
Aku takut...
kejujuran ku bisa meruntuhkan tembok hati yang sudah ku tutup rapat...
untukmu.
Karena dia tidak bisa menjadi tameng pasti
Untuk melindungiku...
Dari jeratan rantai api cintamu
.
.
.
Ciuman yang dirasakan Achi makin sesak itu membuatnya hampir tidak bisa bernafas. Tubuhnya juga tak bisa melawan, ia memakai caranya sendiri.
"Ukh... sakit..." Rintih Zura. Bibirnya digigit. Ia melepaskan Achi. Lalu Zura masih melihat Achi dengan rona muka memerah itu sambil melihat kesamping dengan menutup mulutnya dengan tangan.
" Maaf.....". Achi mengatakannya sambil memejamkan mata. Zura tersadar, badannya lemas dan jatuh ke samping tubuh gadis itu.
" Sudahlah aku juga minta maaf...". Zura juga menutup matanya. Mereka menjadi canggung satu sama lain, menoleh ke arah berlawanan. Namun mereka juga membalikkan tubuh mereka lagi, dan memandang satu sama lain. Takut kejadian tadi terulang Achi langsung duduk, membuat Zura heran.
" Ahaha sepertinya aku harus memindahkan tugas penilaian hasil ulangan siswa ke buku nilai....". Achi terbata.
Ia ingin berdiri namun Zura menarik tangannya.
" Duh...". Rintih Achi. Zura langsung memeluk gadis itu dan menaruh kepalanya ke dada Achi.
" Besok hari minggu... jangan mencari alasan... bukankah kamu orang yang rajin.. kamu pasti sudah mengerjakannya kemarin." ucap Zura.
" Ta... tapi yang kamu lakukan ini berlebihan...". rintih Achi dengan malu, ia ingin melepaskan pelukan itu, namun pelukan itu makin kuat.
" Bukankah kita sudah bertunangan...?!". Zura lagi-lagi berkata hal yang sama sebagai alasan.
" Tapi... kalau posisi nya begini bukankah terlihat me...Me...s" Achi terbata-bata.
" Me...me... apa~". Zura jadi jail.
" Mesum bodoh!!! , sudahlah aku ingin tidur bukankah ibu bilang ini kamarku...! pergi ke kamarmu dong...". Achi mendorong Zura lalu membalikkan badannya. Namun Zura masih tetap menaruh tangannya melingkari pinggang gadis itu.
" Hei... perg...". Achi.
"Tidak mau... Bukannya ini rumahku... terserah aku tidur dimana...". Zura mengeluarkan mukanya ke kepala Achi.
" Dasar... Kamu bukan hanya mesum!!! tapi tidak bisa dewasa...". Achi kesal.
" Bukankah kamu juga suka aku yang seperti ini~". Ledek Zura.
" Sudahlah aku ingin tidur... kamu boleh memelukku kali ini. Tapi jangan melakukan hal yang aneh-aneh padaku lagi.. aku lelah...". jawab Achi jengkel.
" Kalau aku lakukan memang kamu mau apa...?!". Tanya Zura.
" Aku akan pergi lagi... di tempat kamu tidak bisa melihatku...". jawab achi. Kata-kata Achi membuat Zura terdiam. Namun ia tetap memeluk gadis itu dengan hangat. Zura diam cukup lama.
" Kucing kecil... apa kamu tidur...?!". Tanya Zura. Achi tidak menjawab. " Sebenarnya, kata-kata ayahmu ada benarnya... harusnya aku tidak egois membawamu... Aku seperti merantaimu disini... seharusnya aku juga memahami situasi mu... dan juga seharusnya aku juga tidak membuat tangan kirimu terluka (suara Zura agak bergetar seperti ingin menahan untuk menangis) Ini terlalu sulit... bahkan untukku sendiri... Jadi mohon.. mohon tunggulah sebentar lagi..." ucap Zura dengan nada berat dan lembut itu. Achi yang sedari tadi pura-pura tidur mendengar kata-kata itu menjadi tersentuh hatinya.
Achi membalikkan badannya ke arah Zura berpura-pura gerah. Zura melepaskan rangkulannya mendorong badannya sedikit ke belakang, melihat gadis itu tetap memejamkan matanya.
" Bantal... bantal guling ku dimana...?" pintanya seperti ngelindur. Zura langsung membalikkan badannya mengambil bantal guling yang ada di sampingnya itu. Namun tiba-tiba..
" Dapat.. hihi...". Ucap Achi sambil memeluk perut pemuda berbadan bidang itu.
Zura terdiam seketika.
"Iya aku akan mengingat kehangatan ini, ketika nanti kamu tidak bersamaku lagi Zura. sebagai kenangan manis hari esok". Batin Achi.
__ADS_1
Achi benar-benar tertidur dalam kehangatan. Tangannya kirinya yang memeluk zura, diangkat oleh pemuda itu lalu Zura membalikkan tubuhnya kembali ke arah Achi.
Zura memandangi Achi yang tidur. lalu ia ragu-ragu ingin membelai rambut gadis itu tapi hasratnya meluluhkan hatinya ia mendekap gadis itu ke pelukannya.
" Iya hari ini saja... hari ini... aku boleh melakukan apapun yang aku mau. Untuk hari ini.. aku tidak boleh merusak hati dan tubuh kucing kecil lagi. Aku sudah punya tunangan, entah ia baik atau tidak. Entah aku bersamanya nanti atau tidak. Aku tidak boleh melibatkan kucing kecil lebih jauh lagi dari ini. Walaupun nanti aku tak bersamanya... dia juga harus bahagia walau tanpa aku di dalamnya.". Batin Zura menguatkan tekat, dengan sedih sambil memeluk gadis itu.
Esok pagi ketika Achi bangun Zura sudah tidak ada, ia hanya meninggalkan memo kalau ia mendapat panggilan kerja dari saudaranya.
Siang Zura bahkan tak pulang seperti biasa. Achi khawatir, ia datang ke tempat kerja keluarga Zura. Lebih tepatnya di tempat Usaha yang dibuka Moran dan istrinya Ana.
Achi melihat Zura menotal seluruh buah sawit yang dimuat di mobil Prah seperti Puso itu. Ia juga membantu menaikkan beberapa buah.
" Lo tunangan kecil adikku datang..." ejek Ana ( istri Moran). Achi terkejut dengan kata-kata itu.
" Ah... maaf mengganggu kak...". jawab Achi.
" Ada perlu dengan Zura ya...?!, apa perlu Kaka panggilkan...?!". Tanya Ana.
" Ah itu... tidak usah kak.., aku hanya mengantar kan ini... ( memberikan makan siang ) ku lihat Zura tidak makan pagi tadi, titip ya kak...". Pinta Achi. Lalu pergi.
" Lo... ngga nunggu Zura dulu...?!". Tanya Ana lagi. Achi hanya menggelengkan kepalanya lalu pamit pulang, tanpa Zura tahu. " Wah... sampai perhatian ngantar bekal segala... padahal kan di sini Zura makan juga... toh aku kan kakak nya... jika diingat Vio( Viona) belum pernah begini...". Batin Ana.
Setelah selesai kerja .
" Zura... tunangan kecilmu mengantar ini nih...". Ana menunjukkan bekal itu sambil tertawa.
" Eh..., benarkah... dia mana...?!". Tanya Zura.
" Sudah pergi... mungkin Achi ada keperluan... tadi ia buru-buru...". Jelas Ana.
" Oh.... Baiklah." Jawab Zura singkat, sambil mengambil bekal.
" Loh... tumben... Bukannya kamu kemarin mencarinya sampe gila cinta ya... ada apa nih...? jangan bilang kamu sudah bosan, kamu kan udah memilihnya..!". Lugas Ana.
" Bacot ah... Kaka banyak cakap... aku mau makan bekal ini aja, jatah nasi bungkus ku Kaka kasih pekerja lainnya aja..." . Zura pergi mencari posisi yang enak untuk makan.
" Ya ampun.. Adik kecilku ini... kalau suka ya makan dirumah aja lah... kenapa dipaksain makan disini sih... mencurigakan...". Batin Ana.
" Hoi.. Zura... disini... duduk sebelah sini...!". Pintanya sambil menunjuk bangku yang kosong. Zura melambaikan tangan tanda menyapa.
" Yo Vas... lama ga lihat kamu sejak udah punya istri...". Ucap Zura sambil bersalaman sama Ivas.
" Iya nih... kandungan istriku makin besar Ra... jadi aku harus ekstra bekerja, mana tahu ntar bayiku lahir sesar...". Jawab Ivas.
" Wah... pandangan kamu jadu luas sekarang ya..., dulu padahal kamu suka main Ama gonta-ganti pacar Mulu... haha". Ejek Zura.
"Apa bedanya Ama mu Nyet...". Jawab Ivas.
"Oh iya bagaimana dengan anak pak Cepot, Achi. Apa lancar saja...?!". Tanya Ivas penasaran.
" mmm... dia imut...". Jawab Zura singkat sambil ketawa.
" Ye...h kena Lo kan... dulu bilangnya jelek... ga lakukan... sekarang malah jadi tunangan... udahlah Zur... kalau kamu suka nikahin aja.". Jelas Ivas.
" Omonganku dulu keterlaluan ya... nikah Lo bilang... ngga gampang Nyet..." ucap Zura.
" Iya... sekarang aja Lo masih sama... kamu tau ngga bro... omongan kamu itu yang buat Achi down banget dulu...". Ucapan Ivas membuat Zura terkejut.
" Serius Lo.. bro... Masak sih.. dari mana Lo tahu... ?!". Tanya Zura.
" Yaelah tahu lah... kan Gua sampingan rumahnya ma dia, cuma jarak berapa rumah doang. Lo tau kan sebenernya dia itu anak yang manis Lo kalau udah kenal ( Zura mengangguk setuju)gua pernah deketin dia.. tapi dia nganggap gua becanda... kalau ngga paling dia udah jadi istri gua end kami dah punya anak...!". Jelas Ivas sambil senyum-senyum. Melihat wajah Ivas Zura jadi jengkel dia langsung menilik meja.
" Sialan Lo Vas... buat gua emosi aja...!". Jelas Zura.
" Tuh kan... Lo kalau gua bilang Achi langsung lain hawanya bro, udahlah jujur aja Lo tu udah suka Ama dia sejak kita kecil dulu... gua aja udah bisa lihat dari mata Lo bro...!!!". Jawab Ivas. Hujan saat itu mulai turun, semu kaum tua muda yang berkumpul di warung Bu Dora, asyik menonton siaran bola, mengabaikan Zura dan Ivas yang bicara di pojokan.
" Ga gampang tau ngga Lo... terlebih gua harus ngelewatin ayahnya yang lumayan galak ma adeknya yang over protektif kalau menyangkut kakaknya itu...". Jelas Zura.
" Kalau itu Gua juga setuju... tapi dari pada lu pusing... Ama insiden Lo... bukannya Achi anaknya baik, Umur lu juga udah 27 kan... kalau lu lambat-lambat takutnya ntar disambar yang Laen...". Jelas Ivas.
__ADS_1
"Gua juga tahu..., tapi masalahnya g sederhana terlebih gua udah tau kenyataannya...". Ucap Zura dengan senyum pahit.
" Lo bilang apa tadi Ra..?! Lo tau kenyataan... maksud Lo apa?!". Tanya Ivas dengan melirik samping kiri-kanan hati-hati dengan ucapannya.
" Gua udah tau dia cuma tunangan palsu/ pura-pura gua...". Jelas Zura dengan nada tenang dan pelan, Ivas sangat kaget dan agak marah.
" Lo ... Lo... gila Lo ya... jadi selama ini lu tau !, dari kapan...?!". Ivas penasaran lalu duduk berdekatan.
" Udah lama... seminggu setelah bapak ma ibuk gua nyepakatin perjanjian Ama pihak Achi... Lean yang cerita ma gua...". Ucap Zura.
" Lu gila lu... kok gak ngomong terus terang Ama Dua belah pihak... terutama Ama Achi... lu ga ngebayangin apa gimana rasanya jadi dia kalau dia dibohongin gitu... ".
" Gua juga bingung...!!! tapi gua juga butuh skenario kayak gini biar Viona keluar datang ke hadapan gua...". Jelas Zura.
" Lo... brengsek banget sih Ra... Lo masih suka ma dia ya... kalau Lo kayak gini gua juga ga terima Lo Ra... Lo teman gua tapi Achi juga... kami tetanggaan gua ga mau ngelihat dia kayak dulu Lo juga salah satu penyebabnya.... kalau Lo kayak gini ke dia gua ga jamin ga bakal bilang ke dia.". Tegas Ivas.
" Oi... jangan gua mohon... kasih waktu gua buat nyelesain semua ini... gua ngga tau perasaan gua ke Viona kayak apa... gua juga ngga mau lihat Achi menderita gara-gara gua makanya gua menghindar duduk disini... kalau di rumah Ama dia gua bisa gila...". Jelas Zura.
"Gila kenapa lu... orang Achi kan ga banyak tingkah... lu mau mastiin apa ma Viona...?, Balikan ma dia... atau apa... ngapain kali Ama cewe yang udah nyakitin Lo Ampek kepala Lo diperban gitu...". Tegas Ivas lagi.
" Gua mau mastiin alasan Viona buat kayak gini ma gua Vas... bagaimana niatnya sebenarnya ama gua... perkara balikan ngga nya itu terserah dia... gua ngga mau semua jadi rahasia sama gua... trus alasan orang tua gua... gua tau baik... tapi perjanjian apa yang mereka buat ma keluarga Achi masih jadi teka-teki yang harus gua selesain... gua ga mau jadi beban semuanya Vas... jadi tolong mohon rahasiakan ini dulu dari siapapun..." . Jelas Zura.
" Kalau maksud Lo memang mau nuntasin semuanya gua ya ga bisa bilang apa-apa Ra... cuma jangan sampai nyakitin Achi, gimana-gimana gua orang dekat dia, keluarga dia juga. Lalu maksud Lo menghindari Achi apa Ra, Lo... jangan bilang ngilangin kesalahan yang sama kayak gua Lo... jangan Sampek Ra... itu ga Baek... gua udah kena batunya...". jelas Ivas.
" Hampir... gua hampir kelewatan ma dia Vas... kan gua udah bilang kalau menyangkut dia gua bisa gila hilang kendali... gua ga pernah kayak gini sebelumnya... tapi kalau sama dia gua bisa mulai duluan... ". Ucap Zura sambil menggaruk kepalanya sambil menutup mukanya yang merah padam.
" Gila Lo... jadi bener kata-kata teman-teman kita... Lo jadi bucin wkwk, Mampus Lo... kerasa kan Lo kena karma sekarang wkwk, ya udah lah Zur, kalau itu keputusan Lo asal ngga nyakitin teman gua aja... gua harap yang terbaik aja... Tapi Achi sekarang dimana?!". Tanya Ivas.
" Mmmm... gua tinggal... di rumah pribadi gua... dari tadi gua ga ada pulang seharian sih jadi ga tau juga dia di mana sekarang...". ucap Zura.
" Ya ampun Ra Lo kok goblok banget, iya sih Lo pasti tahu kalau Achi anaknya ngga penakut..., tapi dia itu megang teguh prinsipnya Ra... kalau dia tinggal Ama Lo, selain dari perintah orang tuanya apa keadaan mendesak dia ngga akan kemana-mana. Dia pasti di rumah Lo sekarang Ra. Pengalaman gua ya... seberani-beraninya cewe tuh... dia pasti takut ama hujan kalau sendirian. Terlebih kalau itu tempat tinggal barunya. Lo gimana sih Ra. Lo ngga khawatir apa dia kenapa-kenapa... atau barang kali diapa apain ma orang...". jelas Ivas jengkel, Zura yang mendengar kata-kata itu terutama kata diapa-apain ma orang membuat dia langsung berdiri. " Lo mau kemana Ra... heh itukan anggapan gua aja, orang kan bisa berubah... mungkin sih...". Lanjut Ivas.
" Bodoh... gua udah terlanjur denger bacotan Lo...". jelas Zura. Langsung melangkah pergi membawa Vixion nya itu.
" Wei gua bawa payung...nih... pake... (Ivas berlari membawa payung tapi Zura sudah pergi saja) yaelah baru lihat lah gua Lo kayak gini Zur... Lo rumit banget sih Zur jujur aja Napa... gua rasa Achi ga akan marah karena dari dulu dia juga udah suka Ama Lo..." jelas Ivas lirih.
" Vas... kamu bayar dua sekalian ma Zura ya... dia belum bayar pudding nya tadi..." . Ucap Bu Dora.
" Yaelah tekor gua..., ga apa lah itung-itung uda temu kangen ". ucap Ivas sambil melirik Bu Dora
"Ya Allah Vas candaan kamu lebay banget..". ucap Bu Dora
Ditengah pembicaraan mereka tadi, mereka tidak sadar dintara orang yang ada di sana ada Sandi yang duduk di depan mereka. Sedang main game, namun permainannya sengaja ia hentikan setelah mendengar beberapa kalimat tentang kebenaran Zura. Ia merupakan tetangga dekat Fariz yang mengontrak rumah di sebelahnya, mereka cukup ramah satu sama lain dan sudah menjadi akrab sejak Fariz datang. Sandi tahu Fariz menyukai Achi, Fariz juga mengakuinya. Hanya saja sebagian orang di kampung layaknya Sandi tidak tahu kalau Achi hanya tunangan pura-pura untuk Zura. karena Sandi melihat Achi dan Zura cukup akrab, dan berfikir pertunangan Zura dan Viona sudah kandas.
Sandi sedikit licik ia bisa menukar apapun informasi yang ia dapat dengan uang.
Sesampainya di rumah. Zura Langsung menggedor pintu yang terkunci, Achi yang berfikir aneh meringkuk menutup selimutnya hingga tubuhnya tak terlihat. Achi ingin pergi ke tempat orang tuanya, tapi ia takut keluarganya berfikir aneh tentang Zura. Ia mengunci dirinya di rumah itu sendirian, awalnya ia tidak takut namun Sambaran petir yang terdengar olehnya dan hujan yang semakin lebat membuat hatinya ciut. Ia menunggu Zura namun hingga jam 22.30 malam Zura tak pulang ia. Ia tak berani ke kamar karena kamar Achi cukup jauh jaraknya dibelakang dengan kamar Zura. Ia membayangkan hal yang aneh bila yang datang hantu, atau yang parahnya pria yang masuk.
Hujan turun dengan lebat menyamarkan suara motor yang datang, Achi begitu takut hingga tak berani keluar dari selimut di sofa untuk melihat. Karena Zura tidak melihat Achi yang membuka pintu atau siapapun, Zura langsung memakai kunci cadangannya untuk membuka pintu. Ia terlalu keras karena panik sehingga terkesan seperti mendobrak pintu itu. Achi makin meringkuk di sofa, jantungnya berdetak ketakutan kalau-kalau yang datang bukan Zura dan terjadi apa apa padanya.
" Hei kucing kecil dimana kau...!!!". Zura berlari ke belakang / ke kamr Achi " sial tidak disini.." Batinnya " Achi dimana kau !!! apa kamu tidak di rumah!!! ACHI!!!". Achi mendengar suara samar Zura karena ia menutup telinganya sedari tadi ketakutan. Ia lalu membuka, selimutnya dan memberanikan diri melihat siapa yang datang. Tepat di saat itu Zura yang berlari ke ruang tamu melihat Achi membuka selimut itu. Achi menatap Zura dengan baju yang basah, begitu pula Zura yang melihat Achi dengan dua tangan yang merinding memegang selimut itu.
Mereka saling memandang sedih satu sama lain. Lalu berkata di hati mereka masing-masing.
" Mengapa kamu bersikap seperti ini..."
.
.
.
๐ถ๐
To be continued
follow Ig: @Mata_panda0598
@ikawulandari0598
__ADS_1
fb: Mai Zura๐ผ