
" Kucing kecil...
Aku tak bisa menunjukkan rasa sayangku dengan kata-kata manis layaknya pemuda lain yang singgah ke hatimu...
Aku hanya bisa menunjukkannya melalui perbuatan ku...
Bukankah kamu sudah tahu...?
Kenapa kamu masih belum mengerti?"
.
.
.
Sandi langsung bergidik ngeri , ia langsung terjatuh dari sandaran kayu yang ia duduki.
" Ternyata mulut Lo ngga pernah berubah ya... sia-sia gua ngelepasin lu di masa lalu... Lu suka kali ngurusin urusan orang lain. Persis seperti mulut cewek yang suka bergosip...". Jelas Zura sambil mendatangi Sandi dengan kemarahannya.
" Udah Ra udah... lu belum pulih betul... ga Baek bertengkar di kedai ... banyak orang...". Jelas Lean sambil memegang tangan Zura.
" Lu pikir sendiri lah... emang Lo bohong ke tunanganmu palsu Lo , emang itu hal yang Baek...?! Lo kan dari dulu ngeledek in dia terus... yang kucel lah kotor lah.. atau laennya.. sekarang dia udah punya seseorang yang bisa diandalkan ma dia Ra, ngapain lu mau ngerebut dia Balek, munafik banget lu... lu udah punya tunangan juga si Vio. ". Jelas Sandi, sok karna merasa mendapat perlindungan dari Fariz yang juga menunjukkan gerak perlawanan.
Namun Zura sangat marah, kawannya yang menghadang ia agar tak terjadi pertikaian tak bisa menahannya. Zura langsung menonjok muka Sandi dengan keras, hanya dengan satu tangan Sandi sudah terjatuh.
" Anj... sakit banget... sial gigi gua copot ...". Ucap Sandi langsung, bibirnya membengkak dengan dua gigi depan yang berdarah keluar dari mulutnya.
" Ya ampun san... Lo kurang ajar banget Zura , ngga pernah dididik apa ma orang tua Lo !". Jelas Fariz sambil melayangkan tinjunya juga, Ia tak terima kawan pertama yang ia dapat dikampung ini di begitukan. Pukulannya mengenai sudut ujung matanya Zura hingga memar karna cukup kuat juga.
" Hei kalian udah hentikan...! ini di tempat umum!!!". Jelas Eko.
" Diam Lo anjing...!!! Emang Lo juga ngga pernah dididik sama orang tua Lo dengan kata menyerah , jelas-jelas istri gua udah ga mau Ama Lo! ngapain Lo kejer dia Ampe sini, ga punya malu Lo hah... percuma pendidikan lu tinggi kalau Lo ga bermoral!". Jawab Zura juga melayangkan tinju ke arah Fariz dan menendangnya hingga tersungkur.
" Haha.. lu emang seperti apa yang gua dengar dari orang ya, tempramental dan gila... gua ngga yakin Achi bakal Nerima Lo yang seperti ini...". Jawab Fariz sambil terkekeh. Zura bertambah marah dengan ucapan itu. dan menggebuki Fariz habis-habisan. Begitu pula Fariz yang melawan .
" Jangan coba nyebutin namanya , di mulut Lo anjing...!!!". Jelas Zura semakin bertambah marah.
Sandi Langsung membantu Fariz dengan mengambil kayu yang ia lihat dan melemparnya di punggung Zura. Untung Lean sigap dan langsung mendorong Zura, dan akhirnya malah Lean yang kena.
" Anjinglu san ! lu udah siap mati rupanya..!". Teriak Eko melihat kawan-kawan disakiti. Ia ikut memecahkan kemarahannya. ia menjambak rambut sandi dan menariknya lalu meninju sandi lagi agar ngga dekat dengan Lean dan Zura. Zura langsung melihat sikut Lean yang mengeluarkan darah, baju yang Lean pakai bahkan robek menghadang kayu yang dilemparkan Sandi.
" Lean. Lo ngga apaj( Zura memegang tangan Lean ,Fariz yang merasa kesakitan juga melihat Lean , dan merasa tindakan sandi memang sudah keterlaluan), sial Lo musang! , gua ngga akan biarin lo idup lagi... mati Lo disini" Tegas Zura, Lean dengan cepat menarik sahabatnya Zura yang sudah lepas kendali itu.
" Udah cukup... ! Jangan ribut lagi kalian!
( Zura dan 3 lainnya langsung berhenti seketika melihat Lean berteriak)
Gua... gua gak sangka kebiasaan Lo masih seperti itu san... harusnya lu sadar diri san... kalau kali itu Ivas ga maafin Lo... Lo ngga akan ada di sini sekarang...! ( Lean marah sambil menahan sakit, Zura langsung membuka baju kaus nya dan melilitkannya ke sikut Lean karena mengeluarkan banyak darah , daging bagian dalam tangan Lean agak terbuka)
( Lean ingat saat rombongan mereka yang di pegang kendali oleh Zura bertengkar dengan kampung sebelah, Ivas menjadi korban tinju saat dulu ketika berpacaran dengan gadis kampung sebelah yang berselingkuh dengan Ivas , hanya saja Ivas tak tahu kalau ia diselingkuhi. Masalah itu juga salah satunya sandi yang menyebabkan karena membocorkan informasi tanpa berfikir. Hanya saja saat itu ia memberi tahu Zura untuk membalas perbuatan mereka terhadap Ivas dan berhasil lolos)
dan Lo Ra... kondisi Lo belum pulih, gua ngga tau , hal apa yang terjadi kalau kepala Lo ketimpa kayu lagi kayak tadi... Lo mau hilang ingatan lagi... dan parah nya Lo ngga ingat sama Achi.. gimana jadinya hubungan kalian". jelas Lean terkekeh , Zura langsung menyesali perbuatannya. Ia langsung memapah Lean dan pergi. Fariz dan Sandi masih kesakitan.
" Lo ingat... kalau Lo berani ngelakuin hal yang diluar batas kesabaran gua terhadap kucing kecil gua... Lo harus bersiap... gua pingin lihat dan ketawa senang lihat, orang tua lu datang kesini menjemput jasad Lo ...". Tegas Zura serius, matanya Zura yang hitam dan tajam sangat dingin ke arah Fariz , Fariz sebenarnya takut, namun ia ga mau mundur dan menyipitkan matanya saja . Orang-orang di kedai pada ribut melihat Zura memafah Lean yang terluka. Eko masih bersama dengan Fariz dan Sandi.
" Gua harap Lo inget kata-kata Zura bro... yah... yang gua lihat kawan gua ga pernah main-main Ama ucapannya. Ia gak pernah ngelepasin orang yang udah ngelilipi matanya. Dan Lo san ... gua harap lu bisa ngerahasiain kejadian ini dan ngga memperbesarnya. Gua udah tau semua gerak gerik Lo... hanya gua masih sabar... ingat yang nggera in kawanan kita itu Zura, yang jadi tanduknya.... gua ngga bisa bayangin marahnya kawanan kita kalau lihat ketua gengnya terluka.. apalagi kalau Zura Ampe ngamuk lagi sama Lo kayak tadi... lu bisa aja ngga akan pernah berdiri lagi,dan ngga ada yang mampu nyalahin Zura dengan pencapaian nya sekarang. Layak nya anak kampung sebelah yang baru bisa jalan baru-baru ini setelah menyakiti Ivas , cari kerja yang pasti, ngga mondar mandir pengangguran mengumpulkan informasi. Orang tua lu bahkan ngga akan punya rumah dan tanah kalau ngga dapat warisan dari bapak emaknya.". Tegas Eko lalu ia pergi . Mendengar hal itu menjadi cambuk keras untuk Sandi. Ia sudah mengulang kesalahannya, bahkan juga coba-coba melawan orang yang tak pantas sekali ia lawan. Fariz melihat muka Sandi yang ketakutan dan depresi itu.
" Gua ga terlalu nyalahin sifat Lo san... gua tahu... Lo juga butuh uang melihat keluarga Lo... hanya saja pemuda yang barusan pergi ada benarnya san.... lain kali Lo harus menyaring informasi yang boleh / ngga boleh ...tapi walau gitu gua tetap bersyukur saat Lo udah memberi tahu info tentang Zura san...ayo kita ke dokter dekat sini ngobatin luka lo...". Jelas Fariz , hanya mengangguk.
__ADS_1
Setelah konflik mereka diselesaikan oleh warga yang datang ke kedai. Zura membawa Lean ke dokter juga, ia juga mendapatkan perawatan karna di sudut matanya juga ada memar bekas tinju Fariz yang melayang ke arahnya itu.
Ia pulang melewati rumah Achi dengan sengaja ingin melihat wajah kucing kecilnya. Achi melihat kucing kesayangan yang ia rawat dari kecil masih diluar, ia mendatangi kucing itu dan membawa Zico ( Nama kucing Achi) untuk tidur. Ketika sampai di pintu rumahnya ia mendengar suara motor Zura yang berhenti di jalan depan rumahnya.
" suara motor itu... ngga mungkinkan!"
batin Achi, sambil menoleh ke arah jalan.
"Hari ini melelahkan... hanya dapat melihat wajahmu walau hanya sebentar... itu udah mengobati semuanya....". batin Zura*.
Achi melihat wajah Zura sekilas lalu berlalu, wajah itu tampak sedih. Hal itu membuat dada Achi sakit.
" Kenapa dia masih sempat kemari ... apa ia ingin melihatku... kenapa ... wajahnya tampak sedih dan ada luka di wajahnya... apa yang kupikirkan ! masa bodoh... toh ia sudah mempermainkan ku untuk apa aku mengkhawatirkan nya ... aku kan bukan siapa-siapa!". batin Achi pro dan kontra.
" Kenapa kamu keluar kak... hari sudah malam...?!". Tanya Aji yang baru pulang main game karena tetangga sebelah mereka punya WiFi. Ia sebenarnya melihat Zura lewat. Namun pura-pura tak tahu.
" Aku mau tidur bersama Zico malam ini... haha". Jawab Achi sambil membawa masuk kucing kesayangannya. Achi membawa Zico tidur saat orang tuanya masih tengah menonton tv ,namun batinnya masih bergemuruh.
" perasaanku seperti ngga rela wajahnya seperti itu... padahal aku yang membuangnya...". Batin Achi. Kucing kuning Achi langsung menjilati wajah Achi seakan tau tuannya sedang suasana hati yang buruk.
" Haha Zico memang pintar banget....". Bisik Achi dengan lembut.
keesokan pagi nya saat di sekolah Achi melihat pipi Fariz agak bengkak, meskipun Fariz bilang itu karena ia terjatuh. Achi tahu kalau ia habis bertengkar dengan Zura, Achi melihat wajah Zura terluka malam tadi.
Achi menunggu jemputan Aji di parkiran bersama Ami yang menunggu jemputan dari adiknya pula.
" Enak ya Chi di perebutin 2 laki-laki yang dekat denganmu...". Jelas Ami dengan nada tak enak.
" Apa maksudmu ... aku ngga mengerti...?". Tanya Achi.
" Bukanya sudah jelas Fariz dan Zura bertengkar hebat tadi malam gara-gara kamu...". Jawab Ami.
" CK.... otak mu memang lambat... dia itu menyukai kamu... itu sangat mudah terlihat olehku....". Jawab Ami.
"Eh... ngga mungkin ... jadi selama ini ucapannya padaku itu sungguhan ... buka bercanda...". Jawab Achi seraya tak percaya. " Lalu bagaimana denganmu... kamu kan menyukainya ...?!". Tanya Achi.
" Eh itu... Yah... aku menyerah deh... lagian dia kan ngga suka sama aku... aku ngga bisa memaksanya....Bentar lagi dia datang nih...nawarin kamu diantar pulang... yah... jika memang hubungan mu dengan Zura memang kamu anggap kandas karena dia bohong padamu, apa salahnya menerima orang yang udah lama menyukaimu sejak kuliah... kadang ada waktunya kita menerima kehadiran orang lain untuk membuat kita bangkit dari masa lalu Chi....". Saran Ami. Achi langsung terdiam , benar saja Fariz datang menawarkan tumpangannya.
"jadi kamu selama ini menyukai ku Riz.... padahal aku berulang kali menyakitimu... aku selalu terpaku pada Zura selama ini... tapi kamu masih menyuguhkan senyum itu....". batin Achi.
" Chi ... Aji belum datang ya... ayo kuantar pulang, sekalian kamu kan mau ke kedai juga kan bantuin orang tuamu....?!" Tanya Fariz.
" O... oh ok...". Jawab Achi , sedikit berat hati menyuguhkan senyumnya. Lalu naik motor dibonceng Fariz.
" Hati-hati di jalan Riz... jangan buat Achi jatuh ..". Lambai Ami. Walau Ami sedih ia mencoba tersenyum .
" Kalau dia ngga akan... kalau kamu baru bisa jatuh.... lasak...". Ejek Fariz tertawa.
" **** you!!!".. Jawab Ami sambil tertawa.
Achi ingin langsung membantu mamanya saat sampai di kedai , tapi ia terkejut melihat Eko dan Zura yang sedang makan di kedai orang tuanya itu. Mata Zura dan Achi saling menatap, tapi ketika Zura melihat kehadiran Fariz yang ikut turun , gelas berisi air hendak ia minum pecah karena Zura emosi. Achi langsung berbalik membawa Fariz pergi.
" Riz aku ngga enak badan , seperti nya aku ngga bisa membantu mamaku hari ini... maukah kamu mengantarku pulang...?!" .Tanya Achi khawatir membawa Fariz pergi.
" Oh begitu... baiklah...". Jawab Fariz , ia melihat Achi sedikit takut. Namun ia tak ambil pusing dan mengantar Achi pulang. Zura ingin beranjak, tangannya langsung ditarik Eko .
" Lo sadar ngga bro... Lo udah nakutin cewek Lo...". Jelas Eko mengkritik.
" Gua ga terima di jalan sama si *** itu bro...". Jawab Zura.
__ADS_1
" Sabar ngapa sih bro... Lo tau ngga, kalau Lo kayak gini Lo ngga hanya membuat di marah, ibunya juga noh...". Bisik Eko.
Ibu Achi yang barusan selesai mencuci piring melihat Zura memecahkan gelas.
" Ya ampun Zura... kenapa gelasnya bisa pecah...?!". Tanya mama Achi .
" Eh maaf bu... ngga sengaja ... ntar saya bawa gelas kemari..." . Jawab Zura khawatir dan mengambil kepingan gelas kaca yang pecah itu.
" Eh ngga usah... sini biar ibu saja yang bersihkan ... kamu kan pelanggan masa disuruh bersihin.... kamu bukannya mau berangkat kerja cepat hari ini... ". Jawab mama Achi tak ambil pusing.
" Eh oke Bu... saya berangkat dulu...Ko bayarin punya gua sekalian ya ". Jawab Zura. Ia langsung pergi , kehadiran Achi sesaat membuatnya lupa ia harus berangkat cepat untuk bekerja. ibu Achi tahu Zura bertengkar dengan putrinya , tapi ia memisahkan urusan pribadi dengan kerjanya.
" Perasaan tadi ada suara motor nak Fariz tapi kok Achi ngga ada ya... bandel... sejak ada kerja tetap ga mau bantu emaknya....". Jelas mama Achi kesal.
" Biasa lah buk... anak muda...". Jawab Eko.
*****
Sesampainya di rumah ,Achi langsung was-was setelah Fariz pergi .
" Mata Zura... sangat mengerikan... aku baru lihat pertama kalinya matanya seperti itu... ngga boleh... dia ngga boleh menyakiti Fariz.... Fariz sudah baik padaku layaknya saudara sendiri... aku ngga akan membiarkan Zura menyakiti Fariz bagaimanapun cara ya.". batin Achi.
Hari ini Zura kerja seharian penuh, karna muatan buah kelapa sawit lagi meledak. Hingga ia pulang saat magrib. Setelah makan di rumah orang tuanya, ia lebih memilih rumah barunya itu meskipun tidak ada Achi di sana , ia merasa kesepian . Mengingat Achi yang sedang mengerjakan tugas saat di meja. Ketika mengingat keseriusan Achi kalau menonton tv film animasi kesukaannya di tv, maupun saat Achi sehabis mandi mengeringkan rambut basahnya dengan handuk.
"*kenapa kamu tertawa melihatku seperti ini emang ada yang aneh..?!". tanya Achi dengan wajah cemberutnya.
saat itu Zura akan menjawab
" kucing kecil...Lihatlah rambutmu panjangmu... persis seperti ijuk " Jawab Zura*.
Ia melihat kamar Achi yang terbuka, Tak ada apa-apa lagi disana , Zura langsung tidur di kasur yang dipakai Achi .
"kasur ini masih meninggalkan aromanya disini... sepertinya aku harus tidur di kamar ini agar aku ngga terlalu kesepian...".batin Zura.
"Huh... jam berapa ini... sepertinya aku kesiangan ". Bisik Zura, semalam ia tidur tidak menggunakan selimut .
Ia bangun di siang hari, kepalanya terlalu sakit karena ia langsung berdiri ketika bangun. ia lalu duduk di kursi meja dekat lemari Achi. Zura memeriksa lemari itu , tidak ada apa pun disana. Namun ketika Zura membuka laci lemari yang digunakan Chi saat itu .
" Dia bahkan membawa habis semua barangnya... eh tunggu apa ini..." . Batinnya.
"Dak duk... dak duk..." suara dari ujung laci yang cukup lebar di bagian bawah lemari itu.
Zura tersenyum jail memegang sesuatu yang dia dapat.
" Ah... aku ngga tahu betapa manisnya kucing kecilku...". Batin Zura.
.
.
.
.
To be continued.😟😳
Bagaimana cerita selanjutnya?! Baca terus Hate A Boy, But He Love Me ya...!
jangan lupa like coment and support nya!
__ADS_1
terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca novel saya👋🐼