
" Gila ujan nya deres banget....!!!". Ucap Zura saat sampai di depan rumah sambil memarkirkan motornya dan membuka pintu rumah.
" Iya mas... Tapi kenapa harus ke rumah... sekalian aja antarin ke rumah keluarga ku langsung mas... kan udah terlanjur kita basah...". Lugas Achi.
" Ini kan rumah kamu juga... lagian kamu apa ga kesakitan waktu hujannya menghujami badan kita segede-gede tunggak begitu...!"
" Iya sih mas... tapi kaan takutnya ayah sama mamah takut nyariin karna pulang kemalaman... apa lagi malah berhenti di rumah kamu. Kalau ada yang nampak bagaimana...?". Tanya Achi.
" Emang kamu lihat ada yang keluar hujan deras gini...?!". Tanya Zura.
" ngga... sih mas...". Achi lesu dengan sifat memaksa Zura.
" Ya udah masuk dan mandi dulu gih... biar ngga flu... ". Perintah Zura
Achi hanya mengangguk dan mengambil kain panjang yang ada di tempat tidurnya tanpa pikir panjang, karena badannya sudah membeku kedinginan. Sampai di kamar Achi baru sadar kalau ia sudah membawa semua bajunya pulang tanpa tersisa, untung saja baju dalamnya tadi tak basah terlalu basah ia terpaksa memakai ulang . Zura masih dikamarnya karena takut Achi canggung saat berpapasan dengannya dalam keadaan seperti ini. Setelah mendengar langkah kaki Achi yang masuk kamar, Zura baru bisa keluar dan mandi.
Sesudah berpakaian Zura langsung menghampiri kamar Achi , karena merasa aneh kenapa calon istrinya itu tak bersuara. Apalagi hujan deras itu benar-benar memekakkan telinganya. Achi lupa menutup pintu , ia hanya mengganjalnya dengan batu sehingga terlihat tertutup.
" Tok Tok Tok!"
" Kucing kecil kamu udah tidur...?". Ucap Zura santai namun pintunya langsung terbuka karena tenaganya yang besar, hal itu membuat Achi terkejut.
" MAS ZURA... ! Jangan lihat kemari !!!". Achi melangkah sambil menutup mata Zura dengan jinjit karena ia hanya memakai kain panjang. Muka mereka langsung merona bersamaan.
" Eh... maafkan aku... Kenapa kamu belum pake baju seh...?!". Zura menaikkan nada bicaranya.
" Bajuku kan kemarin udah ku bawa pulang semua gara-gara kamu juga mas!". Jawab Achi.
" Ya... ya udah aku ambil bajuku aja biar kamu pake...!". Jawabnya. Zura mencari bajunya yang berukuran kecil, karena ia tak pernah membongkar lemarinya dan memakai baju apa yang nampak saja ia menemukan sesuatu.
Ia ingat beberapa tahun lalu ia pernah bersama Viona pergi ke kebun teh dekat rumah saudaranya, cuaca saat itu juga tak bagus dan jauh dari rumah makanya mereka menginap sebentar di sana. Zura membelikan baju untuk Vio karena Zura saat itu berfikir akan cantik kalau di kenakan oleh Vio tapi sayangnya bajunya malah tak muat.
"Sebenarnya mas Zura niat ngga sih belikan aku baju...". Kata Vio waktu itu yang sengaja di dengar Zura.
Waktu itu juga mereka cepat-cepat berkemas jadi tak sempat mengatur pakaian mereka dan menjadikan satu di tas karena ingin cepat pulang.
" S**l mana bajuku besar semua...eh itukan bajuku waktu aku masih agak muda dulu... mana tau aja ada yang bisa di pake...". Gerutu Zura. Ia langsung membuka isi tas itu, Zura terkejut baju yang ia belikan waktu itu untuk Vio ada di tasnya. Ia langsung balik ke kamar Achi lalu memberikan baju itu, Achi sangat terkejut ada baju wanita di kamar Zura.
" Ja... jangan salah paham... aku gak ngelakuin apapun dengannya walaupun kami menginap di tempat Tante ku karna cuacanya juga tak baik... dan baju ini ga muat dengannya makanya dia ga pernah pake...". Zura berterus terang , Achi merasa heran mengapa Zura gugup walau nada nya tak berbohong.
" Mas... kenapa kamu ngomong nya ngegas gitu...". Jawab Achi.
" Po... pokoknya pakai aja lah... ini selimut ku pake aja kamu kan gampang kedinginan....". Ucap Zura.
"Oh... iya mas... makasih...". Achi tersenyim singkat menerima pertolongan itu, meski hatinya merasa agak sesak dan Zura bisa membaca itu.
" Ya udah aku ada di kamarku kalau ada apa-apa, panggil aja aku... ". Ucap Zura singkat.
Achi hanya mengangguk dan menutup pintu, mamah mengirim SMS untuk Achi karena takut khawatir, Achi bilang ia ada di rumah om / adik mamahnya itu bersama Zura dan akan pulang besok pagi. untung saja mama cukup percaya karena rumah om nya memang dekat juga dari sana dan lagi Achi jarang sekali berbohong.
" Mengapa bajunya malah pas banget di tubuhku sih... bukannya ini untuk kak Vio ya...". Batin Achi.
" Sudahlah lebih baik aku tidur aja... " Lugasnya lagi.
" GRUDIK DUK DARRR... DARR... " Suara petir itu cukup kencang dimalam hujan lebat itu.
__ADS_1
" Uh... kenapa harus ada petir sih... Aku jadi agak takut... ". Rintih Achi . Petir itu datang lagi dengan kuat.
" DARRR!! ".
" Uwah mamah...!!!". Teriak Achi spontan. Zura samar-samar mendengar suaranya.
" Kucing kecil kamu ga apa..! " Zura langsung ada di depan kamar Achi.
" Ga apa-apa mas aku hanya kaget... ". Jawabnya.
" Oh ok... ". Jawab Zura dengan nada kecewa, karena ia ingin Achi sedikit bermanja-manja dengannya. Hanya beberapa langkah Zura berjalan ke kamarnya, ada petir yang cukup keras suaranya mengagetkan mereka berdua , Achi langsung membuka pintu membawa bantal dan selimutnya keluar sambil berteriak karena kaget. Zura juga kaget ia segera menoleh ke kamar Achi dan tampak Achi mengenakan pakaian itu berupa terusan berwarna putih ke merah jambuan dengan corak hijau.
" Mas Zura takut... takut...!". Ucap Achi spontan dengan memeluk Zura. Zura langsung membalas pelukan itu sambil tersenyum kecil.
" Memang siapa tadi yang sok kuat dan bilang hanya kaget aja...?!". Tanyanya.
" Mas petirnya terlalu kencang... biasanya juga waktu dirumah saat seperti ini aku ditemani sama mama...". Jawab Achi kesal.
" Ya udah karena kamu udah datang ke arah ku... malam ini kamu ya harus tidur dengan. ku...". Ucap Zura santai. Ia lalu mengambil bantal dan selimut Achi yang ada di lantai dan menggendong Achi dengan satu tangannya.
" Iya mas tapi ngga perlu di gendong juga!!!". teriak Achi.
" Habis badanmu kecil banget kucing kecil... jadi enak aja kalau di gendong ... kayak boneka..." Jawab Zura dengan menepuk-nepuk bokong Achi.
" Mas mesum sekali lepaskan aku...!!!". Teriak Achi malu. Zura langsung menarik bantal dan selimut itu di kasurnya ia langsung menurunkan Achi namun mengangkatnya lagi.
" Mas... kamu menjahiliku lagi... dasar iblis mesum...!!! Turunkan aku... kubilang turunkan!!!". Achi memberontak. karena tubuhnya yang diangkat tak bisa menyentuh lantai.
" Haha lucu... lucu banget kamu kucing kecil". Zura terkekeh karena Achi mencoba memukulnya tapi tidak kena . Karena kesal Achi langsung cemberut.
" Imut... kamu imut sekali pake baju ini...". Ucap Zura. " Gaps". Wajah Achi langsung memerah. Zura langsung menurunkannya.
" Apa-apaan sih mas... ini kan baju kak Vio kenapa mas malah kasih ke aku... mas ga peka banget ngga tau perasaanku apa...! " Tegas Achi.
" Hei... buka itu maksudku... aku ga ada apa-apa dengan nya pas itu...". Jawab Zura.
" Terserah... aku mau tidur... jangan berbuat jail dengan ku... aku udah ngantuk! ". Tegas Achi lagi. Ia jauh tidur di sudut tempat tidur Zura.
" Kucing kecil... jangan begitu... iya-iya aku salah maaf ya..". Ucap Zura tapi Achi tak menoleh.
" Hei aku kan udah minta maaf...". Ujar Zura.
" Aku bukan hei aku punya nama... namaku juga bukan kucing kecil....". Jawab Achi tetap membelakangi Zura dengan punggungnya.
" Aku ga sangka kucing kecilku juga bisa manja seperti ini...".
" Achi aku kedinginan... Hachim! mendekatkan kemari aku janji ga akan ngelakuin apa pun... hanya tidur di dekapanku aja...". Ucap Zura modus.
'" *Memang aku akan tertipu omongan iblis mesum sepertimu...!!! ". Batin Achi .
" Sial... Kucing kecil ku ini makin keras kepala saja... tapi haha aku memikirkan sesuatu...". Batin Zura dengan pikiran jail yang terlintas di kepalanya*.
" Grap!". Lengan besar Zura membuat Achi terkejut karena melilit perutnya.
" Jadi kamu ga suka baju ini... padahal aku sendiri yang membelinya....". Tanya Zura.
__ADS_1
" Kenapa mas harus nanyain sesuatu yang udah pasti mas tau... udah lah mas... udah malam ga usah dibahas lagi...". Jawab Achi.
" Oh begitu ya... kalau begitu ya lepas aja... seperti ini misalnya... !".
" TREAAKK...!!!_". Suara resleting baju yang dikenakan Achi dibuka dengan mudah oleh Zura. Achi sangat kaget dan langsung menoleh ke arah Zura.
" Ma...! ah... jang... mmm.. jangan seperti ini... a... uh.. uwah...". Zura mencium bibir Achi dengan kasar.
" hah... ha.. am... mmm...hah...". Zura langsung memeluk Achi dengan erat.
" Aku tau... kamu sakit hati pake baju ini... tapi kamu imut sekali... Apa kamu tau aku udah nahan ga ngelakuin hal ini selama sampai hari tunangan kita... ini menyiksa sekali untukku... jadi kamu jangan berontak... atau aku... aku malah ngga bisa ngendaliin diri untuk ga menyentuhmu kayak tadi... hanya tidur aja di pelukanku... aku minta hanya seperti ini aja udah cukup...". Ujar Zura.
" Eh... jadi yang seperti ini juga menyiksanya ya...". Batin Achi.
" Suamiku jangan marah... maafkan aku... selamat tidur...". Jawab Achi singkat. Zura langsung terpana mendengar kata itu. Achi langsung memeluk Zura erat dalam dekapan tangan Zura yang besar itu.
" Cih...Kamu menggoda ku ya... dasar bodoh...". Ucap Zura namun Achi tak membalasnya. Achi hanya menutup mata dan tidur.
" Selamat tidur istri kecil ku...". Jawab Zura pelan dengan membelai dan mencium rambut Achi.
Namun Zura tak sepenuhnya tidur ia terbangun dini hari ketika mau ke WC dan masuk ke kamar nya lagi untuk tidur lagi. Achi terlelap dengan baju terusan yang agak melorot sampai di dadanya karena resleting yang dibuka itu.
" Iya yah... sebentar lagi aku bangun... kerja... masih pagi... bentar lagi bangun yah...". Ucapnya ngelindur dengan lirih. Zura tertawa kecil mendengarnya.
" Glegk....." ... " .... " Zura terdiam menahan dahaganya.
" Bajunya kebuka... ga boleh aku harus tahan diri... kan belum jadi istriku jadi ga boleh dulu..." . Batinnya. Ia perlahan membaringkan dirinya dan mencoba menutup kembali resleting istrinya yang kebuka.
" Mas Zura... apa aku mimpi...". Achi setengah sadar. Zura agak gelagapan. ".... Mas Zura... ganteng sekali... lihat dimimpi pun aku bisa lihat wajahnya hahaha... hah... nyaem... nyaem...". Achi tidur kembali. Jantung Zura berdebar mendengar kata-kata itu. ia menutup mukanya yang merah padam itu.
" ****... Malu Gua... njiirr nih anak kok mudah kali buat gua salting ya...". Batinnya.
" Sebentar dikit lagi ketarik ke atas biar nutup... biar ga kedinginan lagi kamu kucing kecil...". ucap Zura lirih. Tapi pikirannya langsung bercabang melihat dada Achi , ia melirik Achi yang masih tidur dan dada nya secara bergantian.
" Kalo bagian ini aja kan seharusnya oleh kan ya... toh kan... kami udah tunangan... ". Batinnya. " Eh ga boleh... dasar setan mesum Lo Ra...". Zura memperkuat benteng dirinya dengan memeluk erat istri kecilnya itu.
" Mas ada apa... kok seperti ini sih... sesak Lo mas...". Ucap Achi heran.
" A... aku cuma susah tidur kok... " Jawabnya asal.
" Eh.... kok bisa... ok ok... jangan dibawa susah... penjamin aja matanya mas ntar juga tidur sendiri...". Lugas Achi lagi dengan menepuk-nepuk badan kekar Zura itu.
" Ini gara-gara kamu... ayo tidur aku ga mau ngomong sesuatu lagi...". Jawab Zura.
Achi memahami maksud kata-kata itu, dan hanya tertawa kecil saja. Zura mencoba tidur, tapi ia tahu kalau Achi masih menatap nya sambil mengelus-elus rambutnya yang cepak itu.
" S**lan... Kalau kaya gini makin ga bisa tidur kan...". Batin Zura kesal dan malu. Ia akhirnya bisa tidur dengan usahanya yang keras itu 😁.
to be continued.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka...?!🤔
Baca terus Hate A Boy, But He Love Me...
terimakasih sudah nyempatkan waktu untuk membaca...😊🤗🐼
__ADS_1