
Jika siapapun menapak kaki untuk kembali
Ingatan juga ikut serta merangkul kepalanya
Aku masih ingat jalan pulang
Menaiki bus yang riuh dengan suara musik
Angin sepoi kering dari arah barat membantuku bernafas
Sambil menunggu pemberhentian ku...
Sesekali aku menutup mata
Membayangkan hal yang menyenangkan
Untuk menjauhkan pusing yang merasuki
Diantara Angan-angan ku
Terselip juga bayangMu.
.
.
.
Achi mengambil roti yang dibelikan Zura, kendati ia sedang bersedih. Lalu memakannya.
" haha... Manis...." katanya dengan air mata yang berjatuhan itu.
Sementara Zura merebahkan badannya di atas tempat tidur, ia menutup mata dengan kedua tangannya. "Ah... gila..., Pasti sudah gila..., mengapa aku bisa melakukan hal seperti ini...". Batinnya.
Ia mengingat lagi Achi pergi dengan raut wajah sedih, dia amat kepikiran. "Ah..., sial... Aku ngga tahan melihatnya!!!". Teriaknya, hingga mengagetkan Achi yang sedang makan itu karena suaranya cukup keras.Hal itu membuat Achi tambah sedih, namun ia tetap memakan roti itu.
"Apa yang aku harapkan..., dia kan memang membenciku dari awal. Wajar bila dia ngga mau melihatku...". Batinnya. Padahal yang Zura maksud tidak sama dengan pikirannya. Zura tidak bisa kalau melihat kucing kecil yang ia sayangi bersedih.
Zura bangun dari tidurnya dan berjalan ke kamar Achi. Pintu kamarnya tampak terbuka sedikit, Zura mengintip dari sela pintu yang terbuka. Melihat Achi masih bersedih namun memakan roti itu Zura tak tahan untuk masuk. Ia membuka pintu kamar Achi tiba\-tiba hingga membuat Achi terkejut.
"Wah... bisa-bisannya kamu memakan roti sambil menangis..., hebat benar ya...!". Ucap Zura.
Achi meletakkan rotinya. "Jika kamu keberatan, aku bisa pulang ke tempat orang tuaku kok sekarang. Atau kita bisa membatalkan pertunangan kita...". Jawab Achi sambil tersenyum melihat Zura.
Zura menunjukkan ekspresi marahnya dan melangkah ke arah Achi yang duduk di atas kasurnya. Karena takut Achi menghilangkan tangannya. Tapi Zura hanya duduk di sebelahnya. " Cih... Dasar..., aku hanya bercanda. Mengapa kamu selalu menganggapnya serius sih..." Jawabnya sambil menolehkan mukanya ke arah lain.
" Haha... Jika difikirkan mungkin iya..., aku memang anak yang serius. Aku bahkan berfikir jika aku tetap disini itu tidak baik untuk kita, makanya nanti malam aku mau menginap sebentar di rumah orang tuaku..". Jelas Achi. mendengar hal itu Zura membalikkan badannya dan dua tangan ya langsung merangkul Achi dari belakang .
"Nggak Mau...!!!, aku ga suka kalau kamu pulang...!!!".Jawabnya spontan. Membuat Achi makin kaget dengan tingkah laku pemuda itu.
"Tapi kamu keterlaluan Zura, ini contohnya!!!". Teriak Achi. Ia ingin melepaskan dua tangan itu, tapi rangkulannya makin kencang.
"Aku tahu!!! (teriak), tapi bisakah kamu membiarkanku seperti ini sebentar saja, apa kamu segitu tidak sukanya kalau aku merangkul mu. Aku kan tunaganmu....". Jawab Zura lirih dan sedih. Achi tahu bahwa selama ini yang berusaha menjauhi Zura adalah dirinya, bukan Zura yang ingin.
"Bukan begitu maksudku...". Ucap Achi lembut. Zura lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Achi. Achi diam tak dapat berkata, ia sedikit mendengar bunyi jantung yang berdenyut dengan keras itu. "Apa itu bunyi jantungku...? (ia mendengar arah suara itu bukan dari jantungnya tapi Zura), Apa? tunggu ini... suara jantung Zura. Kenapa keras sekali suaranya...".
Achi ingat waktu itu ia pernah menonton tv, dan ada kata dimana seseorang akan lebih berdebar jantungnya, bila dekat dengan orang yang disukai.
"Tapi tunggu... Mengapa jantungku juga ikut berdebar juga.. Mengapa ketika kami seperti ini... ah... Aku malu sekali!!!". Batin Achi sambil memegang dadanya.
"Aku juga bisa mendengar jantung kecilmu dari sini Lo...". Ucap Zura lembut.
"Diam... kenapa kamu usil sekali sih....". Jawab Achi.
"Hihi... Suka aja... Aku suka melihat ekspresi mu yang kesal... Bukankah sebenarnya kamu juga menyukaiku, tapi kamu malu mengakuinya...". Ucap Zura.
"Kamu... Juga seperti itu kan dari dulu...". jawab Achi, Zura hanya diam. Achi mengambil roti yang dimakannya tadi, dan memakannya kembali.
"Apa itu enak...?!". Tanya Zura.
"Te... Tentu saja enak... Kalau tidak aku tidak akan memakannya?!". jawab Achi. " Kalau kamu mau, kamu juga bisa memakannya...". Achi mengambil satu bungkus roti dari plastik itu dan memberikannya ke Zura.
"Tidak itu tidak enak, aku tak suka manis...". Jawab Zura.
" Kalau begitu ya sudah...". Achi meletakkan sebungkus roti itu ke plastik kembali, dan mengambil rotinya. Tiba-tiba Zura langsung memakan roti yang sudah dimakan Achi itu ketika Achi hendak memakannya.
"Katanya tidak enak, kenapa punya ku diambil...!". Sahut Achi kesal.
"Kalau itu dari mulutmu, maka itu akan enak-enak saja...". Jawab Zura singkat. Achi langsung terdiam sejenak, lalu ia merasa malu. Karena Zura memakan punya nya, seperti ciuman tak langsung pikirnya.
__ADS_1
"Kamu selalu mengatakan hal spontan, yang membuatku malu..., memangnya ngga bisa kamu menyimpan kata-kata itu saja". Jelas Achi.
"Hahah, Karena kau mengakuinya aku jadi senang. Kamu harus makan banyak supaya ada tenaga supaya kamu banyak melahirkan anak-anak ku." Jail Zura.
"Zura... Kamu jahil banget sih, dengan ku...!!!". Jawab Achi kesal dan malu.
"Hahah 3 atau 5 orang juga gak papa...!". Ucap Zura bertambah jail.
"Terus, terus saja mengatakan it..". Ucap Achi terhenti mendengar kata-kata Zura.
"Aku suka melihatmu makan, itu menyenangkan karena aku sekalian bisa melihatmu tersenyum...". Jawa Zura.
Achi hanya diam, ia tak mampu menggalang apapun mendengar jawaban itu, ia hanya menghabiskan satu persatu roti yang di bawa Zura hingga tertinggal beberapa. Ketika Achi menyapa Zura...
"Zura..., anu..., apakah kamu bisa melepas rangkulanmu. Ini sedikit tidak nyaman, tapi bukannya aku tak suka... hanya... hei Zura! Apa kami mendengarkan ku..!?". Ucap Achi sedikit menggoyang tubuh Zura ke belakang. Tiba-tiba Zura merebahkan dirinya dengan tetap merangkul Achi. "Uwa~ !!". Ucap Achi spontan.
" Bruk!!!". Mereka jatuh ke kasur empuk itu.
" Zura...!!! jangan berpura-pura...!!". Ucap Achi kesal, ia mencoba melepaskan rangkulan itu. Namun Zura semakin kuat saja merangkulnya.
"Aku lelah... jangan pergi... biarkan aku sebentar saja seperti ini.". Ucap Zura, Achi tak bisa berbuat apapun selain diam dalam dekapan lengan yang besar itu.
"Kamu, membuatku sedih seenaknya, kamu membuatku bahagia juga seenaknya. Lalu kamu juga membuat hati kecilku gusar ingin melompat seenaknya. Tapi kehangaatan ini... Jika waktunya tiba, bagaimana aku bisa melepaskannya...?!". Ucap Achi .
Ia hanya memegang telapak tangan Zura dengan sedih. Sebenarnya Zura hanya berpura\-pura tidur, ia tidak menginginkan gadis itu pergi. Zura juga ingin menunjukkan kasih sayangnya agar gadis itu tahu. Mereka tak sadar jika mereka berdua sudah tertidur dengan kehangatan.
Suara telepon membuat Achi terbangun. Ia melihat tangan Zura yang menjadi bantal di kepalanya. Achi langsung bangun dari tidurnya. " Padahal ia masih sakit..., Kenapa harus meletakkan tangannya untuk jadi bantal kepala ku... ". Batin Achi cemas ia menyelimuti Zura dengan selimutnya. "Jika dilihat..., ketika tidur dia tampan juga... ( Hp Achi berdering lagi) Ah...!!! apa yang ku pikirkan... Siapa yang menelepon...!!!". Achi langsung mengangkat telepon yang ada di atas mejanya.
" Ya Mak, ada apa?!". Ucapnya spontan.
" Achi... Bisakah kamu menemani mama 2-3 hari ini. Ayahmu dan Aji sedang pergi ke tempat saudaranya di kota U...!". Jelas mama.
" Oh..., tentu saja boleh ma... tidak tidur di peluk mama jadi kangen...". Ucap Achi senang .
" Iya, mama tahu. Tapi jangan lupa izin ma Zura dulu ya..., jangan sampai Zura salah paham karena tidak tahu kamu dimana...". Tegas mama.
" Kok bilangnya seperti itu... baiklah aku siap-siap dulu ma baru kesana...". jawab Achi.
" Ya sudah kalau gitu..., mama tutup dulu...". Ucap mama.
Achi lalu siap\-siap pergi, ia menemui Zura untuk pamit, dia senang bisa kerumah lama orang tuanya. Alasannya cukup tepat agar Zura memperbolehkannya pergi. Namun ia melihat Zura masih tertidur pulas, ia tidak tega membangunkannya. Achi menuliskan memo dan pergi diam\-diam tanpa sepengetahuan Zura.
Tak sampai setengah jam ia sampai di rumahnya, ia melihat ibunya tengah menyapu halaman rumah. Mama senang melihat gadis kecilnya datang.
"Yay... Sayang mama...!!!". Ucap Achi sambil memeluk ibunya dari belakang.
"Sayang aja kalau ada maunya..., cepet sana makan dulu...". Ucap mama, Achi hanya mengangguk kesenangan. Achi makan dengan porsi jumbo di teras rumah, mama jadi melihatnya khawarir apa Achi tidak makan dengan layak disana.
"Tadi pagi kamu masak apa...?!". Mama penasaran.
"Aku ngga masak ma..., Zura memberikanku roti isi coklat kesukaanku dan ibu Zura membawakan ku sayur rebung dengan udang...".
"Wah... mereka perhatian sekali dengan putriku yang temramental ya... ". Ucap mama bergurau. Achi hanya mengangguk senang.
"Aku makan disana biasa saja kok ma..., Sam dengan waktu disini... Zura juga makan banyak. Tapi aku kangen masakan mama...". Ucap Achi yang merasa ibunya khawatir itu.
"Oh..., jadi anak mama juga sudah makan bersama dengan orang yang disukai. Eh maksud nama tunangan kecil pura-puranya." Mendengar ucapan itu Achi langsung terdiam menunduk, memakan makanannya. " Oh akhirnya siap juga nyapunya... cepet mandi gih siap makan, udah sore... jadi gadis jangan jorok kayak dulu ntar Zura ngga mau...!!!". Canda mama, Achi langsung tertawa.
"Mama aja duluan, aku belakangan aja juga bisa kan udah ada sanio". Ucap Achi.
"Memang ya...,kalau udah Ama mama ma ayahmu. Tabiat mu kembali lagi... Ya udah mama mandi duluan deh...". Ucap mama.
Beberapa jam kemudian setelah Achi puas membaca komik kesukaannya dan menskets gambar di imajinasinya. Ia pergi mandi, ketika mandi tak ada sabun di tempat sabum itu. Hanya tinggal potongan\-potongan nya saja.
" Ma ada sabun... ?!". Tanyanya dari kamar mandi.
"Oh iya mama lupa, tunggu mama ambilkan dulu...". Kata mama yang beranjak mengambil sabun lalu mengantarnya ke kamar mandi. Alangkah terkejutnya mama melihat ada luka ditangan dan kaki kiri Achi. " Bukankah itu luka air panas/ luka bakar, dari mana kamu bisa mendapatkannya?!" Ucap mama khawatir.
Achi terkejut melihat mama melihat lukanya. dan berusaha menutupinya. "hahaha ini karena aku kurang hati\-hati ma, makanya aku terkena air panas. Tapi Zura langsung membawaku ke rumah sakit. Luka ini sudah kering ma... bentar lagi juga sembuh...". Ucap Achi. Mama tahu kalau Achi dari dulu tidak mau membuat orang tuanya khawatir dan menahannya. Mama melihat Achi dengan raut wajah sedih.
"Ya sudah... mandi dengan benar, jangan sampai kulitnya terbuka, itu akan sakit nanti..." Ucap mama bersedih lalu mama pergi . Tiba-tiba Achi merasa tak enak ada sesuatu yang menimpanya nanti dan ia melihat sepintas bayangan Zura yang tersenyum.
"Ya aku... Kita baik-baik saja... Dan akan baik-baik saja...". Batin Achi.
Setelah itu Achi melihat i mamanya di kamar tengah menyiapkan bajunya.
" Lihat mama membelikanmu baju tidur baru...". Ucap mama.
"Ah... mama kan tahu aku ngga suka pake baju tidur ma...". Ucap Achi.
__ADS_1
"Tapi mama mau kamu terlihat seperti real seorang gadis. Selama ini kamu hanya mengenakan kaus pendek dengan celana Hawai. Memang kamu ngga malu dilihat Zura nanti, sini mama pakaikan...". Mama tetap terlihat sedih.
"Ma... Sebenarnya Zura berulang kali ingin memakaikan baju padaku karena tanganku terluka. Ia juga berjanji akan menutup matanya, hanya saja seperti mama bilang aku kan hanya tunangan pura-pura nya. Lagi ini hanya luka kecil tidak masalah...". Jelasnya.
"Luka kecil jangan anggap enteng..., nanti kalau membesar gimana...?!" Ucap mama sambil membantu Achi mengenakan pakaian.
Setelah itu mama dan Achi makan malam, Achi menjelaskan sedikit demi sedikit semua yang dialaminya selama bersama Zura agar seorang ibu itu tidak khawatir. Mama memang sempat mendengar kabar angin dari ibu\-ibu tempat tukang rumpinya berjualan, namun ia hanya mendengar beberapa kalimat saja.
" Lantaran cemburu saja, sampai ga tahu tunangannnya kena air panas. Tapi walau begitu ia mengantarnya ke rumah sakit dengan cepat esoknya, susternya pada BAPER katanya Bu...!!!" Ucap salah seorang ibu-ibu yang sedang makan itu.
"Kalau memang suka ya terus terang langsung nikahin aja, walau rumit begitu... susah amat sih..." ucap ibu-ibu yang duduk di depan ibu-ibu satunya.
" Maklum lah Bu... jaman now... hahaha" jawab ibu-ibu itu.
Saat itu mama Achi tak. tahu yang dimaksud adalah putrinya. Namun setelah mendengar penjelasan real putrinya ia sedikit lega walau khawatir.
Ibu dan anak itu bercerita dengan riang sampai waktunya tidur.
Di tengah malam Hp Achi berbunyi. Ada panggilan telepon dan itu adalah telepon dari Zura.
" Ada apa Zura, kenapa menelpon di tengah malam....". Ucap Achi sambil terkantuk-kantuk.
" Kenapa pergi tidak ngabari...?!". Ucap Zura dingin.
" Kamu tertidur pulas... aku ngga tega banguninnya... Apa kamu tidak melihat memo ku di atas meja ruang tamu?!". Jawab Achi.
***Memo
Zura maaf aku harus pulang.
Ayah dan Aji sedang pergi menghadiri pesta saudara kami di kota U. Jadi aku harus menemani mamaku.
Aku sudah menghangatkan sayur yang diberikan ibu. Masakan ibu enak sekali terima kasih. Jangan lupa untuk mengganti perban, luka di kepalamu yang sudah mulai mengering***.
" Aku lihat tapi aku tidak suka... Jika kamu bilang aku bisa mengantarkanmu. Kamu tahu kan kalau malam itu berbahaya... kenapa kamu selalu bisa membuatku khawatir...!". Tegas Zura.
" Maaf... kupikir kamu ga akan izinin kalau aku bangunin, aku pergi dengan Salmah ( tetangga) kok..., jadi tak usah khawatir...". Jelas Achi.
" Berapa hari disana, kapan pulangnya...?". Tanya Zura.
" 2 sampai 3 hari... Maaf aku tidak bisa menemanimu untuk sementara...". Ucap Achi agak sedih.
" iya, aku tau... Kamu tidak lupa membawa obat luka bakar mu kan.... Atau perlu kuantarkan sekarang..?!". Tanya Zura.
"Itu tak perlu, aku sudah membawanya..., apa kamu mengkhawatirkan ku...?!". Tanya Achi.
" Apa Kamu baru menyadarinya...?!". Jelas Zura.
" Itu... bukan hanya saja, itu terdengar agak absur untuk pemuda sepertimu...". Jawab Achi.
" Bukan kah besok kamu akan kerja... , Apa perlu ku antar jemput ?!". Tanya Zura.
"Tak perlu... Aku pakai motor yang kupakai dulu saja... kamu kan kadang juga kerja, atau ada keperluan kan...?!". Ucap Achi. Ia berfikir kalau Zura mengantar jemput nya, dengan sifat yang ia tahu. Zura pasti juga memikirkan cara agar bisa bersamanya.
" Memang sih... Tapi mengantar jemput mu kan hanya perkara mudah... Tapi kalau kamu bilang begitu ya sudab, aku tidak bisa melarang.". Ucap Zura kecewa seraya tidak ingin melepaskan.
" Iya..., ini sudah malam kamu jangan lupa tidur...". Ucap Achi lembut.
" Iya kamu jangan bangun kesiangan. Bu guru...". Jawab Zura jail. Achi tertawa. Mereka segera mematikan telepon dan tidur.
Esoknya ketika berangkat kerja, Ayah Achi menelpon untuk memastikan keadaan rumah.
Mama Achi mengatakan dia baik-baik saja karena ada Achi disini. Hingga suatu titik pembicaraan mereka beralih ke arah permasalahan luka Achi. Ayah Achi bertanya mengapa Achi sampai terluka. Mama Achi menjelaskannya seperti apa yang Achi katakan agar suaminya tak gagal paham. Namun ayah Achi marah karena putri satu-satunya mereka terluka hanya dengan masalah sepele.
" Besok, kami akan pulang... buat anakmu sibuk sehingga ia tidak bisa kembali ke rumah pemuda sialan itu...!!!". Ucap ayah Achi. Mama Achi panik ia berfikir tak seharusnya mungkin ia mengatakan hal ini kepada ayah. Tapi orang tua mana yang ingin melihat anaknya terluka.
sementara itu, Zura mulai pulih ia aktif bekerja kembali seperti keadaannya di masa lalu. Karena ia berfikir ingin menyenangkan kucing kecilnya dengan hal yang ia dapatkan dengan jerih payahnya. Ia bilang Achi tidak apa berada di sana 5 hari karena ia juga subuk. Tapi ia menegaskan Achi pulang setelah 5 hari.
Zura sudah bilang ke orang tuanya, Achi senang sekali mendengar kabar itu. Namun kendati demikian, tiap Zura pulang ia sangat kesepian. Ia selalu mengingat hal\-hal yang dilakukan Achi, ibu Zura menyuruhnya tidur di rumah. Zura menolaknya, karena ia sudah biasa tinggal di rumah barunya.
.
.
.
To be continued 😐🐼
don't forget for support and coment...
your words become encouragement spirit for me. Thank you....👋🙏
__ADS_1