Hate A Boy But He Love Me

Hate A Boy But He Love Me
chapter 3


__ADS_3

"Kertas-kertas buram itu... berwarna cokelat...


Usang... Terbang... Kian kemari...


Bagaiagai rentetan perjalanan hidup...


Jatuh kearahku...


Seakan mengingatkan kembali...


Ukiran cerita yang kutulus di pohon jati...


Lalu kau berada di depanku...


Dirimu tertawa lepas...


Layaknya matahari cerah... Di pagi hari yang sejuk...


Hanya... Kertas itu tak berisi tinta...


Memaksa tanganku untuk memulis...


Pergantian musim yang datang kearahku...


Mengapa harus dirimu yang selalu ada di awal cerita...


Waktu kian menciptakan Sembilu...


Berbalut luka... membubuhkan api iblis yang kian membara dalam hatiku...


Dapatkah kau ubah... Menjadi musim semi... Pohon Sakura...


Jika bisa... Aku rela menjadi pohon jati itu sendiri...


Lalu ukirkanlah... Beberapa puluh ribu kata kisahmu hari ini...


Agar aku ingat nanti...


Bahkan bila tempat itu penuh dengan ukiran tanganmu...


Diriku akan menumbuhkan ranting-ranting baru...


Untuk menyenangkan hatimu...


Namun jika tidak...


Aku akan bersembunyi kemanapun


Bahkan ke dasar lautan gelap...


Dimana siapapun tak dapat menemukanku..


Agar hatiku tenang...


Dengan membawa ribuan kunang-kunang...


Untuk menerangi gulita ku..."


.


.

__ADS_1


.


😳😳😳


Teriakan itu membuat beberapa orang bereaksi ke arah muda-mudi itu. Mama Achi yang khawatir mendatangi putrinya yang shock...


"A... Apa yang kau katakan... Aku bahkan tak pernah menyapamu... Bagaimana mungkin bisa aku menjadi TUNANGANMU...!!!" Ucap Achi membela dirinya. Tangannya yang bergetar masih mengingatkan dirinya akan pembullyan di masa lalu


" Kau tau... Aku berusaha mengingatmu... Mengingat namamu... Tapi aku tidak mampu..Karena aku kehilangan sebagian ingatanku... Dan sekarang ketika bertemu, kamu hanya mengabaikannya... Ikut denganku dan jelaskan semuanya..." Ucap Zura menahan perasaannya, bagai ditinggal kekasih. Ia tampak tertekan dengan raut wajah sedihnya.


"Apa yang ingin aku jelaskan, pada pemuda sinting sepertimu!!!" Bentak Achi yang tak tau menahu. Ia bergegas pergi dengan membawa kertas nasi itu, meskipun ada yang tertinggal ia lebih memilih tak mengambilnya. Karena orang-orang mulai berkumpul ke arah mereka.


" Aku tidak akan membiarkan pergi, sebelum kamu menjelaskan. Semuanya Achi!!!" Tegas zura. Ia lagi-lagi memegang tangan Achi dengan paksa


" PLAAKKK!!!" Pukulan keras tangan Achi itu melesat ke pipi Zura.


" Jangan menyentuhku... Kamu tahu seberapa bencinya aku padamu, setelah kamu melakukan semuanya!!!" Teriak Achi. Entah kenapa raut wajah Achi tampak sedih, kesal, dan marah ia bahkan mengatakan hal itu tanpa melihat muka Zura.


Zura seketika terdiam, namun kepalanya entah kenapa begitu sakit hingga ia tak dapat menahannya. Kemudian kesadarannya menghilang ia jatuh tepat di hadapan Achi. Hal itu membuat Achi terkejut, kendati demikian bencinya ia pada Zura ia langsung memberikan bahunya untuk bersandar.


"Hei... Hei... Bangun apa yang terjadi pada mu, tolong... Semuanya tolong saya... Tolong!!!" Teriaknya, orang-orang mulai berdatangan, membawa Zura ke klinik terdekat.


Malam hariya, Achi masih berkalut dalam diam, menyimpan tanda tanya besar dihatinya.


" Nak kejadian siang tadi... Apa ada hubungan diantara kalian sebelumnya?!" Kata mama memastikan apa yang terjadi pada putrinya yang sedang mengupas kentang.


"Ma... Aku bahkan tidak pernah lagi menjadi stalker untuk melihatnya di medsos, bagaimana diriku bisa menciptakan suatu konflik dengannya..." Bantah Achi


" Mama tau... Tapi kamu tahu kan berita yang simpang siur tentang Zura... tunangannya melarikan diri setelah Zura mengetahui dia berselingkuh, juga tertabrak mobil. Mungkin itu yang menyebabkan ia shock dan hilang ingatan" ucap ibunya.


" Tapi aku keberatan dengan tingkah lakunya ma, aku cukup terkejut melihat ia yang tak pernah seperti itu padaku, lalu melakukannya." Ucap Achi membela diri


Mama hanya bisa bernafas panjang, melihat putri semata wayangnya seperti itu. Terdengar beberapa suara motor lewat dan berhenti di rumah Achi. Hal itu membuat Achi, aji serta orang tuanya kaget dengan kedatangan keluarga Zura. Orang tua dan dua kakak Zura, bernama Adi dan Moran juga datang.


"Perasaan tidak enak apa yang menyelimutiku..." Ucapnya dalam hati.


Kedua keluarga itu berbicara beberapa menit, meskipun begitu Achi tak mampu membuka mulutnya. Melihat hal itu Aji duduk disamping kakak sepupunya lalu memainkan HP nya di dekat Achi untuk membuat kakaknya tidak tegang, betul saja kakaknya mulai tak gugup melihat caption di medsos bersama saudara laki-lakinya itu. Lalu perihal yang ditunggu-tunggu akhirnya disampaikan oleh keluarga Zura setelah beberapa menit mereka bicara. Pembicaraan penting itu langsung dimulai dari ibu Zura sendiri.


"Anak saya belum bangun ketika ia pingsan tadi siang, setelah bertemu anak ibu..." Ucap ibunya pada mama Achi. Semua yang sedang berkumpul dirumah menjadi kaget.


Mata ayah Achi mengarah kearahnya. "Ayah aku tak melakukan kesalahan, ia memegang tanganku, makanya aku kaget dan mendorongnya, aku tak menyangka ia akan pingsan..." Ucap Achi membela diri. Mereka semua hanya diam ketika Achi angkat bicara.


" Tidak apa-apa nak..., Kami tidak menyalahkannya. Wajar bila seorang gadis sepertimu melakukan hal itu, karena ia yang dulu tidak sopan kepadamu..."ucap ayah Zura.


"Andaikan saja kejadian itu, tidak pernah dilihat oleh anak saya. Pasti sekarang ia akan baik-baik saja..(terisak). Tapi apakah anak tau ia sempat siuman... Dan memanggil saya ibu tanpa ragu... Sepertinya ingatannya tentang saya sedikit mulai pulih..." Ibu Zura merintih membuat keluarga Achi sedikit tak enak.


"Iya... Meskipun kami sudah memberitahu bahwa kami orang tuanya, sekaligus keluarganya. Ia selalu canggung dengan kami... Semenjak kejadian tadi ia seperti sudah mengingat benar-benar ibunya.. dan saya berterima kasih kepadamu nak.."ucap ayah zura.


"Jadi apa kepentingan keluarga bapak, pada anak kami sebenarnya...?!" Ucap ayah Achi .


Kedua orangtua Zura merasa berat untuk menyampaikannya. Tapi kedua kakaknya ikut bicara.


"Keluarga kami ingin meminta sedikit bantuan pada Achi pak..!!" Ucap Adi tegas."selama masa pemulihan Yasa ( Zura ) kami minta Achi menjadi tunangan pura-puranya" lanjut Adi dengan spontan. Achi, Aji serta kedua orangtuanya terkejut mendengarnya.


" Bagaimana kalian bisa berkata demikian..., Memangnya kalian menganggap putri saya barang... !!!" Ucap ayah Achi dengan tegas. Ibu Zura terisak namun mama Achi tak dapat melakukan apapun, karena kata-kata suaminya ada benarnya.


"Bukan seperti itu maksud saya pak..." Ucap ayah zura menenangkan


" Langsung saja pak... Karena masalahnya juga rumit... Zura sering mengalami sakit kepala... Parahnya ia tak ingin pergi ke dokter... Jadi kami berharap dik Achi bisa menolongnya... Kedatangan kami juga tak cuma-cuma pak... Kami dengar keluarga bapak butuh dana banyak untuk membangun rumah... Kami akan memberikan dana sebesar 50 juta untuk membantu keluarga bapak... " Ucap Moran dengan tegas.


"Jadi kalian pikir, saya serendah itu menukarkan anak saya satu-satunya dengan kompensasi uang untuk pembangunan rumah...!!!" Tegas ayah Achi. Mukanya tampak tak bisa menyembunyikan amarah... Mama Achi lalu menepuk bahu suaminya.

__ADS_1


" Sabar mas... Keluarga Zura juga mengalami hal yang berat... " Ucap mama Achi menenangkan suaminya.


"Maaf, jika kami lancang bicara pak..." Ucap ayah Zura tak enak. Ayah Achi hanya diam dan terjadilah keheningan untuk beberapa saat.


Pikiran Achi pun bercabang, ia tahu kalau kondisi keuangan keluarganya memang sedikit membaik. Namun ia juga tahu persis kalau orangtuanya itu juga butuh dana lebih untuk membangun rumah... Mengingat kalau keluarga mereka hanya menumpang di tanah orang. Dalam jangka waktu setahun mereka harus pindah ke tanah mereka sendiri karena tanah yang mereka tumpangi akan dibangun rumah oleh pemilik tanah itu, maka mau tidak mau mereka harus pindah dan berusaha mencari dana untuk membangun rumah di tanah mereka sendiri yang dibeli tahun silam. Achi pun tak berpikir panjang, karena menganggap itu adalah kesempatan terbaik ia membantu orang tuanya yang susah.


"Baik..., Aku akan menerimanya Jika aku bisa membantu kedua belah pihak..." Ucapnya langsung. Aji terkejut begitu pula dengan kedua orangtuanya. Mendengar hal tersebut keluarga Zura bahagia, apalagi ibunya.


"Kak pikirkan baik-baik.." ucap Aji menepuk bahunya.


"Achi... !!! Hal ini tak semudah apa yang kamu lihat di drama nak!!!" Bantah ayahnya.


"Aku tahu yah... Tapi aku punya pemikiran sendiri, aku sudah besar, aku juga tahu mana jalan yang baik untuk ku pilih!!" Tegas achi.


"Apa kamu yakin akan mengambil pilihan ini nak...?!" Ucap mamanya.


"Aku akan berusaha semampunya ma... Karena aku merasa mampu melakukannya dan jangan khawatir... Aku akan berusaha tidak akan terjadi masalah padaku nanti... Aku janji ma..." Ucapnya menenangkan hati mamanya.


"Percaya saja pada keluarga kami dik, kami tak akan merugikan pihak manapun untuk hal ini..."ucap Moran meyakinkan.


"Syukurlah pak " ucap ibu Zura menangis sambil memeluk ayahnya.


"Tapi aku juga punya syarat!!!" ucap Achi, membuat keluarga Zura penasaran. "Andai ada keadaan terdesak... Yang mengharuskan saya dan anak anda untuk tinggal bersama, tolong hormati juga saya, kalian harus bisa menjaga privasi saya karena saya hanya berpura-pura begitu pula dengan kebebasan saya. Dan apabila ingatan anak anda sudah sembuh sepenuhnya... Bila ia mencoba menuntut Pemberian yang telah paman dan ibuk berikan, tidak akan dikembalikan karena itu hak kami, dan keluarga kalian juga harus membuat surat yang bisa menyatakan hal tersebut, dilengkapi dengan tanda tangan kedua belah pihak dan berikan kepada saya sebagai bukti. Apakah paman dan bibi sanggup... Jika tidak lebih baik tidak usah, saya khawatir dengan kejadian mendatang nantinya...!!!" Tegas Achi.


Ayah Achi hanya tercengang dengan kata-kata anaknya, setahu ia anaknya tak pernah menunjukkan sikap pedulinya pada orang lain dan plin-plan, bersikap tegas dan penuh keyakinan dengan kata-katanya. Mendengar kata-kata anaknya ia tak bisa untuk tak menerima hal itu meskipun hatinya berat.


Ucapan gadis itu juga membuat Moran dan Adi berfikir bahwa gadis itu memiliki pemikiran yang tak sedangkal visualnya. Ia cukup pintar dan cermat dengan keadaan.


" Saya bersedia!!! Demi kesembuhan anak bungsu saya.., saya sangat bersedia...!!!" Ucap ibu zura." Sebelum itu bolehkah saya memeluk kamu nak sebagai rasa terima kasih saya..." Timpal ibu Zura.


"Ah... Iya baiklah..." Kata Achi sedikit canggung.


"Tak perlu canggung nak... Hal yang kamu lakukan sudah seharusnya dilakukan... Mulai besok ibu akan menganggap mu anak sendiri jika datang ke rumah..." Ucap ibunya.


Mendengar hal itu dari ucapan ibu Zura, hati Achi menjadi sedikit sakit.


"Apakah hal yang aku lakukan sudah benar, mengapa rasanya menerima pelukan ibunya terasa sedih ya..." Batinnya.


Kedua belah pihak itu telah sepakat dan tidak menunggu waktu lama, esoknya kontrak itu dibuat dan dana sebesar 50 juta itu diberikan kepada keluarga Achi secara tunai. Jadi mereka langsung bisa mengerjakan proyek pembangunan rumah. Dengan melihat hal itu keluarga Achi tahu kalau keluarga Zura tidak membual dengan janjinya.


Setelah urusan itu selesai ibu Zura meminta Achi pergi kerumahnya untuk bertemu zura. Karena dalam keadaan pingsan Zura menyebutkan namanya beberapa kali. Meski langkah kaki Achi begitu berat ia tak ingin meruntuhkan kepercayaan ibu Zura yang mengatakan :


" aku yakin, anakku akan baik-baik saja saat dia bersamamu walaupun ia nantinya akan tahu kebenarannya, aku percaya kamu pasti bisa menyembuhkannya nak...".


Pelajaran untuk hari ini selesai, Achi ingat dengan permintaan ibu Zura. Ia pun bergegas ke rumah Zura. Disana ada ibu Zura yang sedang duduk santai bersama anaknya Adi dan istrinya, karena anak ibu Zura yang lain sudah dirumah mereka masing-masing. Mereka menyambut Achi dengan hangat seperti mendapat keluarga baru. Ibu Zura segera menunjukkan ruangan Zura istirahat. Tampak Zura sedang berbaring di kasurnya dalam keadaan pingsan itu.


"Ibu, menyiapkan sarapan untuknya, Achi bisa tolong jaga dia sebentar?!". Ucap ibu Zura.


"Bagaimana kalau saya sekalian membantu ibu saja..?!" Ucap Achi seakan ingin menjauh dari Zura.


" Tidak perlu... Ibu bisa menyiapkannya sendiri, Achi disini saja, jangan canggung anggap saja rumah sendiri, karena keberadaan Achi disini sangat berarti untuk kesembuhan anak ibu nantinya." Ucap ibu Zura lembut sambil mengelus kepala Achi.


"Baiklah Bu... Saya akan disini..." Ucap Achi pelan namun hatinya terasa sakit, karena ia berpikir tak layak untuk mendapat perlakuan baik seperti itu dengan syarat yang ia ajukan dua hari lalu.


Benar saja beberapa menit kemudian pemuda itu memanggil-manggil namanya.


.


.


.

__ADS_1


To be continued 🙂


__ADS_2