
sayang....
Jika kamu merindukanku maka lihatlah kelangit
Ketika langit fajar aku sedang berbisik lewat angin membangunkanmu
Jika langit cerah, maka aku sedang tertawa
untuk menyemangati waktumu
Jika langit sore datang aku sedang terlihat cantik untuk menggodamu
Dan bila malam datang aku bersama beribu bintang itu aku akan menjadi pengantar tidurmu.
Hingga dirimu terlelap dalam mimpi indahmu
Lalu bangun lagi dengan senyum di wajahmu
Maka jangan terlalu bersedih jika aku pergi
Karena aku selalu merasa ada bersamamu.
.
.
.
***.
Zura masih dalam keadaan tak sadar di rumah sakit, beberapa mimpi yang dilaluinya mengantarkan ia pada salah satu kejadian yang menjawab rasa penasarannya.
* Sebelum kecelakaan *
Akhir-akhir itu Zura merasa Viona agak aneh, ia memaklumi Zura yang jarang menemuinya karena kerjaan Zura. Biasanya Viona ngotot dan ujung-ujungnya malah ngambek. Entah itu pertanda baik karena Viona mulai mengerti / buruk Zura hanya memakluminya. Ia juga lagi semangat-semangatnya mencari uang buat nikah, apalagi yang ia nikahi adalah gadis yang imut dan menyenangkan seperti Viona , ia jadi tidak sabar. Ketika di kedai kopi Bu Dora , ia bertemu Tyo dan Dodi, Kawan-kawan ngota nya di kedai.
" Zura... Tunangan Lo gua liat akrab banget ma tetangganya ya...". Ucap Dodi.
" Maksud Lo apa...?!". Tanya Zura menyipitkan mata.
"Lo jangan menduga-duga ngga jelas lah Dod ... lagian Zura ma Viona kan udah tunangan... ga mungkin kan si Andre berani nikung... Andre kan sahabat kita... lagi kan mereka tetangga dekat... wajar kan kalau terlihat akrab kayak saudara... !" . Jelas Tyo.
" lu ga usah bacot ngga jelas lah Dod ... gua lagi semangat-semangatnya nih cari duit buat nikahan mau lu runtuhin apa, Ama prasangka ngga jelas lu...". Timpal Zura marah.
" Eh santai men...!!! ini kan hanya dugaan Ra, gua kan juga kawan Lo, gua tau lu amaa Andre juga Deket kayak saudara, tapi prasangka buruk itu baik juga ,buat mencegah hal yang ngga enak nanti, kalian lihat sendiri kan di Tv kisah nyata ada sahabat ngambil pacarnya sendiri...!!!".
" Lu kebanyakan nonton tv njiirr... udah ga usah banyak bacot lu, gua ga mu denger yang aneh-aneh mendekati nikahnya gua yang jaraknya cuma 2 bulan lagi!". Jawab Zura Jengkel.
" Sebenernya gua juga sependapat Ama Dodi bro...! Gua tau Lo mau kasih suprise tunangan lu , ngadiahin dia emas kawin yang WAH lah... tapi ngga gitu juga caranya ... gimana-gimana pun lu harus temuin dia bro, jujur aja lu ngaku ngilang-ngilang buat cari mas kawin buat dia , dia pasti bakal seneng banget... apa lagi tipe Viona yang mudah disenanginya itu... " . Tutur Tyo. Dodi melihat pembicaraan itu yang semakin tegang karena Zura sebenarnya juga terlihat was-was.
" Lalu gimana Ama anak tukang kedai Anak pak Cepot, Zura... biasanya tiap kita ngobrol garing gini ...lu dulu selalu masukin dia ke cerita...!" Dodi mengejek.
" Diem lu... dia itu udah pasti gedeg banget lihat gua, lu pernah lihat kan ekspresi dinginnya waktu lihat gue gimana, Lagi lu tau dia gimana kan... anaknya akademis kali... Cupu...!!! gaulnya Ama kucingnya Mulu, balik ke kampung juga jarang... untuk apa gua harapan ntar nunggu dia... eh malah dia balik gandeng cowok ... ya lebih baik cari yang pasti lah...". Jelas Zura serius, ketika dikatakan demikian sebenarnya Zura juga memikirkan Achi sekilas.
Zura memikirkan keadaannya bersama Viona sampai di rumah, selama ini ia melihat kedekatan Viona dengan sahabatnya Andre terlihat biasa saja. Tapi lama-lama hal itu juga membuatnya penasaran.
__ADS_1
Hingga suatu ketika waktu ditelepon Viona bilang ia sibuk kerja dengan tantenya di salon. Padahal hari itu Zura sedang senggang dan ingin mengajak Viona jalan-jalan.
Zura lalu mengecek daftar nama di kontak Hp nya, kebetulan Lean bilang kemarinnya ia mengajak Zura mancing ke muara.
" Lean... lu di mana .. jadi mancing ke muara ngga nanti sore... lu bilang kemarn mau rame-rame kan...?!". Tanya Zura di telepon.
" Eh tumben lu ngajakin main duluan bro... ini juga harinya lagi ga Baek nge pantai bro... gerimis nih ..... takutnya air pasang ntar... Bukannya Lo kerja Ampek membabi buta demi nikahin sama Vio ya...?! lu lagi senggang ya bro... Vio mana ?!". Lean balik tanya, sambil mengejek .
" Ck ... si Vio lagi sibuk nyalon bareng antenya katanya...". Jawab Zura kesal.
" Oh... kasian... eh tunggu....! Lo bilang si Vio lagi nyalon....? ngga salah lu...? gua lihat Viona kok ... kayaknya lagi masuk ke kafe noh...!!!". Jawab Lean memastikan.
" Lu yakin itu Vio bro...?!". Tanya Zura penasaran.
" Yaelah... kayak gua ga kenal aja ma Vio , Ra... Lo liat kemari dah kalau ngga percaya...". Jawab Lean santai sembari berteduh di sebrang agak jauh dari kafe.
" Iya deh... lu shareloc tempatnya ya...!". Jawab Zura sambil menutup teleponnya. Lean heran biasanya , Zura juga ga terlalu kepo dengan urusan pacarnya. Mungkin lantaran udah menjelang pernikahan pikirnya. Lain hal nya dengan Zura yang merasa ia kali ini memang harus pergi melihat tunangan tercintanya itu, ada rasa tak enak yang menyelinap masuk ke hatinya.
Zura langsung datang dengan motornya, dan Lean yang berteduh saat itu menunjuk ke arah sebrang . Lean heran mengapa Zura tidak menunggu hujan reda, walaupun hujan hari itu tidak deras, namun cukup membuat. basah jika menerobosnya.
Zura lalu melihat pertemuan rahasia Viona dengan Andre .
" Vio.... kamu masih suka sama aku kan Vio...". Tanya Andre dengan lembut.
" Kamu gila Ndre , jadi kamu bilang ada keperluan sama aku, cuma buat bilang gini doang... kita kan udah sepakat ngga ngebahas ini...". Jelas Viona . Ucapan itu membuat Zura penasaran sampai mengerutkan alisnya.
" Vio akuin aja... kenapa kamu harus memaksakan diri buat nikah sama Zura, bukannya kamu masih mencintaiku... apa yang kamu lihat dari Zura ...? bukankah aku juga tidak kalah dengannya...". Andre menekankan kata-kata nya.
" Kamu bilang apa yang aku lihat dari Zura...?! gimana pun aku juga mau masa depan ku cerah Ndre... Zura bisa memberi semua yang aku butuhkan ... dia ada , waktu aku butuh dia.... meskipun kamu juga bisa.... dengan kondisi keluarga kita... aku ngga bisa bayangin kedepannya... apa lagi waktu kamu ninggalin aku... aku juga tahu keluargamu waktu itu butuh kamu... tapi aku juga... dan kamu malah tidak pernah mengabariku...". Jelas Viona dengan nada sedih.
" Tapi kamu dulu pacar ku Vio , aku udah menunggu kamu sejak lama... 4 tahun.... saat itu aku hanya sedang badmood, kamu tahu ayahku sakit keras ! dan Nesya memang anaknya sering menggombal jika bercanda...! aku bohong Vio waktu bilang aku selingkuh...!!!". Jawab Andre . Viona langsung kaget mendengarnya. Zura juga yang mendengar bahwa mereka sudah berhubungan lama , sangat terkejut.
" Lalu ... ucapkan sekarang kamu ga mencintaiku lagi... " . Ucap Andre kecewa, sama halnya dengan Zura yang selama ini merasa ditipu oleh mereka. Namun ia mencoba untuk tenang.
" Kamu gila...! aku akan menikah Ndre , lebih baik aku pergi dari sini...!". Viona melangkah pergi , namun tangannya di tarik Andre dengan cepat.
" Baik... aku akan ikhlasin kamu Ama Zura Vio... tapi syaratnya... kamu harus bilang kita pernah berhubungan, terlebih berhubungan intim. Aku ngga mau Zura menyesal setelah menerimamu, dia juga sahabatku....!". Jelas Andre.
" Kamu gila Ndre ... aku ngga mau... ini adalah detik-detik penentuan ku untuk menikah... aku takut ini akan merusak pernikahan kami, keluarga kami bahkan udah undang-undang saudara kami...!!! aku pasti mengakuinya nanti setelah menikah.... sekarang lepasin aku...!!!". Jawab Viona merintinti karena genggaman tangan itu makin kuat.
Zura yang mendengar pengakuan itu, merasa tidak menyangka bahwa apa yang dikhawatirkan teman-teman nya mengenai hubungannya adalah kenyataan, tidak seperti yang ia pikirkan. Ia yang hanya mendengar dari balik dinding pun, merasa kecewa berat dicampur marah. Lalu ia menampakkan dirinya.
" Kenapa harus nanti setelah kita menikah Vio...? kenapa ngga sekarang aja kamu jelasin semuanya...!!!". Tegas Zura dengan suara lantang nya. Andre dan Viona sangat terkejut.
" Zura ka... kamu disini.... tenang Zura ... aku bisa jelasin semuanya...". Jawab Viona yang takut dan panik melihat Zura yang baru itu marah besar dengan nya. Zura memang jarang marah dengan Viona malah bisa dibilang nihil , Karena Viona waktu itu mampu mengambil perhatiannnya.
" Jelaskan... kamu bilang ... oke ayo kita jelaskan di hadapan orang tua kita!!!". Jawab Zura sambil menarik paksa tangan Viona .
" Zura...! ini sakit ... jangan begini Zura....". Jawab Vio merintih. Melihat Viona kesakitan dan Zura yang kehilangan kesabarannya Andre tidak terima.
" Zura kami akan jelaskan... jangan menarik paksa tangan nya , ia kesakitan " . Tegas Andre . Mendengar ucapan itu Zura sangat marah dan berbalik lalu meninju Andre , orang-orang di cafe menjadi panik.
" Lo...! dasar bajingan ... bahkan udah kayak gini Lo ngga mau ngakuin perbuatan Lo ama dia.... sahabat macam apa Lo... gua udah anggap Lo kayak saudara sendiri binatang...!" . Jawab Zura marah. Viona hanya bisa menangis menyesal. Andre tidak terima dengan omongan kasar Zura dan tingkah lakunya, meskipun dia salah. Andre membalas tinju Zura dengan balik meninju , hingga Zura terjatuh.
" Sial Lo ... Lo bilang gua bajingan lalu Lo apa... Vio udah lama pacaran ma gua ... meskipun kami ngelakuin kesalahan besar... Lo ngga harus ngehardik Vio kayak gini di depan umum, gua juga pingin jujur sama Lo ! tapi kelakuan lu yang ngilang disaat penting buat gua ragu , jangan jangan Lo selingkuhi dia juga ya...! ". Jawab Andre sambil tersenyum sangar.
__ADS_1
" Anjing lu tau ngga gua ngapain, gua mati-matian kerja siang malam juga demi beliin dia mas kawin, dan perlengkapan nikahnya dia brengsek! " . Ucapan Zura membuat Vio sangat terkejut dan sedih, ternyata dia tak sabar ketika bersama Zura yang uga sedang berusaha menyenangkan hatinya. Padahal Zura sudah melengkapi semua yang Vio butuhkan , namun ia masih sempat bermesraan dengan Andre. Ia baru tahu perbuatannya, benar-benar akan menjadi Mala petaka untuknya.
" Ngga usah ngeles lu , anji** Mana mungkin lu yang kerjanya main-main bisa serius... paling juga lu manfaatin duit orang tua Lo yang kaya...!!!" . Jawab Andre yang tak mau kalah, sebenarnya ia tahu sahabatnya ngga seperti itu, hanya situasinya saat ini ngga tepat dan membuatnya makin ditelan ego, dan tidak me rem ucapannya.
"Anj*** lo...!!! Lo udah siap mati di tangan gua rupanya, kalau itu mau Lo gua juga ga keberatan ngebuang persahabatan kita!". jawab Zura lantang, mereka saling dorong dan pukul meski Vio sudah mencoba melerainya, karena terlalu parah tidak ada orang yang berani mendekat. Zura lengah sehingga membuat dirinya terdorong keluar pintu yang dekat dari jalan. Dia ambruk hingga terduduk , tiba-tiba ketika Zura jatuh , ada mobil yang lewat dengan cepat menabraknya.
" BRAKKK!!!!" . Mulut mobil itu mengenai kepala Zura, darah bercucuran, melalui kepanya. Lean yang saat itu melihat kejadian itu langsung datang menolong bersama orang - orang yang ikut berteduh bersamanya . Zura melihat wajah Vio yang panik dan Andre yang merasa bersalah. Orang yang berada di mobil itu lalu keluar menolongnya, karena pendarahan Zura sangat hebat mereka yang berkumpul fokus menolong Zura semua.
Vio yang juga ingin menolong Zura , dihentikan oleh Andre yang ketakutan seketika menjadi pengecut . Lalu membawa Vio pergi dengan motornya , menyelinap diam-diam agar tak ketahuan dan pergi dengan motor yang mereka naikin dengan cepat melalui jalan terabasan. Lean ingin mengejar , tapi melihat sahabatnya berlumuran darah, ia lebih memilih sahabatnya. lalu meminta tolong orang-orang mengejar Vio dan Andre.
" Zura aku disini !!! bertahanlah sebentar!!! kita akan pergi ke rumah sakit!!!" . teriak Lean . itu adalah kata terakhir yang didengarnya sebelum koma.
*******
Kini ia meras berada di ruang yang gelap lagi.
" Apa aku udah mati ya...!?". Pikirnya santai. " Yah... jika ia tak masalah... mungkin dengan mati aku bisa mendapatkan wanita yang lebih baik... untuk apa hidup bahkan tunangan ku sendiri menghianatiku...". Jawabnya lesu. Tiba-tiba ia melihat ada seorang gadis yang berada di meja belajarnya dengan gaun putih.
" Dia... ngga asing....". Batin Zura sambil melangkah ke tempat gadis yang masih tertunduk memegang pensil dan sebuah kertas kosong itu.
" Kamu ... buat apa...?,hei kenapa diam aja...? apa kamu bisu...? " Tanya Zura. gadis itu sedikit kaget, namun ia tak menoleh ke Zura, ia hanya terus mencoret kertas itu dengan pensil hingga membentuk sesuatu dengan kelihaian tangannya.
" Selesai !!!". Jawab gadis itu gembira , ia berbalik sambil memegang kertas itu menutupi mukanya. Zura pun melihat gambar itu. wajah dalam lukisan sketsa itu adalah gambar dirinya saat tertawa. Tiba-tiba hati Zura bergemuruh.
" Kenapa kamu menggambar wajahku seriang itu... aku ngga bahagia seperti yang kamu bayangin... ". Jelas Zura sedih.
Gadis itu pun melihat sketsa yang ia buat, Zura langsung bisa melihat wajah gadis berambut ikal itu .
" Hmmm.... kenapa ya... aku gambar wajah Zura seriang ini...?". Gadis itu balik tanya. " Karena aku suka kaallau Zura tertawa... persis seperti mentari pagi... sangat cerah dan bebas... aku suka Zura yang seperti itu...". Jawab gadis itu sambil tersenyum manis menoleh ke arahnya " Aku ingin Zura cepat sembuh, sehingga aku bisa melihatnya melangkah melewati harinya dengan senyum seperti ini..." . Mendengar ucapan gadis itu Zura meneteskan air matanya.
Ia tahu gadis itu, gadis itu sudah lama ada di dalam hatinya sejak lama. Hanya saja keberadaannya tidak Zura sadari.
" Zura...! bukannya kamu mau menangkap ku...?, kalau begitu maka tangkaplah, jangan biarkan aku lari ataupun pergi Zura... karena aku amat merindukanmu disini...". Ucap gadis itu sambil menaruh tangannya tepat di hatinya. Tubuh gadis itu memulai memudar diikuti dengan senyum lebar gadis itu.
" Tidak... jangan pergi... jangan meninggalkanku sendiri dalam kegelapan lagi...!.". Teriak Zura sambil memegang bayangan gadis itu yang semakin pudar. Nafasnya terasa sesak dan tak enak ia menguatkan dirinya untuk bangun, ia perlahan-lahan melihat cahaya... dan mengejarnya.
" Aku tidak ingin koma lagi, aku ingin bertemu denganmu, ya denganmu. Orang yang selama ini ngga aku ketahui, orang selalu berada di sampingku.". Ucap Zura dengan keyakinan kuat.
" Achi..!". Ucap Zura perlahan, ibunya yang sedari tadi menggenggam tangannya dengan khawatir , langsung bahagia ketika anak bungsunya itu mengigau, lain halnya dengan Viona yang duduk di belakang calon ibu mertuanya, merasa khawatir kalau posisinya akan tergantikan mendengar kata-kata itu.
Seketika Zura terbangun dari tidurnya ,disaat pagi datang , ia melihat ibunya yang meneteskan air matanya sambil memeluk Zura. Lalu gadis berambut pendek dengan kucir belakang itu juga melihatnya dengan khawatir juga ikut meneteskan air matanya. Viona senang Zura tersadar lalu melangkahkan kakinya ke hadapan Zura.
" Zura ... aku minta maaf..." . Tangis Viona .
.
.
.
.
To be continued😲
Bagaimana kisah mereka selanjutnya!!! Baca terus Hate A Boy But He Love Me. Jangan lupa like , komen dan support nya ya...👋🐼. Terima kasih sudah memberikan waktu luang buat membaca karya saya.
__ADS_1
bonusnya ada Zura versi yankee Jepang yang saya buat sendiri... saya harap pembaca zuka