Hate A Boy But He Love Me

Hate A Boy But He Love Me
chapter 11


__ADS_3

******Jika mereka berkata


Aku akan berada disamping siapa?


Jika harus jujur untuk memilih


Aku pasti berkata


" Aku ingin berada di samping mu..."


Ini bukan fake love


Jika dirimu juga memilih untuk menggenggam tanganku dan mempercayaiku.


Aku pastikan aku tidak akan kemana-mana


Walau mereka mencoba menarikku pergu


Baik itu orang lain, maupun yang terdekat...


Aku memilih tetap tinggal denganmu


Sampai dirimu melepaskan...


Genggaman tangan ini.


.


.


******.


 


Achi melihat beberapa hari ini setiap hari mama membuatnya sibuk mulai dari membantu berjualan dan lainnya. Zura sibuk ia tak sempat melihat Achi. Hingga ayah dan Aji datang. Ayah bahkan menyuruh Achi di rumah saja ketika ayah Achi datang dan melarangnya keluar. Sampai-sampai Aji bisa melihat kegarangan pamannya. Achi bertanya mengapa ayah marah, ibu hanya berpura-pura tidak tahu.


 


Ayah Achi bahkan melarang Achi yang bercerita tentang Zura. Padahal dulu hanya tentang Zura ayah tidak melarang berapa lusin Achi mau bercerita. Hal itu semakin aneh bagi Achi, bahkan menelepon dilarang. Dengan bilang bantu dulu mama baru bicara. Sering kali Hp Achi mati selama di cas, karena ayah bilang tidak baik mengecas jika hp hidup. Itu lebih absur lagi. Achi hanya menurutinya.


 


Zura hanya mendapatkan pesan, Achi selalu berasalasan jika Zura ingin menelepon. Kendati demikian Fariz semakin dekat dengan Achi karena mereka adalah kawan lama, terlebih sekarang dia berada di sekolah yang sama. Bahkan Fariz terkadang mampir di kedai, ia bisa mengambil perhatian orang tua Achi. Karena Fariz amat ramah, orang tua Achi senang kalau ia pergi ke kedai untuk makan. Namun Aji lebih suka jika kakaknya bersama Zura, karena ia bisa melihat sebenarnya Zura tulus menyayangi dan mencintai Kaka nya, hanya saja kaka nya yang tak peka tidak mengerti. Ia tahu karena ia juga laki-laki. Meskipun Fariz juga menyukainya.


Aji diam-diam mengambil kontak nomor Hp Zura. Lalu mengiriminya pesan di hari ke 5.


 


"** Ini aku adik Achi. Aji. Kamu tahu kan..., ku rasa tingkah laku paman agak aneh jika menyangkut denganmu. Tapi aku tidak mengerti kenapa..., Ah beberapa waktu teman kuliahnya yang satu sekolah dengan kaka sering kali datang kemari.


Kadang Ia juga mengobrol akrab dengan kakakku, sepertinya dia jauh lebih baik dari mu yang cuek ini. Walaupun begitu aku tak mau Kaka kena gosip miring gara-gara kamu juga salah satunya. Terserah mu apa yang ingin kamu lakukan ketika aku mengatakan ini. Tapi jika kamu memang tidak menyukai kakakku, tolong jangan buat dia susah**."


 


Ketika Zura membaca pesan itu ia tengah menerima uang gajinya selama kerja dan memang ingin segera menemui Achi, untuk mengajaknya makan bersama.


 


"Ada apa Zura.... fokus sekali melihat hp". ucap Moran.


"Sepertinya ada badai besar Mas...". Ucap Zura serius. " Ini jajan buat mu Coco". Ucapnya pada keponakan kecilnya itu ( anak Moran ). Ia langsung pergi walau Moran dan istrinya mengatakan tidak usah.


 


Ketika itu Achi baru saja pulang. Ia mengangkat teleponnya yang sedari tadi bergetar, dan tidak menghiraukan panggilan Fariz yang dari tadi memanggilnya.


 


"Zura... ada apa...?!". Tanya Achi


" Aku di parkiran kemarilah...!!!". Jelasnya Zura. Ketika itu Faris yang menaiki motor bersiap untuk mengajak Achi pulang bersama karena motor Achi di bawa Aji sekolah, sehingga kerap kali melihat Achi diantar jemput oleh adiknya. Namun ia melihat Zura yang ada disana, ia memelankan laju motornya. ingin melihat bagaimana reaksi Zura pada Achi begitu pula sebaliknya.


 


Melihat Faris yang memelankan suara motornya, Zura sangat kesal. Tapi melihat kucing kecilnya yang berlari menemuinya dengan raut wajah gembira, rasa kesalnya hilang.


 


" Zura... bukannya kamu sibuk... kenapa kemar....!!!". Achi. Zura langsung menarik tangan Achi lalu memeluknya.


" Aku kangen banget bodoh~. Baru beberapa hari tidak ketemu kucing kecilku sudah dihinggapi kumbang jalang!!!". Ucapnya sambil melirik ke arah Faris yang melewati jalan di samping mereka dengan tajam. Hanya saja Achi tak tahu dan tak peka.


" Apa maksudmu... kepaskan... Nanti teman kerja dan anak murid ku bisa lihat... malu...". Ucap Achi tertunduk malu.


" Oke-oke tapi aku akan memberi tahumu satu hal...". Ucap Zura sambil melepaskan pelukannya.


"Apa...?!" Achi penasaran.


" Ah.. itu aku baru saja gajian... Maukah kamu makan bersamaku sekarang...?!". Ucap Zura menggaruk kepalanya yang tak gatal, matanya menerawang ke atas.


"Uwah.... benarkah...senang sekali... bukankah ini gaji pertamamu setelah beberapa waktu vakum. Aku senang sekali... syukurlah Zura kamu mulai pulih....". Jawab Achi girang dan senang.


 


Melihat wajah senang Achi, Zura jadi malu.


 


" Sial...wajahnya imut banget...!!!" Batin Zura. "Ya sudah ayo pergi, jangan lama-lama". Jawab Zura. Melihat wajah senang Achi yang tidak pernah di tunjukkan nya ke orang lain Faris jadi berkecil hati yang sedari tadi melihat dari kejauhan.


 


Achi dan Zura berhenti di kedai Bakso yang agak jauh dari tempat tinggal mereka. Karena cukup terkenal dan enak orang-orang sering kesana. Mereka makan sambil bicara sesekali , Achi bilang juga sikap ayahnya agak aneh. Itu sebabnya ia jarang mengontak atau menchat Zura, Zura memakluminya karena ia sibuk.


Zura juga bilang mungkin ayah Achi sangat rindu pada kucing kecilnya itu, makanya dia agak sensitif. Lagi pula berat rasanya jika ayah melepaskan anak perempuannya yang akan menikah, contoh saja Bapaknya waktu ingin melepas Kaka kandungnya. Zura mengatakannya untuk membuat Achi tidak khawatir, namun Zura juga berfikir itu mungkin sebab luka di tangan dan kaki Achi. Jadi ia harus bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk. Ia memperbolehkan Achi tinggal disana sementara hingga ayahnya tidak marah. Meskipun Zura juga cemas.

__ADS_1


Pulangnya Achi di antar ke sekolah kembali untuk di jemput Aji, Aji mendapat pesan dari kakaknya di WU sehingga ia tahu kakaknya sedang berama Zura. Zura menyuh Aji untuk menjaga Achi. Aji tahu maksud terselip dari kata-kata itu.


Mereka berdua bersabar dengan masalah mereka, orang tua Zura tidak berbuat banyak. Hingga yang katanya 5 hari yang berlangsung bertambah selama dua Minggu. Ibu Zura melihat baru kali ini putranya serius melihat Hp, bahkan saudaranya yang lain kerap kali ia tanyai jika bekerja adakah pesan masuk untuknya. Zura terlihat down membuat keluarganya, sangat khawatir, juga teman-teman nya yang melihat Zura semakin menjadi Bucin dan menertawakan nya.


Achi juga sering kali menghela nafas panjang, meski begitu ayahnya masih saja sama. Hingga tibalah hari ini.


Ketika keluarga Achi tengah bersantai Achi diam-diam menyembunyikan hp di sakunya. Ayah bertanya di mana hp Achi... dia hanya bilang lagi di cas karena seharian ini ia membaca Manga. Jadi hp nya ngedrop, ayah diam saja akan hal itu. Namun tiba-tiba Zura menelpon karena, Achi juga tidak bisa tidak mengangkatnya. Ia langsung mengeluarkan Hp nya.


 


" Iya Zura....!". Ucap Achi.


" Kalau ia segitu inginnya kamu balik ke sana, suruh dia datang kemari. Jika tidak jangan coba-coba balik ke sana atau jangan pernah ke sana lagi !!!". Ayah marah dan naik pitam. Achi ,Aji maupun mama sangat terkejut serta Zura yang mendengar kata-kata itu. Achi tidak tahu apa masalahnya namun mendengar ayah marah Achi hanya bisa bersedih dan pergi ke kamarnya.


 


Zura yang mendengar kata-kata itu dari telepon langsung bergegas menaiki motornya dan pergi meninggalkan teman-temannya.


 


Dalam beberapa menit malam itu suara motor besar terdengar kencang itu berhenti di rumah keluarga Achi.


 


Achi langsung keluar dari kamarnya ke ruang tamu. Ibu yang tengah memasak makanan pencuci mulut dan Aji yang mendengar musik juga ingin melihat siapa yang datang. Hanya saja ayah yang sudah berada di teras rumah langsung menghentikan putrinya yang ingin ke teras rumah.


 


"Masuk!!!". Teriak ayah. Achi menghentikan langkahnya di pintu. Membuat Zura terkejut kenapa orang tua yang akrab dengan nya sejak lama berkata begitu. Zura memberanikan dirinya melangkah maju ke hadapan ayah Achi.


" Maaf jika saya salah pak..., bolehkah saya mengajak Achi pulang saya sangat kes...!!!" Zura.


"PLAKKK!!!" Tamparan itu cukup keras. bahkan lebih keras dari ibunya. Aji dan maamma yang panik langsung melihat.


" Ayah.. apa yang ayah lakukan, apa salah Zura!!!". Achi berlari melangkah keluar namun ayah menarik tangan kanan Achi dengan kuat. Zura agak tersungkur ke belakang sedikit. Namun ia tidak lari.


"Kau pikir perbuatannya sebanding dengan kelancanganmu pada putriku!!! pikir mu saya tidak tahu !!! coba lihat ini !!!". Tegas ayah Achi , ia merobek baju lengan kiri putrinya.


"KREEEK!!!" baju itu robek memanjang, meski Achi menghalaunya, lukanya tetap terlihat. Aji kaget sekali dengan itu berbeda dengan mama yang tak ingin melihat lengan luka putrinya itu.


" Kak apa yang terjadi, kenapa kamu punya luka lebam !!!". Ucap Aji terkejut.


"Ji... Bawak kakak mu masuk!!!". Aji menuruti perkataan pamannya, dengan melihat wajah Zura yang sedih dan pasrah membawa kalanya pergi, Aji sudah cukup paham dengan situasi. Kakanya tidak baik-baik saja tinggal disana. "Sudahlah kak masuk saja, aku yakin paman bisa menyelesaikankannya...". Ucapnya lirih.


" Maafkan mama nak... jika saja mama tidak menghentikan ayahmu waktu itu, kamu tak akan punya luka ini. Luka buruk bagi kita wanita yang masih gadis nak kamu tahu itu..." Achi hanya diam. Ia hanya bisa pasrah. Ayahnya masih marah-marah.


" Apa kau tidak bisa mengerti putriku yang bodoh tiap kali ia bilang ia baik-baik saja, ia tidak seperti kelihatannya. Aku ayahnya!!!, aku selalu menjaganya agar tidak luka, dan apa yang kulihat sekarang!!! bukankah kamu sudah beberapa Minggu dengannya!!! lihat sebesar apa kau menorehkan luka kepada putriku!!!". Pitam ayah.


" Maafkan saya pak, bapak boleh memukuli saya berapa kali sampai saya dimaafkan." Ucap Zura serius.


" Boleh... Itu maumu maka terima pukulan orang tua sepertiku."


"BUG!!!". Pukulan itu cukup kuat membuat Achi, Aji dan ibunya mendengarnya. Mereka kaget, Achi melepaskan genggaman tangan Aji yang menyeretnya masuk kamar dengan kuat. Ia langsung keluar dengan cepat, Aji tahu yang ia lakukan juga salah namun ia tak tahu harus berbuat apa. Karena kakaknya juga terluka


 


 


" Sudahlah yah... ini sudah keterlaluan dia sudah mengakui kesalahannya!!!". Tegas Mama.


" Diam!!! Andai saja aku tak menurutimu waktu itu, anak kita juga ga akan terluka ma. Dan kau seharusnya bersyukur dengan kehadiran putriku... Andai saja ia tak menuruti kemauan orang tuamu yang menjadikannya tunagangan PU....!!!" Ayah menghentikan ucapannya ketika putrinya meringkuk di kaki ayahnya itu.


" Ayah hentikan hiks... hiks.. kumohon hentikan... Jangan bilang padanya tentang itu... Zura masih sakit dia tak salah apa-apa hiks... aku menerima telepon dari Faris makanya Zura marah hiks... ini salahku yah... ini salahku...". Achi menangis beringkuk di kaki ayahnya. Zura yang melihat itu sangat sedih. Ia berusaha melangkah mendekat, walau pukulan yang ia rasakan masih sakit.


" Pergi jangan mendekati putriku...!!!". Tegas ayah.


" Saya mencintainya, Ayah..!!! ( keluarga Achi yang mendengar ucapan itu dan orang-orang yang dari tadi penasaran mengintip dari samping rumah karena ribut-ribut di rumah Achi juga ikut tercengang melihatnya. ) saya tidak akan pergi sebelum sebelum anda mengizinkan saya membawanya pulang. uhuk". Tegas Zura dengan serius, ia mencoba menahan pendarahannya sambil bersimpuh.


 


Mama Achi melihat darah segar yang keluar di sudut bibir Zura. "Mas... tidakkah kau berfikir, kejadian ini mengingatkan kita pada masa lalu..., aku tidak ingin anak kita juga mengalaminya...". Ucap mama dengan sedih. Melihat istrinya yang bersedih, putrinya msnangis dan Zura. Ia ingat juga saat itu ia berada di posisi yang sama dengan Zura.


 


" Kali ini aku akan memaafkanmu, ( Achi yang mendengar kata-kata itu Langsung berbalik arah melihat Zura dan memeluknya, begitu pula pemuda itu membentangkan tangannya dan membelai rambut gadis itu sambil tersenyum, agar gadis itu tidak khawatir. Aji ikut melihat kejadian itu dari belakang pintu, dan senang mendengarnya. ) Tapi ingat jika kejadian ini terulang dan kau membuat luka pada putriku lagi, bersiaplah untuk mati. Entah bagaimana caranya aku akan membunuhmu.". Tegas ayah.


" Baik saya akan ingat selalu ingat kata-kata itu...". Zura langsung berdiri dengan dipapah Achi. Ayah hanya membalikkan badannya.


" Dan satu hal lagi..., jangan menyebutku dengan panggilan ayah, karena kamu belum resmi menjadi ayah mu.". Tegas ayah.


"Hahah baik pak, akan saya ingat. Terimakasih sudah menaafkan kesalahan saya." ucap Zura.


" Ayah! ( ayah menoleh mendengar suara putrinya) terima kasih sudah memaafkan Zura, dan sudah boleh mengizinkan aku pergi....". Ucap anaknya tersenyum juga.


Sebenarnya ayah juga tidak mau melihat Zura kesakitan seperti itu makanya dia berbalik. Mama mengisyaratkan kalau ayah sedang senang mendengar jawaban Zura. Mereka hanya tersenyum " Cepatlah pulang bersamanya, ayah tak tahu apa yang akan ayah lakukan lagi jika masih melihatnya.". Tegas ayah lagi. Mereka hanya membungkuk dan berpamitan.


" Zura... ikutlah lain kali kemari jika Achi berkunjung...". Ucap mama Achi sambil tersenyum.


" Baik Bu... Kami pulang dulu...". Mereka pun pulang.


 


Iseng-iseng Aji bertanya pada pamannya. " Paman... bagaiman rasanya memukul pemuda seperti Zura...?!"


 


" Sebenarnya itu cukup membuat tangan paman nyut-nyutan. Kau tahu dia itu sama sepertimu, dulunya dia adalah preman yang suka berantem. Jadi wajar jika dia kuat.". Ucap ayah.


" Iya, aku tahu..., makanya aku tanya... ". Ucap Aji agak kesal, karena menyamainya dengan Zura.


" Makanya yah..., jangan sok-sok and udah tua sadar umur, (jelas ibu) tapi mengapa ia tak bertanya, ketika mas hampir membocorkan kalau anak kita hanya tunangan pura-pura. Mungkinkah ia tahu sesuatu...?!". Ucap mama.


" Betul juga ya bude.... ". Ucap Aji.


" Walau begitu ia menerima tamparan dan pukulanku tanpa mengelak. Itu menunjukkan ia serius dengan putri kita. Kamu tahu juga kan ma... dia orang seperti apa dulu...." Ucap ayah.

__ADS_1


" Memang dia kenapa bude...?". Tanya Aji.


" Sebenarnya Zura sering berkunjung ke kedai kita... dia juga suka bercanda dengan Pakde mu waktu ia belum mengalami kecelakaan dan akrab dengan kami. Hanya kakak u yang menjauh darinya. Kamu tahu kan kakakmu itu juga serius seperti pakdemu. karena dulu ekonomi tak seperti sekarang. Achi takut kalau semua yang dikatakan Zura tiap kali bertemu dengannya hanya candaan. Meski begitu kamu bisa melihat kan ketulusan pemuda itu masih sama dengan dulu..., Mungkin mereka sudah saling menyukai sejak lama tapi ego mereka masing cukup kuat. Entah apa yang terjadi pada mereka... Bude hanya mendoakan yang terbaik.". Jelas mama Achi.


" ha~h mengapa kakak dan mas Zura begitu rumit sih...". Ucap Aji menghela nafas panjang.


Sementara itu di perjalanan.


" Apa itu cukup sakit, bagai mana kalau kita ke puskesmas dulu...". Achi sangat khawatir.


" Ini sudah malam bagaimana mungkin puskesmas masih buka, aku ada P3K dirumah... santai saja...". Ucapnya.


" Tapi kan itu sakit... aku melihatmu memuntahkan darah... mengapa kamu tak menghindar saja ". Ucap Achi bertambah khawatir.


" Jika aku menghindar, bagaimana aku bisa menjagamu dari orang lain seperti Fariz kalau tidak kuat.". Tegas Zura. mendengar kata-kata itu Achi langsung terdiam. " Sini tangan mu...!". sambung Zura sambil mengulurkan tangannya. Achi hanya menurutinya. Zura langsung menaruh tangan Achi ke tempat perutnya yang sakit akibat pukulan ayah Achi.


" Nah... kalau begini tidak sakit lagi... dan kamu juga gak kedinginan kan?!". Achi terdiam sejenak. Tiba-tiba gadis itu merangkul pinggang Zura Tanpa bicara. Zura cukup kaget dengan reaksi itu. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun ia tahu kalau kucing kecilnya sedang bersedih saat ini. ia hanya memegang tangan Achi dengan senang.


 


Setibanya di rumah. Zura menyuruh Achi mencuci mukanya, karena bertambah jelek ketika kusut. Zura mengatakannya sambil tertawa. Achi tetap menurutinya walau kesal. Zura ingin agar Achi menjadi segar kembali setelah mencuci muka, dan tidak memikirkan masalah tadi. sementara zura langsung membalut luka di perutnya dengan perban, setelah ia memberi cairan obat luka.


 


Achi kembali ke kamarnya, ingin mengganti baju. Setelah ia membuka pintu kamarnya, di tempat tidur ada boneka Stitch berwarna biru yang lucu. Achi terkejut dan berlari mengambilnya. Kemudian ia berlar ke kamar Zura dan masuk tanpa mengetuk pintu.


 


 


 


Zura hanya mengenakan singlet dan celana pendek ketika selesai memasang perban, duduk di atas kasur. Ia kaget dengan kehadiran Achi yang terengah-engah.


 


" Ini punya siapa?!" Tanya Achi


" Tentu saja punyamu, Bukankah kamu suka itu... kalau tidak buang saja... Lalu beli yang lain...". Jelas Zura.


"Tapi... kenapa kamu tahu...?!". Achi.


" Ah... waktu kita pergi makan kemarin... ketika diperjalanan kau berteriak kalau boneka itu imut kan... Kamu yang bilang sendiri....". Jawab Zura. Achi mencoba mengingat ketika diperjalanan waktu itu.


Ada toko boneka.


Flashback


" Wah... ada stich... imutnya....". Ucap Achi.


"Ada apa, Apa yang imut?!". Tanya Zura.


" Ah bukan apa-apa kok...". Ucap Achi lagi.


"Oh... ". Jawab Zura. Ia melihat kucing kecilnya masih mencuri-curi pandang ke arah boneka itu. Esoknya Zura membelikannya.


Walau ia tidak tahu dan menanyainya ke pelayan toko. Pelayan toko itu cukup suka melihat keimutan pemuda itu, ketika Zura bertanya.


Back


" Kenapa diam mematung begitu... ( tiba- tiba Achi menangis tetsedu) hei... kenapa nangis lagi... kan aku udah bilang buang saja jika tak..." Zura. Achi berlari memeluk Zura sampai terjatuh di tempat tidurnya. Zura cukup kesakitan, tapi ia mencoba menahannya. Kata pertama yang diucapkan Achi.


" Suka... hiks aku suka sekali boneka ini... hiks hiks...". tangis Achi.


" Ya sudah kalau suka tidak usah menangis..., gunakan aja dia sesukamu...". Ucap Zura.


"Maafkan aku... hiks maafkan aku... mas Zura maafkan aku...". Achi berulang kali meminta maaf, , Zura tak tahu lagi berbuat apa. Tapi Zura yakin hati kucing kecilnya pasti sakit menyimpan rahasia yang di sepakati orang tuanya dengannya, karena Achi tidak suka berbohong. Ia lasung mengusap kepala gadis itu yang menangis begitu lama, Zura langsung mendorong Achi karena tidak tahu harus berbuat apa. Achi langsung terduduk memegang boneka itu.


" Jika kamu terus menangis aku akan menciummu." Tegas Zura. Achi melihat Zura sejenak namun ia tertunduk lagi sambil menangis. " Hei... bodoh kenapa kamu tidak bicara...? Apa kamu patung betulan... ". Achi masih tetap terdiam air matanya terus menetes. melihat hal itu Zura menjadi kesal sendiri. Lalu menjatuhkan Achi, ke tempat tidur. Hingga membuat tubuh gadis itu terlentang, Achi tersadar. Namun dia terlambat kaki dan tangannya sudah dikunci oleh kaki dan tangan Zura. Zura menatapnya dengan serius.


" Zura. Aku... Aku hanya... cup" setelah mengecup bibir gadis itu terdiam.


" Cih... akhirnya sadar juga... kamu ini..." ucap Zura melepaskan kunciannya, dan beranjak dari sana. Namun Achi malah menarik singlet berwarna hitamnya itu. Zura langsung berbalik menoleh ke gadis itu. Achi menggelengkan kepalanya. Tangannya merangkul leher pemuda itu, hingga membuat Zura hampir jatuh jika ia tidak menahannya dengan tangan kanannya. Mereka saling memandang satu sama lain.


" Tidak kucing kecil, jangan memulainya. Kalau kamu memulainya aku bisa kehilangan kend...". Batin Zura. Achi langsung menciumnya sangat lama. " Apa ini... bukankah kamu yang selama ini selalu mengehentikan ku. menjauhiku... lalu mengapa sekarang...". Achi mengehentikan ciumannya. Rupanya ia hanya mengetes apakah Zura serius dengan ucapannya. Ternyata Zura hanya membela Achi, atau bahkan dirinya sendiri. Buktinya ia tidak membalas ciuman itu. Padahal Achi memberikan waktu cukup lama.


" hahaha... Zura kamu kena prank..." Ucap Achi air matanya tetap turun, " Lepas... Aku udah sadar dari tadi bodoh...". Balasnya.


 


Mendengar hal itu tentu saja Zura menjadi kesal. Tentu saja Zura bisa mengunci kembali tangan dan kaki gadis itu dengan cepat dan sigap.


 


" Hahaha, apa kamu ga pernah ciuman sebelumnya?, ciumanmu terasa seperti komik-komik yang sering kamu baca nona, yang ciuman itu sesungguhnya seperti ini..." Zura tertawa dengan jahil dan mencium gadis.


 


Achi mencoba menghindar dari lumayan bibir Zura. Achi sesekali berdesah kecil karena tidak mampu menahannya. Hal itu membuat Zura semakin Moody. Achi semakin pasrah tanpa perlawanan. Gadis itu malah balik melumat bibir pemuda itu dengan rona muka yang memerah. Zura melihatnya sekilas ia tiba-tiba meneteskan air matanya. " kucing kecil... Hari ini kamu memberi kutukan padaku, untuk Merantaimu cukup lama agar tidak lepas" Batin Zura. Mereka lalu tenggelam di laut Asmara, tanpa mementingkan apa pun yang selama ini menghalangi mereka.


 


.


.


.


.


To be continued.


To be continued 😐🐼


don't forget for support and coment...

__ADS_1


your words become encouragement spirit for me. Thank you....👋🙏


__ADS_2