Hate A Boy But He Love Me

Hate A Boy But He Love Me
Chapter 14


__ADS_3

Baik Mata, Hidung, Bibir


Juga kehangatan tubuhmu disaat memelukku


Dimanakah yang tidak membuatku terpesona?


Karena aku mencintaimu.


Lalu bagaimana dengan hatimu, Apa dia melihatku...?


Apa aku juga akan terpesona...?


.


.


.


"Nyaman sekali..., rasa dipeluk boneka Stitch yang besar... ".


Achi membuka matanya. Ia terkejut saat melihat Zura memeluknya ketika tidur. Ia melepaskan dirinya dari pelukan itu.


" Sejak kapan aku ada di ranjang, dan kenapa iblis ini malah memelukku... ?! ia tidak melakukan sesuatu yang aneh kan?!". Gumamnya dalam hati sambil melihat tubuhnya.


" Ah... untunglah.... tidak terjadi apa-apa.". Gumamnya lagi dengan lega.


" Oh iya... aku sampai lupa... dia kan sedang demam...". Achi menyentuh dahi Zura. Panasnya agak berkurang dari tadi malam. Achi bernafas lega. Zura sebenarnya sudah bangun ketika Achi melepas pelukannya. Ia pura-pura tertidur. Achi memperhatikan muka Zura yang sedang tidur itu. " Uwa... lihat lah... bulu matanya hitam... dan panjang. ". Gumam Achi sambil mendekatkan mukanya. Tiba tiba tangan Zura mendorong tubuh Achi dari belakang.


"Cup...".


Kecupan itu membuat Achi sangat kaget.


" Dapat... selamat pagi sayangku...". Zura tersenyum jahil.


" Ka... Kamu... Kamu gila Zura... Lepaskan aku ...". Achi sangat malu.


" Hei... aku kan tunanganmu... bentar lagi juga jadi suamimu... biasakan dong....". Jawab Zura sambil tertawa.


" Lepaskan... kamu akan membuatku telat hari ini jika masih bersikap seperti anak-anak.". Achi menjadi jengkel lagi-lagi Zura mempermainkan nya.


" Kiss dulu ...". Jawab Zura sambil menunjukkan bibirnya.


" Dasar brengsek gila, ngga mau...". Jawab Achi menolehkan mukanya yang memerah. Zura tertawa dan merasa asik menjahilinya. Ia melepaskan Achi dengan lembut. Achi langsung beralih dengan cepat.


" Achi , tadi malam terima kasih sudah merawat ku... ". Ucap Zura lembut dengan senyum tulus diwajahnya. Achi yang melihat senyum itu kembali merasakan sakit dihatinya. Ia senang melihat senyum tulus yang jarang ia lihat selama ini dari Zura namun di satu sisi dia juga sedih.


" Apa sih... cuma itu saja.. untuk apa berterima kasih, kamu juga selalu ada waktu aku sulit kan...". Gerutu Achi.


" Begitu ya...". Jawab Zura singkat nadanya sedih. Achi menghentikan langkahnya lalu berbalik ke belakang.


" Cup ". Zura juga terkejut melihat Achi menciumnya.


" Selamat pagi juga sayangku, jika ku pergi jangan lupa minum obatnya ya... supaya cepat sehat...". Ucap Achi dengan senyum bodohnya mengelus rambut Zura bagai menyayangi kucing kecil. Sontak itu membuat jantung Zura berdebar. Zura langsung menyentuh tangan Achi lalu menaruhnya ke pipi Zura.


" Hei... aku ini benar-benar sayang padamu lho....". Ucap Zura serius dengan mata tajam nan lembutnya. Lidahnya menjilat jari kelingking Achi perlahan. Achi sangat malu.


"Lepaskan... dasar mesum...". Jawab Achi ia langsung pergi membawa handuknya untuk mandi. Zura hanya tertawa jahil melihat Achi yang malu.


" Berhenti... kubilang berhenti berdebar...!!!"


Batin Achi.


Setelah selesai bersiap-siap Zura sudah ada di depan. Meregangkan badannya dengan berolah raga. Achi hanya melihatnya, Zura lalu menoleh.


" Udah siap...?". Tanya Zura , Achi mengangguk " Ayo kuantar...". lanjutnya.


" Ka... Kamu mau mengantarku...?!". Tanya Achi kaget.


" Ya iyalah... aku kan suamimu ( Sekalian biar anjing itu melihat juga kamu punya siapa{merujuk ke Fariz})". Jawab Zura.


" Tapi kan kamu masih demam...aku juga berangkat sendiri ngga..". Achi.


" Kamu mau kuantar atau aku kurung seharian di kamarku...?!". Jawab Zura, muka Achi langsung memerah. Zura menoleh ke arah lain ketikan melihat muka Achi yang takut dan panik, karena tak kuat menahan tawa.


" Enak banget ya mengerjai ku...". Achi mengerutkan kening.

__ADS_1


" Aku ngga pernah bercanda Lo.. Ayo kuantar biar ga telat.". Achi menurut saja.


Ketika sampai sekolah.


" Kucing kecil, ada yang lupa...?". ucap Zura


"Eh apa...?". Tanya Achi penasaran lalu ke tempat Zura lagi. Karena Zura sering memanggilnya kucing kecil dari pada nama panggilan ia jadi respect.


" cup.". Zura mengecup Achi seketika.


" Lupa kecupnya maksudku... Babay...". Ucap Zura langsung pergi.


" Iblis ini... Akhir-akhir ini dia sering sekali menciumiku... kalau dia berbuat seperti ini terus-menerus. Aku jadi sulit menolaknya....". Batin Achi.


Achi tak bisa fokus mengajar, wajah Zura yang tersenyum itu selalu terlintas di pikirannya.


Ketika jam istirahat salah satu siswi yang cukup akrab menanyainya.


" Ibuk... Apa ibuk sakit...?". Tanya Tutik.


" Hah... kenapa anak ibu bilang gitu...?". Tanya Achi pada anak itu.


" Habisnya wajah ibu merah gitu... " Jawab Tutik singkat.


" Ah... ngga ibu ngga sakit... hanya kurang tidur saja...". Achi menjelaskan sambil tersenyum paksa.


Ia keluar ketika bel berbunyi. Menghirup udara sebentar si kepo Ami sudah mendekapnya dari belakang.


" Hei... hei... sahabatku gimana perkembangannya dengan tunanganmu... kudengar dia mengakui kalau dia mencintaimu waktu di tinju ayahmu...😀 !!!".


" Hah... Bagaiman kamu bisa tahu!!!". Achi terkejut malu.


" Kalau aku semuanya tahu dong... kamu aja yang kurang update...😒".


"U.. udah ngga usah dengar gosip yang ga perlu ah..!". Ketus Achi sambil menolehkan muka.


" Cie.... akhirnya CLBK nih ye.. ". Ejek Ami bersenda gurau dengan Achi yang tertunduk malu menuju kantor. Tak lama Fariz datang sambil menaruh buku ajarnya. Ia melihat Achi.


" Achi jam istirahat lho.. mau makan ke kantin bareng aku...?!". Tanya Fariz.


" Oh tentu..." . Jawab Achi ramah.


Ami menghujani Achi dengan beberapa pertanyaan, juga menjahili Achi sesekali dengan membahas tentang Zura. Achi hanya menyangkal meskipun begitu ia tidak pandai menyembunyikan raut mukanya yang memerah. Faris kesal, namun begitu ia bersikap biasa saja. Ami sengaja memancing Achi agar Fariz bisa menjauh dari Achi.


" Kenapa sih selalu membahas tentang kami... lagian kami kamudah tunangan...itu kan urusan kami mi.... kamu membuatku tidak nyaman...". Achi merasa sebal, ia juga tak enak dengan Fariz. Achi langsung pergi dan membayar bon makannya, Ami jadi merasa bersalah.


" Seharusnya kamu bersikap dewasa Mi... ngga baik kan mengurus privasi orang lain... ini juga mungkin berat bagi Achi sendiri untuk cerita...". Ucap Fariz menasehati.


" Aku hanya bergurau saja~ siapa sangka kalau dia akan marah. Sikap terlalu seriusnya memang masih melekat dari dulu, CK CK CK, Fariz kamu juga tahu kan...". Guma Ami.


" Iya meskipun aku tahu... aku ga sekepo kamu, untuk menguak hidup orang lain kok...". Jawab Faris dengan senyum namun ucapannya menyayat hati. " Aku udahan nih.. aku akan membayar punyamu sekalian...". Jawab Fariz ia melangkah pergi .


" Faris aku tahu kok...". Ucap Ami.


" Apa maksudmu...?!". Tanya Fariz.


" Kamu datang jauh-jauh kemari meninggalkan posisi yang udah kamu punya sebagai wakil kepsek, demi Achi kan.". jelas Ami .


" Hah~ Bagaimana kamu bisa berkata begitu.. aku disini karena sekolah ini sangat bagus untuk dikembangkan terlebih guru SB nya sedikit...". Jawab Fariz.


" Meskipun kamu bilang begitu aku bisa lihat kenyataannya kamu suka Achi kan...! Tapi meskipun begitu itu percuma, Mereka sudah saling menyukai sejak lama..., bahkan sebelum dia kenal kamu Riz... ". Jelas Ami kecewa.


" Haha~ ngomong apa sih kamu mi, Aku ga mau dengar bualanmu yang tak jelas pangkal ujungnya... Aku berdiri disini karena aku punya tujuan , Maaf aku tidak ada waktu untuk mendengarkanmu mengoceh


waktu kita istirahat sebentar lagi akan habis, jika terlambat murid-murid akan menunggu Lo...". Jawab Fariz santai dengan ucapan menyakitkan membuat Ami patah hati sebelum mengungkapkan cintanya pada pemuda jangkung itu.


Ami ingat ketika baru pertama bertemu Fariz ia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Pemuda jangkung yang punya perawakan kuning Langsat dan hidung mancung dengan rambut berombak itu langsung memasuki ruang hati Ami, ditambah Fariz punya tutur kata yang lembut. Beberapa waktu ketika bukunya ketinggalan, Fariz membawakannya sambil bercanda, meletakkan buku itu ke kepala Ami dengan lembut.


" Makanya lain kali jangan lupa dong..." Ucap Fariz dengan senyum ramahnya. Ami pun sejak saat itu makin jatuh cinta padanya.


Achi masih kesal, Faris lalu datang sambil memberikan permen.


" Nih... jangan marah ntar keriputnya nambah...Ami hanya bercanda...". Ejeknya.


" Iya aku tahu kok...". Jawab Achi sambil melihat tulisan di permen itu bertulis.

__ADS_1


" Anything for you "


Achi langsung tertawa.


" Yaelah... Fariz kita kan udah ga jamannya kuliah lagi... atau SMA ... kok masih lebay...". Achi tertawa.


" Nah akhirnya kamu tertawa, Aku pasti akan memberikan apapun untuk mu Chi....". Jawab Faris tersenyum.


" Apa sih kamu membuatku malu saja... ya sudah aku mau ngajar dulu. Nanti jumpa lagi...". Achi melambaikan tangannya.


Fariz membalas dengan senyuman. Meskipun ia serius Achi hanya menganggap kan nya candaan. Ia merasa lebih jauh dengannya saat ini, meskipun mereka sering bertemu. Gadis yang disukainya sejak semasa kuliah itu rupanya masih terikat dengan masa lalunya sejak lama.


" Andaikan saja aku menembak mu dari dulu... apa kamu akan menjadi kekasihku sekarang Chi ... atau kamu masih tetap melihatnya walaupun sudah jadi kekasihku " Batin Fariz.


Bel pulang berbunyi . Achi duduk di tepat parkir menunggu seseorang.


" Nunggu siapa Chi perlu kuantar...? ". Tanya Fariz yang datang ke parkir itu dengan motor Metik yang dikendarainya.


" Ah... tidak... makasih Riz... aku dijemput Zura... Takutnya nanti kalau pulang bersamamu dia akan berfikir aneh-aneh lagi. Haha...". Jawab Achi dengan. tawa bodohnya itu.


" Oh begitu ya... baiklah... tapi kalau dia lama jemput, kamu telpon aku aja , ntar aku kembali...". Jelas Fariz.


" Haha... baiklah...". Achi dan Zura saling melambai. Tiba-tiba ada panggilan telepon masuk. Achi pikir itu Zura. Namun Zura masih di tempat kerja tapi ia juga sedang bersiap untuk pergi menjemput tunangannya. Nomor itu adalah nomor baru. Achi langsung mengangkat telepon itu .


" Ass... Halo... ini siapa...?". Tanya Achi.


" Ws... Apa ini Achi..?!". Jawab seorang perempuan melalui telepon itu.


" Iya betul, saya sendiri...". Jawab Achi.


" Bolehkah kita bicara sebentar, aku Viona... Tunangan Zura.". Seketika telinga Achi seperti berdentang dilempar besi. Jantungnya langsung berdetak sakit. Tapi ia mencoba tenang.


" Iya... kamu sekarang dimana...? biar aku datang ke tempatmu...". Jawab Achi.


" Ok , terima kasih Achi aku ada di cafe Bunga tempatnya di jalan Merpati jalur x ." Jawab Viona.


" Baik, Aku akan kesana, aku akan meneleponmu ketiak sampai." . Jelas Achi .


" Baik, terimakasih...". Jawab Viona singkat.


Achi langsung mencari ojol, Ketika itu Ami melihatnya.


" Lho Chi mau kemana...?!". Ami penasaran.


"Maaf mi... nanti kita bicara lagi...!". Jawab Achi langsung pergi dengan ojolnya


Tak lama Zura datang, ia melihat Ami masih di parkiran menunggu adik perempuannya. Luna sepangkatan dengan Aji adik Sepupunya Achi.


" Hei Mi.. Kucing kecil ku mana...?!". Tanya Zura lantang.


"Yaelah... akrabnya kalian... Achi tadi buru-buru pergi dengan ojolnya tuh kearah kiri...". Jawab Ami.


" Oh... ok makasih...". Jawab Zura langsung menyusul pergi.


" Yaelah... Gitu aja langsung disusul... padahal cuma tunangan palsu tapi layaknya melebihi suami istri...". Gerutu Ami.


Zura langsung mengikuti Achi dari belakang dengan motor Vixion nya , tanpa Achi sadari . Achi berhenti di suatu tempat, hal itu membuat Zura penasaran. Zura lebih memilih mengikuti Achi secara diam-diam ke mana kucing kecilnya pergi, ini mengingatkannya pada sesuatu. Zura melihat Achi gak terkejut melihat seorang gadis yang masih sebaya dengannya itu. Achi tersenyum sedih. Itu membuat Zura merasa tidak bahagia.


" Kenapa kucing kecilku sedih... tunggu sepertinya aku mengenal gadis itu... muka. nya cukup akrap...". Batinnya


" Akhirnya kamu datang juga Chi...". Ucap gadis itu.


" Iya... sudah lama tak jumpa Viona....". Jawab Achi.


Mendengar kata itu kuping Zura berdenging dengan keras.


" Ah... begitu ternyata... dia adalah Viona tunangan Asliku..."


.


.


.


To be continued. 😰😢

__ADS_1


Bagaiman kelanjutan kisah Zura dan Achi. Jangan lupa baca terus Hate A boy But He Love Me. Like, support dan coment nya juga di tunggu Lo... untuk menambah perkembangan cerita selanjutnya.


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca. Sampai jumpa👋🐼


__ADS_2