
Kalau memang dirimu tak suka padaku
Tak akan mungkin di setiap lembar kertas bukumu tertulis namaku
.
.
.
Tiga Minggu belakangan Zura sering ke rumah Achi walaupun tak setiap hari dalam sepekan ia pasti menyempatkan waktunya. Meskipun Zura sudah berusaha melunakkan hati Achi, Tapi Achi tak juga memaafkannya. Ia sering menunggu Achi disekolah, tapi Achi menghindar terus, dan Achi juga selalu membawa Fariz dan Ami di dekatnya. Achi bahkan berpura-pura tak tahu kalau Zura menunggunya, hatinya masih sakit karena dibohongi. Kedekatan Fariz dengan Achi membuat Zura semakin jengkel sebenarnya, namun ia sengaja gerak lambat karena ia tau kucing kecilnya tak bisa dikerasin, ia harus ditundukkan dengan cara yang lunak.
Ditambah lagi saat dirumah, mata Aji selalu mengawasi Zura. Karena kejadian beberapa Minggu lalu, adik kucing kecilnya itu awalnya hanya seperti macan tidur saja, tapi melihat kakaknya diperlakukan dengan kasar adiknya berubah menjadi macan yang siap menerkam. Ia selalu membantu kakaknya meloloskan diri dari Zura saat dirumah.
Seperti hal nya hari ini... di malam Minggu
Achi dan Aji sedang bermain dengan kucing kesayangannya Zico.
" Chiku chiku Chiku". Gemas Achi sambil menggelitik perut Zico, Zico menggeliat manja .
" Hahaha kak.... kamu pandai amat ngelitikin dia Ampe berguling-guling ketagihan gitu, hahaha ...!". Tawa Aji.
" Ya iyalah..., kan Zico udah ku rawat sejak dia bayi Ji... tentu nurut Ama mamanya ya kan Zico...!'? Jelas Achi menggendong Zico dan sesekali melemparnya ke atas dengan lembut dan menangkapnya lagi.
" Jangan gila deh kak... nikah aja belom...". Jawab Aji. Suara motor Zura langsung mengejutkan Achi saat mereka tengah berada di halaman rumah. Aji spontan menghalangi kakaknya dengan tangan ketika Zura datang, bagai anjing penjaga. Achi langsung menampakkan manyunnya tanda tak suka. Zura melihat muka Achi yang menghindarinya sama saat ia bertemu Achi dahulu. Tak suka, ingin segera beranjak dari Zura. itulah yang ia bayangkan di kepalanya.
"Huh...( Zura mendengus ) Ji mana pamanmu....?!". Tanya Zura.
"Di dalam... ada apa sih mas... kok akhir-akhir ini sering kesini... seperti ada maksud tertentu saja~ mau ketemu kakak ya...?". Aji to the point menyindir. Zura tahu Aji makin tak suka dengannya sejak kejadian itu, apalagi Aji begitu menyayangi kakak keponakannya ini. Kalau Aji bukan saudara Achi , Aji sempat berfikir akan memacari kakaknya sendiri karena kakak nya begitu imut, pikirnya.
" Dasar sister kompleks.. siapa yang tanya tentang kakakmu yang tukang ngambek itu... jelas-jelas aku punya bisnis dengan pamanmu, kamu boleh ikut serta kalau mau tahu~". Jawab Zura santai. Sambil melangkahkan kaki nya ke rumah Achi.
" Bisnis kok selalu bawa bawaan ke rumah... jelas kali si iblis mesum ini ingin mencari muka dengan orang tua kami". Batin Achi dan Aji kompak.
"Malas... mending main ML... kakak mau ikut main ngga di warung sebelah...?! ". Tanya Aji.
"Ngga ah... aku gak suka main game, mending baca komik/ cerita online aja ah dikamar... ". Jawab Achi dengan lesu.
Sementara
" Pak saya datang...". Sapa Zura pada ayah Achi.
" Oh... bocah jail... kamu datang lagi... ". Jawab ayah Achi dengan gembira, Zura memang senang bicara dengan ayah Achi karena ayah Achi pandai bersosialisasi siapapun dapat akrab dengannya sama seperti Zura, karena ayah Achi sering dijaili Zura dengan candaannya saat dikedai ayah Achi jadi memanggilnya bocah Jail.
" Zura... kami senang kok kamu datang kemari... karena selama Achi kuliah dulu... rumah kami memang sering didatangi teman-teman ayah Achi dan ada juga yang lajang... tapi kan kamu tak perlu bawa bawaan seperti ini setiap kali datang..". Jelas mama Achi merasa tak enak.
" Biasa aja kok Bu... waktu pulang ke rumah orang tua, saya juga kerap bawa bawaan untuk keponakan dan kakak saya juga(jujur) jadi kebiasaan haha...". Jawab Zura ngeles.
Achi melihat putri, adik tetangga di kampungnya itu seperti habis belanja sesuatu di warung. Achi sangat akrab dengan putri.
" Achi buatkan teh dulu untuk Zura...". Pinta Mama. Achi mencari cara untuk menghindar karena ia sudah pasti malu saat bertatapan dengan Zura.
" Put... mau pulang ya... kakak ikut dong... sekalian mau main... Kaka punya kuota buat buka komik online Lo...! kakak hotspot kamu deh...". Jelas Achi dengan lantang agar orang yang ada di rumah dengar.
" Heh~ tumben kakak ngga pelit...?( Putri langsung melihat kerumah , dan sudah hapal siapa yang datang ke rumah kakak tetangganya yang terkenal aneh dan dingin saat bicara itu) Yah... oke deh kak apa boleh buat...". Jawab Putri dari depan jalan rumah Achi .
"Yeaey asik... main ke rumah Putri... putri... putri...". teriak Achi manja dengan memanggil manggil nama adik tetangganya itu berulang kali dengan manja.
__ADS_1
" iya-iya kak... ayo ke rumah... kita baca komik Ampe puas...". Jelas Putri yang juga punya hobi sama dengan kakak tetangganya itu. Mereka pun pergi.
" Oh... anak bandel itu menghindar lagi...". Jawab mama Achi menghela nafas panjang.
" Sudah lah Bu... tak apa kok... saya juga habis minum tadi di tempat ibu saya...". Jawab Zura sungkan.
" Maaf ya Zura ... anak kami memang seperti itu.. jika tak suka ia akan mencari cara untuk menghindar haha....". Jawab mama.
" Mungkin dia bukannya tak suka... tapi terlalu malu sama kamu bocah jail... ". Tambah ayah Achi.
" Zura... ibu sedang masak... maaf ga bisa ngobrol dengan mu lama-lama ... ngobrol aja sama bapakmu tuh... yang lagi santai...!".
" Hahaha iya Bu santai aja...". Jawab Zura.
" Ada apa nih datang kemari... mau menaklukkan anak saya ya ...". Jawab ayah Achi santai, ia ayah Achi sudah menganggap Zura anaknya sendiri karena mereka akrab , jadi bisa bicara dengan santainya.
" Sebanarnya Ngga juga pak... Bapak ingat pak Dedi..., dia bilang bapak yang manen buah kelapa sawitnya kemarin...?!". Tanya Zura.
" Eh... tunggu... Oh ingat yang rumahnya dekat si Abdul yang jual telur ayam itu ya.... Ada apa... apa ada keluhan masalah panenan saya?!". Tanya ayah Achi ngegas takut panenan dikebumikan yang ia kerjakan dulu tak bersih.
" He~ bukan begitu pak , ini udah waktunya panen lagi... dia menyuruh saya memberitahu bapak yang kerjain karna bapak memanennya dengan bersih, buahnya pun ga ada yang ketinggalan katanya. Jadi bapak bisa memberi tahu dia kapan bapak mau panen, haha!". Jawab Zura santai.
" Wah... syukurlah... Ma... ayah dapat ancak di tempat Dedi, ayah bakal pergi sama Aji lagi untuk membantu...!". Ayah Achi senang dengan kabar itu.
" iya- Iya yah... sekalian untuk tambahan pemasukan kita... karna Zura udah memberi kabar baik, sebentar lagi sayurnya masak . Makan dulu sebelum pulang ya... harus pokoknya ga boleh nolak...". Perintah mama Achi.
" Haha... iya-iya Bu... ". Jawab Zura sambil tertawa.
" Zura... ngatanmu kan udah kembali... saya pernah curi dengar pembicaraan putri saya dengan mamanya kalau kamu balikan sama tunanganmu dulu...gosipnya ...". Jelas ayah Achi berbisik.
" Apa maksud bapak pak...!!! saya ngga pernah meminta balik ke Vio, saya sudah memutuskan hubungan dengan Vio!". Zura ngegas mendengar pertanyaan itu.
" Saya gak tahu kalau Vio akan mengatakan kebohongan seperti itu, jelas saya sudah memutuskan hubungan kami, jika bapak ngga percaya sama saya... Bapak boleh bertanya kepada keluarga saya...!". Jelas Zura yang tak habis pikir.
" Ada apa ini... kenapa jadi tegang seperti ini suasananya...?!". Tanya mama Achi sbil membawa nasi di baskom yang agak besar untuk makan.
" Jadi... putriku sepertinya salah paham padamu Zura... aku yakin dia belum mendengar ini...". Ayah Achi
" heh... ada apa ini yah... kenapa dengan putri kita..." Tanya mama.
" Ah itu... bocah jail ini udah memutuskan hubungan dengan Vio sejak awal bertemu lagi.. tapi Achi kecil kita ngga tau ma...". jawab ayah. Zura tertunduk lesu.
" Ya ampun .... apa perlu ku beri tahu biar anak-anak ini ngga marahan lagi...". Jawab mama Achi.
" ngga... ngga perlu Bu.... haha... aku ingin mengatakannya langsung ke putri ibu... saya ngga mau dia terluka lagi.. waktu itu juga dia dapat info tentang saya dari orang lain ... dan ibu lihat bagaimana sakit hatinya saat itu... makanya saya mau memberitahukannya langsung ke dia... walau sekarang dia ngga mau berbicara dengan saya...". Jelas Zura.
" Oh... itu hal yang baik juga...". Jawab ayah. Mama Achi hanya mengangguk walau ia juga agak khawatir.
Setelah Zura makan malam meski tidak ditemani dengan dua anak mereka, Zura pamit pulang. Achi mendengar suara motor Zura , ia juga segera pulang namun Achi berpapasan dengan Zura. Achi membuang muka , raut wajahnya sama saat dia dan Zura masih bermusuhan dulu. Zura lagi-lagi menghela nafas, melihat situasi canggung mereka.
" Hei... kucing kecil ... apa kamu lupa sesuatu...?!". Tanyanya. Achi hanya diam saja dan melangkah dengan cepat
"Apa yang di katakan iblis mesum ini... aku ngga boleh tergoda lagi olehnya... aku harus cepat pergi....!". batin Achi .
" Aku tahu kamu... masih marah denganku... tapi kelakuan kamu juga membuatku jengkel kucing kecil... kamu ga tau apa seberapa besar aku merindukanmu karna ga ada lagi di rumah... aku yakin kamu sedang ngga ingat apa yang kamu lupa ... tapi... setelah kamu ingat... jangan salahkan aku , kalau kamu datang ke pelukanku... aku ga akan melepaskannya!". Jelas Zura dengan nada menekan Achi.
"*Kebapa iblis mesum itu berkata lantang begitu... kan semua orang jadi tau aku lagi kesal sama dia! Jangan bilang merindukanmu untuk menggodaku lagi Zura... jantungku kenapa harus gusar seperti ini sih bodoh... tapi... aku lupa apa....?! dia bukannya mau memelet ku kan ... huh... jangan berfikir aneh-aneh.". Batin Achi sambil memukul-mukul pipinya.
__ADS_1
****
Seminggu itu Achi disibukkan dengan pikirannya sendiri, apa yang ia lupakan sebenarnya... kenapa ia tak kunjung ingat juga batinnya . Zura juga tak pernah datang kerumah sejak ia mengatakan hal itu, apa dia akhirnya menyerah. Tapi Achi salah, selain menguji Achi, Zura seminggu itu terlalu sibuk bekerja. Setelah pulang mengajar dari sekolah.
"Akh... aku ngga bisa tenang...! apa yang aku lupa.... aku harus menenangkan diri dengan. menggambar .... atau menulis!". Batinnya.
Achi mencari buku sketsa A4 isi 100 yang memang dia pakai untuk curhat sesekali ia mau, ia bisa sekalian mengingat kejadian yang ia lalui melalui gambar-gambar anime chibi yang imut dibuatnya untuk mengenangnya. Hal itu sudah menjadi kebiasaan nya ketika masih duduk di bangku kuliah dulu. Ia mencari sketchbook itu di tempat ia biasa menyimpan buku di lemari dalam kamarnya.
"Ekh... ngga ada!!!! ngga mungkin kan hilang!!!!". Batinnya panik.
Iya mencari di setiap tempat di sudut kamar namun tidak juga ketemu. Ia lalu ingat hal yang dikatakan Zura waktu itu.
" Bohong....! Jangan bilang bukunya masih ketinggalan di rumah itu!. Kalau iblis mesum itu membacanya bagaimana jika ia mengatakannya pada orang lain/ teman-teman nya... ngga boleh! Aku pasti akan diperlukan!". Batinnya yang langsung terduduk seketika.
"Ada apa kak!, Kenapa mukamu panik begitu! ". Tanya Aji.
"Ngga boleh aku harus mencarinya, Aji ngga boleh tahu atau ia akan semakin khawatir padaku dan mengjagaku di mana saja... pokoknya ngga boleh... aku harus mencarinya ke sana...kalau aku sendiri bawa motor ke rumah iblis mesum itu ... pasti akan cepat ketahuan! Aku harus minta tolong putri!. ". Achi sangat panik.
ia bergegas mengambil kunci duplikat yang diberi Zura, untungnya masih ada padanya.
" Ji aku keluar sebentar ada keperluan , kamu cepat bantu mama sama ayah di kedai dulu ya!". Pinta Achi .
" Ada apa sih kak...?! ya sudahlah... kalau kakak bilang begitu...". Aji.
Achi langsung menemui Putri dan minta tolong mengantarkannya ke rumah Zura.
" Gila kak mau ngapain kesana... bahaya lo kalau mas Zura ada di sana...!". Jelas Putri memperingati.
" Aku dengar dari mamaku... kalau dia lagi sibuk banget sekarang Put....! Ini masih jam kerjanya... dia mungkin ga ada di rumah sekarang... Kamu boleh pulang duluan nanti... kakak akan memikirkan cara agar bisa keluar!.". Jawab Achi sangat panik. Mereka langsung berangkat dengan motor Putri. di perjalanan.
" Emang apa yang hilang sih kak...?!". Tanya putri .
" I... itu... haha ... sketchbook Kaka... yang ada cerita pribadinya....?!".
" Jangan bilang di dalam nya ada cerita tentang mas Zura ( Achi menganggukkan. kepalanya dengan panik) , Ya Allah kaak... mampus kalau kebaca sama dia... hihihi... jadi bahan gosib besar itu ntar di kampung....!". Jawab Putri mengejek.
" Makanya aku akan mencarinya... mungkin aja dia cuma sekedar buka awalnya doang ... atau cuma lihat itu sketchbook biasa yang sering kupakai! dia kan ga urus sama hal begituan!". Jawab Achi membela diri.
" Oke-oke aja sih kak... kenapa Kaka bisa ketinggalan barang yang begitu penting sih... kan bahaya... walau cuma sketchbook...". Jelas Putri.
" Namanya juga sedang emosi put... kakak ga terlalu mementingkan barang... kakak waktu itu hanya ingin pulang ke rumah... sapa yang tahu jika akan terjadi seperti ini!. Setelah itu putri menurunkannya di depan rumah Zura yang masih terkunci, mereka lega. Achi menyuruh Putri pergi duluan , ia mengendap endapmasuk ke rumah Zura, dengan kunci yang diduplikat oleh Zura waktu itu. Ia berhasil masuk dengan selamat karena merasa Zura tak dirumah. Apalagi melihat kamarnya tak dikunci, ia sangat bersyukur pada Tuhan saat ini. Tanpa ia sadari pakaian bersih Zura yang tersetrika rapi ada di atas kasurnya , karena Achi hanya fokus pada lemari yang pernah ia pakai waktu itu.
" Ngga ada... udah ku cari berulang kali tetap ngga ada... bukannya aku ingat waktu itu menaruhnya di laci lebar bagian bawah ini! ngga mungkin aku salah taruh... di mana ....? ini gawat...". Batin Achi.
Zura mematikan keran air yang sudah memenuhi bak mandi , di kamar mandi. Achi baru sadar bahwa Zura ada dirumah. Pekerjaan Zura hari ini cepat selesai makanya ia cepat pulang, rencana Zura mau compoi di pantai bersama geng nya untuk menghilangkan bosan hari ini.
" *Eh... ngga mungkin ....!!! Iblis mesum itu...iblis mesum itu masih dirumah...!!!!".
.
.
.
to be continued 😌😓😱
Bagaimana cerita selanjutnya jangan lupa baca terus novel Hate A Boy, But He Love Me ya !
__ADS_1
like coment and support nya ditunggu!
Terima kasih sudah menyempatkan waktu membaca novel saya👋🐼*