Hate A Boy But He Love Me

Hate A Boy But He Love Me
chapter 25


__ADS_3

Ditengah suasana canggung mereka~


" Zura! Aku kan udah bilang minta maaf....! Kenapa kamu masih melakukan hal seperti ini! ngga bisa apa kamu ngelepasin aku aj!". Achi berteriak. Zura menukar posisi mereka.


" Kamu kasar Zura! kamu lagi-lagi menjatuhkan aku seperti ini!". Lanjutnya, Zura memegang dua tangan Achi.


" Jika kamu mau aku ngelepasin kamu... kamu harus ucapin bagian terakhir di buku ini... tidak sampai semua... kamu pasti ingat kan intinya~". Goda Zura. Achi mengingat kalimat terakhirnya di buku itu adalah pernyataan cinta.


" Untuk apa lagi aku ngucapin itu...!, bukannya kamu udah baca seluruh isi buku itu!". Jelas Achi menekan suaranya.


" Tapi aku mau kamu mengucapkannya langsung di depanku !". Jelas Zura sambil mendekatkan mukanya ke Achi.


" Jangan lagi Zura... aku sudah ngga mau jatuh ke pelukanmu lagi...". Batin Achi sambil menolehkan mukanya yang merona dengan cemberut .


" Kamu menolak ku... oh... aku tahu... kamu kan sekarang sering jalan Ama si kep***t itu... atau jangan-jangan kalian sudah jadian... apa ciumannya lebih hebat dari pada aku!.". Zura mulai emosi karena Achi terus-menerus menolaknya. Mendengar hal itu Achi dengan sekuat tenaganya melepaskan tangan , tangan kanan Achi lepas dari genggaman Zura dan Menampar Zura dengan kuat, hingga pemuda langsung terduduk.


" PLAKKK!!!".


" Kamu memang baj****n Zura!!! aku muak dengan sikapmu yang seperti ini!!!'. Teriak Achi ia langsung menjauh dan berlari.


" MAU KEMANA KAMU! KEMBALI!!!". Zura berteriak lalu mengejar Achi yang berlari ke pintu depan.


" Sial dikunci...!". Batin Achi. Zura memegang pinggang Achi lagi dan memikul Achi di pundaknya.


" Hentikan Zura! Jangan seperti ini !!!!". Teriak Achi ketika Zura mengangkat tubuhnya kembali ke kamarnya dan melemparkannya lagi ke atas kasur yang sama. Zura bahkan mengunci pintunya dari dalam kamar.


" Karna kamu ga mau mengaku, padahal aku sudah melayanimu dengan cara yang lembut maka cara kasar pun boleh kan~". Ucap Zura dengan senyum setannya. Tangan Achi langsung bergetar melihat Zura melangkah ke tempatnya. Zura ingin membelai pipi kucing kecilnya lalu menciumnya. Tapi ekspresi Achi yang ketakutan dan juga tangan nya yang bergetar membuat Zura berhenti seketika.


" Ck ...sepertinya aku terlalu terburu buru...". batin Zura.


" Baik... kalau kamu bisa memberiku alasan yang tepat... Aku bakal lepasin kamu...". Jelas Zura merasa sedih.


Achi terdiam melihat ekspresi Zura.


"Ngga... aku ngga boleh terperdaya dengan wajah sedih itu... aku harus mengakui apa yang aku rasakan supaya dia bisa melepaskanku...".


" Zura... kamu tahu... kenapa aku bilang kalau aku membencimu... hari itu kamu ingat ngga waktu kita masih duduk di bangku SMP dan waktu itu kamu pacaran dengan Laila... dan hari itu juga aku yang bodoh ini... merasakan pertama kalinya jatuh cinta sama seseorang... dan itu adalah kamu...". Ucap Achi sambil tertunduk tangannya menahan dadanya yang terasa sakit mengakui hal itu dan berkeringat dingin .


Tentu saja Zura tahu, Laila adalah anak yang cantik dan mempesona hari itu, sekarang ia sudah menikah dengan kaki-laki yang dijodohkan dengannya. Zura terdiam , Ia mulai tenang dan duduk di kasurnya jauh dari Achi yang ada di sudut kasur itu.


" Dan hari itu juga... hatiku hancur dengan kata sambil lalu yang kamu ucapkan kamu masih ingat... kalau dia sih... Di jual dipasaran aja ga laku... Udah jelek itam kurus... Dikasih aja aku ogah, jijik lah yaw.... itu yang kamu ucapkan kan...". Jelas Achi, dengan nada bicara akan terisak, meski ia coba menahannya berkali kali karena itu ia membutuhkan beberapa jeda untuk menahannya. Zura langsung tak habis pikir kata-kata sambil lalunya itu sekarang menjadi cambuk di hatinya.


" Kucing kecil... waktu itu aku hanya....". Jelas Zura.


" haha...Zura... aku belum selesai bicara ( Zura terdiam melihat Achi yang masih tertunduk sambil meringkuk itu) Ucapanmu... Ucapanmu hari itu... sudah membuatku trauma Zura... aku selalu berusaha membuat diri ku sebaik mungkin di depan orang lain... sampai aku ditahap ini sekarang... Tak jarang juga seorang pemuda datang padaku menawarkan dirinya untuk jadi pacarku Zura... tapi ketika mereka bilang aku cantik... hiks... aku anak yang manis hiks... aku selalu ingat kata-kata yang kamu ucapkan Zura ... hiks... setiap kali aku dekat dengan pemuda... lalu mereka duduk denganku... hiks... kamu tahu apa yang terjadi Zura... tanganku... tanganku berkeringat dingin... aku ketakutan....! Aku takut... walau aku perlahan sembuh.. berkat bantuan teman-teman ku dan orang terdekat ku... mengapa.... mengapa aku juga harus ketemu kamu lagi Zura... Tuhan juga ngga adil... karna menakdirkan kita terikat seperti ini Zura... dan yang lebih parahnya dari dulu... sampai sekarang... aku masih... masih melihat kamu Zura... aku masih... menyukaimu Zura... aku menyukaimu begitu dalam... ". Jelas Achi. Zura sangat terpukul dengan tindakan nya di masa lalu, tapi ia juga senang sampai kini Achi masih menyukainya. Jadi tidak hanya perasaannya saja yang seperti itu.


" Hubungan kita ngga normal dari awal.... kamu bisa menyukaiku seperti ini juga karna kamu menganggap ku sebagai Vio... aku juga tahu kamu menyayangiku... makanya aku juga terbuai Zura... dan bisa berkata seperti itu di diary... Jadi Zura...lepaskan aku... biarkan aku pergi Zura... dan biarkan aku hidup tenang... jangan masuk lagi di kehidupanku Zura... ". Ucap Achi sambil menghapus air matanya yang berjatuhan. Mendengar ucapan itu apalagi kata lepaskan dan jangan masuk Zura benar-benar marah, Ia tak habis pikir Achi tak menangkap maksud perilaku yang sengaja ditunjukkan hanya padanya itu.


" Hahaha... melepaskanmu... membiarkanmu hidup tenang maksudmu! jangan bermimpi... !!!". Jawab Zura, ia langsung melangkah ke arah Achi , Achi sangat takut.


" Apa yang kamu lakuin Zura! kamu udah berjanji...! Kamu udah berjanji kalau aku berkata jujur kamu akan melepaskank...!!". Teriak Achi makin menjauh ketika Zura mendekatkan dirinya. Tapi Kali ini Achi tak bisa lepas, pergerakan tubuhnya sudah benar-benar terkunci rapat oleh tangan Zura yang menggenggam dua tangan Achi yang terlentang di kasurnya dengan erat.


" KUCING KECIL LIHAT AKU!!! (* Achi yang sedari tadi ketakutan menerima tekanan Zura memang hanya bisa menutup matanya sampai Zura berteriak seperti ini *) haha... akhirnya kamu membuka matamu ya... Ternyata usahaku selama ini sia-sia saja ya...kamu ngga pernah mengerti maksud perilakuku yang jahat padamu... hari itu... aku mengatakan hal itu... agar ga ada pria lain yang melihatmu... sehingga aku bisa leluasa Mandang kamu... menjahilimu yang bodoh ini... tapi sebaliknya, kamu ngga pernah tersenyum saat melihatku... dan malah membuat kamu trauma seperti ini... aku juga sangat sakit...". Zura mengatakan hal itu dengan nada berat, seperti ingin menangis dengan mata tajam nan sendunya itu.


"Cukup Zura... aku sudah tau kamu mau bilang apa ... jangan teruskan hatiku bisa melompat nanti!!!". Batin Achi sambil tertunduk lagi.

__ADS_1


" Apa.. kamu ngga sedih melihatku juga yang seperti ini... terus... aku terus menganggap diriku orang luar ketika kamu bersikap seperti itu...padahal aku sudah menarik perhatianmu... bahkan saat aku sudah bertunangan dengan Vio... aku tahu kamu pulang sesekali saat libur semester... kamu selalu menghindari ku kan!!! aku selalu memikirkanmu... kamu tahu karna apa... karna aku sudah mencintaimu sangat lama... dari dulu... aku gak bisa membuang perasaan ini walau aku udah berusaha..., aku juga berterima kasih pada Tuhan....yang udah mengikatmu bersamaku... ini bukan hubungan yang enggak normal, kedatangan mu hari itu membuatku ngga ingin melepaskanmu, akhirnya aku bisa melihatmu tertawa, dan juga melihat ekspresi mu yang lain... dengan bebas tanpa kepalsuan yang selama ini kamu tunjukkan ke arahku..." . jelas Zura, Achi langsung membatu mendengarkan ucapan itu, mukanya sangat merah, dan ia lagi-lagi menghindari tatapan Zura yang lembut ke arahnya dengan menoleh.


"Aku ngga tahu kalau dia juga akan mengatakan hal yang ngga pernah aku sangka... Tanpa sadar aku juga udah nyakitin dia...". Batin Achi.


" Jadi... jangan ... bilang aku harus melepaskanmu... jangan bilang akan pergi... jangan bilang tanpaku kamu akan hidup tenang dan tak boleh masuk ke kehidupanmu lagi... apa kamu ngga bisa lihat mataku seperti apa waktu melihatmu... ?! Kalau kamu pergi... aku bagaimana... bagaimana aku bisa menjalani hari-hariku tanpa kamu... aku udah terbiasa... kamu udah jadi obat penenang di hatiku yang sedang sakit... ". Ucap Zura dengan tatapan lembut ke arah Achi. Muka Achi langsung merona.


" Zura hentikan... aku udah tahu... aku juga udah salah paham... aku mengaku salah... mari bicara dengan tenang ya....". Pinta Achi dengan lembut. Zura yang melonggarkan genggaman nya karena mengucapkan hal demikian,tapi mendengar pernyataan Achi yang seperti ini , ia berbalik mengencangkannya lagi.


" NGGA MAU! jangan menolak ku lagi kucing kecil... aku sudah lama menahannya... aku benar-benar... selama ini aku benar-benar mencintaimu... aku sungguh sangat mencintaimu Achi...". Ucap Zura dengan lembut dan mesra. Sambil mendekatkan mukanya ke muka Achi yang tak mampu menoleh karna Zura menyebut namanya, ia bahkan bisa merasakan nafas berat pemuda berbadan bidang itu, dan mendengar suara jantung kecilnya yang melompat.


"Kucing kecil aku mau.... ah ngga... Bolehkah aku... menciummu...?!". Ucap Zura dengan lembut.


" A... aku ngga tahu... kamu udah sering melakukannya tanpa permisi! kenapa sekarang kamu memintanya?!". Jawab Achi. mengerutkan kening dengan wajah merona.


" Jadi... kamu lebih suka kalau aku menciummu tanpa permisi...?". Tanya Zura.


" Ah... ngga bu...!". belum selesai bicara Zura langsung mencium Achi. "Umh... mmm...


fuah... ha.. ha...". Zura melepaskan ciuman itu dan melihat wajah Achi yang sudah sangat memerah.


"Tenang saja... aku akan lembut kucing kecil... aku akan membuatmu nyaman...". Jawab Zura dengan tatapan menggoda dengan mata tajamnya. Lalu mencium Achi lagi. Zura mencium bibir atas dan bawah Achi secara bergantian , Achi hanya bisa mengikuti kemauan Zura. Zura melihat mata Achi yang kian meredup sendu dengan perlakuannya dan tak melawan lagi. Zura langsung membelai pipi Achi dengan lembut.


" Sial wajahnya manis sekali... " Batin Zura.


ketika Zura melepaskan tangan Achi dengan lembut, ciuman Zura terasa semakin sesak. sehingga Achi mendorong dada zura dengan tangannya yang lembut .


" Ah.. uhm..... nggak... Zura aku... mh... aku kehilangan nafas...". Ucapnya mencoba bicara. Tapi Zura langsung memegang tangan Achi dengan tangannya dan meletakkannya ke punggungnya. Achi bisa merasakan atmosfer hangat dari tubuh Zura dan jantungnya yang berdetak kencang.


"Apa dia mau aku merasakan perasaan nya... dia membuatku ngga bisa lepas dengan situasi ini...". Batin Achi.


"Ngga...apa yang dilakukan iblis mesum ini... kalau seperti ini... tubuhku bisa... memanas juga...". Batin Achi.


"Zura... apa yang kamu lakukan... ugh itu... terlalu geli ukh.... ah...". Achi mendesah, jilatan Zura menggelitik telinganya.


" Tambah tenaga buat kerja besok....". Jawab Zura, lalu berpindah ke leher Achi yang mulus dan menandainya dengan kecupan.


" Udah Zura... berhenti... ini terasa panas... jangan menggila seperti ini...". ucap Achi dengan lembut.


" ini karena tubuhmu merespon ku... kalau dengan kamu... aku bisa jadi segila ini kucing kecil...jadi bertanggung jawab lah...". Jawab Zura moody. Tanpa sengaja ia malah menginjak handuknya dengan siku kakinya. Saat ia ingin memeluk badan Achi . Hingga. handuk nya lepas.


" UKS sial handukku lepas....!". batin Zura panik dan langsung menutup mata Achi. Namun Achi sudah terlanjur melihatnya sekilas apa yang tak boleh ia lihat.


" Uwah!!! Zura ngga ! kita belum menikah!!!". Teriak Achi malu lalu melepaskan diri sambil menutup matanya.


" Makanya kubilang tutup matamu kucing bodoh!!!". Teriak Zura dengan malu juga langsung mengambil handuk dan melilitkannya.


" Sial... betapa bodohnya aku... aku sampai lupa... kalau belum Pake baju... Jika handuk ini ngga menghalangiku... aku bisa memakan kucing kecilku sekarang!" . Zura langsung bergegas mengambil bajunya di kamar Achi. Tak lupa ia juga mengunci pintunya.


" Kenapa kamu mengunci pintunya Zura! aku ngga akan kabur lagi! ". Teriak Achi sambil menggedor pintu.


" Sayang sekali kucing kecil... Ucapanmu tak bisa dipercaya....". Jawabnya Zura santai.


" Dasar... iblis mesum! ". Ucap Achi. Ia melihat bukunya, dan merasa percuma saja ia mengambilnya karna Zura sudah tahu semuanya. Achi hanya membaringkan dirinya di atas kasur itu karma kelelahan.


" sesaat tadi... aku merasa di awang-awang ... ini karna iblis mesum itu menciumku... menciumku... dengan... uwah apa yang kupikirkan... aku seperti gadis mesum... pergi...pergi dari otakku!". batin Achi mengingat otot Zura yang bidang dan tubuhnya yang kekar.

__ADS_1


Sementara itu Zura yang melepas handuknya ingin memakai celana Dalam terkejut dengan apa yang ia lihat.


" Sial... pantas aku ngerasain ada yang aneh( ia melihat cairan bening berwarna putih di sekitar kemaluannya) melihat wajahnya saja sudah membuatku terangsang seperti... apa lagi kalau... ( Zura langsung membawa yang kan baju Achi yang setengah terbuka di bagian auratnya) Padahal aku ingin sekali melakukan itu dengannya... tapi... kucing kecilku bahkan belum jadi istriku ini akan mempermalukannya... ini ngga baik... sepertinya aku harus mandi lagi!!!". Batin Zura dengan malu. Ia akhirnya mandi lagi.


"Mengapa Zura seperti pergi ke kamar mandi lagi... apa dia begitu ingin mengurungku begitu lama di sini... ngga mungkin... aku tahu Zura seperti apa... ia pasti sedang marah saat ini... kalau tenang ia pasti melepaskanku...!". Batin Achi dengan polos.


Setelah beberapa saat berlalu. Zura sudah memakai baju kaus dan celana pendeknya.


Ia membuka pintu kamarnya.


" Kucing kecil... maaf tadi aku mengunci mu...". Jelasnya. Ia malah melihat Achi sudah tertidur pulas di ranjangnya. Ia mendatangi Achi dan mengelus pipinya.


" Ukh... dingin...". Rintih Achi mengigau.Zura melihat langit yang agak mendung itu masih menampakkan cerahnya, degan angin sepoi-sepoi.


"Kucing kecilku ini begitu kedinginan padahal hari masih cerah begini ia sudah kedinginan....". Batinnya. Ia mengambil selimut dan menyelimuti Achi. Zura lalu ikut berbaring di atas kasur dan mendekap Achi dengan pelukannya. Achi hanya tertidur pulas.


" Lihat bahkan dirinya ga sadar waktu aku memeluknya. Untung aku bukan orang lain... tapi kalau aku orang lain....( membayangkan Fariz) ngga boleh!!! istriku ga boleh diambil dia!!!". Batin Zura. Akhirnya Zura ikut tertidur pulas bersama Achi.


"Ukh... udah jam berapa sekarang ... sejak kapan aku tidur dan... *ukh ini berat sekali... ada yang memelukku....". Achi lalu berbalik dan melihat Zura tidur dengan tenangnya.


" Jadi... Zura memelukku dari tadi ketika aku masih tidur.... ada kantung hitam di matanya... sepertinya dia bekerja begitu keras akhir-akhir ini... aku baru lihat wajah tidurnya setenang ini. Ah... bulu matanya tampak panjang sekali waktu tidur seperti ini...". Batin Achi, ia tak sadar tangannya sudah menyentuh bulu mata Zura dan juga mengelus rambut Zura dengan lembut. Padahal Zura sudah bangun saat ini, ia hanya berpura-pura tidur.


" Sial... ini menyenangkan sekali...". Batin Zura menahan senyumnya.


" Ekh... apa yang kulakukan... bagaimana kalau ia bangun ... ah... pintu kamar Zura terbuka... dan kuncinya ada di atas meja... sepertinya aku bisa pergi sekarang... !!!". Batin Achi*.


Ia mengalihkan tangan Zura yang masih memeluknya dengan lembut. Ia melihat buku sketsa dan selembar lukisan itu dan di samping Zura yang tengah tidur.Lalu melihat Zura yang masih tertidur pulas itu.


"* Kalau mau pergi .. ini adalah waktu yang tepat!". Batinnya Sambil mencoba mengambil buku itu.


" Ukh... sedikit lagi... " rintih Achi. Zura hanya tersenyum melihat keimutan kucing kecilnya. ia lalu menarik pinggang Achi yang tengah terduduk akan berdiri itu jatuh kembali di atas kasur nya.


*" Mau kemana sayang... bukannya aku baru saja bilang ngga akan melepaskanmu... mau pulang tanpa permisi seperti waktu kamu datang tadi?!". Tanya Zura dengan. santai dengan tatapan iblis nya.


" Aku.... aku ngga seperti itu kok...". Jawab Achi terbata.


" Hm... oh ya... apa kamu mau aku menciummu lagi hingga susah bernafas seperti tadi sayang...?!". Goda Zura menempelkan dahinya ke Achi, wajah Achi mulai merona lagi.


.


.


.


.


to be continued 😓😳😣


Bagaimana kisah mereka selanjutnya...!


Baca terus Hate A Boy ,But He Love Me !


Jangan lupa like ,komen, dan support nya ya!!!


Terima kasih sudah menyempatkan waktu membaca karya saya!

__ADS_1


__ADS_2