
sayang...
Jangan berbohong...
Jangan menangis
Ini memang kebenaran, yang kukatakan adalah kenyataan ! jangan menjauhiku
Tapi aku tetap membuat mu menangis
Lagi... Lagi... aku masih membuatmu menangis bahkan saat ini.
Aku bingung kenapa aku tidak bisa berbuat apa-apa
Bolehkah aku memelukmu erat agar kau tak pergi
Boleh kah aku menghangatkanmu dalam dekapan tanganku yang tak henti-hentinya menjerit ingin merantaimu
Masih bolehkah aku berada di hatimu...
sayang katakan... aku masih ada di sana...
.
.
.
.
Vio berlari berbalik ke arah Zura dan langsung bersujud di kakinya.
" Zura kumohon... maafkan aku...! Aku benar-benar mencintai mu... sangat mencintaimu...!!!". Ronta dan tangis Vio di kaki Zura.
" Maaf Vio kita udah berakhir... kamu harus bisa melihat orang yang benar-benar mencintaimu... aku jauh dari kata itu sekarang...". Jawab Zura. Melihat hal itu ayah Vio jadi malu melihat tingkah laku anak sulungnya . Ia langsung menarik kuat tangan Vio .
" Vio... jangan melakukan hal bodoh.. !!! kamu sudah mencoreng muka ayah jika seperti ini...!!!". Jelas ayah Vio marah. Vio tidak bisa membantah mereka pun pulang .
Zura menghembuskan nafas lega, Adi langsung mengelus punggung adiknya.
" Kamu udah berusaha...". Ucap Adi. Zura tersenyum lega pada kakaknya. Andre masih ada di sana.
" Andre sudah di sini... bicaralah baik-baik dengannya...". Ucap Adi pelan.
" oh...". jawab Zura singkat.
" Kami minta waktu keluar sebentar...". Pinta Zura pada orang tuanya. Setelah diberi izin Zura dan Andre bicara 4 mata.
" Lama tak bertemu Ndre... kamu bilang alasan mu tak menolongku akibat aku memuntahkan darah sama seperti ketika ayahmu meninggal apa itu saja...?!". tatap Zura serius.
" Haha... kamu memang masih sama seperti biasanya... hanya kepalamu yang ada bekas jaitan yang merubah rupamu sedikit ya...". Jawab Andre.
" Aku serius... apa kamu hanya ingin mengatakan itu padaku ...?!". Jelas Zura
" Ngga juga... sebagiannya lagi aku bohong...".
" Kenapa kamu ngga bilang dari awal kalau Viona pacar kamu, Ndre... Kenapa harus merahasiakan ini dari ku... kalau kamu bilang sejak awal... kamu ngga perlu mengasingkan diri... ibumu juga ga akan kesepian di rumah...". Jawab Zura sambil melempar-lempar batu, tempat mereka duduk di kolam dekat rumah kediaman keluarga Zura.
" Kuakui aku menyesal Ra... aku hari itu begitu pengecut hingga menghancurkan persahabatan kita... Vio mintaku merahasiakannya... ". Jawab Andre.
" Jadi... kamu benar-benar cinta ya sama gadis itu...". Jawab Zura ia mengeluarkan rokok , memantik api di korek untuk membakar ujung rokok itu dan menghisapnya. " Mau...?!". Tanyanya ke Andre. Andre ternganga melihat kelakuan Zura . Ia tahu walaupun Zura gampang meledak,tapi ia adalah anak yang sangat menyayangi kawan-kawan nya.
" Haha kau memang tidak berubah... baiklah... aku akan menerimanya( Andre mengambil rokok dan korek yang Zura serahkan) sebenarnya aku udah berfikir ulang .. hari itu aku begitu emosi melihat kelakuan mu Ra, tapi setelah aku pikir-pikir aku juga banyak salah, kamu tahu... aku bahkan menyisihkan uang kerjaku untuk biaya pengobatan mu kalau-kalau kamu sakit lagi...aku tidak mau lepas tangan melihatmu Ra... ". Jelas Andre .
" Apa kamu gila... semelarat apa aku harus menerima jerih payahnya untuk biaya pengobatan ku... aku udah sehat , ini hanya luka kecil... daripada kau memberikannya padaku, mending buat biaya pernikahanmu Ama Vio kan enak...". Jawab Zura santai. Andre terkejut mendengar hal itu.
__ADS_1
" Jadi.. jadi maksudmu kamu ngga marah lagi pada ku Ra. ...?!". Tanya Andre.
" Buat apa aku marah... toh kamu udah mengakui semuanya kan ... aku hanya kecewa saat kamu ngga ada di sampingku waktu aku terluka ... padahal kamu adalah satu-satunya orang yang aku percayai dan kamu juga berbohong padaku kalau kamu ngga ada apa-apa sama Vio... Tapi jika ku pikir ulang... bukankah aku juga bodoh... aku hanya duduk tenang tanpa mau tahu apapun hari itu, dan masuk di antara kalian berdua. Waktu kecelakaan aku melihat ekspresi mu yang tegang dan tampak mati itu. Aku sempat berfikir mungkin ayahmu alasan utamamu , kamu terlihat seperti itu... aku juga ada di sana waktu paman mengembuskan nafas terakhir kali...". jelas Zura sambil menghembuskan asap rokoknya lagi.
"Jadi kamu memaafkan ku yang seperti ini...". Jelas Andre mukanya tampak sedih.
"Kapan sejarahnya aku pernah marah lama sama orang, lain kali... datanglah sering-sering kemari... ibumu sudah tua kakak mu juga udah berkeluarga kan... aku akan bilang pada tetua masalahku denganmu udah selesai , mereka ngga mungkin ngga tau masalah kita." Jawab Zura. Andre langsung memeluk tubuh Zura dengan erat.
" Zura... aku... aku ngga tahu harus berkata apa lagi... aku sangat minta maaf dan berterimakasih tuhan menghadirkan orang seperti mu untukku...". Jawab Andre terisak .
" Iya... sudahlah ini sudah usai... kamu harus bertanggung jawab pada Vio... bagaimana pun kamu sudah melakukan hal yang tabu dengannya bahkan sebelum kalian menikah...". Jelas Zura sambil menepuk-nepuk punggung Andre.
" Iya ... ku pasti... ku pasti bertanggung jawab terhadapnya...". Jelas Andre.
" Eu... bro! lepasin gua badan ku keras.. ntar kalau kita pelukan lama orang bakalan salah paham... dari pada pelukan ama Lo ... kucing kecil gua 100x lebih nyaman ...". Ucap Zura santai.
" Sial kamu Ra... merusak suasana haru ku aja...( Andre melepas pegangannya) Lo serius ma dia... kena batunya lu bro...". Jawab Andre seakan sudah tau yang dimaksud siapa.
" Ya iyalah... gua kan udah sadar dari awal pas ketemu dia.... dia aja yang gak tahu... lihat aja gua bakal nikah duluan dari pada lu...dan tentu saja walau buatnya duluan lu .. kami akan cepat punya anak duluan ". Jawabnya santai dengan sedikit mesum.
" Gila lu bro... emang lu udah maen enak -enak ma dia . Mustahil dia tuh anak baik-baik ga akan ngelakuin itu.. kalau aja gua kenal dia duluan dia udah gua pacarin mungkin... ". Jawab Andre sambil tertawa. akhirnya Andre bisa bernafas lega. Zura langsung menatapnya dengan tajam. "Eh ngga gua hanya bercanda haha... bercanda... lu kok bisa jadi bucin giti sekarang...?.". Tanya Andre .
" Diem lu ntar gua marah lagi.... dia punya gua ngga bisa dibagi... lu ambil Vio aja dia kan cantik badannya kayak gitar spanyol tuh... ". Jawab Zura mengejek.
mereka saling bercanda gurau. Ibu Sena melihat anaknya semakin lama makin pulih juga sangat senang , ia mengantarkan kopi susu untuk mereka berdua.
" Baiknya Lo jujur aja lah ama tu anak Ra, dia anak yang serius ngga kayak Vio. Takutnya kalau Lo lama bohongnya dia bakal marah besar ma Lo... cewek tuh kalau marah ngga maen-maen, Lo mau dia ngga ngacuhin Lo lagi kayak dulu...". Ujar Andre.
"Gua juga tahu... tapi nunggu konfirmasi kejujuran dari keluarga gua dulu... mereka yang buat situasi nya kayak gini... tapi juga kalau ngga kayak gini gua ngga akan bisa kenal dekat ma kucing kecil gua... yah... gua gak bisa terlalu marah ke mereka..." Jawab Zura. Andre merasakan kalau sejak kejadian itu Zura pikirannya sedikit dewasa.
" Lu udah berubah bro... gua pribadi bersyukur ada Achi di dekat Lo ... Lo udah berubah ke arah yang lebih baik... ".
Jelas Andre.
" Diam lu... gua jadi malu... pada Lo ngomong terus minum tu susu". Mereka melanjutkan obrolan ya karna lama tidak jumpa. persahabatan mereka kini tersambung lagi. Setelah itu Zura juga sudah tahu apa yang di berikan, orang tuanya pada Achi sebagai jaminannya.
" Lo kenapa kamu bisa datang di sini dek...?!" Tanyanya. Wajah Aji tampak kecewa dan sedikit marah.
" Maaf mas..., aku ngga dalam mood untuk bicara...". Jelas nya dengan suara yang berat. Aji menyuruh Zura melihat ke rumahnya , dengan melirik kan matanya. Zura segera melihat Achi yang membawa koper nya keluar yang berisi barang-barangnya. Ia langsung terkejut dan melangkahkan kakinya ke hadapan Achi .
"Ada apa ini... ! kenapa kamu membawa barang-barang mu...!?". Tanya Zura lantang sambil memegang tangan Achi.
" Sudahlah Zura...! tidak usah berpura-pura!". Teriak Achi , Zura langsung kaget dengan kata-kata itu.
* beberapa saat setelah Zura pergi ke rumah kediaman keluarganya
Achi mendapat telepon dari Fariz.
" Iya Riz ada apa...?!".
" Achi kurasa ini waktu yang tepat... bisakah kita bertemu... aku tahu ini ngga mudah... tapi... kumohon sekali ini saja... ". Jawab Faris dalam telepon memohon pada Achi.
" Apa maksudmu Riz... kami ada masalah...tapi aku udah berjanji pada Zura untuk menunggunya dirumah...". Jawab Achi jujur.
" Jika, aku bilang ini tentang tunangan palsumu itu, apa kamu akan datang menemui ku Chi?!". Jelas Faris , Achi seketika terdiam.
" Kenapa kami bisa tahu...?!, ada apa dengan Zura sebenarnya...?!".
" Aku akan datang menjemputmu Chi.. aku akan jelaskan semuanya seditail mungkin... kita akan cari tempat yang tenang untuk bicara...". Jawab Faris . Achi tak dapat melakukan apapun dan hanya mengiyakannya saja karena itu tentang Zura. Mereka bertemu dan duduk di cafe yang agak sepi tak jauh dari kampung.
Ini terjadi setelah sandi melihat ada mobil datang ke rumah Zura tak lama orang tua Vio dan Vio juga keluar, kebetulan waktu itu dia sedang melintas. Ia bilang ke Fariz kalau ini saatnya jika Faris ingin mengungkapkan semuanya dan merebut Achi , Ketika Zura bertemu dengan Ivas waktu itu ( chapter 12) ternyata Sandi diam- diam merekam suara mereka sambil berpura-pura bermain game ataupun pura-pura sedang bermusik.
" Dia sudah membohongimu Chi... aku udah tahu kalau kamu cuma tunangan palsu Zura... udah ga usah berpura-pura lagi...!". Jela Fariz.
" Apa buktinya Zura berbohong Riz , iya aku tunangan palsunya . Tapi dia kan hilang ingatan Riz...". Jelas Achi membela Zura.
__ADS_1
" Dengar ini dulu... Baru kamu bisa putuskan ini bukti kuat atau ngga...!". jelas Faris lagi dengan menyerahkan rekaman yang ada di hapenya dengan sebuah heandseat.
Achi langsung mendengar percakapan Zura dengan Ivas saat itu. Achi tertegun, saking kagetnya ia langsung menjatuhkan Hp Fariz dari tangannya.
" Chi udah...!!! akhiri saja... sampai kapan kamu mau dibohongi sama dia, sampai kapan kamu mau jadi budak cinta dia!!!". Jelas Fariz dengan suara lantang. Achi langsung menangis.
" Diam!!!, kami juga tahu ini mengapa diam saja!!!, padahal aku ini temanmu!".
" A... aku hanya mencari waktu yang tepat.. .".Jawab Fariz sedih.
" Kamu juga sama saja dengannya... kamu juga membohongiku Riz.... aku lelah aku mau pulang ... tolong jangan bicara dengan ku hari ini...". Jelas Achi air mata itu mulai banjir dari matanya, kepalanya terasa terhantam batu ketika tahu orang yang selama ini bersamanya berbohong.
" Tapi Chi izinkan aku mengantarmu, jangan pulang sendiri...". Jawab Fariz khawatir dengan menarik tangan Achi.
" jangan menggangguku!!". Teriak Achi sambil melepas genggaman itu. Fariz tak dapat melakukan apapun lagi. Saat itu Vio yang memohon ayahnya menurunkannya di cafe untuk cari angin , ayahnya memperbolehkan asal Vio pulang tepat waktu. Jika tidak ayah Vio tak akan menganggapnya sebagai putrinya lagi, vio ingin menenangkan diri dan melihat kejadian dari kaca yang transparan berwarna putih itu.
" Ternyata teratai putih ini juga menyelingkuhi Zura, jika aku ngga mendapatkannya yang baik itu , bagaimana si j***** ini boleh..." Batinnya.
Achi keluar dan melihat Vio yang pura-pura menelpon seseorang. Vio pura-pura tidak melihat Achi.
" Eh guys lu tahu ngga , setelah tunangan gua ingat ma gua.... dia akhirnya terima gua balik... seneng banget hati gua... ga sia-sia gua pertahanin dia selama ini...". Ucap Vio santai.
" Ahahahahaha... ternyata selama ini aku seperti orang bodoh yang gampang di bodoh saja... bodoh semuanya udah terungkap aku ngga perlu bersedih lagi... aku ngga perlu merasa terkurung dengannya... dan aku... tidak harus... tidak harus tinggal bersamanya lagi ...". batin Achi . Air matanya terus berjatuhan sepanjang perjalanan , orang yang melihat pada khawatir. dan berusaha menyuruhnya duduk dulu untuk menenangkan diri tapi Achi bersikeras berjalan.
Ia tidak sengaja menabrak batu , karena tak melihat jalan . Ia pun terjatuh
" Ukh... sakit...". jempol kakinya sedikit memar dan mengeluarkan darah. Ia mengeluarkan hp nya.
" Ji... ini kakak... tolong jemput kakak.... kakak disini... hiks kakak sedang sakit... tolong kakak... tolong kakak...". Jelas Achi. Achi mensheareloc tempat nya saat itu.
" Baik kak baik.. tenanglah jangan menangis aku akan datang dengan cepat!". Aji yang kebetulan sudah sekolah dan tempatnya tak jauh dari sana , langsung bergerak cepat takut kalau-kalau terjadi apa-apa pada kakaknya itu.
Aji melihat kakaknya yang terpuruk , langsung cepat membawanya pergi dari tempat itu. Tanpa Achi tahu Fariz diam-diam sudah mengikutinya dari belakang , ketika Aku melihatnya , ia menyuruh Aji untuk tutup mulut.
Aji bertanya kenapa kakaknya bisa seperti itu, Achi langsung bilang semuanya pada Aji. Tentu saja Aji langsung emosi, siapa yang mau kalau saudaranya disakiti. Achi menyuruh Aji untuk mengantarkannya ke rumah Zura untuk mengambil semua barang-barang nya. Aji hanya menurutinya, ia tak mau kalau Kaka tercintanya itu semakin frustasi.
.
.
.
.
to be continuedπ’ππππ
bagaimana kisah selanjutnya.... baca terus Hate A Boy But He Love Me ya!
jangan lupa like komen and support nya makasih udah menyempatkan waktu buat membacaππΌ
Ulasan
sebenarnya kalau karya ini tamat saya ada rencana mengalihkan cerita ini dalam versi komik. itu ancang2 saya hahaπ, walau cerita ini adalah cerita pertama saya dan yah... well... masih amatir haha...π saya pribadi sangat suka menulisnya...π karena ceritanya menurut saya ngga terlalu berat...π(menurut saya Lo) saya suka gambar di bawah ada gambar yang saya buat untuk menghibur pembaca... kalau dikomikkan jadinya bakal kayak dibawah gitu... Apa pembaca bakal suka yaπ
ya suka ngga nya saya harap pembaca terhibur πΌ
Author: Achi seneng banget dapat bunga... Dari sapa tu...?!
Achi : Ah iya... Ini dari dia...π.
Author : dia siapa jangan2 yang pangkal namanya huru F ya wkwkπ. Zura : ngomong apa lu thor F siapa , ***...!!!π‘πΏ Achi ngomong dong itu dari gua, suami Lo... Kalau ngga ga boleh lu keluar kamar, sehari besok harus temenin gua terus Lo!
Achi : iya iya mas... Bunga nya dari mas Zura... π Aku seneng bangetβΊ Zura : Nah gitu kan enak, kucing kecil....πππ Sukur kalau kamu suka, besok aku bawa lagi yang lebih besar..... kalau bawa bunga lagi tambah yaπππ
Achi:ππ³iya aja deh masπ£π£π£
__ADS_1
Author:π....