
Mengapa ketika aku berusaha menjauhimu
Dirimu berusaha untuk masuk ke ruang hatiku
Disaat yang tepat ketika hati kecilku juga sedang lara...
.
.
.
.
Zura dan Achi saling menatap sedih satu sama lain. Zura tidak tahu harus bilang apa. Achi yang melihat raut wajah Zura yang kecewa dengan tindakan dirinya, lalu angkat bicara.
"Zura... kenapa kamu pulang hujan-hujanan, kenapa tidak memakai pay...". Achi.
"Diam... ! mengapa kamu selalu membuatku khawatir... Bukankah kamu punya Hp...! Kenapa tidak menghubungi ku , mengapa memberanikan diri dirumah sendiri. Padahal kamu ketakutan seperti itu... lalu apa gunanya aku sebagai tunanganmu ini. Kamu tahu aku paling benci.... orang yang berpura-pura kuat memikul bebannya sendiri...". Jelas Zura menunjukkan nada kecewanya. Mendengarkan hal itu achi hanya mengepalkan dua tangannya dengan memegang selimut.
Ia ingin menjawab tapi takut kalau-kalau ucapannya hanya akan memicu Konflik antar mereka. " Maaf... aku egois... aku janji tidak akan seperti ini... ". Jawab Achi sambil tersenyum sedih. Melihat wajah Achi , Zura merasa bersalah dengan ucapannya.
"Sudahlah.. aku capek... aku ingin mandi... kamu juga segeralah tidur... bukannya besok kamu juga mengajar...". Zura bernada lembut. Achi hanya mengangguk sambil tersenyum. Zura mengambil handuk melewati kamar Achi yang berada di belakang, cahaya lorongnya agak gelap terlebih hujan deras. Satu-satunya lampu yang memiliki wath yang terang hanya kamarnya, kamar Achi, dapur dan ruang tamu. Sedang lorong hanya dapat pencahayaan dari tiap ruang itu.
Zura yang langsung menyadari itu hanya bisa bungkam, dia ingin minta maaf, namun itu adalah satu-satunya cara yang terfikir olehnya untuk menjauhkan Achi.
"Maaf gadis kecil, aku berkata seperti ini juga untuk kebaikanmu... aku tak ingin hilang kontrol dan menghancurkan mu "
Achi juga sedikit banyak tahu, kalau mungkin Zura sedikit-sedikit ingatannya mulai pulih, Makanya sehari ini Zura banyak menjauhi Achi. Zura merasakan kalau badannya panas, sepertinya pulang ditengah hujan bukan hal yang baik, tapi kenapa dia ingin cepat pulang tanpa menghiraukan Ivas saat menyuruhnya membawa payung. Zura berfikir mungkin karena ia sering bersama Achi sehingga ia merasa dekat bagai saudari sendiri.
Setelah selesai mandi , Zura yang hanya mengenakan handuk itu, melihat Hp Achi berbunyi dalam kamar yang tak tertutup . Ia melihat siapa yang menelpon, ternyata itu Fariz. Zura yang merasa kepalanya pusing karena terkena demam, hawa tubuhnya makin panas saja melihat siapa yang menelepon. Ia berjalan ke ruang tamu dan melihat Achi sedang memeriksa Pr murid-murid yang belum di periksa. Hp itu masih terus berdering, Achi juga tahu kalau itu nada dering Hp nya. Zura langsung duduk di sofa berhadapan dengan Achi yang ada di depannya. Ia hanya diam sambil melihat Hp. itu, Achi penasaran siapa yang meneleponnya di tengah malam, mengapa Zura hanya melihatnya dengan tampang kesal di wajahnya. Zura langsung melirik dengan tajam pada Achi yang tak tahu apa-apa.
" Angkat...!". Jelas Zura kesal sambil menyodorkan Hp itu. Achi mengambil Hp itu tapi Zura langsung menjauhkan Hp nya dari tangan Achi seraya bermain-main.
" Zura... jangan seperti anak-anak... kamu kan menyuruhku mengangkatnya, kenapa sekarang menjauhkannya..?! siapa yang menelpon.. ". Jelas Achi sambil membuang mukanya dengan malu, ia tak sanggup melihat dada bidang pemuda itu. Zura tersenyum jail.
"Akan ku berikan, tapi kamu duduk di sini... ku lihat ada 8 panggilan tak terjawab, sudah kamu lewatkan... sepertinya itu pesan penting...". Jawab Zura sambil menunjukkan pangkuannya agar Achi duduk di pangkuannya.
" Benarkah?!!! dari siapa sih sebenarnya... ? kenapa berbelit-belit. Cepat berikan padaku Zura... biar aku bisa mengangkatnya... seperti katamu kan... mana tau penting...!!". Jelas Achi ingin sambil melangkah mengambil Hp itu. Namun dengan cerdiknya Zura memindahkan Hp itu dari satu tangan lainnya sehingga Achi kesulitan.
" Oke-oke begini saja, kamu mau duduk di pangkuanku atau Hp mu ga akan ku berikan selama seminggu...". Jelas Zura.
" Sudahlah jangan seperti anak-anak, kembalikan Hp nya...!!!". Bentak Achi, Zura langsung menangkap tangan Achi dengan tangannya, lalu melihat Achi dengan serius. Achi menjadi takut, sepertinya kata-kata Zura memang bukan candaan.
" Baik... tapi jangan melakukan hal yang aneh-aneh padaku...". Tegas Achi , Zura hanya mengangguk. Hp itupun di berikan ke Achi, melihat siapa yang menelpon Achi ragu untuk mengangkat nya.
" Kubilang kan angkat saja~". Zura kesal, Ia langsung memeluk gadis itu di pangkuannya.
Achi menahan dahaganya dengan takut. Sepertinya Zura akan menjahilinya sama seperti waktu itu. Achi merasa ada tatapan iblis yang membuat hangat punggungnya. Ia mengangkat telepon itu.
" iya Fariz ada apa...?!". Jawab Achi. Zura hanya mendengarkannya dari belakang.
" Achi... kamu dimana sekarang, hujan ini deras sekali... apa dia ( Zura ) ada disana... apa perlu aku datang menemanimu...?". Beberapa pertanyaan itu datang pada Achi yang kebingungan menjawab.
" Ah itu... ". Achi.
" Untuk apa kamu datang~ aku kan selalu ada bersamanya..". Jawab Zura santai sambil mendekatkan wajahnya ke telepon yang Achi letakkan di telinganya.
"Sudah ku bilang diam sebentar!". Bisik Achi Jengkel menjauhkan Hp nya. Zura langsung cemberut melihat Hp itu.
" Kasar sekali omonganmu... aku kan hanya bertanya...". Tegas Fariz dari telepon.
__ADS_1
"Maaf Fariz , aku baik-baik saja kok, ukh...". Zura menggigit leher bawah Achi tiba-tiba seperti sengatan semut.
" Hei ada apa sepertinya kamu kesakitan ...?!!". Tanya Fariz lagi di dalam telepon.
" Maaf Fariz aku ukh... ( Zura menggigit lagi) aku sedang sibuk... nanti..!!!". Achi panik dan mematikan teleponnya.
" Kamu ngga menepati janjimu... Pembohong!!!". Bentak Achi ia ingin pergi tapi Zura menahannya dengan kuat.
"Menyebalkan ~". Zura mengatakan dengan lirih dan menempelkan dahi nya ke bahu Achi . Achi langsung kaget merasakan badan Zura yang panas.
" Badanmu panas Zura... Kamu demam.. kenapa gak bilang dari tadi... kalau tidak kuat dengan hujan, kenapa nekat pulang... kamu bilang tidak suka orang yang berpura-pura kuat dan memikul bebannya sendiri... bukannya kamu juga sama...". Tegas Achi meluapkan kekesalannya dengan ucapan Zura tadi. Zura hanya diam.
" Aku... aku hanya takut, ntar kamu kenapa-kenapa kalau aku tidak pulang cepat...". Jelas Zura Tenganan terbatuk-batuk. Badannya benar-benar panas.
" Bukannya kamu sendiri yang menghindariku, bahkan pulang untuk makan pun ngga... kenapa ngga... ". Lugas Achi.
" Maaf...". Jawab Zura singkat dan lembut.
Kamu benar-benar bisa membuat hatiku luluh hanya dalam hitungan detik
" Lepaskan aku...!". Ucap Achi sebal.
" Ngga mau~". Jawab Zura manja.
" Kalau kamu ngga mau, bagaimana aku mau mengambil kotak obat di kamarku...!!!". Bentak Achi. Zura lalu melepaskan rangkulannya.
Achi langsung mengambil kotak obat di kamarnya, sambil mengambil air. Kemudian ia duduk kembali di samping Zura.
" Mengapa repot-repot, sehari atau 2 hari istirahat aja sembuh kan... lagian ini hanya panas biasa.". Ucap Zura masih kesal dengan kejadian tadi.
" Jadi kamu tidak ingin minum obat yang ku bawa...? masih marah ya...". Jelas Achi dengan tatapan kecewanya.
" Ya sudah...! aku pergi saja...! besok kan waktunya mengajar!". Jelas Achi dengan sebal. Ia langsung pergi tapi Zura langsung memegang tangannya.
" Mau kemana... iya aku memang marah, apa kamu ngga bisa menghiburku sedikit. Sudah jelas kamu bicara dengan laki-laki lain, di depan tunanganmu. Kamu malah bersikap biasa saja. Siapa yang tidak marah.". Jelas Zura. Melihat muka Zura, dengan nada bicaranya yang sedang cemburu, Achi ingin menahan tawanya karena lucu. Ia melihat sisi Zura yang sedang sakit seperti anak-anak.
" Jadi kamu mau minum obatnya kan...?". Tanya Achi. Zura hanya mengangguk, Achi duduk kembali di sampingnya. Beberapa menit berlalu Zura terlihat urang-uringan meminum obat itu.
"Kenapa hanya minum air saja dari tadi...?! bukannya di minum semakin sama obatnya...". Celoteh Achi jengkel.
"Ntar dulu... tenggorokanku masih kering... kalau aku minum obatnya langsung nanti tersedak.". Jawab Zura. Karena tidak sabaran Achi malah menelan beberapa butir obat untuk demam itu. Lalu meminum airnya.
" Hei kenapa malah kamu yang minum obatnya, kamu kan gak sa...". Ucapan Zura terhenti langsung karena Achi spontan menciumnya. Achi langsung menyalurkan obat yang ia telan ke mulut Zura melalui ciuman mereka. Zura langsung menelan obat itu tanpa penolakan. Achi langsung menghentikan ciumannya ketika obat itu sudah masuk.
" Kalau begini kan beres...". Jelas Achi sambil tersenyum dengan bodoh karena malu ia langsung berdiri. Lagi-lagi Zura menarik tangannya dengan paksa. " Hei bisakah kamu menarik ku pelan-pelan saja ini sakit Zura.". Jelas Achi sambil menoleh ke arah Zura. Zura tidak menghiraukan ucapan itu, Zura langsung mengecup bibir Achi. Zura kemudian melihat dengan lembut.
" Hei... apa yang kamu lakukan sih...?". Achi kaget dia 2 kali mengedipkan matanya melihat Zura.
" Obatnya belum benar-benar masuk... aku butuh sterilisasi...". Jawab Zura dengan lembut.
"Hentikan Zura... jangan menunjukkan Muka anjing kecil yang sedang memelas itu... kalau seperti itu aku ngga bisa menolak...". Batin Achi.
Zura mendekatkan wajahnya ke wajah Achi di sofa panjang yang sedang mereka duduki . Achi mendorong tubuhnya ke belakang dengan tumpuan tangan kanannya. Tapi karena gugup ia tidak kuat menahan tubuhnya sendiri. Achi hampir mengantukkan kepalanya ke sofa itu, spontan ia langsung memejamkan matanya. Tapi Zura langsung melindungi kepala Achi dengan tangan nya dengan cepat.
Achi membuka matanya lagi karena tangan Zura yang melindungi kepalanya. Zura hanya tersenyum, ia lalu memejamkan matanya.
"Posisi ini...!!! ngga baik... hentikan Zura... kamu harus berhenti...!!! " Batinnya.
Ia menahan badan Zura. Zura melihat Achi dengan kecewa. Entah kenapa hal itu membuat Achi juga sedih. Zura menoleh ke arah lain.
" Zura tidak apa-apa.". Ucap Achi lembut.
__ADS_1
" Tapi... aku ngga mau memaksamu lagi...". Jawab Zura dengan lembut pula.
" Tapi... Tapi aku juga menginginkannya, kalau ditularkan bukannya kamu bakal cepat sembuh.". Achi beralasan dengan raut wajah sedihnya. Hatinya bergemuruh serasa ditusuk-tusuk.Begitu pula Zura.
"Bodoh... kalau kamu bilang begitu, aku jadi ngga bisa menahannya. Kali ini aku ngga akan minta maaf... Kamu yang memintanya...". Jawab Zura dengan lembut. Achi hanya mengangguk, mereka pun berciuman. Bibir Zura terasa panas sekali karena dia sedang demam. Ditambah dengan hujan, Membuat gadis yang tak tahan dengan udara dingin itu merasa dihangatan dengan pemuda yang mendekap dirinya dengan status tunangannya itu.
Bibir gadis itu terasa manis bagi Zura, ia juga memakannya dengan senang hati karena gadis itu tidak melawan dan membiarkakan Zura melakukan yang Zura mau. Terlebih Zura sudah menginginkan untuk menyentuh gadis itu sejak lama.
" Ah... aku benar-benar menyukaimu sejak lama... kamu membobol penjara yang aku buat, untuk menghentikan perilakuku layaknya anjing ini. Kalaupun kamu hancur di tanganku, mari hancur bersama kucing kecil, aku tidak akan meninggalkanmu.".
Achi terengah-engah karena ciuman Zura membuatnya sampai tidak bisa bernafas. Zura langsung menghentikannya. Namun ia melanjutkannya ke bagian sensitif ke telinga Achi dan juga leher Achi.
" Henti... hentikan Zura...". Rintih gadis itu.
" Bukannya tadi kamu yang minta... kenapa minta berhenti... ". Jawab Zura lembut dan melanjutkannya. Achi langsung memegang pundak Zura. Tangan kanannya memegang rambut Zura.
" Aku salah... hentikan Zura... maafkan aku..". Pinta Achi dengan lembut. Zura langsung mencium rambut Achi yang tergerai dengan merebahkan dirinya ke tubuh gadis itu.
"Hihi... Wangi... ini menyenangkan sekali...". Jawab Zura nampaknya pengaruh obat sudah mulai membuatnya mengantuk. Karena Zura juga jarang meminum obat ketika demam efek obatnya langsung bekerja. Ia tak sadarkan diri di pelukan gadis itu.
" Zura...?! badanmu panas lagi... !!! Hei apa kamu mendengarku...?! Zura...!!! Kamu tidak tidur kan!!!." Rintih Achi sambil perlahan-lahan menggeser kan tubuh Zura yang bidang itu ke sampingnya, karena Zura tidak menjawab pertanyaannya.
Zura sadar tak sadar karena nemamnya semakin naik walau ia meminum obat. Entah itu karena demam atau karena kucing kecilnya yang mengejutkan nya, pastinya itu membuat Achi khawatir. Achi langsung mengambil kompres dengan air dingin. Keringat Zura banyak sekali, Achi berulang kali menghapusnya. Sesekali Zura juga mengigau meminta air. Achi menyuapinya dengan sendok karena Zura tak bisa bangun.
" Lihat begitu lemahnya dia ketika sakit... (tersenyum) tapi... sejak kapan juga aku sangat menantikan ia pulang seperti tadi, dan sejak kapan aku bisa menyerahkan seluhnya yang aku punya pada dia yang hanya tunangan palsuku. Sejak kapan aku bodoh, bukankah ini tidak baik , ini bukan yang aku inginkan kan...?"
Achi terus mengelap keringat Zura yang bercucuran itu. Hari semakin larut , karena ia tak kuat membopong tubuh Zura, Achi mengambil selimutnya. kemudian ia menyelimuti Zura.
" Jika sedang tidur... bukankah dia tampak tampan sekali... Apa aku akan mengambil yang seharusnya bukan punyaku...? Aku takut sekali..." Batin Achi melihat wajah Zura dari dekat sambil membelai-belai rambut Zura. Hari semakin larut, nampaknya demam Zura semakin menurun. Achi tak ingin meninggalkannya.
Ketika Zura terbangun dini hari karena tenggorokannya mulai terasa kering, ia melihat Achi yang ada di sampingnya duduk tertidur tangannya masih memegang handuk basah.
" Lagi-lagi kamu melakukan hal yang merepotkan karena aku." Batin Zura. Ia meminum air yang ada di meja depan sofa itu. Ia lalu menggendong Achi ke kamarnya meskipun kepalanya terasa pusing. Setelah menidurkan Achi di atas kasur Zura duduk sebentar, menghilangkan pusingnya.
" Zura jangan lupa minum obatnya, kalau ngga kamu ga akan sembuh...". Kata Achi ngelindur. Mendengar ucapan itu Zura langsung menoleh.
" kucing kecilku bahkan ketika tidur masih menghawatirkan orang lain...". Batin Zura. Zura bukan nya pergi malah membaringkan tubuhnya di samping gadis itu. Sambil memandangi wajah gadis itu dengan lembut.
"Zura jangan menarikku dengan kasar seperti itu...., Jahat... bajingan brengsek..!".Achi ngelindur๐ช lagi.
" Wah... lihat... dia malah menyebutku brengsek, dari dulu kamu memang ngga pandang bulu kalau mengata-ngatai ku ya๐...". Celoteh Zura dalam hati. Ia perlahan melihat tangan Kanan Achi. Pergelangan tangan itu masih berbekas berwarna merah karena Zura memegang nya terlalu kuat. Zura merasa bersalah dan mengelus elus tangan gadis itu.
"Aku janji akan hati-hati kedepannya...". Ucap Zura lirih.
Achi tersenyum entah apa yang ia mimpikan dalam tidurnya. Zura mengelus elus rambut Achi yang menutupi wajahnya. Karena ia ingin melihat wajah Achi. Zura melihat wajah Achi hatinya terasa tenang melihat gadis yang tidur lelap kecapean mengurusnya itu. Hingga ia lelah dan terlelap didampingi gadis itu.
.
.
.
To be continued
Selanjutnya ada kejutan besar...?!๐๐๐ฅ
Apa mereka bakal tetap mesra๐ค atau ๐
Nantikan episode selanjutnya di Hate A Boy But He Love Me. Jangan lupa support like a d coment nya ya... ๐ค๐ผ
See you next time ๐
__ADS_1