya kamu siapa butuh permisi... Bukanya kamu tunanganku...? Kalau mandi, kamar mandinya ada di sebelah kiri dapur." Zura.
" Ah iya... Maaf aku salah bicara... Kalau begitu aku mandi dulu..." Achi lalu pergi mandi.
" Aneh... Kenapa aku malah menginginkan dirimu melihatnya mandi. Zura!!! Jauhkan fikiran kotorku, ah iya... Mending main game. " Ucapnya dalam hati. Namun dirinya tertarik untuk melihat Facebook. Siapa tahu didalamnya ada sebuah petunjuk penting. Setelah ia buka ternyata hanya ada dirinya dan teman-teman nya disana, dan ketika ia mencari nama Viona atau nama resmi dan nama panjangnya. Tak ada ciri-ciri gadis yang akan menjadi calon istrinya itu disana. " Sepertinya dia telah menghapus semua buktinya kah... Sepertinya ia memblokir ku...?! " Batin Zura.
Achi selesai mandi rambutnya basah, ia mengeringkannya dikamar mandi dan membiarkan rambut panjang itu terurai agar cepat kering. Ia malu jika Zura melihatnya seperti itu, dan melangkah cepat saat melewati Zura di ruang tamu.
" Hei....!!! " Ucap Zura. Achi langsung kaget.
" Ah... Ya apa...?!" Tanya Achi.
" Masakan yang kamu buat ancur banget..." Ucap Zura to the points.
" Ah kamu memakannya... (Khawatir) iya, kamu betul. Aku memang tak pandai masak, bahkan dari Aji, aku kalah haha " Achi .
" Iya bentuknya memang buruk... Tapi itu cukup enak, andaikan kamu tidak tergesa-gesa membuatnya tampilannya pasti baik..." Ucap Zura.
" Benarkah... Syukurlah kalau tanggapanmu begitu ( tersenyum) kalau begitu aku akan mengerjakan daftar nilai murid yang harus kuisi dulu di kamar ya..." Ucap Achi.
" Ya... Lanjutkan saja aktivitas mu" ucap Zura dengan jari tangan menghempas-hempas menyuruhnya pergi.
" Apa-apaan sih tangan itu...?!" Batin Achi sambil tersenyum kecil. Diapun ke kamarnya mengerjakan tugas.
Zura mengingat Achi yang terkejut, dengan rambut ikal tergerai panjang itu tadi. " Cih... Bahkan saat dirinya berantakan pun ia tetap terlihat imut ya..., Sepertinya kalau nanti aku dan ia tidak berjodoh aku akan menjadikannya adik angkat kah...? Habis ia lucu sekali, mudah banget dikerjain." Batin Zura yang jail.
Setelah siap membuat daftar nilai untuk murid. Achi keluar untuk mngambil wudhu dan membersihka mukanya di kamar mandi. Setelah sholat Ia keluar untuk minum, namun ia melihat Zura yang kesulitan membuka perban di kepalanya.
" Agh... Sial ini cukup menyakitkan... " Ucapnya.
" Perlu bantuan...?! " Ucap Achi. Zura terkejut melihat Achi yang melihatnya mengatakan sesuatu yang tidak gantle.
" Heh... Tak perlu aku bisa melakukannya sendiri...!!! "Tegasnya. Kata-kata Zura membuat Achi jengkel. Ia lalu mengambil obat dan mengoleskannya langsung ke bagian kening Zura yang terluka.
" Kalau kesusahan ngga usah pura-pura, salah siapa kamu ngga pakai kaca sih... Kalau pakai kaca kamu kan bisa melihat bagian mana yang terluka... !!!" Jelas Achi marah.
" Auh... Pelan-pelan dong sakit tahu... Aku ngga pakai kaca itu karena setiap melihat kaca... Aku teringat sesuatu yang tak enak tahu... Makanya aku ngga mau pake kaca lagi, waktu ngobatin luka di kepalaku ini. " Kata kata Zura membuat Achi terdiam seketika. " Bahkan ketika mengobati luka di kepala ini aku meminta bantuan ibuku... " Ucap Zura pelan.
Achi yang mendengar hal itu menjadi kalut hatinya. Ia berfikir pasti hal itu berhubungan erat dengan kejadian waktu lalu dengan Viona. Lalu kenapa hatinya sakit mendengar kata-kata itu, bukannya harusnya ia senang kalau Zura dapat musibah.
" Maaf... Aku akan pelan-pelan.... " Ucap Achi sedih. Air mata hampir keluar dari matanya, ia pun mengobati luka Zura dengan pelan dan hati-hati. Dari dulu kalau hal itu menyangkut Zura, tubuh Achi memang selalu spontan mengungkapkan perasaan. Berbeda jauh dengan pikirannya.
" Hei... Aku ini sekarang tak terlalu sakit kok, ngga perlu khawatir... " Ucap Zura tertawa kecil, namun satu hal yang Zura sadari ada rasa sesal dihatinya ketika melihat Achi. Hatinya juga sakit. Achi hanya diam saja, dan fokus melihat luka di kening Zura.
" Luka di keningnya lumayan besar... Saat pertama kecelakaan ini pasti cukup sakit..." Ucap Achi dalam hati.
" Ah... Aku udah tau sejak awal kamu memang gadis yang cukup spesial... " Batin Zura. Tangannya menyentuh rambut Achi yang menutup bagian keningnya sedikit. Sehingga Achi tak sadar memicingkan matanya.
" Ada apa... " Ucapnya pelan. Achi tau kalau batin Zura juga sedang kalut.
" Ngga ada cuma ingin melihat wajahmu yang khawatir aja. Kelihatan bodoh banget lo... Haha " ucap Zura jail.
" Ap... Apa-apaan sih perkataan mu... Kamu itu tiga tahun lebih tua dariku, dewasa sedikit lo... " Achi kesal. Namun mereka hanyut dalam hening sesaat karena rasa hati kecil mereka bergemuruh. Lalu ketukan pintu membuat keheningan mereka terpecah.
" Tok tok tok " suara pintu itu diketuk. " Zura boleh aku masuk..?! " Ucapcap Moran kakak laki-laki Zura.
" Ah iya masuk saja mas, pintunya tak dikunci... " Ucapnya.
Moran lihat dua muda-mudi itu sedang sibuk. " Well... Kayaknya aku ganggu kalian ya...? " Ucap Moran.
" Ah tidak kok mas, aku hanya membantu mas Zura memakaikan perban haha... " Ucap Achi garing.
" Begitu ya..., Sepertinya kalian baik-baik saja. Tadi mas baru pulang dari pasar malam sama sepupu kecilmu (anak Moran) Lalu Ibu mengkhawatirkan kalian kalau belum makan jadi suruh belikan ini... ( mereka melihat dua makanan siap saji itu. Pangsit ).
" Ibu mengkhawatirkan kita ya... Heh... Ibu sama seperti biasa ya.. tapi maaf deh kak, istriku ini tadi membuatkan makan jadi aku ga kelaparan. ( Kata Zura ia sedang duduk lalu menarik pinggang Achi dan meletakkan kepalanya di perut Achi yang sedang berdiri. Moran dan Achi sangat terkejut melihat tingkah Zura yang diluar dugaan.) Tapi makasih deh kak... Pangsit ini ku terima untuk makanan penutup aku dan istriku malam ini... " Jelas nya.
Moran melihat Achi. Achi hanya tertawa dengan mengkhawatirkan. " Oh... Gitu ya... ( Moran tersenyum, membaca situasi ) baiklah mas pulang dulu, makan dengan gembira bersama istrimu ya..." Ucapnya. Moran beranjak pulang setelah mengantarkan pesanan ibunya.
" Semoga mereka ngga cepat-cepat membuat anak sebelum menikah..., Padahal situasi nya cukup rumit. Tapi mengapa si sialan kecil itu (Zura) cepat banget jatuh cintanya. Padahal Achi itu anaknya ngga banyak tingkah. " Batin Moran ia hanya menggeleng kepalanya.
Sementara itu mereka berdua setelah ditinggal Moran, kembali dalam perasaan hati yang bergemuruh.
" Ah selesai... " Ucap Achi.
__ADS_1
" Ah iya, terimakasih. Aku sampe ga tau kalau udah selesai kamu perban..., Ayo kita makan pangsitnya, kalau lama takutnya mie nya ntar kembang..." Ucap Zura.
" Ok... Aku ambil mangkok sama sendok dulu.." ucap Achi.
Mereka mulai memakan pangsit itu dengan lahap.
" Ini enak... " Ucap Zura.
" Iya..., Aku juga suka, ibumu sangat baik... " Achi tersenyum.
" Hei tadi..., Kamu memanggilku mas... Kan?! " Mendengar ucapan itu Achi langsung tersedak. Zura langsung mengambil air. " Hei... Reaksinya berlebihan... Minumlah dulu... Cih... Segitu ga sukanya ya kalau kamu harus memanggilmu mas... Padahal kamu sendiri yang bilang aku lebih tua 3 tahun dari mu.. " jelas Zura kesal.
" Bukan begitu, ada mas Moran. Wajar saja jika aku bersikap sopan denganmu, jika kamu kesal aku juga bisa memanggilmu mas, kalau kamu mau aku akan memanggil kamu mas dari sekarang. Lagi ada apa dengan sebutan istri itu... Kita kan masih bertunangan.. belum tau seperti apa kedepannya... " Jelas Achi.
" Sudahlah tak perlu memaksakan diri... Itu baru pertama kalinya kamu manggilku mas..., Jadi tanpa sadar aku jadi senang. Ah sial... Aku ngga bisa menyembunyikan nya darimu..." Jelas Zura. Achi langsung tertegun, ia memakan pangsitnya kembali dengan senyum.
" Aku juga senang kamu memanggilku istrimu... Haha anehya ?! " Achi tertawa dengan bebas.
" Aneh apa wajar kan..., Eh... Kamu tertawa... Wah ini baru pertama kalinya aku melihatmu tertawa dengan bebas di depanku..." Ucap Zura senang.
" Eh... Benarkah..?! " Achi.
" Iya, dalam ingatanku yang samar-samar kembali. Aku banyak melihatmu membuang muka, dan kelihatan datar ketika bertemu denganku..." Zura. Mendengar hal itu lagi-lagi ada rasa sesal dihatinya Achi.
" Kalau begitu... Kalau begitu mulai sekarang aku akan sering tertawa di depanmu... " Ucap Achi tersenyum.
" Benarkah...? " Achi mengangguk. " Kalau begitu baguslah... Aku tak akan melihat wajah datar itu lagi..., Tapi jangan di depan laki-laki lain Lo..." Ucap Zura.
" Kenapa...? Masalahnya apa...? " Achi heran.
" Wajahmu itu lo..., Kelihatan konyol kalau tersenyum, laki-laki lain yang baru mengenalmu tak akan tahan untuk tertawa melihat wajahmu yang konyol. " Ucap Zura. Wkwk
" Kata-kata mu selalu bisa membuatku marah ya...!!! Padahal waktu kuliah dulu, jika aku tertawa teman laki-laki ku sering bilang aku kamek begitu katanya... "
* Kamek ( bahasa dari Minang artian dari imut )
" Mereka hanya menggodamu tau... Kau tak tau laki-laki seperti serigala berbulu domba. Kamu harus hati hati. Cih kamu juga bisa bikin aku kesal... " Zura.
" Iya, kayak kamu dulu sering Gonta-ganti pacar kaya colokan listrik. Copot lalu pasang lagi...!!! " Jelas Achi bertambah kesal.
" Diam, ngga boleh makan sambil bicara. Cepat habiskan mienya sebelum kembang. " Ucap Zura yang juga kesal. Namun setelah itu mereka tertawa bersama, membicarakan sesuatu yang tak berguna. Mengingat masa-masa lalu mereka yang diingat setelahnya. Batas yang mengekang mereka beberapa waktu lalu menjadi hilang. Hingga larut malam.
" Sudah malam aku tidur dulu... " Ucap Achi. " Besok aku harus mengajar... "
" Tidurlah... Aku belum ngantuk aku ingin melihat acara tv sebentar... Apa kamu tak ingin nonton bersama ku...?! " Zura jail.
" Apa..!! Dasar jail ngga mau, harusnya kamu bisa menyetelnya dari tadi kan, kalau kamu mau nonton bersama." Ucap Achi kesal sambil berlari ke kamar dan menutup pintunya. Zura hanya tertawa melihatnya. Kini di wajah mereka terbersit senyum.
Pagi tiba, setelah selesai membereskan rumah. Achi bersiap pergi mengajar, sedang Zura baru bangun dari tidurnya.
" Mau berangkat...?! " Zura.
" Ah iya... " Ucap Achi sambil mengecek barang bawaannya, ia kelupaan sesuatu. " Ah lembar jawaban siswa yang sudah ku nilai...!!! " Ucapnya kembali ke kamar. " Duh telat... " Ucapnya. Zura langsung pergi mengambil kunci motor dan mengeluarkan motornya. Ia hanya mencuci muka dan mengambil jaketnya. Setelah Achi mengambil yang tertinggal.
" Ayo naik kuantar... " Zura.
" Tak perlu... Hari ini sekolah tempat aku mengajar kan dekat. " Jelas Achi.
" Naik atau ngga pergi... Jadi aku bisa melakukan sesuatu yang lebih melampaui nalarmu..." Ucap Zura serius. Mendengar hal itu, Achi langsung naik tanpa membantah. Orang-orang yang melihat mereka ternganga. Membuat Achi malu.
" Apa yang kamu khawatir kan...? Kulihat kamu selalu menatap punggungku di kaca...?! " Zura.
" Ah maaf..., Orang-orang pada melihat kita. Aku takut mereka salah paham... "
Ucap Achi.
" Dari mana mereka letaknya salah paham, bukannya aku adalah tunanganmu... " Zura.
" Iya... Aku lupa... Maaf situasi ini belum biasa untukku... " Ucap Achi.
" Tak masalah... ,Asal hatimu ngga terluka saja..." Ucap Zura. Achi senang mendengar kata itu. Setelah sampai. " Achi tunggu... Kemari... ( Achi menghentikan langkahnya dan datang ) cobalah untuk percaya diri, yakinlah bahwa semua yang kamu lakukan murni dari hati nuranimu." Jelas Zura sambil tersenyum.
" Iya..., Aku sedang melakukannya sekarang..." Ucap Achi membalas senyum kembali.
" Dan satu hal lagi... (Zura datang melangkahkan kaki beberapa langkah ke hadapan Achi. Tiba-tiba mencium kening gadis itu) selamat bekerja ISTRIku... " Ucapnya membuat Achi terkejut. Zura mencuri situasi itu dan langsung pergi dengan mengedipkan kedua matanya. Gemuruh jantung Achi kali ini kuat sekali. Ia bahkan tak bisa beranjak dari tempatnya untuk beberapa saat. Untungnya bel masuk sekolah menitikkan kembali konsentrasinya. Ia segera berlari dengan tergesa.
.
.
.
To be continued
😁😊😊
°
°
°
Jangan lupa like dan coment ya...
Untuk meningkatkan semangat menulis saya🐼🐼🐼
Follow Mata_Panda0598
Ig : @ikawulandari0598
__ADS_1
Fb: Ika Wulandari (ens)