Hate A Boy But He Love Me

Hate A Boy But He Love Me
chapter 7


__ADS_3

Pikirkanlah


Puisi kadang tak beralur layaknya sungai


Indah mengalir karena bait katanya


Meresap dalam jiwa


Ketika keras pikiran


Diluluhkan oleh hati


Timbul percikan api kasih


Ah... Cicitan burung itu sering berkata


Itu " cinta "


Bukankah itu juga sama?!


Dirimu menyela berkata


" Itu adalah emosi "


Lucu....


Emosi berawal dari Empati


Ketertarikan itu bahasa bocahnya


Bila mana dirimu masih hidup di zaman pra aksa


Jika tuhan mengharuskan kita saling menarik


Benang merah


Mari bertemu dititik tengah


Maka aku bisa melihat langit mu yang pancarkan ilusi indah


Dan bumi ku yang menyembunyikan real sebongkah permata


Mari lakukan...


Walaupun diantara kita


Ada yang menanggalkan kedua pasang mata


Kita usahakan...


Menaikan sudut bibir di akhir


Lalu berkata " diriku sudah berusaha "


    Wajah Achi pagi ini bagai kepiting rebus, salah satu murid bahkan bertanya apa dirinya sedang demam. Ami guru bahasa yang seangkatan dengan Ichi, akhir-akhir ini dekat dengannya juga sampai heran. Istirahat siang dihabiskan Achi di kantin bik Ana, lagi-lagi Ami melihat Achi hanya memutar ujung gagang sendok


mengaduk kuah miso itu. Lalu ia mengatakan sesuatu dengan nada lirih.


" Gila..., Dia pasti sudah gila....( Otaknya yang terkena kecelakaan itu jadi oleng, makanya jadi seperti itu ) " Achi mengerutkan keningnya.


" Iya betul, kamu gila... " Ami bernada sepele.


" Loh mi... Kok aku...?!!! " Achi kembali fokus dan kaget dengan kata-kata itu.


" Jelas lah..., Lihat sudah berapa kali kamu mengaduknya, gezzzt... Kalau kamu aduk terus lama-lama mie nya sebesar jari tanganmu Lo...!!!" Ami.


" Tidak lagi !!! Aku akan memakannya dengan cepat...! " Ucap Achi menyantap misi itu.


" Lagi pula kenapa sih..., Dari tadi tingkahmu aneh banget. Apa ada yang terjadi antara kamu dan Zura tadi pagi ?!" Ami.


" Tidak kok !!! (Suara keras) dia hanya mengantarku..." Ucap Achi malu.


" Biasa saja dong... Lagi pula kenapa, maklum kali... kalian kan sudah bertunangan..., hei bagaimana rasanya tinggal bersama si tampan badboy itu? Kurasa dia boleh juga... " Opini Ami sambil memegang dagunya.


" Ah~ apanya yang boleh juga, dia selalu mengejekku, di setiap tempat aku melakukan sesuatu... " Ucap Achi lemas.


" Wah... Hidupmu cukup keras teman, aku turut prihatin haha... (Mengelus pundak Achi) eh... Tapi dengar-dengar dari Bu wakil kepsek bakalan ada guru baru Lo..., Katanya karena kinerja kamu terlalu berat tidak pernah bersantai, makanya kepala sekolah merekomendasikan guru tambahan untuk membantumu... " Tutur Ami.


" Eh... benarkah... Kalau begitu syukurlah... Guru dari mana? Cowok/cewe, apa aku kenal...? " Ucap Achi penasaran.


" Entahlah... Tapi gosipnya sih dia cowok dan... Kata Bu wakil kepsek tampangnya lumayan..., Katanya malah dia sendiri yang menawarkan diri ke sekolah ini Lo... Padahal di tempat lamanya ia cukup berpengaruh..." Ucap Ami.


" He... Bakal jadi saingan deh... " Ucap Achi mengeluh.

__ADS_1


" Itu sih pendapatmu... Yang udah ada tunggangan pura-pura, kalau kata ibu wakil benar, aku bakal PDKT... " bisik Ami ketelinga Achi.


      Tak lama setelahnya bel masuk berbunyi. " ayo cepetan... Murid kita pada nunggu loh... ! " Lanjut Ami sambil berjalan pergi.


     Mendengar kata-kata Ami, Achi agak sakit hatinya dengan kata tunangan pura-pura itu. Karena ia juga sudah terikat, ia tak bisa lagi bebas ingin jalan dengan teman laki-laki nya yang lain. Padahal dirinya dengan Zu Ra hanya dalam kepura-puraan.


     Saat dalam kelas pelajaran siang Hp Achi berdering, ada nomor masuk yang tak ia kenal. Ia meminta izin pada muridnya keluar sebentar.


" Ia ini siapa...?! " Ucap Achi.


" Ini aku..., Aku tidak dirumah... Kunci kutaruh dibawah pot bunga kaktus mini depan pintu.... " Ucap Zura lewat telepon.


" Ah... Ok baiklah... Makasih... " Achi.


" Hanya itu kah...? " Ucap Zura.


" Memangnya ada yang lain...?! " Achi balik tanya.


" Kau tak mengatakan dapat nomormu dari siapa, aku pergi kemana...? Dan kenapa nadamu terdengar lesu, apa ada orang yang menyakiti hatimu...?! " Zura penasaran.


" Ah bukan begitu... Kamu ingin kemana kan itu hak kamu..., Lagi mungkin aku terlihat lesu Lantaran letih mengajar haha, sudah ya... Murid-murid ku menunggu di dalam..." Ucap Achi.


" Oh... Ok... " Jawab Zura singkat. Mereka menutup teleponnya.


" Zura sebelah sini perlu dibantu... !!! " Ucap Adi, Kaka kedua Zura. Ia pun mengerjakan pekerjaan yang sudah menantinya itu. Mengatur menotal struk buah kelapa sawit yang sudah dimuat kedalam bak mobil Colte itu. Lalu ikut menyusun agar muat banyak di mobil Puso. Setelah selesai Adi iseng-iseng beranggapan.


" Padahal tubuh mu belum pulih betul... Serahkan saja dulu pekerjaan ini pada Moran. Toh kan hasilnya bagi dua. " Tutur Adi.


" Iya sih Di... Tapi entah kenapa melihat kalian bekerja, tanganku jadi gatal haha. Sepertinya aku juga senang pekerjaan ini, lagi istriku sedang kerja juga..., meski dalam penyembuhan... Malas saja duduk diam dirumah, bosan. Lebih enak melakukan sesuatu yang berguna kan... " Jelas Zura.


" Wah...sejak kapan bocah kecil ini berpikir jauh..., Biasanya kau hanya menghamburkan uangmu loh... Dan sekarang kau bahkan memikirkan istrimu hahaha..." Adi.


" Iya aku juga merasa aneh..., Mungkin lantaran aku sudah tua..." Ucap Zura.


      Ketika pekerjaan itu selesai, Zura bersiap pulang dengan mengendarai motornya. Moran memanggilnya dan menyuruhnya berhenti.


" Zura... Uangnya akan mas transfer ke rekeningmu Minggu ini... Ah ini ( memberikan uang 100 ribu ) bawalah untuk beli cemilan, besok mas akan beri lagi... " Ucap Moran.


" Oh makasih... Aku pergi dulu " Ucap Zura lalu pergi.


" Sangu (*uang saku) buat ku mana Ran... " Ucap Adi.


" Tunggu seminggu... Atau mau nambah kerja biar dapat tambahan wkwk..." Moran tertawa , begitu juga anak istri Moran yang melihat dan mendengarnya pertengkaran lucu dua saudara itu.


" Sial kamu... Kalau kerja ku nambah duitnya naik 2 kali lipat wkwk. " Merek pun sama-sama tertawa.


" Kemana perginya kucing liar kecil itu...?! " Batinnya ia melihat ke belakang halaman rumah, melewati pintu dapur.


     Achi tampak sedang menyapu sambil menelepon seseorang dengan gembira. Zura mencoba menyaringkan telinga, untuk mengetahui siapa yang menelpon Achi hingga tunangannya itu terlihat gembira.


     Sebelumnya, setelah selesai mengajar Achi pulang ke rumah. Ia segera membersihkan rumah karena mengingat jasa yang diberikan keluarga Zura. Sudah sewajarnya menurutnya ia juga harus menjaga Zura dengan baik maupun kebutuhan dan kehormatannya sebagai tunangan sementara. Ia melihat bahan yang ada di kulkas lalu segera memasak sayur. Setelah itu ia juga merebus air kalau-kalau Zura ingin meminum teh hangat dan menyelinginya dengan menyapu halaman belakang. Ketika itu ada seseorang yang menelepon. Ia melihat nama siapa yang meneleponnya, wajahnya langsung tampak gembira melihatnya. Ya, itu adalah nama Fariz, teman kuliah Achi yang ia rasakan sangat baik dan penuh perhatian itu.


" Assalamualaikum, sore Achi... " Fariz.


" Ah iya... Waalaikum salam Riz... Gimana kabarnya...?! " Achi bertanya dengan senangnya.


" Kamu kok lama sih ga hubungi... Katanya walau jauh tetap komunikasi...." Ucap Fariz dengan nada kecewa.


" Ah... Maaf... Setelah aku pindah banyak hal yang terjadi haha... Jadi aku ga sempat kabari... Maaf banget.. " Achi.


" Kamu selalu bilang maaf... Tapi sudahlah toh kita udah ngobrol di telepon... Aku punya kejutan Lo..." Ucap Fariz.


" Apa tuh... Wah jangan-jangan jabatannya naik ya... Haha " ucap Achi tertawa.


" Wu.... Salah aku pindah sekolah... Dan kali ini sepertinya jaraknya dekat dengan desamu..., Gajinya juga lumayan makanya aku terima kerja disana..." Tutur Fariz.


" Wah benarkah...!!! Kalau begitu kapan-kapan mari bertemu untuk makan-makan, laku yang bayar deh... itung-itung kamu udah banyak nolong aku dulu... " Achi girang.


" Jadi... Karena balas jasa ya... " Ucap Fariz bernada kesal.


" Ah bukan begitu... Kamu kok ngartiinnya jelek amat... " Achi jadi kesal.


" Haha... Ok deh bagaimana kalau Sabtu sore...?! " Faris senang.


" Ok, Sabtu sore... Apapun alasannya aku akan dat..." Belum sempat melanjutkan kata-katanya, Zura sudah berteriak.


" Oi... Kucing liar... Air panasnya sudah mendidih tuh...apa mau kamu biarin kering...?!!" Ucap Zura kesal karena Achi tidak tahu bahwa dirinya sudah pulang.


" ah, maaf... Aku lupa!!! Fariz teleponnya tutup saja dulu ya...!!! Aku akan meyalin air panas ke dalam termos...!!! " Achi segera berlari kedapur meletakkan Hp di atas meja makan yang tak jauh dari tungku merebus air.


     Achi langsung memasukkan air panas itu ke dalam termos air panas. Zura melihat panggilan telepon itu bahkan belum mati. Bahkan ia juga lihat wajah pemuda itu sekilas dari profil photo telepon di WhatsApp. Entah kenapa hatinya menjadi panas. Ia melihat Achi yang sedang fokus menyalin air ke termos itu.


" Bodoh... Kenapa aku terasa terpergok seperti sedang menelpon selingkuhan sih, tidak-tidak itu hal wajar. Fariz adalah teman ku sejak lama, lagi aku dan Zura kan hanya pura-pura bertunangan. Jadi itu tidak salah!!! " Batin Achi pro dan kontra.

__ADS_1


     Samar-samar Zura mendengar suara laki-laki itu dari dalam telepon " Chi... Tak apa aku akan menunggu, salin saja airnya lalu ngobrol lagi denganku... Aku masih ingin ngobrol sebentar saja denganmu, masih ada yang ingin kubicarakan..." Ucap Fariz. Mendengar itu Zura semakin kesal, tapi akal jailnya berjalan selaras dengan kelakuannya.


     Ia datang ke Achi yang masih menyalin air ketermos. Tiba-tiba kedua tangannya memeluk achi dari belakang. Melingkari perut Achi yang ramping. Zura meletakkan wajahnya di bahu Achi. Lalu hidungnya ditempelkan ke leher Achi yang tertutup rambut lebat yang disapit dibelakang. Zura mengendus aroma rambut Achi.


" Uah... Wanginya... Aku kangen banget Lo denganmu..." Ucapnya. Membuat Achi kaget namun ia berusaha tidak gegabah.


" Hei...!!! Apa yang kau lakukan lepask..." Ucap Achi meronta dengan malu, namun pelukan Zura semakin kuat.


" Kamu sendiri yang bilang aku adalah tunanganmu kan... " Ucap Zura dengan jail dan tertawa seram. Hal itu membuat Achi seakan tak bisa melakukan apapun, seperti tubuhnya terlilit oleh rantai membuatnya tak bisa kemana-mana.


" Itu tidak sejauh itu... Ada apa... Kenapa begini... Hentikan ini tidak baik... Kita bahkan belum menikah...." Achi kian malu. Wajahnya merona, Zura yang melihat juga semakin senang menjahilinya.


" Ah... Benarkah?! Tapi aku sedang ingin mencicipinya sekarang... " Ucap Zura.


Ia menyingkirkan rambut Achi perlahan dengan tangannya yang lembut Sehingga leher gadis itu tampak. Firasat Achi tidak baik ia langsung membalikkan badannya dengan cepat.


" Hentikan ku bilang!!! " Teriak Achi.


"Ah... Akhirnya ditutup... " ucap Zura melihat telepon itu.


" A... Apa ?!" Achi belum mengerti, Zura melihat ke arah telepon. " Ah... Bagaiman teleponnya baru mati?!" Achi ingat bahwa ia yang menyuruh Fariz mematikan telepon, bukan dirinya. " Bagaimana ini dia akan salah paham... Aku harus berbicara dengannya....!!!" Ucap Achi khawatir. Ia segera mengambil Hp nya. Namun sebelum itu terjadi Zura sudah mendepak Achi dengan kedua tangannya.


" Hei... Apa yang kamu lakukan dia sahabatku... Aku ingin bicara dengannya...!!! " Rintih Achi dengan kuat. Karena lagi-lagi Zura memegang tangannya dan menariknya sehingga pinggangnya dipeluk oleh tangan Zura.


" Ia dia memang sahabatmu, lalu aku apa..., Mainan yang kamu mainkan seenaknya...?!!! " Ucap Zura kesal karena Achi tidak menangkap maksud perkataan dan perbuatannya dari tadi. Ia mendekatkan wajahnya ke Achi dengan seringai murka.


" Hentikan omong kosong itu sekarang!!! " Ucap Achi mendorong zura. Sehingga dirinya terdorong kebelakang mengenai air panas yang belum sempat di tutupnya, secara seketika. " Pyurrrrr!!!" Air panas itu mengenai tangan dan kaki kiri Achi yang hanya memakai kaos lengan pendek dan rok panjang berwarna biru itu. Zura sangat terkejut, sakit itu segera menyebar di bagian tubuh Achi yang terkena air panas itu.


" Aght... !!!" Rintih Achi menahan rasa sakit.


" Hei kau tak apa!!!" Zura khawatir ia memegang bahu Achi, namun Achi segera menepiskan tangan Zura dengan tangan kanannya. Ia segera menuju kamar mandi dengan tertatih. Achi menyiram tangan dan kaki kirinya dengan air dingin di bak mandi, tapi masih saja terasa sakit. Zura yang merasa bersalah, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia hanya melihatnya di pintu kamar mandi, Achi mencoba berdiri tapi kaki nya tak kuat menahan perih. Ia terjatuh. Zura langsung menggendongnya..


" Hiks... Tak usah menyentuhku...!!! " Ucap Achi. Ia mulai terisak, sambil memukul dada Zura dengan tangan kanannya, Zura hanya membiarkannya. Hati Achi terasa sakit dengan perbuatan Zura.


" Diam... jangan bicara dulu..." Ucap Zura ia mencoba tenang, walau hatinya panik melihat Achi terkena air panas. Menurunkan Achi di sofa Zura mengambil kotak P3 k yang ia miliki. " Ini dapat mengobati lukamu sementara..., Kita akan pergi ke dokter setelah magrib..." Ucap Zura. Ia mengobati luka di tangan dan kaki kiri Achi yang terluka itu kemudian berwarna merah walau tidak melepuh terasa amat perih untuk Achi. Achi hanya menatap dengan nanar dan tak berekspresi. Zura mengoleskan salep itu dengan lembut.


,


" Ini sudah berapa kali ya, rasa sakit ini sampai ke hati..." Batin Achi. Meski ia diam tetes air yang ada di mata Achi berjatuhan.


" Selesai...." Ucap Zura tersenyum. Ia kaget karena ada tetes air jatuh beberapa ke tangannya. Ia melihat wajah Achi kian sembab. Namun Achi juga tidak bicara. Tapi Zura sekilas melihat ekspresi itu sudah tahu. Derita yang Achi alami dalam hidupnya begitu berat, sehingga gadis itu sudah tak mampu berteriak. Ia lebih memilih menangis dalam diam menahan suaranya. Zura sangat bingung apa yang akan dilakukannya setelah kejadian ini. " Berhenti menangis... Lihat wajahmu jadi jelek haha..." Ucap Zura mencoba tertawa sambil menyapu tangisan Achi dengan tangan nya . Tapi ekspresi Achi membuat ia terkejut.


" Bagaimana kau bisa tertawa waktu aku seperti ini... (terkekeh) apa aku terlihat seperti mainan yang bisa kamu mainkan seenaknya..?! " Achi membalikkan kata-kata itu pada Zura. Kali ini Zura baru tahu, bagaimana kata-kata itu dapat menusuk jantungnya sendiri, padahal gadis itu tak pernah menyembunyikan sesuatu darinya. Dan berjuang keras agar Zura juga tidak terluka dengan hal yang dialami sebelumnya.


" Aku benci... Benci sekali padamu... Aku benci... Kamu yang selalu bertingkah... Merendahkan orang lain sepertiku... Jika... Jika... Tidak bertemu denganmu aku... Aku tak akan seperti ini... Hidupku yang sudah teratur... Tidak akan seperti ini.... Hua... Hisk... Hiks... Hua... Aku ingin menghilang saja dari pada merasa sakit seperti ini....!!!" Tangis Achi akhirnya pecah. Zura yang diam sejenak mendengar kata itu tentu terluka hatinya. Sesaat setelahnya ia langsung memeluk Achi yang tak berhenti menangis dalam dekapannya. " Lepas... Lepas... Lepaskan... " Tangan Achi meronta-ronta tak kuat dengan eratnya dekapan itu.


" Ngga akan...!!! Kau boleh membenciku sesukamu Achi, hingga kau tidak akan lupa setiap menit yang kau lewati bersama ku. Tapi jangan menjauhiku, jangan mencoba melupakanku, apalagi menghilangkan dirimu, dan menghilangkanku dari ingaingatanmu." Ucap Zura tangannya tampak bergetar dan juga panas, bahkan Achi sempat melihat kuping Zura yang sangat tampak kemerahan ketika dirinya mengatakannya.


" Kau yang datang padaku Achi, aku ingin mengikatmu dengan kuat sehingga aku tak sadar melakukan hal bodoh seperti ini, aku minta maaf.... !!! Lalu setelah kamu membuatku seperti ini, Bagaimana mungkin kamu berkata begitu mudah untuk menghilang. Aku juga... Aku juga sakit disini..." Ucap Zura dengan jelas. Achi tak bisa berkata apapun mendengar kata-kata itu.


" Kamu sangat kejam terhadapku... Aku lelah... Lelah sekali... " Ucap Achi. Entah kenapa ia merasa sedikit tenang, dengan kata-kata Zura. Ia tak memberontak membiarkan dirinya tidur di pelukan Zura.


      Zura membawa Achi ke kamarnya setelah ia tertidur,  menidurkan Achi di kasur. Kemudian Mengambil kursi yang dipakai Achi biasa untuk mengerjakan Tugas sekolah  sebagai guru. Ia memandangi wajah gadis itu yang sembab karena menangis. Poni depannya berantakan, Zura merapiknnya agar tak menutupi matanya. Zura mendekatkan wajahnya melihat gadis yang sudah tidur itu. " Jika dia diam seperti ini..., Rasanya manis... Kucing kecil liat ini., Bahkan sedang tak sadar kalau dirinya sekarang bisa kumakan, jika aku mau..." Batin Zura, ia membelai bagian kepala Achi dengan lembut. Tiba tiba...


"Zura....?" Ucap Achi tak sadar dalam tidur menyebutkan namanya sambil memegang tangan Zura yang menyentuh kepalanya. Zura terkejut tapi ia juga senang. " Jangan menyentuhku sialan... ". Lanjut Achi tak sadar, mendengar hal itu Zura jadi kesal.


" Kamu.... Huh kutarik kata-kata ku... Untuk orang keras kepala sepertimu...." Ucap Zura lirih. Zura perlahan melepaskan tangan Achi namun achi menggenggamnya.


" Jangan meninggalkanku...." Ucap Achi yang tak sadar dalam tidur itu.


" Sebenarnya kamu inginnya apa sih....!!!" Batin Zura kesal lagi. " Cktt... Ia aku disini aku tak akan meninggalkanmu... (sial kamu membuatku malu setengah mati) " ucap Zura pelan. Tak lama Zura juga ikut tertidur di kursi menjaga Achi.


" Siapa yang memegang tangan ku dengan erat, padahal sebelumnya aku tak pernah merasakannya, selain ayah dan ibuku.... Tangannya begitu hangat... Siapa...? "


Achi terbangun dan melihat sekelilingnya, ia melihat Zura masih tertidur di kursi sambil memegang tangannya yang tak terluka. Achi menjadi merasa bersalah dengan ucapannya kemarin. Achi memandangi wajah Zura yang tengah tertidur. " Aku yang bahkan tak dekat denganmu dulu, sekarang bisa melihat wajah tidurmu yang polos..., Kamu memang tampan zura... " Batin Achi. Namun tiba-tiba Zura terbangun membuat Achi gugup dan pura-pura tidur lagi.


" Sudah pagi... Ah masih tidur ya.... Sepertinya aku harus mandi dengan cepat lalu mengantarknnya ke puskesmas..." Ucapnya sambil membelai rambut Achi, lalu beranjak dari tidur.


" Maaf Zura aku malah merepotkan mu..." Batin Achi.


      Beberapa saat setelah Zura pergi mandi, Achi bangun, tenggorokannya terasa kering. Ia ingin meminum air putih untuk membasahi tenggorokannya, lalu ia pergi kedapur. Gelas yang sudah ia bersihkan disimpan di bagian atas dalam lemari. Ia kesulitan. Mengambilnya.


" Kamu udah bangun..." Ucap Zura yang keluar dari kamar mandi. Achi tak memperhatikannya Karena fokus ke gelas yang akan diambilnya.


" Iya tenggorokanku terasa kering... Aku mau minum air putih dulu..." Ucap nya sambil berusaha mengambil gelas.


.


.


.


To be continued 🙂

__ADS_1


Tambahkan like dan krisarnya ya...


Terima kasih.....


__ADS_2