
Tahun berganti... Agin sejuk dan musim semi itu datang ke arah arahku. Entah itu takdir ataupun nasib baik, aku bagai kejatuhan sebongkah permata dari langit dan kamu mungkin dapat menebak bahagianya, entah itu buah hasil usaha atau tekat yang kuat. Aku menjadi PNS di usia yang terbilang muda dan yang pastinya membuatku bahagia sekolah yang menerimaku sebagai Pegawai Negeri Sipil yang sah dekat dari tempat tinggalku jadi aku bisa berkumpul dengan keluargaku. Terlebih aku sudah menemukan orang yang cukup spesial di hatiku bernama Fariz. Ia adalah temanku disaat sekolah di perguruan tinggi aku juga tidak menyangka kalau ia akan diterima menjadi PNS di sekolah tempatku dulu mengajar sebagai guru seni juga, aku merasa senang tiap kali berjumpa dengannya karena kami dapat mengobrol dengan bebas, tanpa mengingat status atau apapun. Ia adalah pemuda yang baik, dalam penampilan dan tutur katanya serta lemah lembut dan bisa menyenangkan hati orang lain, dan ia selalu melindungiku bila sekiranya ada masalah, mendengarkan ceritaku, ia selalu bisa membuatku tertawa. Ia tau kalau aku akan segera pindah beberapa Minggu lalu, ia mengatakan
"apakah aku boleh main kerumahmu, jika aku memiliki waktu senggang, kamu tau kepergian mu kali ini cukup mengejutkan dan membuat hatiku seakan sedih" dari kata-kata maupun raut wajahnya terlihat jelas kalau dia merasa kehilangan seseorang yang berarti untuknya walaupun ia tertawa.
" Faris, apa kamu tau, pintu rumahku selalu terbuka untuk orang sepertimu, bagaimana aku bisa tidak mengizinkanmu datang dengan muka memelas layaknya anjing kecil yang terbuang hahaha" ucapku bergurau
" Hahaha, kamu selalu bisa mencari topik, ntar kalau aku datang jangan lupa hidangannya yang enak yea..." Gurau Faris.
" PARE...." Gerutu Achi. Mereka berdua pun sama-sama tertawa.
Sudah seminggu Achi kembali dari perantauan, hiruk-pikuk desa sudah kembali dirasakannya hanya saja kini semua melihatnya dengan pandangan menundukkan kepalanya, entah karena segam, malu, ataupun bersalah akan kata-kata mereka yang dulu pernah meremehkan Achi dengan dalil orang kurang mampu tak bisa bersekolah tinggi, namun Achi benar-benar membuktikan cita-citanya untuk menjadi guru Seni dan menamatkan sekolahnya. Kendati demikian Achi bisa memainkan taktik untuk mengambil hati mereka dengan menampakkan keelokan tingkah lakunya bagaikan padi yang merunduk ketika berisi, sehingga membuat ia disegani.
Minggu... Matahari yang ceria menampakkan dirinya di musim kemarau, Achi disibukkan dengan membantu mamanya dikedai, di hari libur. Kini ada satu lagi yang membantu mamanya yaitu Aji anak dari bibi Achi dimana ia juga adik dari mama Achi. Aji lebih memilih hidup dengan bude dan pakdenya karena ia merasa orang tuanya terlalu mengatur hidupnya. Sejak ia tinggal dengan keluarga pakde perilakunya sedikit berubah karena di keluarga pakdenya yaitu orang tua Achi tidak pernah mengatur hidup anaknya hanya saja jika mereka merasa tak enak mereka langsung mengatakan kesalahan anak mereka dimana dan mereka membina sikap anaknya dengan tegas bahkan untuk Achi.
__ADS_1
"Nak bisa beli kertas nasi..., Kayaknya habis... Aji sepertinya sibuk melayani tamu yang datang..." Kata mama melihat Aji yang sibuk mengantar nasi untuk pembeli yang makan, karena kedai mereka sedang ramai. Achi sedang mencuci piring, ia langsung meletakkannya dahulu, membasuh tangannya, lalu ia mengambil uang yang diberikan mamanya.
Ia bergegas ke warung sebrang jalan dekat kedainya tempat biasa mamanya membeli kertas nasi. Ia tak tahu kalau itu merupakan titik awal mula kehidupannya berubah 180 derajat ke belakang.
Ketika ia sampai dilihatnya seorang pemuda yang sedang membeli rokok, ia sepertinya sedang menunggu uang kembaliannya. Pemuda itu mengecat rambutnya berwarna merah, tubuhnya bidang dengan mengenakan kaos lengan pendek putih dengan celana hitam. Ada kain perban di kepalanya mengisyaratkan ia mungkin terkena kecelakaan berat. Achi menunggu di belakangnya karna tidak sopan kalau ia memotong pembicaraan pemilik warung dengan pemuda itu. Sedang pemuda itu tak menyadari keberadaan Achi.
" Ra...ra... Kamu habis mengalami cidera kecelakaan kok langsung menghisap rokok sih...!" Keluh bapak yang punya warung
" Ah... Nyecret aja kamu, pak tua... Apa hubungannya rokok dengan cidera kepala... Mana kembaliannya nyiyir banget." Ucap pemuda itu kesal.
Karena tak ingin berlama-lama menunggu Achi langsung mengatakan" pak permisi mau beli kertas nasi..." Ucapnya ramah. Pemuda itu sedikit terkejut dengan kedatangan Achi. Dilihatnya seorang gadis dengan kulit Sao matang itu memakai jepit rambut orange menjepit rambutnya yang panjang. Mengenakan baju lengan panjang biru dengan rok hitam.
" Ia nak... Di sebelah kiri dekat kulkas " ucap bapak di warung itu. Achi mengambil kertas nasi itu dan segera menyerahkan uang ke bapak pemilik warung.
__ADS_1
" Ini pak... Makasih... " Gadis itu tersenyum sehingga nampak lesum Pipit di kanan-kiri pipinya. Ia melangkah pergi, tanpa melihat raut muka pemuda itu karena ingin cepat.
"Eh kembaliannya..." Ucap bapak warung itu namun Achi sudah bergegas pergi, " hei... Zura, sedari tadi kamu memandangi gadis itu berlama-lama, tidak boleh itu... kau harus meminta izin ayahnya dul...." Belum sampai habis bapak Bagus bicara pemuda itu bergegas pergi. "Hei bocah kurang ajar, kalau mau ngambil uang kembalian tak usah pake acara yeret segala...!!!" Kata pak Bagus jengkel karena uang kembaliannya diambil dengan diseret langsung paksa dari tangannya.
Achi bergegas berjalan cepat ke kedainya, ia membuka bungkus nasi itu agar ibunya tak payah membukanya nanti.
Ia tak menyadari ada pemuda yang mengejarnya dari belakang, ketika bungkus nasi itu terbuka seluruhnya dengan usaha tangan achi, tiba-tiba ada seseorang dari belakang yang menarik paksa tangannya, sehingga bungkus nasi itu berhamburan kemana-mana. Tangannya yang ditarik mendorong tubuhnya ke dalam pelukan pemuda itu.
" Apa yang kamu lakukan, apa kamu ngga waras!!!" Kata Achi marah dengan perlakuan pemuda itu kepadanya. Lalu melepaskan dirinya dan mengambil kertas nasi yang berhamburan.
" BAGAIMANA... BAGAIMANA KAMU BISA, MENGABAIKAN TUNANGANMU SENDIRI SEKIAN LAMA ACHI!!!!" ucap pemuda itu berteriak kearahnya.
__ADS_1
Suara yang samar-samar dikenali Achi sekejap membuatnya terkejut. Kertas nasi yang ia pungut seketika jatuh mendengar suara itu, mata Achi dengan nada kebencian mendongak kearah pemuda itu. Karena pemuda itu adalah orang yang benar-benar tidak ingin ia temua dihidupnya sekarang, dan ia tak lain adalah Ilyasa Azura.