
Meskipun cinta yang kita miliki berawal dari kebohongan
Aku tak pernah menyesal sudah menyukaimu.
.
.
.
" Hei apa yang kamu lakukan...!". Bisik Achi yang merasa kaget. Zura langsung menyelimuti Achi dengan baju panjang pasien itu. Achi terkejut malu , Zura langsung menaruh telunjuknya ke bibir, mengisyaratkan Achi untuk tidak bicara.
" iya-iya sebentar~ ". Jawab Zura sambil terkantuk-kantuk berakting. ia membuka setengah pintu itu sehingga Achi tidak kelihatan.
" Kamu habis tidur... dimana Achi. kamu ngga menjemputnya...?!". Jawab Moran.
" Udah dia lagi ngga enak badan lalu mengunci kamarnya...". Jawab Zura berbohong.
" Oh... kebetulan ini ada obat demam.... sekalian aku mau istirahat sebentar dirumahmu... capek aku udah mondar-mandir karena kamu...!". Jawab Moran mencoba masuk. Zura dengan cepat mendorong tubuh kakaknya.
" Mas aku juga lagi sakit... aku mau istirahat... aku ngga mau melayanimu.... ntar kamu pasti mau tanding mabar main PS lagi .. lain waktu saja datang kemari...". Jawab Zura kesal. Moran juga ikut kesal mendengar ucapan itu, tapi ia bersyukur adiknya udah ingat kebiasaan mereka waktu sedang bareng.
" Biasa nya kamu ngga pernah menolak ku main... ! kamu aneh sekali hari ini...". Jelas Moran.
" CK udahlah... aku ngga ingin diganggu mas... kalau kamu main ajak istrimu saja sana .... mengapa harus aku...". Jawab Zura semakin kesal. Achi malu mendengarkannya.
" Iya-iya aku akan pergi... sedih aku adikku udah dewasa... ngga mau maain denganku lagi...( Moran mengejek sambil melangkahkan kakinya pergi, Zura jadi sedikit kesal dengan ucapan itu) jangan lupa minum obatnya... Achi juga sekalian..".
"Oh... ok...". Jawab Zura santai, dua saudara itu saling melambaikan tangannya. Zura kembali menutup pintu, ia menghela nafas lega
" Huh... hampir saja.... ". Zura tertunduk lesu, lalu menoleh ke arah Achi. Mereka yang saling pandang , membuat Achi malu kemudian berlari. Hanya beberapa langkah kaki, Zura sudah bisa menangkapnya lagi dengan gesit dan jahilnya.
" Haha manis sekali...!". Ucap Zura.
" tidak lepaskan aku Zura jangan menggodaku lagi...". Achi menggeliat berusaha melepaskan diri. Zura langsung menggendong Achi dengan ringannya, bak menggendong bulu kapas di pundaknya. " Hei... mau apa ... lepaskan aku...!!!". Teriak Achi sambil memukul-mukul pundak belakang Zura. Zura menurunkannya di sofa dan langsung duduk di sebelahnya . " Mau apa kamu aku ngga mau... jangan dekat-dekat!!!". Ucap Achi melihat Zura yang menyondongkan tubuh ke arahnya sambil terus memukul.
" Hei kucing kecil diam dulu sebentar...". Jawab Zura lembut. Ia dengan sigap menangkap tangan Achi yang memukul-mukul dadanya itu.
" Kalau aku diam, kamu mau apa... melakukan hal aneh seperti tadi!!!". Achi berwajah kecewa sambil membuang mukanya.
"Ah... lihatlah... bahkan waktu seperti ini juga imut...ah... ingin sekali aku menciumnya... tapi tampaknya ia sangat kesal sekali...". Batin Zura. Sambil melihat beberapa bekas kecupan yang tertutup baju pasiennya di leher Achi .
" Ngga... aku hanya ingin memelukmu seperti ini kok..". Awan Zura sambil memeluk pinggang kucing kecilnya.
" Kamu gila ya.. bagaimana kamu bisa memelukku, setelah apa yang terjadi pada kita kemarin... Kamu ngga mikirin perasaan Vio apa...?!". Jelas Achi dengan kecewa.
" Oh... ternyata gadis itu ya... yang buat kucing kecilku bersikap seperti ini...". batin Zura lagi.
" Kamu bilang apa sih... emang gadis itu siapa ... kenapa aku harus mikirin perasaannya...". Jawab Zura santai dengan berbohong, Zura sangat pandai berekting agar Achi ngga lepas dari nya.
" Kamu gila ! apa kamu ngga dengar dia bilang apa! dia kan tunangan kamu, kenapa kamu bisa bicara seperti itu...!". Jawab Achi keceplosan sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
" Aku bicara yang sebenarnya... bodoh kenapa aku malah menutup mulutku seperti ingin menutup semuanya... Aku bodoh sekali...". Batin Achi , Zura melihat gelagat kucing kecilnya dari belakang seperti tak rela melepaskannya . Ia tersenyum jahil tanpa Achi ketahui.
" Aku ngga tahu siapa dia... aku ngga terlalu ingat dan mendengar semua perkataan kalian...itu masih samar-samar. Aku hanya tahu kalau kamu tunanganku. Makanya aku segera menyusulmu waktu kamu pergi...". Jawab Zura meletakkan dagunya ke bahu Achi .
" Bohong! kamu pasti bohong ... kalau ngga kenapa kamu bisa pingsan sampai keluar darah seperti itu kemarin... ". Jelas Achi, suaranya berat menahan sedih.
" Itu karena aku mendengarmu mengatakan , aku membutuhkanmu karena kesepian saja, kamu juga dengan spontan bilang kamu suka aku hanya sebagai kakakmu dan terlebih kamu punya pacar... lain itu aku ngga ingat... kamu tahu itu benar-benar membuat darahku mendidih sampai membuat panas di syaraf otakku! ". Jawab Zura dengan lantang.
"Ngga mungkin... jadi dia pingsan hanya gara-gara mendengar ucapan asal itu, kenapa hatiku jadi sedikit senang seperti ini... aku benar-benar bodoh sekali. ". Batin Achi.
" kenapa kamu diam... sekarang cepat katakan kamu bohong, bilang kalau kamu ga punya pacar, kamu hanya mencintaiku, cinta pacar tunangan pertamamu semua adalah aku, dan satu hal lagi ! suamimu kelak sampai kita mati juga itu aku!.". Tegas Zura sambil mengencangkan pelukannya. Ucapan itu membuat Achi jadi malu mendengarnya,
Achi langsung menyikutkan tangannya dengan kuat untuk mendorong Zura, Zura jadi kesakitan dan melepaskan kucing kecilnya.
__ADS_1
" Auh... sakit...". Rintihnya.
" Untuk apa aku bilang seperti itu jika kamu udah tau apa yang ingin aku katakan...!!!" . Jawab Achi spontan melepaskan diri dengan langsung berlari ke arah kamar dan menutup kamarnya seketika. Ia lagi-lagi berkata jujur, Zura langsung ternganga.
" Hei kucing kecil buka pintunya... kamu bilang apa tadi.. aku belum terlalu mendengarnya. Buka pintunya... langsung di hadapanku.. aku belum terlalu mendengarnya...😏👂". Goda Zura dengan senyum jahilnya melangkahkan kakinya menggedor pintu kamar Achi. Achi langsung menutupkan mukanya ke bantal karena malunya.
" Ngga mau...! Aku ngga ingin bicara denganmu kalau kamu hanya ingin menggodaku!😣". Jawab Achi.
" Haha baiklah... aku akan menunggumu hingga kamu keluar dari sarang kucing kecil...". Ejek jail Zura.
"Dia gila... iblis itu jika aku mengatakannya lagi... dia akan menggodaku habis-habisan seperti tadi.... ia seperti...( Achi mengingat lagi apa yang ia lakukan bersama Zura beberapa saat yang lalu) Akh.. mengapa aku harus mengingatnya....! kamu harus sadar chi sadar... mau rasa nya aku menenggelamkan diri!". Gerutu Achi dalam hati tak kuat menahan malu. Ia tak ingin memikirkan Zura dan mencoba tidur.
Beberapa jam setelah Achi tertidur ada telepon dari hp Zura yang ada di depan meja di sofa tempat ia bersantai saat ini.
" Iya Bu... ada apa...?!". Jawabnya.
"Zura kamu sekarang dimana nak... keluarga Vio datang meminta penjelasan, ayah ibunya sudah ada disini , juga Vio dan ternyata nomor baru yang sebentar tadi menelpon ibu adalan nomor Andre tampaknya ia juga mau datang mengatakan sesuatu padamu.". Jelas ibu Sena pada putra bungsunya.
" Oh... ternyata gadis itu udah gerak cepat juga ya Bu...". Jawab Zura santai.
" Gadis itu, bagaimana kamu bisa bilang gadis itu Zura, dia masih menyandang gelar sebagai tunangan resmimu... sedangkan nak Achi yang orang tahu adalah tunangan pura-pura mu. Ibu yang memohon pada keluarganya agar ia mau bersamamu nak...agar kamu juga bisa pulih dari amnesianya dan tidak berfikir terlalu keras...". Jelas ibu membuka rahasianya.
" Ternyata begitu ya... , semua adalah akal-akalan keluarga kita...demi kesembuhan ku ". Jawab Zura agak sedih.
" Ibu rasa udah saatnya menjelaskan semuanya sekarang nak... bukannya kamu udah tau saat kamu tersadar kemarin, atau lebih tepatnya ketika nak Achi mulai tinggal bersamamu...?!". Jelas ibu melempar tanya. Zura terdiam seketika.
" Pokoknya apapun itu... kalian semua harus menjelaskannya padaku Bu... semuanya....". Jawab Zura. Ibu Sena mengiyakannya. Zura pun bersiap pergi ia menaiki motornya.
Mendengar suara motor, Achi seketika terbangun dan segera melangkah keluar disaat Zura mau pergi.
" Zura tunggu... kondisimu belum sehat betul mau kemana lagi. ...?!" Tanya Achi khawatir.
Zura hanya menyuruh Achi datang dengan mengisyaratkan tangannya tanpa mematikan motor. Achi langsung menurut saja.
"Cup_". Achi mendapat ciuman langsung dari Zura secara tiba-tiba. Ia langsung menjauh dengan menyilangkan tangan. Zura hanya tertawa.
" Apa maksudmu...?!". Tanya Achi penasaran.
" Aku janji aku akan jelaskan semuanya...". Jawab Zura. Melihat senyum Zura nan lembut, Achi tak bisa berkata apa-apa dan ia melakukan janji kelingking itu dengan Zura. Setelah itu Achi melihat punggung Zura itu pergi menjauh dari pandangannya.
"Mengapa... mengapa aku merasakan hal buruk akan terjadi ya... apa mungkin itu hanya pikiranku saja... semoga ngga terjadi apa-apa...". Batin Achi.
Zura tiba di kediaman keluarganya, disana terlihat sebuah sedan hitam yang terparkir di depan rumah mereka. Ketika ia masuk ia melihat ayah ibu dan Adi , juga orang tua Vio juga Vio yang menangis.
" mama aku ingin main...". Pinta anak Adi dari dalam kamarnya.
" Ya udah... kita main ke tempat paman Moran aja ya...". Jawab kakak ipar Zura , istri Adi. Tampaknya urusan ini hanya di wakili oleh orang tuanya dan Adi saja yang ikut. Zura mengucapkan dalamnya dan memberi salam dengan orang tua Vio . Ia mencium tangan mereka layaknya ia masih berpacaran dengan Vio dulu. Merasa Zura masih sangat sopan kepada orang tuanya, Vio merasa ada harapan. Ia langsung datang merengek ke Zura sama seperti dulu.
"Mas Zura... maaf... kumohon maafkan aku. ...". ucapnya. Tindakannya itu bahkan membuat Adi bergidik mengingat rahasianya yang sudah diberitahukan Moran padanya.
" Bisakah kamu jaga tingkah lakunya di depan orang tua kita...?!". Jawab Zura ketus dan kasar. Zura duduk di tempat yang jauh dari Vio. Melihat hal itu saja semua yang ada di ruangan itu sudah tau Vio sudah tak memiliki harapan, Zura sudah menjauhinya. Ayah Vio langsung melirik dengan marah ke Vio, ia mengisyaratkan untuk duduk. Melihat hal itu Vio menjadi ketakutan dan menuruti ayahnya. Orang tua Vio juga tahu kalau Vio pernah pacaran dengan Andre serta tahu Andre yang mendorong Zura hingga terjadi kecelakaan , namun mereka bermaksud menebus kesalahannya.
Alasan utama Ayah Viona tetap mempertahankan Zura untuk jadi menantunya, karena ia rajin bekerja. Zura pandai menyenangkan hati Vio putri sulungnya, dan juga keluarga Zura memiliki beberapa aset tanah di setiap daerah di Wilayah P. Zura juga bertanggung jawab sama seperti Andre. Sebenarnya mereka juga setuju kalau Andre jadi menantu mereka hanya saja Viona , sudah menetapkan hatinya pada Zura kala itu. Itu hal yang baik-baik saja untuk mereka.
" Langsung saja pak.. bapak kemari ada perlu dengan saya kan...?!". Jelas Zura tak ingin bertele-tele.
" Zura... jangan langsung ke intinya begitu...". Jawab ayah Zura. Ibu Zura hanya diam saja. adu sedikit tertawa , ia tahu adiknya memang to the points anaknya.
" Maafkan anak kami ini pak.. ". Jawab ayah Zura.
" Ah tidak apa-apa... saya juga tidak perlu melambat-lambatkan hal penting yang ingin saya tanyakan pak..., begini... bapak dengar kamu hilang ingatan dan menganggap salah satu gadis di kampung ini sebagai tunanganmu dan...Apa itu benar...?". Tanya ayah Vio .
" Itu karena saya pak..., saya tak ingin melihat anak saya terus-menerus dalam tempramen yang buruk sehabis ia koma ia bahkan tidak ingat dengan orang tuanya sendiri... ketika ia melihat nak Achi... dia berangsur pulih... " Jawab ibu Zura.
" Iya itu sebabnya kami meminta tolong pada nak Achi untuk merahasiakan ini, dan pura-pura menjadi tunangan Zura." Jelas ayah Zura.
__ADS_1
" Pura-pura haha... aku bahkan udah jatuh cinta pada gadis itu sejak lama...". Batin Zura sambil tersenyum sedih.
" Tapi kata Vio , nak Zura sudah ingat setelah ia sadar di rumah sakit kemarin... tapi mengapa kamu bersikap kasar pada anak saya... dan pergi ke tempat tunangan palsumu... kamu tahu anak saya bahkan sudah mengorbankan darah untuk kamu...lihat bagaimana dia menangis tersedu sedu mengingat perlakuan mu.". Jelas ibu Vio yang terlihat sedikit ongeh itu mengeluarkan sifat aslinya karena anaknya diperlakukan tidak adil.
" Ooohhhh...kalau itu sih... ibu bisa bertanya ke dia Bu... mungkin ia tidak menjelaskan secara detail ... atau kita tunggu seseorang yang lain datang kemari...?!". Jawab Zura, benar saja entah itu berkat Tuhan atau karma Vio sebagai balasan karena ia terus berbohong. Nampak seorang pemuda menaiki beat hijau berhenti di halaman rumah mereka pula.
" Oh datang...". Lanjut Adi santai membuat mereka penasaran . Vio yang tak asing dengan suara motor itu , ia berkeringat dingin.
Andre langsung menampakkan dirinya ,hal itu membuat pihak keluarga Vio terkejut.
Kemarin Vio memang bertemu dengan Andre secara tidak enak, ia bilang awalnya ingin menghilangkan stres alih-alih ingin mengungkapkan alasannya , selama ini bermain tarik ulur dengan Andre semua demi Zura sampai Vio siap , karena ia benar-benar cinta pada Zura yang sudah banyak berkorban untuknya. Terlebih ketika ia mendengar niat baik Zura yang Zura ucapkan ketika ia bertengkar dengan Andre.
Lalu ketika Vio mendapat informasi kalau Zura mendapat pengganti dirinya dari seseorang melalui pesan WA , orang itu tak lain adalah Sandi yang haus informasi untuk mencari uang . Andre sebenarnya sudah tau sejak Zura mengira Achi adalah tunangannya. Karena ia mengenal sebagian tetua yang ada di pihaknya. Hanya saja ketika melihat Vio yang berangsur-angsur mulai jatuh ke pelukan nya dan perkembangan Achi dengan Zura , ia lebih memilih untuk diam saja.
Ketika Vio meminta menghentikan hubungan ini, Andre tidak terima. Karena ia tahu betul sahabatnya Zura, sudah tidak mencintai Vio lagi. Makanya ketika Vio bilang ia ingin mengakui nya pada Zura, Andre juga merasa curiga , ia tahu Vio sudah bergaul dengan wanita-wanita yang tidak baik . Mustahil jika sebagian sifat teman-teman nya tidak ditirunya. Tebakannya benar ketika melihat wajah terkejut Vio saat dia datang.
"Andre kenapa kamu datang kemari...?!!!". Vio yang dari tadi diam angkat bicara.
" Vio sudah hentikan ... ini sudah berakhir... Zura... ada hal yang ingin aku akui disini, sebelum nya aku minta maaf...". Jelas Andre ia melangkah masuk.
" Itu tergantung ucapamu.. bisa menyelesaikan semua atau ngga...". Jawab Zura. Pihak Zura hanya diam saja , mereka tahu keadaan Vio kali ini sudah fatal mereka menyerahkan pada Zura saja , mau atau ngga menerima Vio lagi.
" Kenapa kamu malah kemari nak..., kami selama ini juga sudah melindungi mu ... tentang insiden kemari sampai semuanya tenang....Zura.... meskipun Andre sudah terbukti mencelakaimu tapi ia tak sengaja mendorongmu itu saja....". Jelas ayah Vio. Zura hanya menatap Andre dengan tajam.
" Aku tahu pak... tapi kenapa dia harus pergi dan menyembunyikan dirinya bersama anak bapak... kenapa tidak menolong saat aku terluka atau setidaknya ia tetap bersamaku..sebagai sahabatku...". jawab Zura tegas.
" Aku tahu... aku begitu pengecut zura... ketika melihatmu memuntahkan darah.... aku terbayang waktu mengingat ayahku untuk terakhir kalinya... dan Masalahnya tidak hanya itu saja om..., mungkin om belum tahu tapi aku dan Viona sudah tidak bersih..." . Jelas Andre. mendengar hal itu ayah Vio terkejut dia pun pasrah mendengar hal itu. Ia juga sudah yakin ada apa-apa terhadap anaknya, layaknya menyembunyikan sesuatu. Kalau tidak mana mungkin Zura dan Andre layaknya bagaikan saudara itu bisa bertengkar hebat.
" Apa maksudmu tidak bersih....?!!!". Jelas ibu Vio yang masih tidak mengerti.
" Jangan teruskan Ndre kumohon...". pinta Vio sambil menangis.
" Nak Vio... untuk apa kamu menyembunyikannya lagi , pihak keluarga kami sudah tau , dan dengan keseriusan nak Andre datang kemari ia sudah bertanggung jawab terhadap mu... apa lagi yang kamu cari...". Jelas ibu Zura merasa kecewa.
" Iya om Tante... saya... udah melakukan hubungan intim dengan Vio meskipun itu dalam keadaan mabuk... tapi kami hari itu masih sadar jelas...". Jawabnya Andre. Hal itu membuat ibu Vio sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Andre .
" Betulkah ini Vio... ini bercanda kan... bagaimana putri ibu yang terlihat baik-baik saja selama ini dapat melakukan ini...!!!". Jelas ibu Vio sambil memegang megang putrinya seraya tak percaya. Ayah Vio kecewa dan Andre hanya menunduk . Vio menangis menutupi wajahnya , tak bisa berkata apapun.
Ayah dan ibu Zura tidak bisa melakukan apapun.
" Saya tahu adik saya memang jahat pak... , tapi dia ngga akan mengamuk kalau perkaranya ngga jelas...". Jelas Adi angkat bicara.
" Ternyata seperti itu ya... nyatanya saya yang sudah salah menilai anak saya... saya terlalu membebaskannya... hingga saya tak melihat kejanggalan pada anak saya karena ia baik baik saja dirumah ketika bersama kami...". Jawab ayah Vio tertunduk kecewa.
" Ini sudah kuasa Tuhan pak... mereka sudah dewasa.. tindakan yang mereka buat saya yakin mereka bisa pertanggung jawabkan sendiri.. saya harap bapak tidak terlalu menyalahkan anak bapak, lalu keputusan mu bagaimana Zura... selesaikanlah semuanya... ini waktu yang tepat...". Ujar ayah Zura.
" Aku... memutuskan pertunangan ku dengan Vio... apapun yang kuberi padanya di masa lalu tak perlu anda kembalikan , anggaplah milik sendiri... aku juga akan menebus darah Vio yang sudah dipakainya untuk menolong ku... ". Jelas Zura serius. Mendengar hal itu Vio menangis sejadi jadinya sambil meminta maaf , hanya saja Zura tak menghiraukannya.
" Itu tak perlu Zura... darah Vio tak cukup untuk jerih payahnya yang sudah kau beri selama ini pada keluarga kami... Kalau begitu kami pamit dulu pak... sebagai pihak Vio kami minta maaf... Andre om ingin kamu mampir ke rumah , om akan selalu menunggumu untuk memberi penjelasan lebih lanjut. ". Tutur ayah Vio.
" Baik Om...". Ayah dan ibu Vio berpamitan pulang dengan kecewa , Vio hanya menangis.
" Andre , aku ingin bicara denganmu... bertahanlah di sini sebentar...". Pinta Zura. Mendengar ucapan itu dari sahabatnya Andre mengiyakannya..., meski ia sedih tapi dia senang bertemu kembali dengan sahabatnya setelah beberapa tahun.
Tapi tiba-tiba saja Vio yang melangkah keluar pintu di papah oleh ibunya itu, meminta pengampunan zura.
.
.
.
.
to be continued🙄😰😨
__ADS_1
Bagaimana kisah selanjutnya... baca terus Hate A Boy But He Love Me ya... jangan lupa like komen and support . terimakasih udah membaca👋🐼