
Walau bibir ini bungkam
Mencoba menahan kata terbalut lara cinta
Sayang
Bisakah kau mendengar suara kecil jantungku
Yang melompat girang melihat gelak tawa mu
Bisakah kau dengar pilu hatiku menahan sakit cintamu
Sayang kau tau ?
Bahkan walau itu hanya sedetik dalam sehari
Diriku tak pernah berhenti membayangkanmu
.
.
.
😶
" Kamu sudah bangun...? "
" Iya tenggorokan ku terasa kering... aku mau minum... "
Â
Zura melihat Achi yang kesusahan mengambil gelas yang agak tinggi dengan tubuhnya yang mungil dan pendek, terlebih anggota tubuhnya yang sakit membuatnya kepayahan. Zura melangkah ke arah Achi membuka lemari tempat gelas itu, tangannya yang basah sehabis mandi membuat Achi sedikit melihat ke arah nya dari atas. Achi terkejut melihat Zura yang hanya memakai handuk, ia mencoba bergeser namun kaki dan tangan nya yang tersiram air panas membuatnya tidak nyaman melangkah alhasil.
Â
" Auh... " rintih Achi kaki dan tangannya hampir menabrak dinding depan lemari karena salah langkah. Untung nya Zura sigap menahan tubuhnya sehingga Achi bisa menghindar.
" Hati-hati !!! apa kamu ngga tau bahayanya lukamu jika kamu salah langkah tadi !!! aku bisa mengambilkan gelas ini untukmu, tak bisakah kamu menerimanya dengan tenang ?! ". Bentak Zura.
" Maaf... lain kali aku akan hati-hati ". Achi langsung mengambil gelas itu dan melepaskan genggaman tangan Zura di pinggangnya dan pergi mengambil air.
" Kamu bahkan tidak bisa menerima kebaikan dari calon suamimu sendiri, huh lucu... kamu bahkan bisa membuat aku kesal di waktu pagi... " ucap Zura dengan raut wajah kesal melangkah ke kamarnya.
Â
Mendengar ucapan itu hati Achi merasa sakit "** iya... kamu memang seperti itu... ucapan kamu kan memang kasar seperti itu sejak dulu... kenapa aku harus merasa sakit hati... aku kan hanya tunangan pura\-pura selagi dia yang kamu kasihi sebenarnya datang... toh waktu dia datang aku juga bukan siapa\-siapa lagi... untuk apa kita mempunyai hubungan baik yang palsu... toh kita dari dulu adalah musuh**...". Ucap Achi dalam hati, ia hanya tersenyum sinis wajahnya menahan kesedihan, hal itu dilihat oleh Zura yang ingin mengambil perban untuk luka di kepalanya. " Apa aku mengucapkan kata\-kata yang biasa kupakai dulu... sial... lagi\-lagi aku membuat kucing kecilku sedih..." Batinnya.
Achi pergi ke kamarnya, ia merasa lelah dengan kebohongan yang juga ia ciptakan. Apalagi dengan kondisi tubuhnya yang tidak sehat, ia ingin istirahat sehari ini. Ia menelpon pihak sekolah untuk memberinya izin libur. Alasan Achi dikonfirmasi oleh kepala sekolah dan ia diizinkan tidak mengajar hari ini. Ia pun menutup teleponnya. Lalu suara pintu kamar Achi diketuk.
Â
" Boleh bicara... ". Ucap Zura dari luar.
" Sebentar aku bukakan pintu... ( Achi perlahan membuka pintu kamarnya dan melihat Zura seperti ingin pergi ke suatu tempat ) mau ke mana ? ". Ucap Achi.
" Kamu tadi telepon siapa...? ". Zura penasaran.
" Itu hanya kepala sekolah... aku meminta izin untuk libur hari ini, aku ingin istirahat. " Ucap Achi dengan kepala tertunduk dan mata melihat ke arah lain.
" Baguslah... kalau dia tidak mengizinkanmu, aku akan menendang dia keluar dari sekolah. Kalau begitu ayo ikut denganku... ". Ucap Zura.
" Kemana...? ". Achi.
" Kucing kecil ku sedang sakit~ kemana lagi aku membawanya kalau tidak ke puskesmas...". Zura.
" Tak usah... !!! aku baik-baik saja, ini hanya luka kecil. Dibanding lukamu ini akan cepat sembuh dikasih Pepsodent sedik.." Achi belum siap bicara Zura sudah menggendongnya " Hei!!! apa yang kamu lakukan !!! cepat turunkan aku...!!! " Zura menggendong Achi dengan enteng, karena gadis kecil itu cukup ringan baginya yang biasa kerja berat. Lalu tangannya yang satu mengambil kain panjang (jarik). Zura mendudukkan Achi di atas motor yang sudah di depan halaman rumah. Ia segera duduk dan langsung mengikatkan kain panjang itu di pinggang Achi. " Hei... i..ini berlebihan... ". ucap Achi dengan mengerutkan dahinya.
" Ini akibatnya karena kamu nakal... ". Ucap Zura.
" Aku tidak begitu... " ucap Achi membela diri.
__ADS_1
" Diam... jangan goyang-goyang diatas motor.. aku sedang menyetir nanti aku bisa jatuh... ". Ucap Zura singkat. Mereka tak bicara cukup lama di perjalanan.
Â
Achi menatap punggung Zura yang begitu dekat dengannya. Tidak pernah terbayang olehnya jika ia akan sedekat ini dengan Zura yang menjadi musuh sejatinya sejak lama. Achi perlahan memegang jaket Zura perlahan, karena Zura bawa motor agak ngebut.
Â
" Mas Zura... maafkan aku ya... ". ucap gadis itu menunduk, suara gadis itu seketika berdenging di telinga Zura bagai lantunan musik. Panggilan mas yang kali ini didengar Zura serasa indah dan tulus bunyinya.
" ( aku ngga tau suara kucing kecil ini, jika merasa bersalah imut juga... ) Yang menelponnya kemarin siapa...?!". ucap Zura penasaran.
" Ah... dia teman ku saat kuliah... di banyak membantuku saat kuliah dulu..." ucap Achi enggan menjawab.
" oh... apa dia orang yang baik...?!" ucap Zura. Achi mengingat kembali ketika ia bersama Fariz. Kemudian sebelum menjawab mereka sudah sampai ke puskesmas.
" Iya... dia orang yang baik... dia ada ketika aku sangat membutuhkan bantuan... ia orang yang sangat penuh kasih sayang padaku..." ucap Achi dengan senyum tulusnya. Mendengar hal itu, Zura menjadi kesal ia segera turun dari motornga lalu bergegas masuk.
" Tunggu apa...!!! bukankah kita mau berobat..., ngapain asik berkhayal... pantas saja kamu mengajar kesenian... kerjanya menghayal saja kan..." ucap Zura ketus dengan langkahnya yang ingin cepat masuk ke puskesmas.
Â
Achi sedikit sakit hati dengan kata\-kata Zura namun ia harus sedikit bersabar, ia tidak ingin mengacaukan semuanya sampai Zura sembuh. Achi heran kenapa Zura kesal padahal tadi ia nampak tertarik dengan Fariz. Ia berjalan perlahan, semua orang yang ada di puskesmas menatap mereka. melihat Zura dengan sinis, Zura dapat merasakan apa yang sedang mereka rasakan " Lihatlah betapa kejam nya pemuda itu... padahal gadis itu sepertinya sedang terluka... percuma tampan dengan tempramen buruk... mending cari yang baik hati dan lemah lembut... kalau aku jadi gadis itu sudah ku tinggal dia...". Ucap beberapa dari mereka, Zura tersadar dan melihat kebelakang Achi masih tertinggal jauh.
Achi melihat Zura yang menatapnya, ia hanya tersenyum saja sambil berjalan. " Sial... apa yang kupikirkan kenapa aku menjadi kesal... dan membiarkan kucing kecilku lagi\-lagi kesulitan seperti ini.. pantas saja orang\-orang itu mengutukku...". Batin Zura. Ia balik langkah, berjalan ke tempat Achi.
Â
" Ada yang tertinggal...? ". Ucap Achi bertanya. Lagi-lagi Zura spontan menggendong Achi dari depan. " Hei... apa yang... "
" Maaf akhir-akhir ini fikiran ku entah kemana...". Ucap zura. Achi melihat sekeliling mereka seperti membicarakan Zura.
" huh... dasar penipu..." hal itu terdengar di telinga Achi. ia melihat wajah Zura yang merasa bersalah. Achi memahami situasi lalu ia tersenyum. Achi perlahan membelai rambut Zura dengan senyum lembut berkata.
" Sayang ngga usah buru-buru mencari obat untukku seperti itu... obatnya kan tidak akan lari... kebiasaanmu memang ga berubah ya...". ucap Achi tersenyum.
Â
seketika semua orang yang melihat jadi kaget begitu pula Zura " ternyata salah kira toh..., makanya jangan menggosib sembarangan..., alah kamu kan tadi juga ikut ngejekekin..." ucap mereka berbisik\-bisik.
Â
" Wah-wah ternyata pasangan baru toh... pantes mesra..." ujar mereka menafsirkan sendiri.
Â
Ketika sampai mereka berdua melihat Bu bidan. Zura masih menggendong Achi dalam genggamannya. " Buk... istri saya terkena siraman air panas, kaki dan tangan kirinya lebam... ada obat untuk mengobati lukanya...? " ucap Zura.
" silahkan ke ruangan sebelah kanan pak..., silahkan ikut saya..." ujar bidan itu.
Perawat lain yang melihat sedikit iri dengan Achi, Achi merasa tidak enak. Secara real Zura memang anak yang tampan dia juga cukup tinggi dengan badan yang bidang. Wanita mana yang bisa tidak tahan dengan pesona pemuda itu. Achi benar\-benar merasa tingkah laku Zura yang menggendongnya benar\-benar membuatnya repot, tapi ia tak bisa menyuruh Zura menurunkan dengan kondisinya sekarang.
Zura menidurkan Achi di tempat tidur pasien dengan arahan bidan itu.
" Boleh saya lihat lukanya nak...? " ucap bidan yang kelihatan tua dan berpengalaman itu. Achi enggan karena Zura masih di ruangan, Zura segera menyadarinya.
" Ah... aku keluar dulu... kalau sudah selesai kamu boleh memanggilku..." Zura langsung pergi dari ruangan.
" Suami kamu benar-benar pengertian ya nak..." ucap buk bidan.
" Eh... benarkah... begitu ya... " jawab Achi dengan senyum tipis.
" Boleh ibu lihat lukanya di bagian mana...". Ucap Bu bidan sambil tersenyum .
" Ah iya bu... di bagian ini...". Achi menunjukkan luka siraman air panas itu, buk bidan lalu mengeceknya dengan akurat menggunakan. peralatan medisnya. Sesambi mengecek buk bidan berkata pada Achi.
" Kalian berdua pengantin baru ya nak...? ibu bisa lihat masih ada kecanggungan di antara kalian ( Achi hanya terkejut lalu ia tersenyum tipis ) dalam suatu hubungan kalian juga harus mengerti satu sama lain... untuk membina hubungan kalian kedepannya. Suamimu orang yang baik... ibuk bisa lihat dari caranya memperlakukan mu, hanya mungkin caranya agak ekstrim... waktu ibuk muda dulu bapak juga begitu... jadi ibuk cukup tau..."
" ( hah... kenapa ibu ini malah curhat) Ah.. begitu ya... saya akan berusaha kedepannya...". Ucap Achi.
__ADS_1
" Harus... jika tidak bagaimana jika ia berpindah kasih... roda hidup tak ada yang tu kedepannya kan... atau seperti ibuk... kala waktu ibuk sudah mengerti bapak dia meninggalkan ibuk ke tempat yang maha kuasa, meninggalkan ibuk dan anak ibuk yang masih dalam kandungan waktu ibuk lagi sayang sayangnya sama bapak... "
mendengar hal itu dari buk bidan Achi yang menganggap hal itu bisa saja langsung terdiam dan menunduk.
" Nah sudah selesai... ibuk akan mengambil obatnya kamu tunggu disini saja ya.. " ucap buk bidan Achi hanya mengangguk sambil tersenyum. Buk bidan lalu keluar dan berpapasan dengan Zura yang membawa bingkisan di tangannya. Buk bidan hanya tersenyum kecil.
" Bagaimana keadaan istri saya buk...?". Tanya Zura khawatit.
" Istri kamu hanya luka ringan memarnya bisa terobati jarak seminggu mungkin, ia juga terkena demam... mungkin akhir-akhir ini dia banyak beraktifitas dengan menyumbangkan banyak fikiran ya. Saya akan memberi resep obatnya. Anak boleh ikut saya ke ruangan depan..." ucap buk bidan. Zura hanya berterimakasih dan mengikuti buk bidan untuk mengambil obat untuk Achi
Flashback
Zura pergi duduk diluar ruangan. Ia melihat seorang penjual roti keliling itu diluar puskesmas. Zura melihat roti cokelat yang sering dimakan oleh Achi ketika mereka remaja dulu, Zura sering melihat Achi memakan roti itu ketika Achi membantu ibunya di kedai. Ia menghentikan penjualan roti itu ketika ingin pergi.
" Tunggu bentar pak...!!!". Zura bergegas mengejarnya.
" Iya mas...". Penjual itu berhenti.
" Beli 15 ribu mas... yang isi coklat ya mas...". Zura
" Ok mas... tunggu sebentar saya ambilkan...". Setelah Zura mendapatkan ya ia bergegas masuk lagi.
Back
Â
Zura sudah menyelesaikan administrasi pembayaran obat untuk Achi, ia pun kembali ke ruangan tempat Achi berada. Ia melihat Achi menutup lukanya perlahan dengan baju panjang.
" Ayo pulang... obatnya sudah kuambil..." ucap Zura.
" Oh baiklah... " Achi. " Ah tunggu administrasi nya belum..."
" Udah selesai ketika aku pergi dengan bidan itu... ayo kamu ngga ingin aku membawamu dengan spontan seperti tadi kan..." ucap Zura mengulurkan tangan, Achi hanya membalasnya dengan mengerutkan kening.
" A... Aku hanya ingin gendong belakang..." ucap Achi memalingkan wajah dengan cemberut.
" Baiklah... kamu menang... pegang ini... ( achi mengambil bingkisan itu juga obatnya )". Ucap Zura. Ia kembali membawa Achi dan pulang menaiki motor. bingkisan itu menganga tertiup angin membuat Achi bisa melihat isi di dalamnya.
" ini....?!". Achi teringat roti yang sering ia makan dulu, sekarang itu agak susah dicari.
" Kamu suka kan... bukannya kamu dulu sering memakannya...?!". Zura.
" Bagaimana kamu tahu...?!". Achi.
" Kenapa masih bertanya, dari dulu kan aku selalu memperhatikanmu makan roti dengan senangnya...". Jelas Zura menggerutu. Ucapan Zura membuat mereka berdua kaget dan malu. " Bodoh kalau seperti ini.. kan jelas banget aku perhatian dengan nya sejak lama... kenapa didepannya aku bisa lepas bicara kayak gini sih...!!!". Batin Zura.
" Terimakasih... aku senang sekali... aku ngga sangka roti yang susah ku cari lama, bisa ku makan lagi waktu sama kamu...". Ucap Achi, Zura seketika langsung senang mendengarnya.
" Kamu itu... hanya dengan roti aja sudah seneng banget ya (senyum jahil) katamu si Fariz itu orang yang penuh kasih sayang... Lalu bagaimana dengan aku... calon suamimu ini... apa aku tidak penuh kasih sayang dan kamu lebih menyukainya dari pada aku.... " ucap Zura dengan nada berat dan ucapan yang tertahan. Achi terkejut dengan ucapan itu.
" Aku tidak menyukaimu... ( Zura seketika terkejut mendengarnya) dari dulu mungkin aku sudah mencintaimu sampai setiap hari sakit rasanya karena memikirkannya " Ucap Achi dengan nada sedih, sambil. memegang jaket Zura. Zura hanya terdiam, ia tidak habis pikir gadis itu akan mengucapkan kata-kata yang tidak pernah dibayangkannya. Entah itu kebahagiaan atau kesedihan, Zura merasakan gemuruh jantungnya yang cepat mendengar kata-kata itu. Ia berusaha tetap dengan gaya bicaranya agar tidak canggung.
" lihat lah... betapa hebatnya anak seni sedang berpuitis" ucap Zura, mendenar hal itu Achi tersenyum sedih sambil berkata.
" bagimu itu mungkin sebuah candaan... tapi bagiku itu tidak mudah... bahkan ketika aku berkata jujur... kamu ngga pernah mempercayaiku kan... menganggap itu hanya sebuah puitis, apa itu membuatmu merasa tidak senang... haha lain kali aku tak akan mengulanginya...". Achi.
" Apa kam bodoh !!! siapa yang tidak senang mendengar kata itu dari istrinya sendiri... pegang pinggangku dengan erat jangan dilepas...!!! kalau kmu jatuh dan terluka siapa yang menemaniku tidur di kemudian hari...!!!". Zura sambil memegang erat tangan Achi dan melingkarkannya ke pinggangnya. Achi melihat wajah Zura melalui kaca spion dengan merah padam. Hal itu juga membuatnya wajahnya sama seperti Zura.
" Bagaimana caraku melepaskannya jika dari dulu, aku sudah atuh kepelukanmu..."
batin Achi sedih juga bahagia dengan ucapan itu. Mereka kembali dengan selamat, ketika turun Hp Zura berbunyi. Ibu Zura menelepon dengan nada tegas menyuruh Zura datang ke rumahnya. Zura tau itu pasti penting Achi hanya heran melihat Zura yang mengerutkan kening saat sedang menelepon.
" Kamu masuk saja... sebentar lagi aku kembali... sepertinya ibu perlu sesuatu denganku, aku ingin kesana sebentar..."
" Oh baiklah hati-hati..." ucap Achi.
" Makan rotinya biar kenyang... kmu belum makan dari kemarin kan... kalau kamu capek tidur saja, jangan lupa gembok pintunya... aku sudah menduplikat pintunya jadi tak masalah...". ucap Zura. Achi hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, mereka pun saling melambaikan tangan.
.
.
__ADS_1
.
to be continued 🙂