
Orang sering bilang...
Cinta yang dulu dipupuk setinggi gunung Everest pun akan kalah dengan orang yang selalu ada...
Apa hal itu juga berlaku untukku...
Jika kamu bersandar padaku dan memberi pelukan hangat
Siapa yang tidak berharap...
Kenapa dirimu harus memberiku cinta sayang...?
Apa itu sebuah kepalsuan yang berbicara lewat tindakanmu...
Atau itu adalah roh ketulusan yang selama ini sudah hadir namun tak pernah terlihat di bola mataku...
.
.
.
Zura datang ke rumah orang tuanya karena ibunya menelpon, terlihat mua ibunya yang memerah menahan amarah, Adi (kakak laki-laki) Zura sudah mencoba menenangkannya.
" sudahlah Bu... Itu hanya masalah kecil... " ujar Adi menenangkan ibunya .
" ada apa in...?!!!" " plak..!!!". Tamparan ibu mendarat ke pipi Zura. " Ada apa Bu... Padahal aku baru tiba, kenapa ibu menamparmu!!?". ucap Zura kesal. Adi hanya diam atas perlakuan ibunya.
" Zura... bagaimana kamu bisa membuat nak Achi terluka...!!! Ibu kan sudah bilang rawat ia baik-baik...!!!"
" Aku tak melakukan kesalahan apapun padanya bu... Itu hanya salah paham..." jelas Zura.
" Kalau itu hanya salah paham... Lalu bagaimana kaki dan tangan kiri nak Achi bisa terluka apa kami bisa jelaskan pada ibumu ini...!!! Kamu membuat semua bertambah rumit... Bagaimana kalau orang tuanya tahu tentang ini apa kamu bisa jelaskan?! padahal kalian masih bertunangan..." jelas ibu Zura.
" Ibu dia akan jadi istriku kelak... aAku tidak mau jika ada orang lain yang membawanya pergi dariku...!!! " nada Zura agak tinggi membuat ibunya terdiam mendengar jawabannya.
" Sudahlah Bu... Kan sudah ku bilang Zura pasti punya alasan tersendiri kan...?!" ucap Adi.
" Apa... Jadi kamu benar-benar menyukai gadis itu...?! " ucap ibu spontan tanpa pikir panjang.
Zura terkejut, Adi sedikit panik dengan perbuatan ibunya.
" Ada apa Bu...? Kenapa ibu berkata layaknya dia bukan tunanganmu saja... Bukankah kami sudah dekat sejak 5 tahun lalu...?!". Ucap Zura, ia mencoba memancing sebuah informasi dari ibunya.
" Bu... Bukan begitu maksud ibu.... Hanya saja kamu baru ini benar-benar mengakuinya pada ibu... Biasanya kamu mencoba menyimpan dan menyelesaikan nya sendiri... Kamu banyak berubah akhir-akhir ini... Ibu senang melihatnya...". Ucap ibu Zura menepuk pipi anaknya itu dengan lembut.
Zura terdiam sejenak, ia juga berpikir sama dengan ibunya, jika itu menyangkut Achi rasa sensitif nya terlalu terlihat. Berbeda dengan pacar-pacar sebelumnya. "Apa aku sudah punya perasaan padanya sejak lama..., dan hanya bisa mengungkapkannya saat aku sudah terikat...?". Batin nya.
" Sudahlah... Ibu menyuruhmu kemari untuk membawakan sayur rebung dengan udang ini untuk nak Achi... Ibu dengar dari teman ibu Achi ia tak pernah pilih makanan, ia suka sayur... Masakan ibu berlebih jadi bawalah untuk kalian makan.. Kamu tunggu sebentar ibu ambilkan...." Ucap ibu Zura pergi ke ruang dapur.
" Hehehe... Bilang aja ibu khawatir sama mantu!!!". Canda Adi ibunya tak menghiraukan .
" Di.. Dari mana ibu tau kalau Achi terkena air panas...?! " ucap Zura penasaran.
" Oh itu... Karena istriku kerja, jadi ibu memintaku mengantarkan nya kepadatan dan ngga sengaja ngelihat kalian gitu... Kamu tau engga...?! Ibu sampai nyuruh ngebuntuti kalian ke puskesmas buat tanya, sesudah kalian balik... ". Jelas Adi.
" Wah gila... Sifat perempuan emang mengerikan... Ternyata ibu juga bisa seperti itu...". Ucap Zura.
" Emang bener... istriku juga kayak gitu. Ra... mas pingin tanya nih... Ucapan mu yang tadi maksudnya apa... Dek Achi punya teman dekat cowok ya... Seperti apa orangnya...?". Dua orang pria yang berbicara di ruang tamu, itu membuat ibu mereka menghentikan langkahnya, ketika ia selesai membingkis sayur buat Achi. Ia mendengarkan dengan seksama di balik pintu ruang tamu.
" Aku juga kurang jelas Di... Tapi nampaknya ada, aku dengar jelas suaranya waktu i telepon... Sepertinya kawan dekatnya pas kuliah. Kamu tahu... Padahal aku baru pulang kerja, masa dia tak tahu aku pulang. sampai-sampai air mendidih pun ngga tahu, lantaran asik nelpon. Bayangin kalau kami sudah menikah... Jadi apa nantinya?!". Ucap Zura.
" Ho~ ternyata kamu bisa cemburu juga ya... Ampe curhat haha... Tapi kasusmu beda sih..." . Ucap Adi yang jujur dan berterus terang, namun ia mencoba menjaga rahasia demi adik laki-lakinya.
" Maksudmu apa...?!". Zura penasaran.
__ADS_1
" Zura ibu sudah membungkus sayurnya, bawa pulang gih... Cepat di makan ma nak Achi... dia pasti kelaparan pulang dari puskesmas...". Ucap ibu Zura.
" Tapi... aku udah membawakannya roti isi coklat kesukaannya Bu...!" ucap Zura. Zura juga anak yang terus terang dan jujur orangnya meskipun berandalan.
" Wah... kamu Sampek tahu makanan kesukaannya Ra...😏, sesuatu banget... Sejak kapan kamu kepo tentang cewek sampe segitunya hahahah...". Adi menggoda.
" Aku sering melihatnya waktu dulu makan itu..., ah sudahlah... disini lama-lama aku bisa gila, gara-gara kamu Di. Bu aku ambil bingkisannya.... pulang dulu..." Ucap Zura buru-buru mengambil bingkisan itu dari tangan ibunya lalu bergegas menaiki motornya pergi.
" Dia ga berubah kalau lagi malu ya..., Tapi nak Achi punya teman dekat ya... ( khawatir ) Di tolong jangan buat kata-kata yang membuat Zura bingung dalam masa pemulihan nya... ibu juga keceplosan..". Jelas ibu.
" Tapi... apa ibu ga khawatir sama Zura..., jika ia terlalu lama bersama Achi dan ingatannya pulih itu kan akan jadi rumit bagi mereka berdua... Dan sepertinya ibu juga memberi harapan pada dik Achi... kalau tunangan aslinya datang bagaimana...?! " jelas Adi.
" Ibu khawatir, tapi ibu percaya Zura bisa mengatasi ini..., bagi ibu siapapun yang mendampingi Zura nantinya tak masalah. Asal dia tetap bersama Zura dalam keadaan apapun. Dari pada ngebahas tentang mereka kamu cepat berangkat kerja gih... sepertinya Moran udah nelpon nyuruh kerja..., hp kamu bergetar terus dari tadi..." jelas ibu.
" Ya ampun ngapa ibu ngga bilang dari tadi..!!!". Adi bergegas pergi.
Setelah kedua anaknya pergi satu persatu ibu sebenarnya masih cemas dengan keadaan Zura.
Sebelum pulang ke rumah, Zura melihat sungai yang biasa di lewatinya. Dataran yang ada di samping sungai, biasa di buat nongkrong muda\-mudi itu menghentikannya. Ia seperti ingat sesuatu yang familiar. Ia lalu mematikan motornya dan turun ke dataran samping sungai itu. Ia diam dan duduk sejenak melihat air yang mengalir..., ketika angin berhembus ia melihat awan. " Kenapa terasa akrab ya... !!" lirihnya ia menidurkan tubuhnya di rerumputan lalu menatap langit biru dengan awan yang melintasinya.
Zura menutup matanya dan teringat sesuatu. Ya... Ia mengingat sapaan seorang gadis.
" Sedang apa di situ sendirian...?!, kelihatan banget kalau jomblo...ahaha..." dengan senyum manis manjanya, gadis itu memperlihatkan pesonanya. Wajahnya bulat cantik, rambutnya sebahu berwarna hitam kecoklatan, kulitnya kuning langsat, dan punya body tubuh yang berisi. Zura yakin, banyak cowok yang menyukainya.
"Ngga ada, memikirkan sesuatu yang ngga berfaedah, untuk memikirkan cara menggaet cewe-cewe cantik lebih banyak lagi... termasuk kamu salah satunya." jawab Zura. Santai
" Ah bisa aja... Kamu memang Raja gombal ya... " gadis itu mengucapkan nya sambil tertawa.
" Kamu sendiri... ngapain kemari... lagi berantem Ama pacar...?!". tanya Zura.
ju" Ye... ngga kali... Aku cuma nenangin pikiran...". Gadis itu melihat arus air sungai itu. Ia terdiam Sejenak lalu melanjutkan ucapannya. " Ia aku baru putus... pacarku ketahuan selingkuh..., kami memang sering bertengkar akhir-akhir ini... dia bilang aku terlalu mengaturnya...". ucap gadis itu.
" Woi sreek... nomor kamu masih yang lama kan?!". Gadis itu hanya mengangguk " Kalau begitu mau pacaran denganku. Mendengar ucapan kamu tadi, aku yakin kamu akan lebih leluasa terbuka padaku Vi O Na...!!!". Ucapan itu membuat Zura tersentak, Ia membuka matanya.
" Itu... masa lalu kah... hahaha... ternyata aku juga brengsek hanya menyukai tampilan luar saja...". Ucapnya sambil memegang keningnya. " Sepertinya aku mulai ingat, dengan tempat yang familiar bagi ku... seperti ini contohnya, mungkin ini bisa jadi pemulihan ku?!!". Batinnya ia lalu bangun dari tidurnya dan pergi meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di sana Zura melihat motor metic berwarna biru berada di teras depan rumahnya. Nampak seorang pemuda berpakaian guru, sedang memberikan keranjang dilengkapi buah kepada Achi yang sungkan. Achi cukup kaget melihat Zura, mukanya yang bingung membuat Zura marah, namun Zura berusaha menahannya.
kejadian setelah Zura pergi....
Suara ketukan pintu dari depan ruang tamu, membuat Achi yang mengngsur tugas sekolahnya terhenti. Ia keluar dari kamarnya mengecek siapa yang datang. Alangkah terkejutnya ia melihat Fariz ada di depan pintu, ia membukakan pintu dengan bahagia.
" Fariz...!!! kok bisa disini...!!! kok tahu aku tinggal disini...?!". ucap Achi penasaran.
" Di beri tahu kepsek kita lah... katanya kamu sakit... makanya dia menyuruhku membawa ini untuk menjenguk...". Faris hanya beralasan. Ia pingin tahu keadaan Achi dari kepsek dan datang.
" Kepsek... maksudmu... guru seni baru yang digosipin temanku kemarin kamu?!!! aku baru tahu...!!!" ucap Achi.
" Ami ya.... sepertinya dia suka sekali bicara... ini untukmu... ( menunjukkan kerenjang buah) karena kamu beberapa waktu menelpon kepsek maka kami menyumbangkan supaya cepat sembuh... mungkin kawan-kawan seangkatan kit di sekolah bakal ngejenguk besok... kamu jadi ngga kesepian kan...." jelas Fariz menggoda sambil tertawa.
" Uh... sifat kamu dari kuliah Ampe sekarang ngga berubah, ngga usah lah... aku ga apa kok... sebentar aja juga sembuh...". Jelas Achi.
" Kamu bilang sifat ku ngga berubah... kamu juga sama. Udah ngga usah sungkan, ngga Baek menolak pemberian..!". jawab Fariz dengan senyum sambil memberikan keranjang berisi buah itu pada Achi.
" Kalau begitu makasih deh... kalian semua udah ngawatirin aku...". ucap Achi dengan senyum gembira. ketika itulah Zura datang dengan raut wajah masamnya.
Achi kaget dan bingung apa yang harus ia lakukan. Fariz mengerti kalau gadis yang disukainya sejak semester ke 6 itu sedang cemas dan khawatir. Matanya tertuju ke arah depan, Faris pun melihat siap yang datang dengan motor fixien berwarna putih itu. Pemuda itu berhenti di depan rumah Achi, Faris langsung mengerti kalau itu adalah tunangan Achi yang digosipkan orang.
__ADS_1
" Wah..., baru kutinggal bentar saja..., kucing kecilku udah dapat kenalan baru ya....?!". Ucap Zura. Sambil berjalan mendekati Achi, menarik Achi ke dalam dekapannya. Tak ingin canggung Achi menjelaskan ucapannya.
" Zura dia temanku, ia hanya datang membesuk ku...!". ucap Achi memperjelas.
" Benar aku temannya saat kuliah... aku Faris, aku hanya datang membesuk Achi.". ucap Fariz singkat, sambil mengulurkan tangan seraya berkenalan. Zura semakin panas mendengar nama itu, ia tak memberi balasan jabat tangan itu.
" Oh... jadi kamu yang menelpon tempo hari..., terima kasih ya atas besukan nya..., tapi istriku sedang sakit dia harus banyak istirahat.". Zura tiba-tiba mengangkat Achi ke pundaknya dan membawanya. Fariz jelas sekali tahu kalau kedatangannya mengganggu.
" Bu... Bukan begitu Fariz, kamu salah paham... Zura biarkan aku bicara...lepaskan dulu...!!!". Achi meronta. Membuat Fariz khawatir, namun ia tak bisa berbuat apapun mengingat dia baru tinggal di tempat ini dan dia hanya orang luar bagi mereka.
" Diam jika kamu teriak aku akan marah...!!!" ucap Zura dengan nada berat dan marah, mukanya tidak senang lalu ia memasukkan Achi ke dalam kamarnya dan mengurungnya. Achi sangat takut, ia hanya menuruti perintah Zura.
Zura keluar menemui Fariz. " Maaf hari ini kami sedang ngga mood menerima tamu..., kamu bisa datang lain waktu. Aku ingin merawat istriku karena ia sedang sakit. Kau boleh pergi...". Ucap Zura ketus.
" Oh baiklah... Tapi sebelum itu apa perilakumu tak berlebihan mas Zura...?!". Jawab Fariz dengan sirat mata tajam.
" Apa maksudmu... mengatakan hal itu..., untuk pendatang sepertimu, apa ini tidak berlebihan jika hanya membesuk...?!". Jawab Zura dengan nada tak suka.
" Berlebihan..., hah lucu sekali... kami berteman sejak kuliah dan sudah bersama dalam satu sekolah sebagai pengajar dulu..., hal itu bukan nya wajar jika bertegur sapa secara akrab sebagai rekan kerja. Bukan kah tingkah laku kamu yang berlebihan..., ku dengar kamu hanya tunangannya?, lalu kenapa sudah tinggal bersama...?!". Tanya Fariz.
" Kamu hanya orang luar... ini urusan kami tinggal bersama atau tidak toh kucing kecil juga setuju..., Dan satu hal lagi kelak dia juga akan jadi istriku. Ngga akan kubiarkan lalat lain nempel dengannya!!!.". Jawab Zura ketus.
" oke baiklah-baiklah apapun itu, tapi ingat bung. Achi anak yang baik hati dan lembut. Aku tak akan membiarkan siapapun menyakitinya walau itu tunangannya. Jika kau bersikap seperti ini dengan tunanganmu, aku tak akan segan merebutnya dan membawamu ke pengadilan...". Ucap Fariz lalu pergi dengan motor matic nya. Meninggalkan Zura yang hatinya semakin panas.
" selama aku disini, aku tidak akan pernah melepaskan kucing kecilku. Pada anjing sepertimu.". Ucap Zura.
Zura balik ke kamarnya dan membukakan pintu.
" Zura..., Fariz mana, apa dia sudah pergi, kalian tadi bicara apa...?!!!" ucap Achi. Mendengar hal pertama adalah Fariz yang keluar dari mulut Achi. Jantung Zura semakin panas dan kesal.
" Tidak adakah hal lain yang bisa keluar dari ucapan mu selain dia!!!!, sial aku kesal sekali denganmu!!!". Zura meluapkan marahnya dan tak sanggup membendungnya.
" Tunggu Zura... maksudku bukan seperti itu... dengar dulu ucapanku... kenapa kamu mendekat... ja... jangan kemari!!!". ucap Achi yang takut karena Zura yang makin mendekat kearahnya. Zura memegang tangan kanan, menggendongnya dan menjatuhkannya ke kasur. "Buk..!!!". Bunyi badan Achi yang jatuh terasa sakit di tubuhnya, namun ia mencoba menahannya. Tapi Zura langsung mendekapnya dari atas dan menahan kedua tangan Achi dengan tangannya. Mata mereka saling menatap.
(sttt bukan mataku loh ya...🐼 mataku cuma mata panda😁)
" Zura..., Aku tahu kamu lagi kesal..., aku minta maaf...". jelas Achi.
" Diam aku tak ingin kamu bicara lebih banyak!!!". Zura semakin kesal dengan Achi yang bersikeras. Zura langsung mencium dan menghisap leher Achi serta bagian bawah lehernya yang terbuka bergantian.
" Zura hentikan ini... hentikan!!!". Meski Achi meminta dengan meronta, Zura tak menghiraukannya. Tangan kiri Achi sengaja dilepas. Zura memasukkan tangannya ke dalam baju Achi secara perlahan, ia mulai kehilangan kendali dan hanyut dalam godaan buasnya. meskipun Achi melawan dengan menepukkan tangan nya ke dada Zura. tangan dan kaki kirinya yang sakit, tidak bisa melawan tenaga Zura yang besar.
" Henti... hiks... hiks... hentikan ini... hiks... Zura aku tidak mau seperti ini... tolong hiks.. tolong lepaskan aku...". Ucapan gadis itu menyadarkan Zura. Ia melihat Achi yang memejamkan matanya sambil ketakutan dengan menoleh ke arah samping lalu ia melepaskan genggamannya tangan kanan. Achi tampak membekas merah. Zura sadar apa yang dilakukannya seperti yang dikatakan Faris.
" Sialan... dasar binatang brengsek kau Zura... kau tidak hanya menyaki kucing kecil, tapi kau juga menyiksanya... Kenapa aku segila ini..." Batin Zura. Ia merasa bersalah, namun sekaligus ia sedih melihat ekspresi Achi yang jelas-jelas menolaknya. " Keluar... aku tak ingin melihatmu di kamarku... bawa bingkisan itu sebelum aku membuangnya.". Zura berkata dengan ketus, hal itu membuat Achi bertambah sakit hatinya. Ia lalu berlari dengan ekspresi sedih, dan Zura melihatnya. Zura ingin menggenggam tangan Achi namun ia takut menyakitinya lagi. "Arghhh sial... sial Ketapa hatiku sakit sekali!!!". Batinnya.
Achi masuk ke kamarnya dan menangis sejadi-jadinya dengan membungkam dan menahan suaranya, agar tak terdengar oleh Zura. " Mak, yah..., Aji..., aku rindu kalian. Jika aku tahu sesulit ini, aku akan menyerah. Aku ingin pulang, ini sakit sekali. Hatiku sakit sekali....". Batin Achi.
Zura dan Achi di di kamar mereka masing\-masing cukup lama, tanpa suara. Rumah terasa hening. Lalu Achi menolehkan pandangannya ke arah roti coklat yang di bawa Zura. Ia mengingat kejadian bersama Zura saat di rumah sakit. kemudian ia mengambil roti itu.
.
.
.
.
To be continued 😢🙁😶
Jangan lupa support kritik dan sarannya ya...!!! kakak 🐼👌👋🤗
__ADS_1