Hate A Boy But He Love Me

Hate A Boy But He Love Me
chapter 15


__ADS_3

Bolehkahal aku mengatakan sesuatu


Yang sangat aku sukai


Ketika aku berharap berjumpa denganmu


Tuhan selalu mengabulkannya


Entah itu takdir kita yang sudah terikat


Atau kebetulan yang sedang lalu


Tapi aku benar-benar bahagia


Walaupun aku selalu menyangkalnya


.


.


.


.


.


Achi memandang gadis berambut pendek sebahu itu parasnya ayu, kulitnya kuning Langsat dengan tubuh tidak gemuk atau kurus, Menyuguhkan senyum pada Achi. Achi membalasnya dengan senyum sedih. Zura melihatnya dari balik dinding di pintu masuk dan memesan tempat duduk strategis dimana ia bisa mendengar percakapan dua gadis itu tanpa ketahuan.


" Kamu bisa pesan minuman, biar aku bayar karena udah mau jauh-jauh datang kemari...". ucap Viona.


" Tak perlu... aku sudah makan banyak waktu di sekolah tadi...". Jawab Achi.


"Oh ok baiklah... kamu enak ya Chi masih muda udah jadi PNS, Aku hanya kerja bareng bibiku buka salon Ama butik aja...". Jelas Viona.


" Haha... tidak juga kok... setiap pekerjaan itu kan ada sulitnya... To the pint aja kak... kakak memanggil ku kemari pasti ada penting kan... Mengenai Zura. ". Achi bernada sedih namun tetap tersenyum Zura yang ikut mendengarkan pun ikut sedih. Viona langsung kaget.


" O..oh... itu... Kamu udah tau ya... Aku mendengar kamu pura-pura jadi tunangan Zura... bagaimana bisa...". Viona merasa kecewa.


Ia ingat saat dimana ia bersama Zura, ketika itu mereka tidak sengaja melihat Achi berboncengan dengan adiknya Aji. Hanya saja Achi tak melihat. Zura terus memandangi Achi yang tertawa lepas, Ia hanya tersenyum sedih.


" Demi penyembuhan Zura... sejak dia melihatku... dia mengira aku adalah tunangannya... karena kecelakaan itu, keluarganya memintaku merahasiakannya...". Jelas Achi.


" Lalu kamu, kamu suka rela menerimanya... Bukannya kalian dari dulu udah bermusuhan... kenapa bisa... apa jangan-jangan kamu su..". Viona


" Ngga... keluarganya menawarkan sesuatu yang tak bisa ku tolak...". Achi langsung memotong pembicaraan.


" Apa itu...?". Tanya Viona penasaran.


" Maaf kak... kalau itu aku ga bisa bilang..., sebelum permisi dengan keluarganya...". Jawab Achi sedih.


" Kudengar juga kalian tinggal bersama, apa kalian melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan mereka, seperti layaknya orang pacaran...?!". Tanya Viona panik dan takut. Achi langsung menunduk, mengingat semua yang terjadi padanya selama ia bersama Zura.


" Tidak... Zura pemuda yang baik... ia hanya menyuruh aku tinggal bersamanya agar dia ga kesepian saja, kami memang serumah... tapi tak pernah melakukan apapun...". Jawab Achi.


" Kamu berbohong kucing kecil, kenapa kamu ngga jujur saja. Bahkan bukan hanya tidur bersama, Kita sudah berciuman berulang kali ". Batin Zura sedih.


"Ah... syukurlah... memang Zura seperti itu... dia memang tak mau menyentuh orang yang bukan kekasihnya... apa lagi kalian kan sudah bermusuhan sejak dulu... udah ada kontak batin paling... saling ngga sukanya...". Ujar Viona sedikit meremehkan sambil menggerakkan alisnya.


" Haha... mungkin juga...". Jawab Achi singkat. " Dan kakak, bukannya kakak adalah tunangannya mengapa saat kecelakaan kakak tidak ada disampingnya...? apa yang terjadi kenapa Zura sampai terluka...?! ". Tanya Achi santai. Itu membuat Viona mengerutkan keningnya. Zura mendengarkan setiap ucapan itu baik baik untuk mengetahui niat Viona.


" Hari itu.. Sebenarnya ada kesalah-pahaman ketika aku bersama seorang pria dan aku ngga tau kenapa Zura bisa ada di sana. Mereka bertengkar lalu terjadi kecelakaan.". Jawab Viona, Achi hanya memakluminya Zura memang pemuda yang gampang meledak.


" Aku juga berniat kembali... ! Jika waktunya sudah tiba dan keadaan sudah sedikit tenang... aku akan jelaskan semuanya pada keluarganya... dan juga pada Zura. Aku cinta padanya!". Jelas Viona , kata-kata itu membuat Zura dan Achi merasa sakit hati seketika.

__ADS_1


" Jadi Achi, kakak mohon bisakah kamu kembali ke tempat awal... bukanlah dari awal kalian sudah tidak cocok... tidak mungkin kalian bisa saling mencintai kan...". Tegas Viona .


Achi terdiam, Zura menantikan apa yang akan di jawab Achi. Jantung Achi berdetak nafasnya terasa sesak, tenggorokannya bagai di cekik membuatnya susah untuk bicara.


" Apa... kamu berangsur-angsur menyukainya karena beberapa waktu tinggal bersama...?!" Tanya Viona memastikan. Achi menarik nafas dan berusaha mengatur ucapannya agar tidak ada kesalahpahaman .


" Mungkin... Mungkin aku menyukainya seperti yang kakak katakan, kami memang sudah beberapa waktu tinggal bersama... tapi.. melihatnya yang mengkhawatirkan aku setiap saat, menjagaku setiap saat aku sudah menganggapnya sebagai Kaka sendiri... Mungkin karena dia menganggap ku ini adalah kakak, aku tahu tempatku dimana... aku kan hanya tunangan pura-pura nya.". Ucapan Achi sangat sedih , ia berusaha tetap tegar menahan air matanya.


Walaupun Viona tahu kalau Achi sedih, ia merasa lega dan puas mendengar kata-kata itu. Lain halnya dengan Zura, ketika dia mendapatkan pernyataan itu kepalanya terasa sakit sekali. Hingga ia tak bisa menahannya, jantungnya terasa perih, ia memukul dadanya berulang kali, sambil meminum air. Pelayan cafe jadi khawatir melihat Zura .


" Jangan katakan apapun lagi kucing kecil... aku ngga ingin mendengarkan kebohonganmu melebihi ini..."


" Jika waktu yang kakak bilang sudah tiba dan mengakui semuanya pada Zura ataupun keluarganya..., aku dengan lapang hati pasti akan kembali ke tempatku kok... toh aku juga punya pacar... sebenarnya situasi ini membuatku susah...". Timpal Achi sambil tersenyum . Viona terkejut mendengarnya. Zura semakin kehilangan kesadarannya hidung dan telinganya terasa panas sehingga mengeluarkan darah segar, karena ia belum pulih betul dari kecelakaan lalu. Kata-kata itu mempengaruhi saraf otaknya.


" Mas... mas!!! kamu kenapa tolong... ada yang bisa bantu... ada seseorang yang sakit disini!!!". Teriakan wanita pelayan cafe itu. Hal itu menjadi sorotan semua orang yang ada di cafe. Achi bergegas melihat, feeling nya merasakan ia harus melihat seorang pemuda itu. Zura menghempaskan tangannya menyuruh pelayan itu pergi meski pelayan itu ingin menolongnya.


" Lepaskan aku bisa jalan sendiri...!". jawabnya kasar. Karena takut pelayan itu menjauh. Ia bersandar ke dinding berjalan menopang tubuhnya pergi, Achi melihat langsung dan kaget kalau itu Zura. Achi langsung berlari dari arah depan Zura akan pergi. Zura melihat wajah kucing kecilnya yang panik, sambil meneteskan air mata langsung berlari memeluknya. Zura langsung terjatuh sambil ditopang Achi yang memeluknya.


" Zura... apa yang terjadi... kenapa kamu disini... kenapa kamu harus berada di sini... ada darah... ada darah di hidung dan telingamu...". Rintih Achi sambil menangis mengelap-elap darah yang keluar itu. Zura semakin kehilangan kesadarannya ia samar-samar melihat Achi meneteskan air mata yang jatuh ke wajahnya.


" kucing kecil aku... lagi-lagi aku membuatmu menangis lagi..."


Zura menyentuh pipi Achi dengan lembut dengan tangannya.


" Kucing kecil, lihat wajahmu jadi jelek lho... jangan menangis... aku tidak apa-apa...". Jawab Zura lembut. Zura menutup matanya badannya mati rasa , dia tak sadarkan diri. Hal itu membuat tangis Achi pecah dikerumuni orang-orang.


Viona yang sengaja mengulur waktunya melihat situasi itu, menjadi panik dan curiga. Ia berfikir tidak mungkin tidak terjadi apa-apa diantara keduanya melihat reaksi mereka. Ia mencari cara. Ketika melihat bala bantuan datang, Viona langsung menyusul mereka.


" Pak tolong tunangan saya...!!! tolong dia... dia pingsan...!!!". Rintih Viona dengan menangis. Hal itu memecahkan perhatian


" Kamu tunangannya, apa yang terjadi kenapa bisa seperti ini...?". Ucap Bapak itu dan beberapa bala bantuan lain yang segera ke tempat Achi dan Zura untuk menolong Zura.


" Beberapa waktu lalu, dia terkena kecelakaan, di bagian otaknya akibat ditabrak mobil, mungkin hal itu yang membuatnya pendarahan lagi...!!!". Jawab Viona terisak.


" Saya punya mobil pak..., pakai mobil saya saja ke rumah sakit....". Jelas seorang pemuda.


" Tolong dia pak... tolong dia....!!". Achi merasa lemah sambil memeluk Zura.


" Baik... baik pasti kami tolong, mbak ini siapanya..?". Tanya Bapak itu.


" Sudah tak ada waktu lagi pak, lebih baik menolong tunangan saya sebelum ia kehilangan banyak darah...!". Jelas Viona, yang sengaja menyudutkan Achi. Bapak itu dan bala bantuan lain segera membopong Zura menuju mobil bersama Viona . Achi hanya tertegun tak bisa melakukan apapun mendengar kata "TUNANGAN" dari Viona yang memang tunangan asli Zura, membuat ia mati rasa seketika.


Ditengah hiruk pikuknya orang-orang di cafe itu, ia terhanyut dalam dunia kelamnya. Tapi ketika membayangkan Zura yang kesakitan itu ia bergegas pergi. Ia melihat mobil yang di kendarai Zura bersama Viona sudah pergi, Achi melihat kunci motor Zura yang terjatuh lalu dibawanya tadi. Lalu menyuruh seorang pemuda dan meminta tolong untuk mengantarkannya mengikuti mobil itu. Sesampainya di sana, Achi menelepon ibu Zura yang tengah bercengkrama dengan cucunya itu.


" Iya nak Achi , ada apa menelepon ibu... apa kalian baik-baik saja...?!" Tanya ibu Sena.


" Ibuk maaf... Zura mengalami pendarahan di hidung dan telinganya, kami sudah ada di rumah sakit ss. Tolong Bu... tolong segera kemari... tolong lihat Zura...". Jelas Achi panik, ia tak tahu lagi apa yang ingin diucapkannya.


" Apa..! baiklah nak... kamu jangan panik tetap berada di sana sampai kami tiba nak... Jangan panik kami akan kesana secepatnya!.". Jawab ibu Sena yang khawatir.


Achi mengucapkan terimakasih sambil terisak dan segera menyusul Zura.


Setibanya di sana. Achi melihat Viona yang ada di dalam ruangan UGD.


" Pasien mengalami geger otak, segera lakukan pemindaian CT ". Tegas dokter pada bawahannya. Hal itu membuat Viona kaget serta Achi yang mendengarnya dari luar ruangan. Achi menunggu sampai keluarganya datang. salah satu perawat keluar dari balik ruangan itu setelah beberap jam.


" Buk... bagaimana keadaan Zura...?". tanya Achi.


"Maksudmu pemuda yang ada di dalam, dia kehilangan beberapa darah waktu menuju kemari.. untung saja tunangannya punya darah O+ yang sama dengannya.., mbak siapanya tidak masuk...?" Tanya perawat itu. Achi menoleh dan melihat Viona yang memegangi jari tangan Zura dan sesekali mencium tangannya. Achi tersenyum sedih.


" Saya hanya temannya.. mereka mungkin tidak ingin diganggu, saya menunggu di luar saja...". Jawab Achi.


" Mbak orang yang baik ya... saya melihat mbak bahkan tidak mencuci darah yang ada di tangan mbak dan menelpon keluarga pasien kan..". Perawat itu. Achi hanya tersenyum.

__ADS_1


Keluarga Zura datang dengan panik, Achi langsung menunjukkan ruangan itu. Alangkah terkejutnya mereka melihat Viona ada di dalam.


" Kenapa Viona bisa ada di sini...?!" tanya Adi, melihat keluarganya masuk ke dalam. Ia tertahan dengan raut wajah Achi yang sedih.


" Dia meneleponku mas, Lalu aku menemuinya, kami berbicara dan aku ngga tau Zura ada di sana juga... bodohnya aku... padahal Zura masih sakit...". Jelas Achi menyalahkan dirinya.


" Jangan begitu... ini sudah takdir dia harus mengalami ini semua, ayo masuk kedalam...". Pinta Adi.


" Maaf mas.. aku mau keluar sebentar... ingin cari angin... perawat yang bicara dengan ku tadi bilang Zura sudah ditangani dengan baik juga berkat Viona, aku tahu sedikit banyak kalian juga marah padanya.. tapi jangan terlalu keras.". Pinta Achi.


" Aku tahu... jika kamu ngga ingin ke dalam aku ngga memaksamu dik... ini ada uang belilah sesuatu.. kamu pasti juga capek kan berjaga...". Ujar Adi .


" Eh ngga usah mas... aku ngga apa-apa..". Ucap Achi .


" Jangan menolak kamu sedih kan ... tenangkan dirimu dulu... nanti kalau sekiranya udah baikan, kembali kemari. Adik kecilku yang bandel itu, pasti ingin menemuimu... " . Jelas Adi tersenyum lembut.


" Haha ... iya.. aku pasti kembali, aku akan menerima ini mas... terima kasih...Oh iya ini kunci motor Zura". Jawab Achi sambil mengambil uang 100rb itu dan mengembalikan kunci, Adi mengambil kunci itu. Achi pergi dengan bersedih. Adi sebenarnya sangat khawatir, namun ia tak bisa melakukan apapun.


Achi keluar dari ruangan rumah sakit itu, Ia melihat langit yang mendung , perlahan menimbulkan rintikan hujan.


" Lihatlah... bahkan kamu juga mendukung kesedihanku...".


Achi melihat seorang tukang ojol berbicara dengan seseorang di telepon.


" Tidak jadi gimana sih mbak... Padahal saya sudah membatalkan mengantar seorang mbak-mbak . Karena mbak jemputan tetap saya...!". Jelasnya. Beberapa menit kemudian bang ojol itu mematikan telepon sambil menggerutu. Achi langsung datang menemuinya.


" Mas boleh antar saya ke suatu tempat...?!". Tanya Achi.


" Oh boleh mbak kebetulan saya ngga narik... tapi apa ngga sebaiknya kita pergi nanti saja mbak nampaknya mau hujan...". Jawab bang ojolnya.


" Saya ada keperluan penting mas...". Jawab Achi sambil memelas.


"Ok mbak kalau gitu kita pakai mantel saja..". Jawab bang ojol. Kemudian mereka pergi . Achi melihat mushala yang sepi, lalu menyuruh bang ojol itu berhenti dalam hujan yang makin deras. Karena ada panggilan lain yang mengharuskan bang ojol itu pergi untuk mendapatkan uang, ia berpamitan dengan Achi. Meskipun bang ojol itu tau gadis yang dilihatnya sedang tak baik-baik saja, dengan senyum paksa itu.


Achi langsung masuk ke mushala ia tak kuat menahan tangisnya. Ia duduk sambil menghapus air matanya, tapi ketika melihat darah Zura yang masih sedikit melekat di tangannya ia menangis lagi, dengan memeluk jari tangannya. Achi hingga tak sadar ada yang datang di tengah hujan itu.


" Duh hujan... sial basah lagi... kemana perginya dia... udah di cari ke tujuan tapi malah ngga ada di tempat... sama seperti biasanya... !". Celoteh seorang pemuda berperawakan jangkung dengan kulit Sao matang itu. Ia mendengar suara tangis, dan berasumsi kalau itu shaiton. Namun tak mungkin kan... Ia lalu melihat seorang gadis sedang menangis di tengah derasnya hujan itu. Tak ada orang sama sekali karena hujan, padahal waktu sudah menunjukkan waktu sholat.


Pemuda itu memperhatikan gadis itu dengan seksama ketika masuk, bahkan gadis itu tak menyadarinya. Pemuda itu mengerutkan kening karena sepertinya ia mengenal gadis itu, ia mendekatinya.


" Mbak Achi ... mbak kah itu... kenapa menangis disini...?!". Ucap pemuda itu , menghentikan Achi yang hanyut dalam tangis di tengah hujan. Achi lalu menoleh ke arah pemuda itu.


" Eh... kamu...?!". Jawab achi.


.


.


.


.


To be continued 😰😭😭


Bagaimana kisah selanjutnya...? Baca terus Hate A Boy But He Love Me ya...


Jangan lupa like, support dan coment nya ya...πŸΌπŸ‘‹


Ulasan


Boleh tau ngga...komen kakak-kakak dan kritik positif akan membantu kerajinan saya menulis cerita. Asal itu positif kritik juga tidak masalah bagi saya.


Oh satu lagi lupa 🐼 Saya pribadi sangat berterima kasih pada kak @Zahira Vini yang sudah bersedia meluangkan waktunya mengomentari cerita yang saya buat.. saya senang sekali😊 rasa dapat kawan ngobrol tentang dua bintang utama anak saya yang saya ciptaan ( Zura dan achi ) juga tokoh lainnya. Pokoknya terima kasih banyak atas like dan supportnya. Dan juga teman-teman dan kakak-kakak lainya yang me like cerita saya yang saya tidak ketahui... saya sangat berterima kasih sudah membaca karya pertama saya sampai di tahap ini. Walau saya banyak salah ketik dalam penulisan saya, saya minta maaf dilain waktu jika saya punya waktu luang saya akan perbaiki ulang. Saya juga amat berterimakasih pada pihak mangatoon, sudah mau meluluskan karya saya yang masih terbilang amatir ini. Kedepannya saya akan berusaha membuat karya yang lebih baik , penataan kata yang baik dan jelas 😣 saya pasti akan berusaha!!! 😣😣😣. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita dan ulasan sayaπŸ˜ŠπŸ€—πŸ‘‹.

__ADS_1


__ADS_2