
Kebohongan dalam cinta itu hal biasa
Kejujuran dalam cinta itu luar biasa
Aku berada di tengah dimana aku sulit untuk memilihmu
Apa aku memilih untuk jujur agar lepas dari mu
Atau aku memilih bohong melanjutkan kisah cintaku...
.
.
.
.
Zura melihat Achi yang pergi keluar membawa barang-barang dalam kopernya, Matanya tampak sembab . Zura tidak terima dan langsung bergegas menarik Achi.
" Mau kemana kamu....!". Tegas Zura tak rela.
"Lepaskan aku Zura... tidak bisakah kamu sehari saja ngga berpura-pura...!!!". Teriak Achi melepaskan tangannya dari genggaman Zura sekuat mungkin. Achi melihat tangannya yang memerah karena selama ini zura selalu menarik tangannya dengan kuat, ia segera melangkah dengan cepat menyerahkan koper itu pada adiknya Aji untuk dibawa pulang. Zura langsung berjalan kehadapan Achi yang ingin pergi itu.
" Kucing kecil ada apa ini, aku ngga mengerti jelaskan padaku dengan tenang dirumah ya...". Pinta Zura sambil memegang bahu Achi dengan lembut. Achi jadi habis kesabaran dan menampar Zura dengan kuat, tamparan itu sama rasanya ketika mereka jumpa pertama kali setelah insiden kecelakaan itu.
"PLAKKK..!!!". Zura langsung terdiam seketika.
" Kaka sudahlah , tidak usah membahas ini lagi ayo kita pergi....". Jelas Aji yang mulai panik itu. Karna masih emosi Achi tak mau diam saja.
" Apa yang harus aku jelaskan padamu Zura, bukan kah kamu udah tau kalau aku hanya tunangan palsumu , sejak aku pindah ke rumah ini....! Aku mendengarnya dengan jelas, Fariz menunjukkan bukti rekamannya padaku tadi ! kalau kau kurang jelas dengan hal itu minta saja padanya.". Jawab Achi terisak
" Oh... jadi ternyata itu, kau menemui laki-laki brengsek itu tanpa sepengetahuanku...? ". Tanya Zura dengan tawa seramnya.
" Dia bukan laki-laki brengsek dia temanku, yang laki-laki brengsek itu kamu Zura kamu sudah menipuku!". Tegas Achi.
" Sudah lah kak sudah... ". Ucap Aji menarik tangan kakaknya pergi.
" Iya aku akui aku sudah menipumu... karena ini menyenangkan untuk menggoda gadis bodoh sepertimu, lalu kamu apa.. bukannya kamu juga menipuku...?!". Jelas Zura dengan santai.
" Dasar kamu lelaki iblis...! iya aku memang menipumu Zura , selama ini aku juga pura-pura jadi tunangan palsumu, aku menerima imbalan dari keluargamu sebagai kontrak kerja sama. Tapi walau begitu...Aku membenci mu Zura.. aku membecimu sifatmu sampai seperti ini... aku ngga akan pernah mencintai orang tebal muka dan keji sepertimu.". Teriak Achi ia mulai terisak lagi, Faris menarik lengan kakaknya ke arah motor tapi Zura langsung menariknya.
" Apa kamu bilang, aku orang yang tebal muka dan keji, kemari kamu...!! biar aku tunjukkan. sekalian sama kamu keji itu bagaimana, pikir mu aku akan membiarkanmu pulang dan kamu bisa mesra-mesraan dengan lelaki anjing itu.". Ucap Zura marah ia menarik paksa tangan Achi dengan kuat sampai Achi terseret.
" Lepas... biarkan aku pergi...!!!". Teriak Achi.
" Hei lepaskan dia, apa yang kamu coba lakukan pada kakakku!!!". Jawab Aji, langsung melepaskan tangan kakaknya dari Zura dengan sigap. Ia juga kuat, karna di kampung ia juga tetmasuk laki-laki yang ditakuti karena kebandelannya. Achi pun menangis.
" Kamu ngga apa kaak... tangan mu memerah... aku akan mengompresnya nanti dirumah...". Ucap Aji memegang lembut tangan kakaknya. Zura langsung terdiam melihat bekas di pergelangan tangan Achi yang memerah. Ia sadar kalau ia sudah memaksa Achi sampai seperti ini. Itu sudah sangat kelewatan.
" Kamu gila mas... jangan berharap membawa kakak lagi kemari!, aku gak akan membiarkan
kakakku tersiksa lagi seperti ini....". Tegas Aji. Pada saat itu ibu Sena yang hendak mengantarkan sayur untuk putra nya yang mulai pulih sekalian melihat menantu barunya terkejut dengan apa yang terjadi disana.
" A... ada apa ini Ra... kenapa nak Achi membawa semua kopernya...?!". Tanya ibu Sena khawatir. Zura hanya bungkam sambil menunduk begitu pula Achi.
" Ada apa ini nak..., mari bicara dulu dirumah... ". Pinta ibu Sena dengan lembut ke Achi.
" Maaf Bu..., saya rasa... saya sudah tak bisa lagi berpura-pura... saya dan Zura sudah tahu semua yang kami rahasiakan... terima kasih sudah merawat saya selama di sini...Saya pamit pulang dulu....".. Jelas Achi dengan ekspresi menyedihkan , ia lalu pergi bersama Aji. Mendengar kata-kata itu ibu Sena sangat sedih, ia tak bisa berkata apapun lagi. Ia juga sangat takut kalau-kalau anaknya tidak bisa menemukan pasangan yang tepat seperti halnya Vio.
" Ini lah nak... hasil dari kebohongan... sekecil apapun pasti nggak akan berakibat baik...seharusnya kalau kamu mencintai dia kamu harus jujur... dari awal... sekarang hati nak Achi pasti terluka...ia bisa saja mengakhiri hubungannya denganmu kan...". jelas ibu Sena.
"mengakhiri hubungannya denganku..?! jangan harap... itu akan sia-sia Bu... akan ku buat dia mengaku kalau dia mencintaiku...harus...!!!". Batin Zura.
Kedatangan Achi yang membawa koper dan matanya yang sembab membuat ayah Achi yang sedang bicara dengan pak Jamal tetangga dekatnya menjadi kaget.
" Ada apa ini....? Kenapa kakakmu menangis Ji..?!". Tanya ayah Achi, Aji hanya diam dan menunduk.
" Ayah... Zura udah tahu sejak awal aku bukan tunangannya... setelah aku pindah ke rumahnya dia sudah tau... ayah dia berbohong... aku sudah... hiks... aku sudah ditipunya sejak awal... tapi dia berkata padaku ngga akan melepaskanku yah ... aku takut sekali.. ". Ucap Achi , mendengar kata-kata itu mama Achi keluar seraya tak percaya. Ia hanya ingat saat Zura bersimpuh di hadapan suaminya kalau Zura mencintai putrinya saat itu, mungkin adalah sungguhan. Hanya saja Achi belum peka. Karena putri nya sudah mengambil keputusan untuk mengakhiri ini, ia hanya ikut saja.
__ADS_1
Sedangkan ayah Achi sangat marah, ia melihat tangan anak nya yang memerah lalu mencoba memeluk putrinya agar dapat tenang dan mengurus masalah kontrak ini pada mereka.
"Bawa anak kita masuk ma...! Biar kuselesaikan semua di pihak mereka... !, tolong temani saya kesana sebagai saksi pak Jamal... dan saya juga mengundang ketua RT nanti..." Jelas ayah achi, pak Jamal langsung mengangguk, karena ia tahu duduk perkara ini juga diketahui hanya olehnya dan ketua RT di blok rumah mereka saja, bahwa mereka hanya tunangan palsu.
Sesampainya di kediaman keluarga Zura, ayah Achi mengatakan ia ingin mengakhiri perkara itu, ia juga membawa uang yang mereka beri pada keluarganya waktu itu. Hanya saja keluarga Zura tak ingin menerimanya, dengan alasan karena Achi sangat berperan penting untuk penyembuhan Zura. Maka sudah sewajarnya mereka memberikan sesuatu pada Achi.
" Saya mohon pak..., dengan ketulusan hati bapak bawa uang ini kembali...". pinta ayah Zura sambil menunduk memegang tangan ayah Achi.
" Tapi pak... saya tidak mau ada perkara lagi nanti...!".
" Tidak akan pak...! Saya beserta keluarga saya, akan mengawasi dengan ketat tindak-tanduk Zura , kalau ia menyakiti putri bapak!". Tegasnya . Mendengar hal itu Zura langsung merasa kaget dan sedih .
" Tapi yah... Mana bisa aku melepaskan dia.... aku mencintainya yah...! A... aku bahkan tidak bisa sehari saja ngga melihatnya...". Jelasnya . Mendengar hal untuk pertama kalinya , karena Zura hanya menutup mulutnya sejak tadi , membuat keluarga Zura terkejut. Adi yang masih tinggal bersama orang tuanya itu hampir tertawa mendengar jawaban itu bersama istrinya. Secara harfiah dia tahu kalau adiknya memang playboy , tapi ia tak pernah seurus ini dengan cewek-cewek yang pernah dipacarinya.
" Ayah juga tahu kamu mencintainya ... purtri anda adalah gadis yang baik meskipun dia tak banyak bicara... ( berkata pada ayah Achi) dan saya pribadi juga tak pernah keberatan menerimanya jadi menantu kami... Tapi kamu sudah keterlaluan Zura!. Ini sudah jadi keputusan bulat ayah untukmu, Jangan mengganggunya lagi!". Tegas ayah Zura. Melihat wajah sedih Zura , membuat ayah Achi agak tak enak hati.
" Jika...jika kamu memang seserius itu dengan putriku... boleh saja kamu datang kerumah dan memintanya menerimamu Zura. Tapi paling tidak biarkan putriku menenangkan dirinya dia pasti masih tertekan dengan apa yang dialaminya...". Jelas ayah Achi.
" Jadi anda menyetujui saya untuk menikahinya...!". Ucap Zura sedikit senang.
" kenapa bocah sial ini hanya dengan kata-kata itu bisa senang sekali..., segitu cintanya kah pada putri kecilku.... ini mengingatkanku dengan kejadian di masa lalu dengan istriku...". Batin ayah Achi.
" Jika dia bersamamu... aku yakin dia juga akan bahagia... Tapi putri kecilku itu sudah terlanjur sakit hati... aku yakin ini akan butuh waktu lama... putriku itu pendendam orangnya... ". Jawab ayah Achi , muka Zura berubah lagi menjadi khawatir " Aku tahu kamu seperti apa Zura... aku lama mengenalmu... jika kamu memang serius dengan putriku... kuharap kamu tidak melepaskannya ... dan tidak melakukan kesalahan seperti ini lagi kedepannya ..". Jelas ayah Achi.
" Berarti kami bisa menunangkan mereka sesegera mungkin kan pak...?". Tanya ibunya.
" Kalau itu terserah pada keputusan putriku.... ia mau menerima putra anda atau tidak ... walau saya setuju... saya kan tidak bisa memaksa dia...!".
" Tenang pak... Walau adik kecilku ini bodoh dan bandel... ia pasti akan mencari cara agar anak anda balik lagi... ya ngga Zura. .". Ejek Adi. Zura kesal bercampur malu.
" Diam kamu sinting...". Jelasnya dengan muka memerah.
Pak Jamal tertawa melihatnya.
" Saya tidak menyangka akan jadi seperti ini .... padahal saya kira , Abang tetangga saya akan melayangkan tinjunya untuk kedua kali... hahahaha". Jelasnya , Zura seketika langsung memegang perutnya. Ia ingat bagaimana sakitnya waktu ayah Achi meninjunya.
" Iya-iya saya juga ingat bagaimana marahnya ayah Achi waktu itu...". Jelas pak RT sambil terkekeh.
" Ayah tega menggorok anak ayah sendiri!". teriak Zura. Ayah Zura masih menunjukkan raut marahnya pada Zura. Zura langsung diam seketika semua orang tertawa. Setelah itu mereka bicara riang menutupi kekosongan.
" syukurlah... jika begini ngga akan ada yang menyalahkan ku , kalau orang tua kita udah setuju... walau kamu ngga di dekatku... mendengar ucapan ini dari orang tua kita... aku membayangkan mu di sudut sana kucing kecil... di dekat ayahmu... tersenyum sambil melihat ke arahku... ah... hanya memikirkannya saja aku sudah amat merindukanmu... ". batin Zura.
Ketika pembicaraan itu usai dengan hasil yang yang baik. Ayah Achi , pak Jamal dan pak RT undur diri. Karna pihak Zura tidak mau menerima uang , yang ayah Achi kumpulkan secara rahasia untuk membawa anaknya pulang kalau-kalau ada sesuatu yang buruk terjadi pada purtinya. Ia niatkan untuk membantu biaya putri satu-satunya itu.
" Kalau kamu senggang... datanglah kerumah Zura... yah... meskipun aku tahu dia tak akan langsung menerimamu... kamu sudah menunjukkan keseriusannya padanya...". Saran ayah Achi.
" Baik pak... saya akan sering datang kesana..." . zura mengantar kepergian ayah Achi sampai di pintu dengan orang tuanya saat ayah Achi berpamitan.
Belum lepas kesenangan hati Zura , Adi berbisik mengejek adiknya.
" Ye... yang akan segera menikah ( zura langsung menunjukkan muka kesal ) kamu udah melakukan ini kan sama tunanganmu. kecilmu itu~". Goda Adi memegang megang bibirnya dengan jari telunjuk .
" Kamu bilang apa sih mas... sinting... aku mau keluar saja main!!!". Jawab Zura mukanya merah padam.
" Akui aja Moran bilang kamu bahkan ngga mau membuka pintu, jangan-jangan kamu udah melakukan itu....". Goda Adi lagi .
" Gila , aku hanya menciumnya!, aku mana bisa melakukan itu , kami kan belum sah...!". Jawab Zura keceplosan . Adi hanya tertawa geli.
" Anj**, kemari kamu mas! Biar bisa menerima pukulan dari ku...!!!". Jawab Zura. Ibu Sena hanya heran dengan kelakuan dua anak laki-laki nya.
" Kenapa mereka yah...?". Tanya ibu Zura.
" Entahlah... ku harap anak kita bahagia kali ini Bu... ". Jelas ayam Zura. ibu lalu tersenyum mendengar ucapan itu.
*****
Ayah Achi pulang , ia melihat putrinya sudah cemas-cemas menunggu di depan pintu.
" Ayah bagaimana keputusan mereka ...? ". Jawab Achi khawatir. Ayah Achi mengelus kepala putrinya dengan lembut.
__ADS_1
" Mereka janji akan mengawasi Zura kedepannya... kamu tenang saja.... tidak akan ada yang terjadi selama kamu disini nak...". Jawab ayah.
"Jadi mereka mengambil uang tebusannya yah...?!". Tanya Achi gembira.
" Yah... kalau itu sepertinya ngga... mereka memohon pada ayah supaya ngga memberikannya lagi pada mereka... ayahnya bilang karna kamu udah berusaha dan berperan penting untuk mengatasi amnesia si Zura katanya...". Jawab ayah lagi.
" Oh...". Achi sedikit kecewa, ia berfikir mana kala uang itu saat diterima oleh pihak Zura, dia ngga akan ada sangkut pautnya lagi. Tapi pemikirannya salah.
" Jangan berwajah seperti itu... walaupun mereka seperti membayarnya atas apa yang kamu berbuat, anggap saja kamu melakukan kebaikan... yang pantas kamu dapatkan ...". Jawab ayah sambil tersenyum , Achi hanya menunduk dan menganggukkan kepalanya.
Malam itu Zura tampak senang datang ke kedai biasa ia mangkal dengan teman-teman nya.
Ia melihat Lean memang sering berkunjung ke kedai itu. Lean sedang serius melihat sesuatu dengan Eko temannya yang jarang tampak.
" Hoi...". Sapa Zura. Mengagetkan mereka.
" Eh lu datang bro... jarang amat nampak... betah amat di rumah Ama istri...". Ejek Lean
" Anj** diem lu... tumben lu dateng ko... biasanya ngga tau kelihatan...?!". Tanya Zura pada Eko.
" Eh.. iya Ra gua sibuk di kebun cabe... lu tau kan cabe harganya lagi mahal-mahal nya, lumayan lah buat nampak uang saku ..." Jelasnya.
" Tangan lu emang bagus kalau berkebun bro... udah rutinitas aja usaha Lo... ". Ucap Lean.
" Setuju ....". Jawab Zura santai. Ia langsung duduk di dekat mereka.
" Ada angin apa nih bro... gua bisa lihat muka lu lagi berseri-seri kayak habis dapat jatah wkwk.". Ejek Lean .
" Enak aja lu .. Eh... sebelum itu ada apa kok serius amat ngeliat sesuatu...". jelas Zura.
" Oh itu gua heran aja lihat Sandi..." jelas Lean . Zura langsung mengerutkan jidatnya , ia memang agak tak suka dengan kelakuan sandi selama ini . Karna ga bisa dipercaya.
" Ada apa...?!". Tanya nya.
" Itu... kayaknya dia akrab dengan orang baru yang cukup sering datang kemari waktu Lo ga ada ... itu guru baru di SMP yang katanya satu kampus dulu Ama pacar lu... bahkan mereka lagi mabar tu main ML katanya di belakang amaa si Fariz apa siapa namanya tuh...". Jelas Lean . Mendengar ucapan itu Zura langsung terbakar. Ia melangkah ke tempat yang Lean tunjuk.
" Lu mau kemana bro...?!" Tanya Lean heran. Eko juga begitu.
" Memberantas lalat dulu...". Jawab Zura santai namun tangannya sudah mengepal. Lean dan Eko sudah merasa tak enak .
" Gua ma Eko ikut lah bro... mana tau gua bisa bantu... haha!". Jelas Lean . Mengikuti Zura.
Mereka membuntuti aktifitas Fariz dan Sandi, mereka main dengan serunya hingga ...
" Yah... gua kalah... ". kata Fariz .
" Lu sih ga dengerin kata-kata gua hahaha... win...". Ucap Sandi sambil menunjukkan raut kemenangan.
" Gua pulang dulu... gua harus ngisi daftar nilai siswa...". Jelas Fariz.
" Susah ya jadi guru... enakan jadi agen kayak gua... kerjanya ga berat.. langsung bisa dapat uang... eh BTW gimana gebetan lu... setelah dengar kabar itu...?!". Tanya Sandi , Zura menyipitkan mata dinginnya seakan sudah tau siapa yang dimaksud, Lean dan Eko bahkan bisa melihat kemarahan itu bagai harimau yang siap menerkanm dari mata Zura.
" Oh... itu... meskipun dia juga nyalahin gua lantaran ga beritahu dia sejak gua udah tau... paling ngga dia udah tau kebenarannya. " Jelas Fariz .
" Gila.. dia masih marah ma Lo ... padahal Lo udah berusaha mencari tahu kedok si Zura.". Jelas sandi menaikkan satu alisnya dengan tawa cemooh. Faris mengangguk , namun ia sangat terkejut melihat Zura ada di belakang mereka dengan dua temannya saat ia menoleh. Zura tersenyum layaknya iblis, entah kenapa senyum Zura sudah membuat bulu kuduk Fariz sedikit berdiri.
" Haha... gua udah nebak kenapa kucing kecil gua bisa sedih gitu mukanya... ternyata gara-gara kalian berdua ya... terlebih musang kayak Lo ya San. ...". Jelas Zura. Sandi sangat kaget melihat kedatangan Zura , mukanya langsung pucat pasi. Ia sempat melihat bagaimana buas, dan berandalnya Zura saat menghajar seseorang ketika menyakiti kawanannya waktu itu. Sorot Matanya tak kenal ampun, kali ini Zura menunjukan sorot mata itu tepat di hadapannya.
.
.
.
.
To be continued 🙄😟😧
Bagaimana cerita selanjutnya?! Baca terus Hate A Boy, But He Love Me ya...!
__ADS_1
jangan lupa like coment and support nya!
terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca novel saya👋🐼