Hate A Boy But He Love Me

Hate A Boy But He Love Me
chapter 26


__ADS_3

" Ngga mau...!!!". Jawab Achi spontan sambil menutup mulutnya dengan memicingkan mata.


"Gzz... Hahaha... Wajar mu imut sekali...". Zura tertawa girang.


" Kamu... selalu mengerjai ku... emang apa enaknya sih!!! eh!!!!". Achi. Zura lalu memeluk Achi lagi.


" Aku senang waktu bersama kamu seperti ini...". Jawab Zura. Achi langsung terdiam mendengar jawaban Zura.


"Mm... Zura... boleh aku tanya sesuatu...?". Achi agak penasaran.


" Boleh..". Jawab Zura santai.


" Kenapa kamu... menaruh bajumu di kamarku tadi... waktu kamu habis mandi... sebenarnya aku juga sempat perhatikan tadi...". Jelas Achi.


" Coba tebak... dan lihat mataku...". jawab Zura tersenyum. Achi memperhatikan mata Zura yang tajam dan sendu ketika melihatnya. Namun ada kantung hitam di bawah matanya.


" Ngga...! kalau aku melihat mu lagi kamu akan melakukan hal aneh seperti tadi!". Jawab Achi.


"CTAK!" jidat Achi dijitak Zura. Hingga Achi mengerutkan kening karena sakit.


" Khayalanmu terlalu tinggi kucing kecil...". Ucap Zura tersenyum lagi. Achi baru tersadar.


" Kamu susah tidur.... kenapa...?! apa ada masalah...?!". Tanya Achi.


" Mungkin... karna kamu ga ada di rumah ini beberapa waktu... selama beberapa bulan lalu aku sering melihatmu melakukan aktivitas kamu waktu aku ada di rumah ini...waktu ngga ada tanpa sadar aku merasa sendiri dan susah tidur... dan kamar mu... meninggalkan aroma yang ada di tubuhmu... makanya aku sering tidur disana supaya aku bisa tidur dengan tenang...sambil membayangkan kamu ada di dekatku". jawab Zura.


" Ka... kamu mesum sekali Zura... bukannya kamu bisa tinggal di rumah utama bersama ibu dan bapak...". Jelas Achi mengerutkan kening.


" Ini semua salahmu kucing kecil... aku udah malas tinggal disana... aku udah terbiasa tinggal disini... ini lebih nyaman... aku bisa mengingatmu waktu melakukan aktifitas di rumah ini... aku lebih nyaman saat bersama kamu... karna aku terbiasa melihatmu... aku jadi sangat membutuhkanmu...". Jawab Zura lembut , kata-kata itu menggema di telinga dan dada Achi.


" Itu karena kamu iblis mesum yang pembohong... dari dulu kan kamu selalu dikelilingi banyak gadis... jadi wajar saja kamu merasa kesepian waktu kamu sakit, lepaskan aku... aku mau pulang...". Achi memberontak dan ia melarikan diri. Tapi Zura langsung memegang tangannya.


" Kalau kamu ga percaya aku membutuhkanmu ayo kita menikah...! dengan begitu kamu bisa lihat seberapa besar aku mencintaimu selama ini...!!!". Jawab Zura. Achi langsung kaget mendengar ucapan itu.


" Zu... Zura... kamu ... apa kamu bercanda... kamu baru saja memutuskan tali pertunanganmu dengan viona kemarin.. lalu bagaimana bisa kamu langsung ingin menikah denganku lantaran kamu tinggal bersamaku hanya beberapa waktu... pernikahan itu bukan candaan Zura... kita akan tinggal bersama untuk waktu yang lama... dan jika... jika kamu hanya ingin melakukan hal aneh seperti tadi saja untuk menikah dengan ku itu... bukan ingin menikah namanya... kamu hanya ingin memuaskan nafsu saja!". Jelas Achi sambil mencoba melepas tangannya dan melarikan diri. Zura jadi jengkel mendengar kata-kata itu lalu menarik pinggang Achi.


" AKU SERIUS!!! sampai kapan... sampai kapan kamu menjauh dari ku seperti ini...!". Teriak Zura.


" Bukan begitu Zura... aku bukannya menjauhimu... ". Jawab Achi.


" Lalu apa... kamu selalu melarilan diri dari ku...! aku tahu... dulu aku memang brengsek... tapi aku ga pernah mengingkari kata-kata ku... apa aku ga pantas berada di sampingmu... aku sering melakukan itu sama kamu... supaya... supaya kamu tahu sebesar apa aku menyukaimu...". jelas Zura menutup mukanya di perut Achi sambil tertunduk. Wajahnya memanas sampai telinganya memerah.


"Ternyata iblis mesum ini serius dengan ku.. apa yang harus kulakukan... hatiku.. seperti ingin melompat...".


" Kamu lihat kan... wajah sampai telingaku terbakar sampai seperti ini... dari dulu... kamu juga tahu tiap bertemu kamu wajahku juga sudah seperti ini... aku begini juga... hanya sama kamu aja... aku udah suka sama kamu dari dulu... sejak ketemu kamu di les... kamu aja yang ngga sadar... harus berapa lagi aku membuka rahasiaku seperti ini... aku menyukaimu ... aku udah ngga bisa sehari aja ngga lihat kamu... aku pasti... kesepian... ini bukan untuk pemuas nafsuku.. aku membutuhkanmu... jadi mau ya.. nikah sama aku Achi...." Jelas Zura, ia mendongakkan kepalanya karena Achi dari tadi hanya diam. Tiba-tiba .


" Tes tes tes tes...". Air mata Achi menetes jatuh ke pipi Zura. Zura terkejut dan ingin menghapus air mata Achi dengan tangannya namun Achi langsung mengelak dan menutup matanya.


" Hei... jangan menangis seperti itu kucing kecil... aku tau ini terlalu mendadak... jika kamu belum bisa buka hati ke aku... aku juga akan bersabar menunggu disini... dan jika... jika kamu lebih suka teman kuliahmu itu dari pada aku... aku pasti merelakannya jika itu yang terbaik... walau rasanya sakit...". Jelas Zura dengan lembut.


" Kamu ini bilang apa...! kamu bilang aku ngga sadar sama tingkah kamu... kamu juga ngga tau apa yang aku pikirkan selama ini...! jika kamu serius menikahi ku... aku senang sekali... bagaimana aku bisa nerima orang lain seperti Fariz waktu hatiku bahkan selalu memikirkan kamu saja... aku nggak akan membuat orang lain terluka seperti kamu...!!!". Jawab Achi sambil menutup mata dengan tangan kanannya.


" Jadi kucing kecil itu artinya kamu... kamu terima aku kan...( Zura sangat senang) hei lihat aku...?!". jelas Zura sambil menyentuh tangan kiri aku dengan lembut dan menjilat jemari tangan Achi yang kecil .


" Hei hentikan apa yang kamu lakukan...kamu jangan berbuat mesum lagi... !!! eh!!!". Achi menarik tangannya dan menyembunyikan tangannya ke belakang. Zura langsung bisa melihat wajah Achi yang menangis dan memerah itu serta mendekapnya dengan segera. Zura tersenyum lembut .


" Hehe.. kucing kecil... hanya aku yang boleh buat kamu menangis.... karna dari dulu waktu kamu menangis kamu manis sekali... sama seperti ini...". ucap Zura lembut. Achi melihat Zura benar benar menyesali perilakunya, suaranya terasa berat saat mengatakannya Zura seperti menyelipkan rasa sedih juga bahagianya.


" Zura... jangan berwajah seperti itu... aku kan udah bilang kalau aku menerimamu...". Jelas Achi. sambil menyentuh wajah Zura dengan lembut.

__ADS_1


" Memang wajahku seperti apa sekarang... ?!". tanya Zura.


" Wajahmu.... terlihat sedih...aku tahu kamu udah menyesal sekarang ... ngga lebih tepatnya kita di masa lalu...tapi aku paling benci itu... aku suka lihat Zura tersenyum sama seperti di sketsa itu... ". Jawab Achi sambil meliriik ke arah sketsa wajah itu.


Zura menaruh tangannya di atas tangan Achi yang sedang membelai wajahnya itu.


" Lalu katakan sesuatu biar aku bisa senyum seperti itu sambil menatap mataku...". Ucap Zura serius dengan mata tajamnya nan lembut itu.


" Wajahnya saat ini memang tenang dan senyum... dia juga terlihat bahagia... tapi aku bisa melihat ada keraguan ...mengatakan sesuatu yang bisa membuatnya tersenyum... apa ya....?! ah... meskipun ini terdengar memalukan... tapi... aku juga harus mengatakannya...".


"Zura... dengar aku... aku... aku... ( Zura menantikan apa yang ingin Achi ucapkan dengan wajahnya yang merona) aku mencintaimu.. jadi.... ayo kita menikah...aku akan bersamamu kedepannya...jadi kumohon jangan bersedih lagi... ". Jelas Achi. Zura langsung membuka lebar matanya mendengar pernyataan itu, achi menundukkan mendekatkan mukanya ke wajah Zura lalu menciumnya dengan lembut.


"*Aku harap ini kata-kata yang benar agar dia juga percaya denganku...". Batin Achi.


"cih... sial... dia akan membuatku menangis jika dia ngga segera menciumku tadi... akalnya begitu pendek... kukira ia akan mengajakku main...untuk menyenangkan juga... rupanya tebakanku salah... tapi... meski begitu... aku sangat senang sekarang". Batin Zura*.


Achi melepaskan ciumannya dan melihat Zura yang masih menutup matanya. Zura membuka matanya perlahan.


" Apa kamu sudah bisa tersenyum sekarang...?". Tanya Achi khawatir.


" Hehe... kamu memang bisa membuatku hilang kendali...". jawab Zura lembut sambil menarik tangan kanan Achi , lalu mencium Achi dengan lembut. Achi kini tidak menolaknya, namun ia masih terengah-engah dengan keganasan Zura waktu menciumnya.


" Hei... biasain dong... kucing kecil kamu kan akan menjadi istriku... kita akan melakukan hal yang melebihi ini nanti... untuk memiliki bayi misalnya...". Jelas Zura jail sambil tertawa. Achi sangat malu mendengar Zura berkata demikian, dan melesatkan pukulannya ke dada Zura.


" Apa kamu bodoh... dasar iblis mesum... dari dulu kamu benar-benar mesum, mesum...!!!". Achi sangat kesal dan malu saat ini.


" hahaha... lihatlah wajahmu waktu kamu bilang seperti itu... bukannya kamu menyukaiku seperti ini... tubuhmu bahkan lebih jujur sayang...". Jawab Zura sambil menghindari pukulan Achi. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu.


"Tok tok tok!!!".


" Mas... ini aku Aji... adik kan Achi.. apa kamu ada di rumah... tadi waktu aku pulang kak Achi ga ada di rumah... hp nya juga ngga di bawa... Putri bilang dia ke tempat temannya... tapi aku ngga yakin... semua temannya sudah aku hubungi...!!!". Jelas Aji , suaranya terdengar panik. Mengagetkan mereka berdua.


" Ya sebentar...!". Jawab Zura langsung melangkah dengan menggenggam tangan Achi.


"Zura apa kamu gila... lihat perbuatan kamu...!!!" Ucap Achi menunjuk lehernya, ia sempat melihat sekilas di kaca kamar Zura ketika hendak pergi, penuh dengan kecupan.


" Ngga usah permasalahkan itu... kita harus menemui adikmu dulu ..." jawab Zura.


" Ngga mau... malu...". Jawab Achi khawatir. Zura langsung mengambil kain panjang Achi yang pernah Achi pakai untuk menyelimutinya di lemari. Lalu langsung melilitkannya di leher Achi.


"*Eh ini kan... kain ku... wanginya sudah berganti dengan wangi yang sering aku cium dari tubuh Zura.. kenapa.... apa dia selalu memakainya waktu aku ga ada...? " Batin Achi. ( tepat) *.


Zura berjalan ke arah pintu sambil menggenggam tangan Achi bersamanya, membuka pintu.


" Loh kakak.. ternyata benar disini... ! ku kira sama kak Ami atau mas Fariz..." jelas Aji.


" Apa maksudmu... jelas-jelas istriku sedang bersamaku sekarang...". Jawab Zura kesal mendengar kata Fariz.


" well... Aji Kaka bisa jelaskan di rumah nanti...". Jawab Achi


" Huh menikah aja belum... ya udah kak ayo pulang... ayah ada urusan tadi jadi malam baru pulang... ". Jawab Aji mengambil tangan kakaknya.


" Ah Ok.. eh!!!" . Achi seketika melihat Zura yang menatapnya dengan menyipitkan mata dengan licik sambil menyentuh pinggul gadis itu.


Achi bisa menerka jika ia pergi dengan Aji pasti Zura tidak Segan-segan akan berbuat jail di depan Aji.


" aku pasti ngantarin Kaka kamu pulang... tapi itu nanti... ngga sekarang... aku masih kangen ma dia... ya kan kucing kecil... kamu pulang bersamaku nanti kan...". Tanya Zura ke Achi dengan jail sambil tersenyum.


" i... iya Ji... kamu pulang aja duluan... mas Zura ga akan berbuat buruk sama kakak kok... ". Timpal Achi sambil mengerutkan kening dengan tawa paksa.

__ADS_1


" Huh... baiklah... sepertinya salah paham kalian udah selesai... baik-baik lah dengan Kaka dan jangan lupa nanti antarkan dia pulang mas....". Jelas Aji " Tapi... kaka... kamu aneh banget... kenapa ada kain panjang di lehermu saat panas begini..." Timpalnya.


" Ah um... itu...". Achi terbata. Zura lalu memeluk Achi sambil mencium lembut rambutnya.


" Bukannya kamu udah tahu Ji.... kamu ama si Putri udah berkembang belum... apa mau ngikutin kisah kami juga...". Goda Zura dengan jailnya. Aji langsung malu dan bergegas pergi dengan motor yang dinaikinya.


" Sudahlah... kalian harus segera menikah... aku ngga mau kakakku kena dampak gosip yang nggak-nggak lihat kejahilan kamu mas..." . Jelas Aji sambil tersenyum pergi.


" Tenang aja... ini tinggal meminta persetujuan orang tua kalian...". Jawab Zura sambil melambaikan tangan.


" Sejak kapan Aji dan Putri jadi dekat... kok kamu tahu...!?". Tanya Achi.


" Aku kan cowok... tentu aku tahu...cewek kayak kamu pasti ngga tahu lah... kamu kan sama kayak adik tetanggamu si Putri itu ..". Jawaban Zura membuat Achi kesal.


" Lalu kenapa kamu masih menahan kuman disini... buat apa lagi... aku kan udah mengaku semuanya...". Jelas Achi.


" Kucing kecil... Aku lapar... kamu tahu kan... akhir-akhir ini aku sangat sibuk bekerja dengan saudaraku.... kadang waktu di rumah orang tuaku aku juga sarapannya cuma sekedar saja..." . Zura merengek seperti bayi sambil mengusap usap kepalanya.


" Iya-iya aku tau...aku akan masak sesuatu untuk kamu...". Jawab Achi.


" hehe...". Zura tersenyum.


Achi membuka kulkas, dan melihat beberapa sayuran yang ada di dalamnya. Lalu memasaknya .


Zura memeluk Achi dari belakang ketika memasak, membuat Achi agak susah untuk bergerak.


" Sayang... kucing kecilku...". Ucapnya manja.


" Hei hentikan Zura... aku sedang memasak...". Jawab Achi.


" Mana masnya... aku bakal jadi suami sah kamu sebentar lagi...". Jawab Zura santai sambil mengencangkan pelukannya.


" Ckk iya ... mas Zura aku sedang masak... duduklah dengan tenang selagi aku memasak...". Jelas Achi. Zura lalu menurutinya . Tiba-tiba ada yang menelpon. Zura langsung menjawab teleponnya.


" Zura kamu bilang mau kepantai hari ini... lihat semua udah duluan nih... cuma nunggu kamu doang...!". Jelas Eko.


" Well... sori Ko... gua ada bisnis ama calon istri gua dirumah...". Jawav Zura langsung ke arah Achi lagi dengan jail, Achi yang tahu Zura ingin berbuat jahil segera menjauhkan dirinya.


" Berhenti Zura.. aku sedang masak!!!". Teriak Achi spontan , ia malu dan. menutup mulutnya langsung.


" Eh dia di situ ya... yaelah Ra... seneng banget Lo sekarang ya.. jangan aneh-aneh Lo, nikah dulu... ya udah deh.. gua bakal konfirmasi ke temen-temen Lo ga bisa Dateng sekarang... nikmatin aja kemesraan Lo Ama kucing kecil Lo tu...". Jawab Eko santai.


" Wokeh.. bro..." Jawab Zura sambil mematikan teleponnya.


Zura hanya tersenyum jail lalu ia duduk kembali.


" Kamu suka kali ngerjain aku...!!!". Jelas Achi kesal.


" Aku suka lihat kucing kecilku gusar dengan Rina merah diwajahnya...". Jawab Zura santai.


" Diam dan duduk ... sampai aku selesai memasak!!!". Jawab Achi .


Selama memasak Zura terus melihat Achi dengan tatapan lembut sambil tersenyum. Membuat jantung Achi tidak bisa tenang karena punggungnya terasa terbakar melihat tatapan itu meskipun ia tak melihat wajah Zura.


To be continued


Bagaimana kisah mereka selanjutnya!!! Baca terus Hate A Boy But He Love Me ya!


Jangan lupa like, komen and support nya...!

__ADS_1


makasih sudah menyempatkan waktu membaca novel saya 👋🐼✌


__ADS_2