
Zura mengantar Achi setelah mereka selesai makan bersama.
" Kemana sih, Kaka mu Ji... bahkan habis magrib gini ga pulang...?!". Ayah khawatir, Aji hanya mengangkat bahunya seraya bilang ngga tahu sambil tersenyum. Ayah lalu melihat anak perempuannya datang dengan Zura di depan teras rumah.
" Hei... mas Zura... jangan seperti ini... malu di lihat ayah...!". Bisik Achi, karena tiba-tiba Zura memegang tangan Achi sambil melangkah masuk.
" Saya datang lagi pak... ". Ucap Zura singkat dengan senyum di wajahnya. Achi hanya tertunduk malu dengan perilaku Zura.
" Oh... kali ini kmu datang sama putriku ya... ayo masuk... Chi segera buatkan mas mu ini teh...!". Perintah ayah. Achi hanya mengangguk.
" Oh.. kalian akhirnya baikan juga...". ucap Mama senang. Achi hanya menganggukkan kepalanya. Ketika duduk Zura selalu melihat gerak-gerik Achi, ketika ia membuat teh. Hal itu membuat Aji risih dengan tatapan Zura.
" Errr... pakde aku keluar dulu...". Ujarnya, ayah hanya mengangguk setuju. Achi mengantarkan teh nya ke hadapan Zura .
" Ini teh nya mas...". Ucap Achi sambil menyuguhkan teh ke Zura. Zura menatap gadis itu dengan mesra melalui matanyayang tajam.
"Apa sih... iblis mesum ini... kenapa bersikap seperti itu padahal di depan ayah...". Batinnya.
Achi jadi salah tingkah , dan hampir jatuh ketika ia ingin beranjak kalau Zura tak langsung menangkapnya.
" Hei... hati-hati... masih aja ceroboh kayak dulu...". Ucap Zura spontan.
" Ma... maaf...". Jawab Achi, sambil melihat langsung ke mata Zura dengan wajah imutnya. Tanpa sadar Zura ingin mencium Achi di depan ayahnya. Achi langsung menutup mulut dengan dua tangannya.
" Ehm... karna sudah seperti ini , Achi duduk saja di samping Zura...". Perintah ayah langsung menyatakan mereka. Achi duduk di sebelah Zura.
" Kamu kemari... pasti ingin mengatakan sesuatu kan... bocah nakal.. ". Tanya ayah.
" Ah itu...". Zura melihat ayah Achi yang serius dan Achi yang melihatnya dengan tanda tanya. Ia memberanikan diri, sambil memegang lembut tangan Achi dengan lembut.
" Saya... akan datang kemari bersama keluarga saya untuk melamar anak bapak...". Jawab Zura tenang. Kata-kata yang spontan. Ayah Achi hanya tersenyum saja melihat keberanian Zura.
" Bagaimana Chi , apa kamu mau menerima Zura sebagai suamimu nanti...?!". Tanya ayah, Achi heran kenapa ayah terlihat santai dengan kata-kata yang diucapkan Zura, seakan ayahnya sudah tahu, begitu pula mama yang ada di samping ayah.
" Eh.. ah.. bukannya itu terlalu cepat...?!". Jawab Achi, tak tahu harus berkata apa.
" Cepat gimana sih kucing kecil... aku bahkan udah bilang dengan serius kalau aku mencintaimu di depan ibu dan bapak juga...". Jawab Zura santai.
" Berati dulu... dia mengatakan hal itu dengan. sungguh-sungguh... bagaimana ini hatiku rasanya senang sekali sampai mau melompat". Batin Achi.
" Bagaimana nak... apa kamu mau Nerima Zura jadi suami mu...?!". Tanya mama lagi. Achi melihat Zura yang menunggu jawaban dengan keringat dingin itu.
" Iya ma... yah.. aku mau Zura yang jadi suamiku...". Jawab Achi sambil tersenyum, Zura spontan langsung memeluk kucing kecilny.
" Hehe... gitu dong... katakan dengan jujur...". Ucap Zura.
Ayah Achi langsung berdehem lagi, membuat mereka terperangah.
" Maaf pak... itu kebiasaan saya... kalau udah ketemu anak bapak haha...". Jawabnya. Mendengar hal itu ayah dan mama Achi jadi terkejut.
" Jadi Kamu sering melakukannya dengan anak ku...". Tanya mama Achi dengan raut khawatir menghadap ayah. Achi langsung menunduk malu.
"Bodoh banget sih... ". Batin Achi lagi.
" Bu... bukan Bu... maksud saya... saya memang sering memeluk Achi... tapi bukan menyentuhnya...!!!". Jawab Zura panik.
__ADS_1
" Yakin...?!". Tanya ayah serius.
" Mm.. maaf pak.... saya juga pernah men... menciumnya...". Ucap Zura sambil tertunduk malu.
" Kamu! ... bodoh banget sih...!!!". Achi akhirnya mengeluarkan suaranya dengan lantang karena malu juga. Ia mengatakan itu sambil melangkah pergi ke kamarnya.
" Hei... tunggu kucing kecil... aku minta maaf... ". Ucap Zura.
" Hahaha... ya sudah lah... apa boleh buat... toh Achi juga sejak lama menyukaimu... dan kamu juga serius akan menunangnnya... jadi ga apa-apa... dia hanya malu saja... ya kan Yah...". Tanya mama pada ayah.
" Yah... ayah juga setuju.. tapi ada syaratnya...". Jawab ayah.
" Ha ... syarat... apa itu pak... biar segera saya usahakan...". Jawab Zura.
" Sebelum kalian bertunangan jangan bertemu dulu... kalau kalian mau melanjutkan ke tahap pernikahan kalian boleh ketemu... tapi seminggu sekali aja.. paling nggak kamu kasih kabar aja...". Jawab ayah Achi santai.
" Hah...!!! tapi pak... saya kan akan jadi tunangannya... kalau ngga ketemu anak bapak... itu kan agak...". Zura menjadi lemas.
" Maksud bapak baik Ra... kami takut sebelum kalian menikah.. nanti terjadi yang tidak-tidak... kamu nggak mau kan kalau orang kampung misalnya bilang ntar... baru saja menikah.. sehari setelahnya langsung punya anak...". Jawab mama.
" Tapi saya ngga seperti itu buk...". jawab Zura
" Kamu siap atau ngga....?!". Tanya ayah. Zura hanya menerima nya dengan anggukan dan nafas panjang. Setelah mereka berbicara beberapa saat Zura berpamitan pulang, ayah memberi waktu untuk Zura bicara dengan Achi beberapa saat di teras luar.
" Kucing kecil... ayahmu... melarangku untuk ketemu kamu sampai hari pertunangan kita... waktu mau nikah... mungkin aku hanya bisa datang sesekali...". Ucap Zura lemas.
"Eh... jadi ayah mengucapkan hal seperti ini juga... syukurlah... aku akan memiliki banyak waktu dengan keluargaku... kalau sudah tunangan... melihat tingkah laku Zura... aku ga tau gak Gila apa lagi yang akan ia buat...". Batin Achi.
" Ok Ga apa...". Jawab Achi singkat dengan senyumnya.
" Heh... dari raut wajahmu... jangan bilang kamu senang ya...!!! padahal aku rasanya kesiksa begini waktu mendengarnya langsung dari ayah mu...". Jelas Zura. Achi memang belum sempat mendengar karena ia mendengarkan musik dengan headset untuk menenangkan hatinya yang selalu berdebar melihat tingkah Zura itu.
" Ok... baiklah...". Jawab Zura lesu. Melihat wajah Zura, Achi berusaha menyembunyikan senyum senangnya itu.
" cup ". Achi mengecup bibir Zura seketika.
" Eh...". Jawab Zura kaget.
" Suamiku... ini hanya beberapa saat... yang sabar ya...". ucap Achi sambil tertawa. Zura langsung memegang pinggang Achi.
" Iya... kita akan jarang ketemu.. paling nggaknya aku harus dikasih special servicenya dulu kan...". Jawab Zura jail.
" Hei hentikan... orang tuaku masih menunggu di dal.... umh....". Zura langsung mencium bibir Achi dengan. memeluk tubuh Achi juga. " Umh... nnn... hah...". setelah puas Zura lalu melepaskannya. Achi langsung memukul dada Zura karena malu.
" Hehe... istriku tunggu aku datang lagi ya...". Jawabnya.
" Achi.. sudah 15 menit... Ayo masuk...". Perintah ayah.
" Iya yah...!". Jawab Achi, ia langsung masuk ke dalam rumah.
" Saya pamit dulu pak... buk...". Jawab Zura dengan senyum, ia menampakkan senyum jailnya pada Achi sambil melambai pergi.
" Nakalnya ... bahkan hanya dikasih waktu 15 menit... iblis mesum itu masih bisa melakukannya...". batin Achi.
Mereka pun disibukkan dengan kerjaannya masing-masing selama tidak bertemu Meskipun Achi dan Zura bertemu saat Achi berada di kedai orang tuanya untuk membantu dan pada saat itu Zura juga sedang makan disana, ia hampir saja melangkah menemui Achi kalau Moran tidak segera menariknya pergi. Zura hanya menunjukkan ekspresi sedihnya sambil tertawa garing. Achi hanya tertawa kecil melihat perjuangan calon suaminya itu.
__ADS_1
Sampai tiba saatnya keluarga Zura datang ke rumah orang tua Achi untuk melamar putrinya, disertai beberapa orang penting lainnya. Akhirnya ketegangan Zura terhadap lamaran yang disaksikan 2 pihak itu usai dengan baik berujung pada pertunangan dan tanggal baik pernikahan mereka yang akan dilaksanakan 2 bulan lagi.
" Alhamdulillah ...". ucap dua belah pihak itu secara bersamaan. Zura menghela nafas panjang dan melihat ke arah Achi yang ada di pojokan samping mamanya.
" Oi... mau kemana kamu... dek.. anteng ( tenang) sedikit dong!!!". Ucap Adi yang ikut datang ketempat Achi juga. Achi hanya melihat Zura dengan heran kenapa Zura datang padanya. Zura langsung memeluk Achi dengan kuat.
" Akhirnya.... ". Ucap Zura lega memeluk calon istrinya itu. Membuat dua belah pihak itu terperangah dengan tingkah laku Zura yang diluar kendali, bahkan untuk ibunya sendiri.
" Maafkan anak saya ya pak... buk...mungkin itu efek terlalu menyayangi anak bapak... saya juga baru pertama melihatnya seperti ini...". Ucap ibu Sena meminta maaf.
" Anak jaman sekarang... memang menunjukkan perilaku yang sebenarnya tanpa pandang bulu.. beda dengan kita-kita dulu ya Bu...". Jawab mama Achi sambil menepuk bahu ayahnya dari belakang. Karena ayah Achi mengerutkan kening beda dengan bapak Zura yang santai.
" saya ga peduli pak..., kalau bapak marah... di pukul lagi kayak waktu itu juga ga apa...". Ucap Zura yang masih memeluk Achi , malau Achi agak tidak enak.
" Yah... karena kamu udah menepati janji kamu... kalau kalian ingin jalan-jalan malam ini boleh juga... asal pulangnya jangan kemalaman...". Jawab Ayah.
" Jaga baik-baik nak Achi Ra... ". ucap bapak Zura.
" Boleh nih yah... aku pergi sama mas Zura bentar...?!". Ayah hanya mengangguk sambil menunjuk jam mengingatkan waktu Achi pulang sambil tersenyum. Mereka pun pergi dengan senang hati, keluarga Zura masih bicara riang dengan keluarga Achi ketika mereka pamit.
" Ehm... kucing kec... eh ngga maksudku dek... kamu mau main kemana... pokoknya harus ini kemana pun kamu mau mas pasti turutin...". Jelas Zura sambil menyupir motornya.
" Hahaha mas kaku banget... ". Jawab Achi.
" Jelas banget lah... kamu lihat dua keluarga kita saat bertemu kayak interview aja... waktu nanya sama mas... huh... ya ampun... ngeri banget dari pada berantem...". Lugas Zura.
" Hahaha... namanya bicarain hal yang penting... ya harus begitu mas... ingat waktu mas bilang, saya mau menikahi anak bapak... saya ga jamin dia akan bahagia nanti tapi selama dengan saya saya akan berusaha untuk ngga membuatnya susah..., saya sangat mencintainya!! . gitu... itu wah banget mas... aku sampai terharu... tapi muka mas yang udah kayak kepiting rebus cukup buat aku ketawa haha ga nyangka aja mas yang ga pernah serius bisa bilang kayak gitu...". Lugas Achi.
" Aku selalu serius kok kalau menyangkut kamu... jangan ingat itu lagi, cepat bilang mau kemana... kalau ayah kamu nelpon nyuruh pulang gimana... waktu kita cuma sedikit...!" Jawab Zura malu. Achi langsung tertawa sambil memegang pinggang Zura, sesudah pertunangan mereka Achi memang merasa lega dan mulai terbuka dengan Zura.
" Aku... aku mau main ke rumah...".Jawab Achi santai.
" Kamu bercanda ya... rumah mana... kamu mau pulang ke rumah kamu aja maksudnya..?". Jawab Zura.
" Bukan... rumah kamu ... waktu kita masih sama-sama... haha... rasanya entah kenapa... rumah itu lebih nyaman dari pada jalan-jalan haha...". Jawab Achi. Zura langsung terdiam, mukanya memanas.
" Hei... kucing kecil... kamu tau ngga aku udah bersabar sampai pertunangan ini... trus kamu mau ngelakuin itu.. sekarang... kalau aku sih senang-senang aja...". Jawab Zura.
" Eh... ngomong apa sih mas... bukan gitu maksudnya... kalau mas mikirnya jauh gitu mending ga usah deh... Ayo jalan-jalan ke kampung sebelah... katanya teman ku ada jaran kepang disana... aku suka nonton itu mas...".
" Oh.. bagus juga idemu kucing kecil..." . Jawab Zura.
Mereka pun pergi ke tempat itu yang jaraknya tak cukup jauh. Setelah sampai mereka pun ikut menonton meriahnya pertunjukan jaran kepang itu, sesekali Achi mengikuti gerakan jaran kepang itu dengan konyolnya. Hal itu membuat Zura tertawa, Karena calon istrinya bisa juga bersikap lucu seperti itu dan menghilangkan kegugupannya sehabis lamaran tadi. Mereka mencicipi jajanan yang ada di sana juga. Setelah Achi merasa ngantuk ia meminta pulang, kebetulan jam masih menunjukkan jam 9 malam. Langit tampak mendung, Zura langsung membawa Achi pulang dengan cepat agar tak kehujanan. Namun naasnya hujan yang rintik-rintik turun menjadi deras, mereka tak membawa persiapan apapun seperti payung maupun mantel, karena cuaca tadi masih baik-baik saja.
Hujan mulai deras, dan rumah paling dekat untuk mereka pulang adalah rumah Zura dari jalan gang masuk. Karena sudah sama-sama kedinginan dan baju mereka sudah basah karena terjangan hujan mereka memutuskan untuk mampir ke rumah Zura saat masih bersama Achi. Meski Achi agak merasa khawatir.
.
.
.
To be continued
Bagaimana kelanjutan kisah mereka...?!🤔
__ADS_1
Baca terus Hate A Boy, But He Love Me...
terimakasih sudah nyempatkan waktu untuk membaca...😊🤗🐼