
Sayang
Jika kupeluk kau selalu ingin melepas diri
Layaknya ikan tertangkap jaring
Apa diriku harus mengecup bibirmu
Agar kau tau
Harga
Dirimu di relung hatiku
Aji menghentikan motornya ketika melihat kakaknya bersama dengan tunangannya. Sebenarnya ia sudah melihat mereka berdua beberapa waktu lalu ketika lewat dari jalan kedua, hanya saja karena gelagat keduanya tampak mencurigakan, ia segera datang ke kakak sepupunya untuk memeriksa keadaan.
Aji melihat Achi menangis, melihat Aji yang datang Achi segera menghapus air matanya.
" Ada apa kak... Apa ada sesuatu yang telah terjadi pada mu...?!" Tanyanya namun tatapan tajamnya langsung menyerang Zura.
Tindakan Zura pada Achi membuatnya bungkam dengan rasa bersalah. Tidak seharusnya ia mengambil langkah dengan cepat untuk mengetahui situasi dan kondisi apa yang ingin diketahuinya.
" Ah... Ini... Aku jatuh dan kakiku terkilir, Zura berusaha membantuku tadi, bodoh sekali aku kan sampai menangis... Ternyata aku masih cengeng seperti dulu..." Ucap Achi menghilangkan kekhawatiran adiknya. Namun adiknya tahu jika kakaknya itu tidak pandai berbohong.
" Sudahlah kak... Tak perlu dipikirkan, Kaka kan memang seperti itu... Mau bagaimana lagi... Ayo pulang bersamaku... Maaf ya mas... Kaka ku merepotkanmu kami permisi dulu..." Ucap Aji menghidupkan motornya, Achi hanya menunduk tanpa menoleh ke arah Zura.
" Hati-hati di jalan..." Ucap Zura.
" Baik... Kami pergi dulu... " Aji.
Setelah sampai dirumah Achi langsung masuk ke kamarnya. Ayah maupun mamanya melirik ke Aji seakan sedang bertanya. Aji hanya mengangkat bahunya dan menggelengkan kepalanya.
Ketika makan malam beberapa pertanyaan sampai kepada Achi.
" Bagaimana keluarga mereka...?! Apa kau merasa tertekan disana...?!" Ucap ayahnya.
" Mereka keluarga yang baik yah... Terutama ibunya sangat mengerti situasi kami berdua, kakak iparnya juga lumayan banyak bicara... Mengenai seputar kehidupan mereka dengan anaknya..." Ucap Achi menampakkan senyumnya sedikit.
" Lalu kenapa wajahmu sembab..., Seperti sedang menangis nak... Kamu tidak akan bisa menutupinya dari kami...sejak dulu...!" Ucap mama.
" Ah... Itu lantaran kesalahanku ma... Aku terjatuh kakiku terkilir... dan Zura membantuku... Tapi seperti yang mama tahu, aku selalu mendorongnya menjauh... Lalu aku melihat ekspresi wajahnya yang sedih... Makanya aku sedih juga melihatnya..." Ucap Achi berbohong.
" Begitu ya... Jangan kasar-kasar padanya, sifatnya yang buruk padamu itu semua kan masa lalu, cobalah mengerti kondisinya, saat ini..." Mama.
" Iya... Setelah ayah pikirkan dua kali ibumu ada benarnya..., Keluarganya sangat akrab dengan kita sejak lama. Bahkan kedai makan yang kita buat tanahnya juga milik keluarga mereka..., Anak itu sebelum kecelakaan juga... Sangat ringan tangan, cekatan dalam bekerja dan dapat bergaul dengan siapa saja... Ketika ayah bersama nya juga ia sering membuat ayah tertawa... Tidak buruk juga menerinanya... ". Jelas ayah Achi.
" Iya ayah... Aku akan mencoba mengerti keadaan ini..." Ucap Achi.
Ia ingat apa yang sempat dikatakan oleh ibu Zura ketika ia permisi untuk ketoilet ketika dirumah Zura.
" Tidak apa... Jika kamu sedikit merasa tak enak nak..., Ibu juga mengerti. Satu yang ibu minta... Karena ia lebih tertarik dengan mu dan mengingatmu. Ibu mohon sebelum ingatannya kembali tetaplah bersamanya..., Bantu dan temani dia... Katakanlah apapun yang ingin kamu katakan... Agar pikirannya berkembang, Jangan menahan emosi didepannya... Asal kamu tidak meninggalkannya itu tidak masalah..." Jelas ibu Zura sambil menggenggam tangan Achi.
Aji melihat kekhawatiran di mata kakaknya, ia melihatnya beberapa kali memutar mutar ujung sendoknga.
" Kak... Apapun yang terjadi padamu... Aku hanya ingin kakakku bahagia..." Ucap Aji dengan keyakinan. Orang tua mereka sekaligus Achi tertawa " Kok tertawa sih...., Aku kan berkata sejujurnya..." Timpal Aji.
" Hahaha... Mendengar mu berkata begitu membuatku geli Ji...!!!" Ucap achi.
" Iya... Jarang-jarang anak kita Aji berkata romantis begitu... Apa kau mengajarinya yah..." Ucap mama.
" Ku rasa kelakuan adik ipar sedikit menurun padanya, bukannya Dihadapan orang yang ia sukai dulu juga kadang begitu, untuk mendapatkan yang diinginkannya. Maklum saja ia kan sudah masuk masa Pubertas..." Tutur Ayah.
" Hei kalian..., Jangan memggodaku!!! " Ucap Aji kesal.
Begitulah perbincaan serius itu diakhiri dengan gelak tawa di keluarga Achi. Sementara itu di lain pihak Zura sedang datang ke kedai kopi malam itu, yang sering ia datangi bersama teman-teman nya.
Orang-orang desa mengerti dengan apa yang ia alami dan mencoba menutup mulut. Memilih mencari topik lain ketika ia datang meskipun keadaan Zura sedang menjadi topik hangat yang sedang mereka bicarakan. Karena ada kesepakatan antara keluarga Zura dan penduduk desa. Agar Zura mendapatkan penyembuhan total. Tanpa harus mengingat-ingat keadaan yang sudah berlalu atau mengingatnya secara perlahan agar dirinya tak kaget.
Disana Zura bertemu dengan Lean yang baru datang bersama temannya Tyo. Terlihat Zura sedang meminum pudding, sebatang rokok terjepit di jari tengah dan telunjuk kanannya.
" Yo... Zura ada disini juga kamu ternyata... Apa kesehatanmu sudah mendingan?! " Ucap Lean. Ia duduk di belakang Zura karena disamping Zura sudah penuh tempatnya.
"Yeah begitulah... Kamu juga datang kemari ternyata...!!! " Ucap Zura. Ia pusing dengan apa yang terjadi sore tadi, ia hanya menghisap rokok di tangan kanannya itu.
" Bu... Teh telor dua..!!!" Ucap Tyo. Zura ingat sesuatu, ya... Dia Lean sahabatnya yang mengatakan sesuatu yang ingin diketahuinya. Ia lalu menepuk bahu Lean, Lean tetkejut.
" Ada apa Zura...? Ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan? " Ucap Lean. Perasaannya pun mulai tak enak ia menatap Zura dengan curiga.
" Bro... Boleh ngga aku minta video xxx mu...!!!" Ucap Zura dengan senyum jail berbisik ke telinga Lean. " Udah lama nih... Lantaran perawatan, aku ga pernah kemana-mana, sumpek juga..." Ia sedikit kesal.
Mendengar hal itu Lean lega. " Ada-ada, kamu memang ngga berubah bro... Saat keadaanmu seperti ini pun kamu masih bertingkah konyol, ayo... Dimana kamu mau salin Vidio nya...?!" Ucapnya kembali berbisik pada Zura.
" Agak jauh antara lahh... Segan kalau banyak orang....😏" Ucapnya.
"Tumben banget... Biasanya kamu santai aja kalau membicarakan beginian di depan orang... Lagian disini kan laki semua... Tapi ga apalah, itung-itung kamu kan lagi sakit... Jadi kubantu memberi kenyamanan mata. Wkwkwk" ucap Lean.
" Ah... Aku tunggu disini aja... Lagi minumanku belum habis... Ada acara bola di tv, sayang kalau dilewatin..." Ucap Tyo.
__ADS_1
" Ck CK kamu kebiasaan nonton bola ya..." Ucap Lean " Kalau begitu aku pergi ke belakang dulu sama Zura, ntar kalau lama susul saja..." Ucap Lean.
" Ini tak akan lama... Aku bayar bon dulu..." Ucapnya. "Bu ini... Sekalian punya Lean dan Tyo" Ucap Zura sambil memberikan uang 50 ribu pada ibu itu.
Zura memang sering mentraktir temannya ketika ia dikedai. Kebiasaan yang melekat padanya tidak berubah, Lean sudah menunggu di luar, sambil mencari-cari Vidio yang ada di hp nya. Setelah selesai menukar uang kembalian, Zura segera pergi.
" Lo... Perasaan tadi ada disini, apa aku salah letak ya...? Kemana pisaunya... Padahal barusan dipakai untuk mengiris timun..." Ucap ibu pemilik kedai kopi itu.
Zura menarik Lean menjauh dari keramaian, hingga tak ada orang disana tetapi masih daerah belakang perumahan.
" Hei bung... Apa ini tak terlalu jauh...?!" Ucap Lean mengikuti.
" Aku tak suka keramaian... Disini saja..." Ucap Zura, nadanya berubah menakutkan. Hingga membuat Lean waspada.
"A... Apa yang ingin kamu lakukan padaku Zura... Kau tak akan melakukan hal yang berbahaya kan...?!" Ucap Lean.
" Heh... Ternyata kamu sudah tau...!!!"
Badan Zura membalik, tangannya mencekik leher Lean dengan cepat.
" Jangan bersuara... Jawab saja pertanyaannya dengan singkat, karena tadi sore kau seperti ingin menceritakan sesuatu padaku... Aku percaya kau adalah teman baikku di masa lalu, jadi jawab saja!!! " Ucap Zura dengan menodongkan pisau kearah Lean.
" Tapi... Itu... B.. baiklah, apapun katamu..." Ucap Lean takut. Ia tahu kalau Zura memang teman baiknya, tapi bukan tandingannya karena Zura sanggup melakukan apapun yang ia mau. Iya sudah tak heran kalau Zura menjadi ketua Berandalan dengan sikapnya yang seenaknya itu karena Zura tak pernah takut dengan apapun dan tak ada yang bisa menghalanginya. Jail, nakal, berani, bengis, dan bebas itu merupakan sikap Zura yang buruk yang ia ketahui.
" Aku sudah tahu sejak aku sadar, kalau kalian semua menyembunyikan sesuatu dariku, ceritakan insiden kecelakaan itu dan setelahnya yang kamu ketahui...!!! " Ucapnya tegas.
" Itu sangat mustahil... Kami semua sudah diperintah ketua pemuda untuk menutup mulut soal ini.." ucap Lean takut.
" Kau tahu aku paling benci jika ada yang menutupi sesuatu dari ku... Aku tak akan segan bila kau mati disini, walau kau adalah teman ku, toh... Seperti yang kau tau... keadaanku belum membaik sepenuhnya kan...?!" Ucap Zura dengan mata yang serius.
" B... Baiklah Zura... Seperti apa yang kau mau... Akan kuceritakan, tapi jangan terlalu berharap banyak ini sekedar apa yang aku ketahui saja..." Ucap Lean lirih. Zura melepaskan cekikannya namun pisau itu tidak dilepaskannya.
"Oke oke, singkirkan itu... Aku akan menanggung konsekuensinya jika ketahuan. Aku tak ingin menyembunyikan lama-lama sesuatu tentang mu." Ucapnya.
Zura melihat bahwa Lean juga cukup dapat dipercaya. Tapi ia tetap ingin mengetahui keadaan yang sebenarnya. Ditempat itu Lean dengan singkat menjelaskannya pada Zura.
Zura terkena kecelakaan, itu memang benar adanya. Tapi Lean menceritakan bahwa tunangan aslinya bernama Viona, dia sebab utama Zura mengalami kecelakan, Lean ada disana ketika melihat Zura sedang memukul seseorang yang mungkin adalah selingkuhan Viona. Tapi Lean berada di di tempat yang jauh dari mereka. Ia tak dapat melihat jelas pemuda itu. Lagi pula ia merasa hal itu bukan urusannya.
Saat itu pemuda itu mendorong Zura ketika Zura ingin menggenggam tangan Viona. Benturannya mungkin begitu kuat hingga Zura jatuh ke jalan raya. Hari itu gerimis jadi jarang ada orang keluar, ketika itu ada satu mobil lewat kearah Zura dengan laju kencang dan tak sengaja menabraknya.
Lean yang khawatir meminta bantuan orang-orang yang ketika itu berteduh bersamanya. Supir mobil itu keluar juga untuk membantunya. Tapi Viona dan pemuda itu malah memilih kabur, karena keadaan Zura cukup parah. Lean tak bisa mengejar mereka. Ia lebih memilih mengurus kondisi sahabatnya yang luka parah itu.
Karena itu konflik internal kedua keluarga lebih memilih bungkam. Lagi pula orang tua Viona tinggal di luar daerah sejak 2 tahun silam. Viona hidup dengan nenek nya disini. Viona sejak insiden saat itu tak pernah menampakkan dirinya dan ia tidak ada di manapun ketika keluarga Zura mencarinya. Bahkan orang tuanya sangat sulit untuk dihubungi.
Zura kehilangan ingatan saat sadar. Ia tak ingat dengan siapapun bahkan keluarganya. Saat bertemu dengan Achi, Zura memang berangsur mengingat segalanya. Lalu mengklaim Achi sebagai tunangannya. Lean tidak tahu apa yang terjadi antara keluarga Zura maupun Achi. Namun ibu Zura meminta kalau seluruh orang desa harus berpura-pura menganggap Achi adalah tunangan yang sah.
" Jadi... Selama ini aku hanya bermain dalam imajinasi ku sendiri yah... Hahahah... Pantas saja Achi memperlakukanku seperti orang asing baginya..." Ucap Zura frustasi. Ia langsung menurunkan pisau yang sedari tadi sudah siap menggorok leher Lean.
" Zura ini bukan salah siapapun... Situasilah yang mengharuskanmu berada dalam kondisi seperti ini...!" Ucap Lean mencoba menenangkan hati Zura.
" Semuanya berbohong demi aku... Kesembuhan ku... Seharusnya aku tak menanyakan ini padamu... Beberapa waktu lalu ketika sadar ibuku juga bilang kau adalah orang pertama yang membawa ku kerumah sakit. Aku berterima kasih padamu..." Ucap Zura dengan tatapan sedih.
" Tidak... Itu tidak perlu seharusnya aku menjelaskan situasi ini lebih awal, jadi kau tak perlu merasa tertekan dengan apa yang menimpamu..." Jelas Lean.
" Soal ini aku tidak akan bilang ke siapapun sebelum ingatanku kembali, kau tak perlu takut dan merasa bersalah. Aku akan menyelidiki ini pelan-pelan dan masih ada yang ingin kurus, aku akan mengikuti alur yang diciptakan keluargaku... Agar mereka juga tau baik tidaknya hal ini denganku..." Jelas Zura.
"Ah... Begitu ya bro... Kalau begitu aku juga senang mendengarnya..." Ucap Lean senang.
" Hei boleh kutanya sesuatu pada mu...?!" Ucap Zura penasaran.
" Ya tanya saja.... jika aku dapat membantumu, aku akan sebisa mungkin melakukannya, bukankah kita sudah berteman sejak lama...?!" Tanya Lean. Hal itu membuat Zura tertegun. Ia senang ia mengetahui hal ini dari sahabatnya sehingga beban pikirannya dapat terangkat sedikit. Ia tertawa kecil lalu bertanya.
" Apa pendapatmu tentang Achi... ?" Zura.
" Apa kau tertarik dengannya...?" Lean.
" Entahlah... hanya saja jika melihatnya
semua memori tentangnya dapat ku ingat begitu pula dengan orang-orang terdekatku... Jadi aku ingin tahu... Bukankah ia itu agresif...?!" Ucap Zura.
" Ahahaha aku sudah tau sejak awal kau memang tertarik dengannya bro..., Dia itu tidak agresif Lo. Itu karena kau sering bersama Viona yang gayanya memang agresif.. makanya kamu mengadaptasikan di otakmu bahwa Achi juga agresif. Achi itu... Aku tidak banyak tahu tentang nya...(serius) hanya saja yang aku tahu dia seorang gadis yang anti sosial... Matanya cukup tajam dan dingin... Dia jarang berinteraksi dengan laki-laki bahkan yang aku tahu dia bahkan tak pernah miliki hubungan dengan laki-laki secara spesifik...." Jelas Lean.
" Ah... Pantas saja ia sangat marah ketika aku menciumnya..." Ucap Zura dengan senyum jahil.
" Uwah... Benarkah bro... Kau dan dia itu sudah bermusuhan sejak kecil Lo... Bahkan ia tak pernah menoleh kearahnya meskipun kau berkali-kali menyapanya...yah jika aku jadi dia aku juga akan membencimu..." Ucap Lean agak kesal.
" Kenapa...?!" Ucap Zura .
" Habis yang kau bilang selalu dengan nada penghinaan, terlebih itu menyangkut orang tuanya... Kau tahu dia mungkin hanya hanya anak kuper bagi kita kala itu... Keluarganya adalah pendatang dan cukup miskin juga dulu. Tapi kudengar ia cukup berprestasi di bidang akademik. Hidupnya keras... Dia juga anak satu-satunya tak heran jika orang tuanya mendidiknya dengan keras agar tak salah langkah. Orang tuanya juga baik, ramah pada orang-orang, dan juga pekerja keras makanya sekarang mereka juga terbilang berkecukupan disini. Ia memang cukup dingin terlebih jika itu kau..., Kau pernah tak sengaja menceritakan bahwa ia secara terang-terangan membencimu dan tak mau melihatmu lagi..." Jelas Lean.
" Begitu ya... Sepertinya aku mulai ingat mengapa dia bersikap demikian..." Jelas Zura.
" Tapi apapun itu mungkin ini adalah takdir tuhan sehingga kalian dapat seperti sekarang. Aku hanya berharap kau tak menyakitinya lagi sobat... Dan memperbaiki tingkah lakunya dengannya. Baik kalian nanti memang menjadi pasangan hidup ataupun kawan. Kurasa gadis itu cukup baik hati walaupun agak keras karena kulihat ia tak pernah menyembunyikan apapun kan..."
" Iya kalau itu aku setuju..."
Ada senter hp menerangi mereka dari jauh...
__ADS_1
" Ternyata kalian disini...!!! Sudah belum ngirim vidionya... !!!" Ucap Tyo.
" Hei.. kembalikan ini ke bu Dora gih..." Ucap Zura.
" Pantas aja dia kehilangan, kamu kenapa bawa-bawa pisau sih Zura... Aneh-aneh saja..." Ucap Tyo ia pun mengembalikannya.
" Kami takut kalau-kalau ada ular tadi disini..." Ucap Lean ngeles. " Apa kau akan kekedai lagi...?!" Ucap Lean.
" Tidak aku ingin pulang... Dan mengistirahatkan pikiranku... Kau juga pulanglah nanti ga dibukakan pintu sama ibumu, jika pulang terlalu malam sobat...!" Ucap Zura jail sambil mengejek.
" Sialan kamu Zura... Andaikan orang tuaku ga otoriter sepertimu wkwk . Ya udah... aku ke kedai dulu bayar bon..." Ucap Lean.
" Tak perlu aku sudah membayar nya..." Ucap Zura.
" Cih.... Kelakuanmu memang tak berubah meski isi otakmu sudah di otak-atik Zura, terimakasih !!!" Ucap Lean. Zura hanya melambaikan tangannya dari belakang.
Sesampainya Zura dirumah ia melihat ibunya yang sedang menunggu mondar mandir didepan pintu. Ibu Zura tersenyum ketika melihat anaknya pulang.
" Udah pulang nak..., Apa kamu udah makan, kalau belum makanlah dulu sebelum tidur ya...?!" Ucap ibu Zura khawatir.
Melihat ibunya yang seperti itu ia hanya tersenyum kecil. Ia tahu kalau pilihan ibunya adalah yang cukup baik untuk penyembuhannya hari itu. Makanya ia tak marah lagi. Zura memang tak bisa marah lama-lama terhadap seseorang.
" Iya Bu aku akan makan dulu sebelum tidut..." Ucapnya. Lalu masuk " ibu... Aku sayang padamu... Terima kasih sudah menjadi ibuku..." Ucap Zura.
Kata- kata Zura Membuat ibunya tertegun. Ibunya hanya tersenyum kecil lalu ibu Zura bercerita lepas malam itu. Menghibur anaknya saat makan.
...esoknya...
"*** Aku benar-benar membencimu... Sangat membencimu... Bagaimana orang seperti mu bisa hidup leluasa dengan menginjak dan menghina martabat diri orang lain... Kau bahkan lebih hina dari seekor anjing, aku tak ingin melihat wajahmu lagi..." Gadis itu berteriak sambil menangis***.
Zura tersentak, napasnya terengah-engah lagi. Namun dia tertawa kali ini.
" Ah... Sepertinya itu hal yang kualami dengan mu ya Achi... Mungkin ini juga karma untukku... Sehingga kita bisa terikat seperti ini... Tapi jika memang kita ditakdirkan untuk terikat lebih lama... Aku ingin melihat dirimu yang lain yang belum pernah kau tunjukkan kepadaku... Karena sejatinya aku tak pernah menolaknya untuk datang kepelukanku, bahkan saat ini malah aku yang ingin berada di pelukanmu untuk beberapa saat... Dan aku akan membuat rencana yang tak bisa kau tolak sehingga aku bisa melihat, niat mu yang sebenarnya." Ucap Zura dalam hati.
Pagi itu Zura berjalan-jalan pagi untuk merefresh kan otaknya.
"Udara pagi memang cukup segar ya... ?!" Ucapnya sambil menghirup udara segar di jalan rumahnya. Ia tak sengaja melihat Achi yang tergesa-gesa mengendarai motornya.
" Oh... Ternyata dia seorang guru ya... Menarik..." Ucap Zura dengan senyum jahilnya. " Sepertinya ingatan ku tentang mu sudah kembali sepenuhnya Achi..." Ucap Zura pelan.
Tiba\-tiba saja setelah selesai mengajar, Achi lagi\-lagi mendapatkan kabar tak mengenakkan dari orang tuanya.
Zura ingin Achi tinggal bersamanya di rumah pribadi yang sudah disiapkan orang tuanya untuknya sejak bertunangan dengan Viona. Kata\-kata Zura dapat menyakinkan orang tuanya bahkan untuk orang tua Achi. Ia berkata ingin hidup satu atap dengan Achi. Karena Achi semakin jauh darinya rasanya beda dengan dulu yang selalu menempel padanya, padahal ia tahu kalau itu adalah sifat Viona. Maka dari itu ia ingin Achi ada bersamanya.
Ia juga berjanji tidak akan mengganggu privasi Achi. Lalu tidur dikamar terpisah sebelum waktunya. Hal itu sudah diduga Achi, teman-teman yang dulu pernah menggosipkan hubungan Viona dan Zura memang sudah seperti layaknya suami istri. Karena itu ia yakin hal ini juga akan menjadi masalah yang Achi hadapi nanti. Bahkan orang tua Achi tak bisa mengatakan apapun tentang hal itu. Karena perjanjian yang sudah Achi setujui.
Achi meminta izin kepada keluarga Zura untuk mempersiapkan mentalnya. Seminggu berlalu Zura dan Achi tak pernah komunikasi. Karena Achi melarang Zura untuk datang, hal itu akan menambahkan masalahnya. Zura juga mengakui tindakan tak senonohnya pada Achi kepada dua keluarganya, tapi itu murni karena Zura merasa dirinya memang begitu dekat dengan Achi. Ia juga meminta maaf pada keluarga Achi, waktu Achi tidak ada di rumah. Kaka ipar Zura menyampaikan pada Achi, jika Achi tak datang dalam waktu seminggu maka Zura sendiri yang akan menjemputnya.
Achi membawa sebuah koper, langkah kakinya terhenti rumah semi permanen berwarna biru langit yang punya teras cukup lebar. Di depannya tumbuh bunga menjalar di pot gantung yang diletakkan di bawah genteng. " Ah... Cantiknya..." Ucap Achi dalam hati. " Ternyata pemuda itu menyiapkan banyak hal untuk istrinya dulu ya..." Batinnya lagi.
Achi hanya mematung di depan teras melihat bunga-bunga itu. Hatinya sedih karena yang ia lihat sekarang, sebenarnya bukan ditunjukkan untuknya. Ibu Zura melihatnya.
" Nak Achi sudah datang nak...!!!" Ucap ibunya.
" Ah iya Bu..., Maf merepotkan ibu..." Ucap Achi sungkan.
"Ah tidak apa..., Mari masuk nak... " Ucap ibu Zura santai.
" Terima kasih Bu..." Achi masuk ruangan yang akan ditempatinya sampai ingatan Zura itu kembali. Ia melihat sekeliling dindingnya dibalut dekorasi daun bambu yang terlukis disana begitu asri.
" Siapa bu..." Ucap Zura sambil memegang selimut yang Baru ia lipat. Ia keluar dari kamarnya. Mata mereka saling bertemu. Achi mengingat kejadian seminggu lalu ketika Zura menciumnya dengan paksa. " Kamu... Sudah datang ya..." Kata Zura ia memainkan senyumannya dengan lembut.
Melihat senyumnya itu Achi sadar bahwa waktu lalu hanyalah kesalahan. Mungkin karena jiwa Zura terguncang dengan apa yang dialaminya. Zura mungkin sudah introspeksi diri, dan memperbaiki tingkah lakunya. Ia hanya harus berhati-hati dan ini semua demi kesembuhan Zura kedepannya.
" Iya aku datang..." Ucap Achi sambil tersenyum hangat menghilangkan prasangka buruk nya pada Zura.
"*** Achi... Sekarang kau ada dalam perangkap ku... Kau akan menjadi kucing kecilku... Karena semua tentang dirimu sudah dapat kuingat jelas. Benar bahwa omonganku selalu menginjak martababat diri orang lain terutama dirimu dulu, kau juga benar bahwa aku lebih hina dari pada seekor anjing.... Tapi ada satu yang belum kau ketahui tentang perasaan ku padamu yang sebenarnya... Makanya aku akan menunjukkan semuanya yang tak terlihat padamu sekarang... Bahkan bila nanti kau tak digenggaman ku aku akan menunjukkan semuanya***....".
.
.
.
_°°°_ to be continued _°°°_😏
.
.
.
* Bagi yang belum tahu "mas, kakang" adalah panggilan akrab untuk Kaka laki yang umum bagi suku Jawa secara menyeluruh. Sedangkan untuk "Uda, Abang " untuk orang Minang / padang. Karena diwilayahnya Padang tidak hanya didominasi oleh suku Minang sepenuhnya. Ada juga suku Jawa, Batak, Mandailing, Melayu,maupun suku lainnya. Harap pembaca mengerti.🐼
__ADS_1