
" Diam... kamu ga ingin ketahuan kan...langkahmu terlalu cepat untuk ku ikuti... ini membuat ku susah untuk ngejar kamu....". Ucapnya denagn nada napas berat yang berpacu.
"Mas Zura...!? kok disini ...? bukannya tadi sama gebetan barunya ya..?". Ucap Achi dengan nada sindiran.
" Apa Maksudmu kucing kecil, dia hanya mantanku dulu...!". Jawab Zura keceplosan.
"Oh... Ok...". Sahut Achi tak bersemangat. "Mantan pegang-pegangan ya... mesra sekali" pikirnya. Achi hanya berjalan terus tanpa melihat Zura , Zura mengikutinya dari belakang.
" Kok jawabannya itu doang... Kamu tadi kemana aja sama si cunguk itu... kenapa ga ngabarin pergi kemana...?!".
" Si cunguk..?!, Maksudmu Fariz...? aku hanya jalan-jalan bareng-bareng sama Ami , Aji juga Putri sekalian ajakin Fariz ... lagi pula mas sibuk kan... aku ngga mau ganggu... aku cuma mau main sebentar.. apa ngga boleh...?!". Ucap Achi mulai kesal.
" Kenapa ga ajak aku..., aku kan tunangan sah kamu... kenapa kok ngga kabarin malah ajak dia... aku pasti sempat-sempatkan waktu buat kamu walaupun sibuk...!". Jawab Zura sambil menarik tangan Achi dengan paksa.
" Apa bedanya aku sama mas sendiri..., mas juga kemari dengan mantan pacar mas...! kemarin kan katanya ditelepon sibuk... ". Sahut Achi sambil melepas tangannya. Zura terdiam seketika, ia tahu kalau Achi sedang marah padanya. Melihat wajah Zura yang mengerutkan kening dengan raut wajah sedih Achi jadi merasa bersalah.
" Sudah lah mas... hari ini aku mau pulang saja bersama Aji , aku dan Fariz ga ada apa-apa... tolong jangan salah paham... mas pasti capek kan... pulanglah hari ini sudah larut...". Jawab Achi dengan raut wajah sedihnya dengan kata lembut. Namun Zura menariknya ke arah lain tanpa sepatah kata pun. " Eh mas... kamu mau ngapain, kamu akan membawa ku kemana!??" Achi langsung berteriak.
Di tengah keramaian Achi tak mau ribut karena itu akan mengundang perhatian banyak orang, ia hanya mengikuti langkah kaki Zura yang cepat tanpa bicara, tiba-tiba Zura berhenti di permainan yang ditakuti Achi sedari kecil. Achi pernah berkata kalau di pasar malam ia paling takut naik permainan baling-baling tinggi karena ia cukup takut dengan ketinggian juga dalamnya air. Kebetulan ada 3 orang remaja yang keluar dari salah satu ruang baling-baling itu.
"Ada yang ingin masuk lagi..?" tanya abang-abang pemutar baling-baling itu.
" Kami bang...!". Kata Zura dengan senyum jahil sambil mengangkat tangan kucing kecilnya.
"A, Apa...! ngga mas... saya ngga... Zura apa yang kamu lakuin...eh!!" Achi sangat kaget karena tiba-tiba ia digendong Zura dengan entengnya.
" Ngomong apa sih istriku..., jangan malu... mas kan disini... makhluk lah bang masih penganten baru... jadi wajar istri saya malu-malu..." Ucapnya tertawa jahil.
" Oh~ penganten baru ya mas... kalau begitu silahkan nikmati malam hari ini dengan indah.." sahut abang-abang itu. Zura pun masuk ke ruangan baling-baling yang kosong itu.
" Eh ngga jangan tutup... !!!" Ucap Achi berteriak tapi hal itu sudah terlambat. Mesin baling-baling itu sudah diputar dan mulai naik ke atas.
"Ukh... " Uchi bergidik takut sambil menutup matanya dan menunduk di dalam dekapan tunangan jahilnya itu.
" Kamu tahu kalau seperti ini kucing kecilku sangat menggemaskan... aku suka sekali kamu seperti ini...". ucap Zura dengan lembut dan senyum jahil itu keluar lagi di bibirnya. Hal itu langsung membuat Achi marah dan melepaskan dekapan Zura lalu berpindah duduk di hadapan Zura.
" Aku... benci mas yang seperti ini...". Jawab Achi dengan raut wajah kesal dan sedihnya. Melihat hal itu Zura juga ikut marah karena maksud ia mengajak Achi kemari untuk menghilangkan kekesalan Achi padanya. Wajah Achi sangat ketakutan hingga ia meringkuk. Zura memegang satu tangan nya.
" Hei... ngga apa kucing kecil... jangan takut aku ada di sini ... buka matamu... bukannya malam ini bintang sangat banyak keluar di langit... coba lihat..." Ucap Zura dengan lembut.
Achi melihat ke langit dengan perlahan , ia terbujuk dengan nada lembut kata Zura. " ah, ini... indah sekali.." Jawab Achi perlahan.
" iya indah sekali... senyum kamu yang seperti itu juga manis sekali..." Jawab Zura sambil tersenyum.
" Eh mas bilang apa...?!" Achi langsung menoleh dengan wajah memerah.
" Aku bilang senyum kamu yang seperti itu manis sekali... apa ngga boleh memuji istri kecil sendiri..." Jawab Zura.
"Su... Sudahlah mas... ini tinggal satu putaran lagi. Aku mau pulang sudah larut.." Jawab Achi sambil gelagapan Saking malunya.
" Ck, kita kan bisa tambah waktu buat lanjut lagi, emang kamu ngga suka kalau lama-lama sama aku, kita udah tunangan, ayahmu tidak akan curiga kalau sama aku. Beda Ama si cunguk itu!". Jawab Zura kesal.
" Bukan gitu maksudku mas...". Jawab Achi mengerutkan kening.
" Lalu apa lagi... oh... aku tahu karena sama dia lebih enak ngobrol sama mesra-mesraan nya ya dulu..!" Jawab Zura mulai emosi.
" Mesra-mesraan bukannya mas juga kayak gitu, mas juga salah!". Jawab Achi mengingat perlakuan Zura padanya dulu.
" Jadi maksud kamu aku yang salah...!?" Zura langsung melangkahkan kaki ke tempat duduk Achi.
" Ngga bukan begitu mas... maksudku bukan itu..." jawab Achi,Zura lalu meraih kedua tangan Achi dengan tangannya yang besar dan menatap Achi dengan dekat " Kenapa mas seperti ini, kita sedang berada di atas baling-baling sekarang mas... bahaya !" Achi takut.
" Kamu bilang semua salahku, pengen lama-lama sama kamu juga salahku, aku ketemuan sama teman trus ketemu mantan juga salahku. Kamu tau ngga gimana gilanya aku cari kamu tadi di tengah orang rame... karena khawatir kamu bakalan dibawa pergi sama si cunguk itu... lihat aku... tatap wajahku trus bilang ini salahku seperti tadi... " Jawab Zura.
" Ngga mau... aku ngga mau natap mata mas..." Ucap Achi dengan nada malu di raut wajahnya. rambutnya terurai sedikit menutup wajahnya, Zura menyibaknya ke belakang telinga dan menyentuh telinga Achi dengan lembut. " mas... jangan lakukan hal seperti ini..." Jawab Achi lembut.
" Kamu itu sensitif sekali... bahkan hanya hal kecil ini saja... mukamu sudah merona kayak gini... hehe" Ucap Zura jail. " Hei Achi sudah sampai..." lanjutnya.
" Eh mas(a)" Achi menoleh, seketika Zura langsung menciumnya dengan lembut.
__ADS_1
"Hah..!?". Achi kaget dengan reaksi itu sedangkan baling-baling itu belum berhenti.
" sudah sampai batas dimana aku ngga bisa nahan diri lihat kamu aja..." Ucap Zura lagi dan mencium Achi lagi.
" hah... hentikan mas... baling-baling nya sudah berjalan lambat bentar lagi berhenti... kita ngga boleh melakukan ini disini... malu dilihat banyak orang...". jawab Achi lembut sambil terengah-engah, tangannya mendorong Zura dengan lembut. Ia menolehkan mukanya lagi namun Zura langsung memegang wajah Achi dengan lembut. Achi sangat malu dan menutup wajahnya.
" Kamu tahu rasa bibir kamu itu manis, ini seperti memasukkan obat perangsang di dalam tubuhku... kamu pikir kalau itu kamu aku bisa bertahan dalam kesadaran ku...?!" ucapan seperti ini membuat Achi makin tunduk. Zura hanya menciumnya lagi dan lagi. Tiba-tiba hp Achi berbunyi.
" mmm... mas Zura henti... kan... hp... mmm ... hal ku... bunyi..." ucap Achi perlahan, tapi Zura tidak menghiraukan. Achi terpaksa menggigit lidah Zura.
" Ukh sakit... kamu nih emang anak kucing ya... sebagai banget gigit lidahku..." Jawab Zura kesal.
" Hp ku bunyi mas... ada yang telpon ...". Jawab Achi ikut kesal.
" Oh, Eh maaf..." ucap Zura sambil menutup mulutnya karena malu. Achi menjawab telpon itu dari Aji yang khawatir sedari tadi tidak melihat kakaknya. Sedangkan Fariz dan Ami kelihatan lebih mesra kini.
"Kakak dimana... udah jam 11.00 ngga pulang..." Tanya Aji.
" Sebentar lagi Kaka pulang kok... " Jawab Achi namun Zura langsung mengambil hp Achi.
" Dia bersamaku... aku yang akan antar istriku pulang..." Jawab Zura singkat, lalu mematikan teleponnya.
" Dasar, Brengsek sialan!, kalau aja kamu ngga serius dengan kakakku bakalan kupisah kamu dari dulu!" Ucap Aji marah, Putri pun terkekeh,ia tahu kalau yang menjawab telepon sebentar ini adalah Zura.
" Sudahlah ji... itu tandanya mas Zura kan sayang banget sama kakakmu Ji..."Ucap Putri.
"Ya sudah put... kamu pulang denganku aja...". jawab Aji. " Bagaimana dengan Kaka Ami ... mau sekalian ku antar pulang barengan sama Putri juga...?!". Tanya Aji.
" Ah iya ga apa..." Jawab Ami pendek, namun Fariz menggenggam tangan Ami tiba-tiba.
" Aji biar Kaka Ami kamu mas yang antar...". Ucap Fariz sambil senyum ramah.
" Oh ok... hati-hati ya mas..." ucap Aji singkat.
" Kami pulang duluan ya kak...". Ucap putri , Ami hanya melambaikan tangannya .
" Memang mau pulang secepat itu... ayo beli makanan ringan dulu untuk keluarga mu di rumah Mi...". jawab Fariz.
" O, Oh ok...". Ami sangat senang dan malu karena tidak biasanya Fariz sangat lembut seperti ini dan menggenggam tangannya dengan erat begitu.
sementara itu....
Zura dan Achi turun dari permainan baling-baling itu, Zura merangkul Achi dengan erat sampai-sampai hal itu membuat abang-abang tersebut agak sungkan. Achi tentu saja sangat malu.
" Di rangkul terus mas istrinya hahaha". Ucap abang-abang tersebut sambil tertawa.
" Tentu saja... dia ini istri ku yang paling manis..". Jawab Zura dengan mood tidak suka. Achi dan abang-abang tersebut sama-sama tertawa sungkan. Setelah Zura membayar uang permainan baling-baling itu. Perut Achi keruyukan karena dia memang agak lapar.
"Hey... perutmu minta makan tuh kucing kecil..." ucap Zura santai sambil tertawa.
" Sudahlah mas... kita pulang aja...Udah sangat malam". Jawab Achi.
" Ngga boleh... harus makan dulu sama mas mu... mas juga lapar walaupun habis nyantap kamu...". Jawab Zura dengan entengnya.
" Kan mas bilang gitu lagi... mesum... mas mesum sekali!!". Jawab achi.
" Hahaha... ga apa... mas janji cuma 15 menitan kok... janji...". Jawab Zura, dan akhirnya mereka menyantap bakso untuk mengganjal perutnya di pasar malam itu.
" Uah... kenyang... Ukh... perut mas mules nih sedikit..." Ucap Zura.
" Salah mas... masukin cabe nya ke banyakan ke baksonya... padahal udah di bilangin jangan banyak-banyak masukinnya". Jawab Achi kesal.
" Eh tapi kan tadi baksonya lumayan enak Lo... kamu senang kan..." Tanya Zura.
" iya mas... senang sekali... perut kenyang hati pun senang ... makasih mas Zura .". Jawab Achi sambil tersenyum menggenggam tangan Zura. Zura melihat senyum Achi sama seperti anjing kecil yang menggerak-gerakkan ekornya , menggemaskan sekali. Pikirnya. Zura lalu menarik tangan Achi ke arahnya.
" Hei kucing kecil... aku mau...". Zura mendekatkan wajahnya ke tubuh Achi , namun Achi langsung menutup mulut Zura dengan tangannya.
" Ngga mau...!". Jawab Achi lebih dulu menolak ciuman itu.
__ADS_1
" Ck... kenapa sih akhir-akhir ini kamu menghindari ku tiap kali aku mau melakukan itu...". tanya Zura.
" Mas ga ingat lagi kenapa kita di larang ketemu... mas selalu melakukan hal intim seperti ini makanya ayah dan bapak khawatir lalu kita dilarang bertemu sampai hari h". Jawab achi tegas.
"ah~ itu... aku lupa..." Jawab Zura sok santai namun hati tidak rela. " Ya sudah gih... kita pulang...". Jawab Zura pura-pura lesu.
Mereka pulang namun Zura tidak memampirkan Achi ke rumah keluarganya, kali ini bukan alasan karena hujan. Achi sudah kekenyangan jadi ia sedikit terkantuk-kantuk dan tidak memperhatikan jalan Zura mau membawanya kemana.
" Dah sampai... turun dulu mas mau masukin motor ke rumah". Jawab Zura santai.
"Eh... iya mas... EHHHH, kok malah ke rumah mas...!!!".Jawab Achi kaget.
" Hahaha... iya lah kan tadi ayah mu telpon nanya kamu, terus mas bilang kamu sama mas... mas ajakin tidur di rumah mas... dan well dia ngebolehin sih... walau dengan nada keras...
"Bocah sialan, kamu boleh bawa dia dengan. syarat tidurnya terpisah... awas kalau ngga... bakalan saya datangi dan hajar kamu kalau kita jumpa!!!". Ucap ayah Achi dalam telepon.
seperti itulah jadi kamu tidur di kamar kamu aja...".Jawab Zura santai.
" A... Aku tidak percaya ayah berkata kayak gitu ..".Jawab Achi , Zura lalu memeriksa panggilan masuk di hp nya, dan menunjukkannya ke Achi, ayah memanggil Zura memang berlangsung hanya beberapa menit yang lalu.
" Ok... baiklah... kalau gitu mana kuncinya aku mau segera tidur...". Pinta Achi. Zura memberikan kuncinya namun saat Achi hampir memegangnya Zura menariknya ke atas.
" Kasih sun dulu baru nanti mas kasih kuncinya..". Jawab Zura jail.
" Ya udah lah... aku tidur di sofa saja...". Jawab Achi tak mau meladeni kejahilan Zura. Zura langsung menangkap pinggangnya ketika Achi hendak melangkah.
" Kalau kamu seperti ini... nanti mas akan jahilin kamu lebih lagi loh... seperti ini contohnya..". Jawab Zura sambil memasukkan tangannya ke dalam baju atas Achi.
"Ngga mas... aku bakal melakukannya..." Jawab Achi sambil takut dan malu.
" Ya sudah cepetan... Mas mu kan ngantuk juga besok mau kerja...". Jawab Zura sambil menutup matanya, kedua tangannya tetap melingkar di pinggang Achi.
Achi melakukan sun dengan cepat sambil menjinjitkan kakinya karena Zura lebih tinggi darinya. Zura tersenyum melihat Achi , wajah Achi merah padam dibuatnya. Zura mengeratkan pelukan tangannya dan lagi-lagi mendekatkan wajah nya ke arah Achi. Achi tertunduk malu karena Zura seperti akan menciumnya, rasanya tubuhnya seperti mati kutu ia hanya bisa menutup matanya perlahan.
" Hihi, aku ga akan minta lagi kok kucing kecil... mat tidur sayang". Ucap Zura mengelus kepala Achi dan memberikan kuncinya, hal itu membuat Achi segera lari ke kamarnya dengan cepat dan mengatakan Zura sangat mesum. Zura hanya tertawa terpingkal-pingkal. Zura merasa santai meski hanya tidur di kamar masing-masing, hati Achi sangat bergemuruh dengan kejahilan Zura padanya.
larut malam Zura bermimpi Achi di bawa pergi Fariz dengan mobil, Zura mengejarnya dengan berlari namun tidak bisa.
"Nggak...! Jangan pergi!". Teriak Zura seketika terbangun. " Aku hanya bermimpi... kepalaku... kepalaku sakit sekali..." Ucap Zura. Sakit kepalanya kambuh seketika dan tidak tenang meskipun ia sudah meminum obat yang di berikan dokter bilamana dia merasakan sakit di kepalanya.
Zura langsung bangkit dari tempat tidurnya, ia seketika membuka kamar Achi dengan kunci cadangan karena ia takut kalau mimpinya benar nyata, dan Achi tak ada di kamarnya.
Achi juga dengar teriakan Zura, ia sudah bangun namun berpura-pura tidur. Achi bertanya-tanya siapa yang dimaksud Zura. " Kucing kecil... bagaimana bisa kamu tidur dengan nyaman tidak pakai selimut padahal tubuhmu meringkuk begini... Kenapa ngga minta sama mas mu ini...". Ucap Zura lembut dan lirih. Ia Mengambil selimut itu dan menyelimuti Achi namun Zura tidak kunjung pergi dari tempat tidur Achi.
Zura hanya berdiam diri, tiba-tiba ia berbaring di ranjang Achi. Lalu ia mendekap tubuh Achi dengan lembut.
" Kucing kecil... maaf... masngga mau beranjak dari sini... mas takut... takut kamu di bawa pergi orang lain... sepertinya penyakit ku belum sembuh sepenuhnya". Ucap Zura sedih dan berkata dengan lirih. Achi langsung kaget dengan kata-kata itu , ia memegang sebelah tangan Zura dengan lembut dan membalikkan badannya. Lalu mencubit pipi Zura.
" Ya ampun .. ada baby besar ternyata...". ucap Achi sambil tersenyum lembut, Zura kaget karena Achi Ternyata sudah bangun muka Zura langsung memerah. Achi juga memeluk Zura " Mas... aku ngga akan pergi... karena aku sudah menunggu mas sejak lama..." Jawab Achi.
Mendengar hal itu Zura langsung memeluk Achi dengan erat, " Ma... malam ini mas ga akan melakukan apapun yang kamu ngga suka... cukup jadi bantal guling mas aja... biar mas ga mimpi buruk". Ucap Zura sangat senang dan malu dengan kata-kata Achi.
" Hihi... iya-iya mas...". Jawab Achi singkat, akhirnya Zura bisa tertidur dengan dengan adanya Achi di dekatnya.
Esoknya ayah Achi sudah memelototi mereka berdua.....
.
.
.
To be continued 😉
terima kasih sudah membaca... jangan. lupa jaga kesehatan ya teman-teman semua dan selalu jaga-jaga terhadap bahaya virus covid-19 🤗
Hayo pembaca ! jangan lupa like, comen dan support nya ya....! 😊
jangan jadi pembaca gelap 😑😒
__ADS_1