
"Kenapa tatapan wajahmu
Layaknya menahan kesedihan
Sampai kini aku tak tahu jawabannya"
.
.
.
Zura tiba-tiba dipeluk seorang gadis muda berambut pendek, wajah gadis muda itu masih tampak buram baginya. Satu hal yang pasti ia tak membenci gadis itu.
Disisi lain ketika tangannya ditarik dan diajak pergi oleh gadis itu. Dibelakang gadis itu, ada seorang gadis lainnya yang berdiri diam disana, ia berdiri sambil tersenyum memandang wajah pemuda itu. Ketika Zura meneriakinya dengan nama Achi, senyum gadis itu hilang berubah wajahnya tampak sedih. Achi mengatakan sesuatu yang tak didengar oleh Zura namun pergerakan bibirnya sudah cukup untuk Zura mengetahui semuanya. "Maaf Zura, maaf..."ucapnya sambil menangis.
"Achi... Tidak... Aku tak akan meninggalkanmu!!!" Teriaknya sambil tersentak, bagaikan seorang yang kesetanan.
Achi terkejut tiba-tiba melihat Zura seperti itu. Terlebih yang membuatnya lebih kaget adalah pemuda itu langsung menarik dan memeluknya dengan erat saat bangun.
"A... Aku tidak akan pernah meninggalkanmu Achi... Dimana pun dalam keadaan apapun!" Ucap Zura. Melihat Zura seperti itu, ibunya keheranan karena saat Zura berteriak, ibunya langsung pergi melihatnya.
"Zura... Tenanglah nak, kamu bisa membuat nak Achi khawatir..." Ucap ibunya.
Zura baru tersadar dengan itu " Maaf Achi ini pasti tak mudah buatmu, aku harap juga ingatanku cepat kembali..." Ia melepaskan pelukannya.
Ekspresi wajah Achi sungguh membuat ibu dan anak itu tetkejut. Ia meneteskan air matanya diluar kesadarannya
"Ada apa?" Tanya Zura.
"Eh... Ini aneh, sepertinya aku sudah menanti kata-kata itu dari ucapan mu..." Jelas Achi, tetapi ia segera menutup mulutnya. " Maaf lupakan saja ucapanku barusan... A... Aku perlu ke kamar mandi sebentar..." Ucapnya meninggalkan kamar Zura segera.
Ibu Zura yang melihat hal itu langsung menyusul Achi, lalu mendapati dirinya sedang berfikir keras akan sesuatu. Gadis itu juga terlihat depresi. Achi melihat ibu Zura yang memandanginya, ia lalu tersenyum untuk menghilangkan kekhawatiran ibu Zura.
" Maaf Bu... Aku tidak berusaha dengan baik..." Ucapnya.
__ADS_1
Ibu Zura hanya menggelengkan kepalanya " Itu sudah lebih dari cukup nak Achi..., Ini pasti berat bagimu..." Ucap ibu Zura dengan lembut sambil menepuk bahu gadis itu.
Ketika makan bersama berlangsung, ada jarak diantara Zura dan Achi Meskipun ibu maupun kakak Zura mencairkan suasana. Mereka seperti tenggelam di pikiran mereka masing-masing.
Setelah selesai Achi membantu ibu Zura beres-beres di dapur. Lain halnya dengan Zura ia menghindari Achi dengan alasan sakit di kepalanya kambuh. Namun ia juga tak pernah betah selama ini jika didiamkan oleh orang lain terlebih jika itu Achi. Ia segera menyusul ke dapur, tapi Achi sudah tidak disana.
"Kemana Achi Bu...?" Ucapnya sambil melihat sekeliling.
"Ah... Nak Achi sudah pulang..m... katanya ada yang perlu ia cari. Memang ia tangguh dalam kata-kata seperti yang ibu dengar dari orang lain. Mas mu menawarkan ingin mengantarnya, tapi ia malah memilih jalan." Jelas ibunya.
"Aku akan pergi sebentar Bu..." Ucap Zura.
" Eh... Bukannya tadi kamu bilang kepalamu sakit...?" Ucap ibu khawatir, namun ia melepaskan anaknya. Ia tahu apa yang akan dilakukan oleh purtanya. Ia juga cukup tahu kalau gadis bernama Achi punya tempat spesial di hati kecil putranya, begitu juga gadis itu. Ibu Zura bertanya-tanya apa yang menjadi penyebab gadis itu menahan perasaannya, dengan kesedihan.
Zura mencari Achi yang sudah tidak terlihat, tapi perasaannya mengatakan kalau Achi belum jauh. Lean yang merupakan sahabat kecil Zura tak sengaja lewat di depan rumahnya.
"Yo Zura... Lagi mencari gadis kecil yang tidak pernah menurut denganmu kah... Dia memilih jalan pertama memutar bukan lewat jalan kedua itu Lo..." Ucapnya sambil mengendarai motor...
"Bagaimana kau tau aku sedang mengejarnya...?" Ucap Zura.
"Omong kosong apa itu...?!" Ucap Zura lirih dan ia mengejar Achi melewati jalan yang dikatakan Lean. Benar saja ia melihat Achi tengah berjalan pulang.
"Achi berhenti disana... Ayo pulang jalan bersamaku, jika kamu tak ingin naik motor...!!!" Teriak Zura membuat Achi terkejut.
"Tak... Tidak perlu Zura... Aku bisa jalan sendiri... Lagi pula luka dikepalamu belum cukup sembuh kan..." Jawab Achi.
"Sampai kapan kamu akan menghindari ku Achi..." Ucapan Zura disertai langkah kakinya yang mengejar Achi,membuat Achi teringat Zura juga pernah mengejarnya seperti itu di masa lalu, ia bergegas melangkahkan kaki walau tersandung beberapa kali, rambutnya ikalnya yang hanya diikat oleh jepitan rambut itu tergerai .
" Kumohon jangan kemari...!!!" Ucap Achi dengan langkah kaki Zura yang kian bisa menyusulnya. Tak sengaja ada sebongkah batu yang cukup besar di jalan daripada kerikil lain, kakinya mengenai batu itu. " Brukk.." ia terjatuh. Zura segera menyusulnya dengan khawatir.
" Kamu ini kenapa sih... Seperti ketakutan saja... Padahal kita sudah bertunangan, seharusnya hati-hati dan dibiasakan dong (ucap Zura ia sedikit sebal, tangan kirinya menggaruk bawah kepalanya yang tak gatal, mukanya sedikit khawatir. Membuat Achi seperti merasa bersalah) sini Kubantu berdiri..." Ucap Zura sambil mengulurkan tangan kanannya.
" Ah terima kasih..." Ucap Achi.
"Wajahmu...ada pastinya lho.." ucap Zura menunjukkan pipi kiri Achi yang terkena pasir. Achi merasa malu.
__ADS_1
"Bebarkah..?! Ah bodohnya aku...( Ucapnya lirih sambil mengusap pipinya yang terkena pasir) bagaimana apa masih ada...?" Lanjutnya bertanya kepada Zura. Pipi gadis itu tampak merona sambil tersenyum malu mengatakannya karena ia tidak sanggup memandang wajah Zura dari dekat ia hanya menunduk matanya menoleh ke kiri dan ke kanan.
Meski begitu hati Zura bergemuruh melihatnya dan ia mengatakan pada dirinya ia tak sanggup menahannya, ia benar benar tak sanggup. Rambut ikal terurai serta senyum itu pernah ditunjukkannya oleh anak laki-laki lain. Ketika itu pensil Achi terjatuh dan anak itu tak sengaja mengambilnya. Tawa malu-malu anak laki-laki itu yang juga seperti menyukai Achi membuat Zura marah, ia merebut paksa pensil itu lalu mematahkannya. Itu merupakan pensil hadiah mama Achi ketika ulang tahunnya yang selalu dipakai Achi untuk menggambar. Achi mengambil pensil yang sudah patah itu dengan mata sedih menahan agar air matanya tidak menetes. Setelah melihat itu dan mengetahui kebenarannya Zura merasa apa yang dilakukannya adalah kesalahan besar, ia mencari cara untuk meminta maaf tapi bibir Achi yang bungkam membuatnya tak bisa melakukan apapun.
Sekarang ia mendapatkan senyum itu, senyum yang bahkan belum pernah benar-benar ditujukan olehnya. Pertama kali dia melihatnya.
"Eh... Masih ada kah..." Ucap gadis itu tak enak, ketika melihat sorot mata itu dengan tajam dan seperti menggertakkan giginya. Zura terlihat dingin.
"Iya masih... Dibibir mu juga ada... Biar aku yang menghapusnya" ucap Zura seketika tangannya menarik tangan Achi, hingga tubuhnya terdorong kearah pemuda itu.
Wajah mereka menjadi dekat, hingga hidung mereka berselisih membuat Achi terkejut, Zura menunduk dan segera mencium gadis itu. Terasa tersambar petir, Achi tak dapat menahannya. Bahkan ketika tangan Achi yang satu lagi mencoba melepaskan dirinya dari Zura, pemuda itu segera mendekapnya dengan erat. Ekspresi wajah Achi saat memejamkan matanya ketika itu, tak sanggup menahan perilaku Zura yang seperti memakan tubuhnya, bahkan Zura ingin lebih mencicipinya. Itu sangat jarang terjadi pada Zura karena ia tak pernah seperti ini sebelumnya. Dan ia cukup sadar dengan apa yang ia lakukan. Achi segera sadar dengan kelakuan Zura yang semakin kelewatan itu. Ia mengantukkan kepalanya dengan keras sehinggga membuat Zura menghentikan perbuatannya.
"Au... Ini cukup sakit... Kucing kecil..." Ucapnya lirih.
Achi seperti tidak percaya dengan apa yang mereka perbuat kemudian ia tersandung dan jatuh lagi. "Hei kamu tak apa kamu suka sekali jatuh ya..." Ucap Zura, ia menjongkokkan badannya. Ia memegang tangan Achi, namun Achi segera menepisnya.
"Cukup...!!! Hiks... Hiks... Jangan menyentuhku... Hiks... Sudah berapa kali kukatakan padamu... Jangan menyentuhku!!!" Ucap Achi meringkuk.
Kata-kata Achi seperti menghantam hati Zura begitu keras, apalagi ketika melihat tubuh Achi yang menggigil ketakutan.
" Menyebalkan ya... Sebegitu bencinya ya kamu dengan tunanganmu sendiri Achi... Ketika disentuh sedikit saja kamu ngga mau ya... Sepertinya kata pemuda itu benar ya... Hanya saja kau sudah terikat benang merah denganku..." Ucap Zura dengan tatapan marah namun tangannya mengutak-atik rambut Achi.
Achi melihat sosok Zura yang berada di depannya sekarang sama halnya dengan dirinya dulu. Ia semakin meringkuk dan menutup matanya "jangan menyentuhku... Kumohon jangan sentuh..." Ucap Achi takut
Suara motor itu tiba-tiba datang kearahnya dan berhenti di depan mereka.
"Kakak ada apa...?" Ucap pemuda itu kepada Achi.
.
.
.
To be continued 😓
__ADS_1